
...Love Is a Game...
...That Two Can Play...
...And Both Win...
...--Eva Gabor --...
Menyaksikan ibunya berkelahi dengan istri ayahnya, Riota berlari terjungkal jungkal melerai dengan cara menarik ibunya. Natsuki hampir kalah sudah bersiap merogoh isi tasnya. Dia yakin gertakannya kali akan lebih ampuh membuat Yuko menyerah. Takeshi keburu datang, menarik Natsuki menjauh dan menggagalkan aksi Natsuki yang belum terlaksana.
"Ada apa ini?" Takeshi menengahi dua perempuan yang bertengkar bagai kucing jalanan.
Natsuki membereskan rambut panjangnya yang berantakan, luka cakar terpampang nyata dibagian wajah dan kulit tangan. Yuko pun melakukan hal yang sama. Takeshi berdiri ditengah-tengah mereka sekaligus membelakangi Riota yang ketakutan. Natsuki adalah sosok yang paling menakutkan yang selalu Riota jumpai dalam mimpi buruknya. Kini, mimpi buruk itu datang menghampiri di kehidupan nyata.
"Kalian memang pengganggu! " Natsuki memaki maki semuanya. Takeshi murung tidak berani berbuat apa apa. Sebab, Takeshi sendiri yang menyebabkan Natsuki datang menemui Yuko.
***
"Takeshi, aku harus bagaimana?" Keluh Yuko bingung. Wanita memang sudah pergi, tapi dia pasti tidak akan menyerah menggapai tujuannya. Yuko tak tahu harus pergi kemana lagi. Baginya, tinggal disini atau dimana pun tidak menjamin dirinya akan lebih bahagia.
"Papa, kenapa bibi itu bisa jahat sekali pada ibu?" Tanya Riota masih limbung, apalagi ibunya sempat menyinggung soal pembunuh.
"Riota, dia itu istri dari Takahiro, " Ucap Takahiro merunduk dan bersimpuh dihadapan Riota. Dia bersyukur Riota lambat laun semakin membaik.
"Aku tahu, tapi...apa benar mereka semua hendak mencelakai ku?" Riota memberanikan diri untuk bertanya.
"Nak, jangan khawatir, Papa akan menjaga kalian, " Sanggah Takeshi tidak ingin menjelaskan secara gamblang pada Riota yang masih belum cukup umur untuk memahami polemik orang dewasa.
"Riota, anakku, Papa sudah berpisah dengan Mama Ruri," alih nya.
"Bolehkah Papa kini fokus menjaga kalian?"
"Takeshi...." Yuko tak menyangka dia mengutarakan isi hati pada putranya.
__ADS_1
"Aku mencintai ibumu, Nak. Aku mohon izin darimu untuk bersama Yuko sampai akhir hayat ku.." pintanya sungguh sungguh dengan mata berbinar-binar. Riota melihat ke arah ibu sebelum menjawab.
"Jika itu membuat Ibu bahagia, aku tidak keberatan. Aku pun menyayangi mu, Papa.."
"Terimakasih sudah menjaga ibu, menjaga aku, " balas Riota mengikhlaskan.
Riota merelakan ibunya bersama Takeshi, walau dalam hati masih berharap masih ada nama Takahiro di hati ibunya. Andai kecerdasan ini bisa juga dipakai untuk memanipulasi perasaan orang lain, Riota akan berjuang sampai garis finish.
Mereka berdua sudah menjadi partner untuk menyelesaikan permainan mereka sampai tamat.
***
"Boss ! Terjadi sesuatu ! Kami mengalami gangguan!" Nakamura merangsek masuk ke ruangan Direktur karena panik. " Ada apa Nakamura?"
"Kita direntas!
"Data data penting kita bocor ke publik kurang dari sepuluh menit yang lalu dan masih berlangsung !"
"Kerahkan semua personil ! temukan siapa hacker nya!" Takahiro bergegas menyelamatkan sistem yang belum direntas. Dia tidak ingin project dengan kementerian kena getahnya. Demi kredibilitas perusahaan, Takahiro tidak ingin project ini gagal hanya karena kesalahan satu titik.
"Servernya berasal dari Rusia, Boss! "
"Tidak mungkin ! cek VPN ! temukan IP nya!" suruh Takahiro dengan nada keras.
Kebocoran data pribadi marak terjadi disaat semua sistem administrasi beralih pada dunia digital. Tujuannya jelas, data yang mereka dapatkan akan diperjualbelikan demi keuntungan semata.
"Mereka hampir menguasai sistem !" Ucap salah satu pegawai suruhan Kenji, suasana dikantor begitu riuh ramai karena panik.
Info ini sudah terdengar pada seluruh jajaran Direksi dan pemegang saham, dalam waktu yang bersamaan harga bursa Personal Tech anjlok hingga ke titik terendah dalam sejarah penjualan saham. Semua orang terkait, beralih menghubungi Takahiro mengecam agar segera mengatasinya.
"Kalian harus bertanggung jawab! Perusahaan kita mengalami kerugian besar ! " Oceh salah seorang direksi dari ruangan lain.
Bla..bla..bla..
__ADS_1
"Bisakah kalian diam sebentar! Cerewet !" Erang Nakamura jengkel.
Nakamura ikut membela Takahiro yang sudah ke sana kemari memastikan agar serangan itu bisa segera di atasi. Dia kesal orang orang itu hanya menggerutu tanpa ada sumbangsih sama sekali. Takahiro dan seluruh pegawainya sedang mati matian menyelamatkan nasib instansi agar tidak di likuidasi.
"Nakamura, aku sudah minta tolong pihak luar untuk membantu, sebentar lagi mereka akan segera beraksi !" Sambung Kenji berteriak dari ruang kaca. Dia tidak kehabisan ide, dia menghubungi hacker lain untuk membalas.
"Jarvis? dimana Jarvis?!" panggil Takahiro sambil berlari, berupaya menghubungi Kiyoshi untuk meladeni para petinggi yang sudah marah marah. Ironisnya, Kiyoshi sedang tidak berada di sana dan tidak pula dapat dihubungi. Dia berada pada lajur yang bersebrangan, menikmati wajah gelisah dan pilu Takahiro, live streaming dari ponsel milik salah satu karyawan. Kiyoshi masih asyik tidur tiduran bersama seorang wanita panggilan yang disewa sejak semalam.
Takahiro duduk gelisah menatap monitor sambil terus menelepon Jarvis. Dia gugup menunggu data yang masih dalam proses pemindahan pada penyimpanan eksternal. Takahiro yakin, para Hacker itu mengincar data rahasia dari kementerian. Didukung dengan perangkat lunak dan kecepatan internet yang mumpuni, Takahiro berhasil menyelamatkan data di detik detik terakhir.
"Kebocoran data sudah berhenti, Boss! "
"Akhirnya !" Seluruh pegawai boleh bernafas lega.
"Lakukan proteksi! Jauhkan seluruh sistem dari virus dan hacking! "
Tim pemburu suruhan Kenji pun sudah berhasil menghentikan kejahatan yang menyerang sistem mereka. Para penjahat cyber itu berhasil ditaklukkan hanya dengan satu pukulan. Dia berterima kasih pada mereka dan berjanji akan memberikan imbalan besar atas jasa jasanya.
"Tidak paman, kami senang bisa membantu.."
"Baiklah, pegang janjiku, saat kau lulus sekolah nanti. Bekerjalah bersama kami ya? Belajar lah dengan sungguh sungguh ! Toru Riota..." Ucap Kenji serius berbicara dengan mereka melalui webcam. "Sampai Jumpa!"
Mereka tersenyum puas, aksi mereka baru saja dihargai dengan rasa hormat yang tinggi. Riota dan Toru berhasil memukul mundur musuh mereka dengan berhasil menemukan alamat IP si penyerang sistem. Hal ini akan Kenji teruskan untuk keperluan penyelidikan.
Takahiro tertunduk lemah, karena baru saja membuat nasib perusahaan berada di tepi jurang yang dalam. Sebagian data yang sudah terlanjur tersebar tidak bisa dijangkau lagi. Ini adalah kesalahan teknis, Kenji menyarankan agar perusahaan lebih konsen lagi melakukan proteksi keamanan piranti digital.
Takahiro mengerti, dia ingin pulang karena sudah terlalu lelah menghadapi para cercaan dari petinggi dan penanam modal. Kiyoshi seolah abai pada panggilan tugas. Dari sore menjelang malam, Takahiro tidak keluar dari ruangan pribadinya, tidak makan dan tidak juga minum. Dia melamun menatapi tumpukan buku novel karangan Yuko. Entah kenapa dia sangat merindukan dua orang itu sekarang. Dia meraba dan membaca kembali novel yang sebenarnya sudah dia baca berulang-ulang kali, dia melihat atas bekas tetesan air membekas pada kertas novel.
Takahiro tersedu sedu dibuatnya, Naomi menceritakan perihal hantu yang menangis di dekat tumpukan buku ini, yang tak lain adalah Riota. Entah kesedihan apa yang dirasakan Riota saat itu, yang jelas anak itu sekarang sedang menunggu di luar ditemani Toru.
"Ayah aku datang.. tolong bukakan aku pintunya.." Panggil Riota pada ayahnya melalui telepon seluler.
" Riota? " Takahiro terhenyak, Toru menepati janjinya. Dia langsung berlari menyusul anaknya di pintu gerbang.
__ADS_1
***