Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Hopeless


__ADS_3

"Apa kau yakin akan pulang malam ini juga?" Takeshi sedang bersiap memanaskan mesin mobil untuk mengantar Yuko ke stasiun.


"Iya, besok aku harus kembali bekerja, aku juga harus tetap menghidupi keluargaku" celetuknya pelan. Yuko hanya merasa tidak nyaman menginap di rumah pasangan suami istri ini. Lagipula, Riota dan Toru juga agak risih dengan kehadirannya disini.


"Aku berjanji tidak akan membocorkan sedikit pun identitas Riota, " Takeshi meyakinkan Yuko lagi, kali ini dia tidak akan salah ambil keputusan seperti yang sudah sudah.


"Aku berani jamin itu, " Imbuh Ruri mendukung.


"Aku tidak yakin akan hal itu," Desah Yuko hopeless.


"Tenang saja, aku tidak akan ceroboh seperti Takeshi !" Ledek Ruri pada suaminya. Tabiat Takeshi hampir sama dengan Yuko. Gegabah, ceroboh suka main hakim sendiri. Ko


"Anggap saja saat ini aku sudah percaya pada kalian," Singkat Yuko, malas berdebat lagi.


"Ruri, aku mohon bantuanmu merawat ryota selama di sini. " Pungkasnya membungkuk lalu pergi bersama Takeshi.


Langkah kaki Yuko terasa berat saat hendak menaiki kereta terakhir di malam bersalju di bulan Desember. Udara dingin menggetarkan jiwa dan raga, dia seperti sedang melepas anak laki-laki satu-satunya pergi untuk selama-lamanya. Keadaan pula yang membuat Yuko harus merelakan putranya cari kebenaran keberadaan Taka tanpa bisa dia dampingi.


Yuko menganggap dirinya tak lebih dari seorang pecundang yang tidak berani mengungkapkan kekhawatiran yang selama ini terus menghantui.  Dalam perjalanan, Yuko gelisah tidak bisa berhenti memikirkan Riota  yang sebenarnya sedang menjemput bahaya.


Dahulu, setelah dokter Hanson, Takeshi adalah orang yang diberitahu perihal kehamilan Yuko. Takeshi marah ingin membuat perhitungan pada Taka --mempermainkan perasaan Yuko-- yang tidak bisa dimaafkan. Takeshi mendesak Yuko agar meminta pertanggungjawaban padanya demi kebaikan anak itu. Lagipula, Yuko ternyata tidak siap untuk merawat seorang bayi sendirian ditengah kesibukannya mengarang novel.


"Jika kau tidak mampu merawat bayi itu, lebih baik serahkan saja urusan itu kepada ayahnya.  "


"Dia orang kaya, sudah pasti itu bukan masalah besar, " Saran Takeshi susah payah, agar si brengsek Taka bertindak sebagaimana laki laki sejati.


Benar, Taka memang menginginkannya seorang anak bukan?


Yuko terbujuk tanpa sadar telah melanggar sumpahnya untuk tidak menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Sesampainya di sana, malah Natsuki yang menerima mereka masuk ke rumah. Natsuki hanya tertawa mendengarkan Takeshi berbicara meski bagi Yuko, ini adalah hal yang paling memalukan. Yuko sudah kalah dalam sengketa memperjuangkan hati dan harga diri. 

__ADS_1


"Apa itu artinya, kalian sedang memeras kami?" Natsuki menyeringai sengit.


"Benar juga ya, mana ada pria kaya tiba tiba  jatuh cinta dengan wanita miskin, " Sindir Natsuki dengan senyuman jahat.


"Kecuali jika si wanita  terus  mengejar lelaki kaya itu demi keuntungan materi saja, " Kata kata menohok tersebut membuat Takeshi dan Yuko ingin membakar rumah itu jika tidak sabar sabar menghadapi nenek sihir di hadapan mereka.


" Astaga ! " Takeshi ternganga mengelus dada, dia salah ambil keputusan. Ironis, Natsuki laksana setan berkedok bidadari. 


"Ayo kita pulang saja, Takeshi!" Ajak Yuko malas meladeni orang yang tidak ada sangkut pautnya.


"Aku harap uang ini cukup untuk menghidupi mu! "   


Natsuki melempar sepucuk kertas berupa cek sebelum mereka beranjak.


"Akan lebih baik jika kau  menggugurkannya mumpung perutmu belum terlalu besar," bodohnya, Takeshi malah memungut cek dengan nominal yang sangat fantastis itu.


"Hei! Jaga bicaramu Nona!!" Bentak Takeshi sudah tidak sanggup melihat Yuko di hina hina sedemikian hina.


"Lagipula kau memang tidak benar benar menginginkannya, bukan?" Natsuki merasa sedang di atas awan, terus terusan membuat Yuko terpojok.


"Iya benar! " Bentak Yuko menanggapi.


"Lucunya, setelah bertemu denganmu, aku malah ingin mempertahankannya,"


"Tenang saja, dia tidak akan pernah mengetahui siapa ayahnya, "


"Karena detik ini juga, aku anggap ayahnya sudah mati!"


Berapapun banyak uang yang diberikan oleh Natsuki, itu tidak akan mampu membeli harga diri apalagi sampai harus membuat nyawa janin ini melayang. Yuko pergi, merasa sanggup menghidupi anak itu walau tanpa bantuan seorang pria. Sebelum benar benar keluar pintu, Takeshi merobek robek cek itu lalu membuangnya ke udara.

__ADS_1


Takdirku jadi kenyataan, aku adalah wanita tanpa pria.


Takeshi salut akan tindakan temannya tadi, harga diri yang sudah terjun bebas akhirnya melesat kembali ke angkasa. Tapi, di sisi lain, Takeshi menaruh simpati pada nasib Yuko. Terbesit sesuatu dalam benaknya, bahwa dia harus melindungi wanita yang pernah mencuri perhatiannya ini.


"Yuko, jika kau tidak keberatan aku bisa menjadi ayah untuk anak itu," Ucap Takeshi lirih. Takut takut akan ditolak lagi.


"Aku tidak butuh belas kasihan mu, Takeshi.." gumam Yuko datar sedikit tersinggung.


"Tidak, ini bukan rasa kasihan, jangan tersinggung dulu,


"Maafkan aku, selama ini aku telah membohongi diriku sendiri," Yuko hanya mendelik heran mendengar pernyataan Takeshi yang tidak jelas kemana rujukannya.


"Aku sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum kau bertemu pria brengsek itu!" Ungkap Takeshi memberanikan diri dan membuat semuanya jelas.


"Jangan mengada-ngada!" Bantah Yuko cepat.


"Aku sangat membenci pria penghianat, maka dari itu jangan pernah sakiti Ruri" Kata Yuko langsung mengabulkan dugaan Takeshi. Yuko telak menolak, lagi dan lagi.


Selang beberapa minggu, Yuko hampir kehilangan bayinya ketika ada seseorang yang tidak dia kenal menyerang Yuko di bagian perut.


Berdasarkan pengakuan Takeshi -- yang berhasil mengetahui pelaku penyerangan-- peristiwa itu terjadi atas kehendak Taka. Taka tak menginginkan anak itu lahir karena lebih memilih kembali dengan Natsuki. Mereka berdua telah menganggap janin itu adalah aib yang harus dimusnahkan. Usut punya usut, Natsuki adalah puteri dari konglomerat, hukum pun bisa dibeli jika Yuko berani menuntut mereka atas insiden itu . 


Yuko depresi, sudah tidak bisa lagi berpikir jernih akhirnya berhenti menulis untuk sementara waktu. Dia memohon pada Takeshi dan Ruri mencarikan tempat untuk melarikan diri dan menjual rumahnya di Tokyo -- meski dengan harga murah-- untuk mempersingkat waktu.


Yuko pergi ke kampung halaman Takeshi. Di sana, dia di rawat oleh nenek Toru hingga proses persalinan. Sebagai ibu baru, Yuko tentu sangat kesulitan merawat bayi baru lahir. Yuko bahkan tidak sempat mengunjungi Takeshi dan Ruri apalagi menghadiri acara pernikahan mereka.


Waktu Yuko tersita hanya untuk mengasuh dan mencurahkan kasih sayang pada  Riota Kamiya. Bayi laki laki lucu, pemberian terindah dari pemilik semesta alam.


Yuko tidak lagi menulis, dia menggantungkan hidupnya bekerja serabutan berpindah-pindah demi mencukupi kehidupan keluarganya. Namun, belakangan ini mulau aktif menjadi penulis lepas di sebuah koran lokal, ini semata-mata untuk mengasah kembali kemampuan menulisnya.  Di sela sela menulis, Yuko tetap bekerja berprofesi  sebagai pegawai minimarket.

__ADS_1


Riota tumbuh menjadi anak pintar lagi genius, Takeshi dan Ruri ikut bangga padanya, meskipun Riota bukanlah anak mereka. Lima tahun pernikahan tanpa kehadiran anak membuat mereka merasa perlu  mengangkat Riota sebagai anak. Kebetulan Yuko juga belum sempat mengurus administrasi kependudukan atas nama anaknya. Riota tercatat sebagai anak Takeshi Sawada dan Kujo Ruri .


__ADS_2