
"Ayah! Apakah ini bagian dari rencanamu?" Tegur Natsuki menyelinap masuk ke dalam kamar tidur kediaman ayahnya, Kawasaki. Natsuki mendengar percakapan terakhirnya dengan Kiyoshi di telepon. Pria berusia 65 tahun itu bergeming, putri satu-satunya mengetahui aksinya dibalik layar.
"Kenapa ayah tega melakukan ini pada menantu ayah sendiri?!" gertak Natsuki, mendekat pada ayah yang sedang bed rest. Dia tidak terima, gara gara ego ayahnya sendiri Natsuki jadi berpisah dengan Takahiro.
"Andai saja kau mampu membujuk suamimu untuk berbagi saham denganku..." celetuk Kawasaki pelan sambil meminum teh hangat yang ada di nakas sebelah tempat tidur. Dia duduk bersandar kembali setelah meneguk teh olong dalam cangkir hingga tandas.
"Jadi ayah memanfaatkan Kiyoshi, untuk berbuat curang?!" Natsuki terus terusan menyalahkan ayahnya atas kejadian yang menimpa dirinya dan Takahiro.
"Tidak, dia punya maksud dan tujuannya sendiri..." sanggah Kawasaki dengan entengnya.
"Aku hanya memanfaatkan peluang saja, anakku! "
"Aku tidak percaya ayah bisa melakukan ini padaku?!" Natsuki gusar merasa pernikahannya tidak bisa diselamatkan lagi. Kiyoshi dan ayahnya telah bersekongkol untuk menjatuhkan suaminya.
"Aku mencintainya, Ayah!!" tegasnya menghempas kedua tangannya lemas.
"Kalian berdua lebih dulu mengkhianatinya bukan? Jadi jangan limpahkan semua kesalahan padaku! " sentak Kawasaki terbatuk batuk karena kondisi paru parunya sedang tidak sehat.
"Aku sendiri tidak menyangka bahwa Naomi itu darah daging Kiyoshi, " Mendengar aibnya sendiri, Natsuki memilih untuk undur diri dari hadapan ayahnya yang sudah tidak sejalan.
"Natsuki!" Panggil Kawasaki, sebelum putrinya melewati ambang pintu. Natsuki berhenti sebentar namun tidak sudi menoleh.
"Ada baiknya, jika kau menerima Kiyoshi. Dia akan menjadi menantu yang bisa diandalkan daripada suamimu yang tak berguna itu!" Natsuki yang sudah geram pergi menjelajahi ruangan lain, mencari dimana ibunya dan Naomi berada. Sedangkan, Kawasaki kembali menarik selimut, dia senang akhirnya Personal Tech kini berada dalam genggamannya.
****
"Jadi, aku penasaran apa yang kau sukai dari Bibi Yuko selama ini, paman?" Tanya Toru berdiri bersebelahan dengan Takahiro saat sedang antri kembali di wahana Bianglala. Yuko dan Riota sudah mengantri paling depan terpisah beberapa slot di belakang.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Takahiro tersentak kaget sebelum menanggapi pertanyaan itu.
"kenapa ya?" Takahiro tergelak dengan tatapan jenaka. Dia tersipu malu malah balik bertanya.
__ADS_1
"Bagiku, dia seperti laki laki yang terjebak dalam tubuh wanita paman! Dia garang sekali jika sedang marah marah !" bisiknya, takut terdengar oleh yang bersangkutan. Takahiro hanya bisa menahan senyum mencegah agar tidak tertawa.
"Kau tahu paman? Riota pun sama anehnya, "
"Dia minder saat mengetahui paman adalah ayahnya! Ayah terlalu tampan untuk memacari ibu, katanya!"
Takahiro sudah tidak tahan untuk tidak terpingkal gara gara celotehan polos Toru padanya. Biar bagaimanapun dia adalah sosok yang paling tahu bagaimana kehidupan Yuko dan Riota selama ini. Anak anak itu bicara apa adanya bahkan terlalu jujur mengutarakan keresahan hatinya.
"Hahahaha"
Suara tawa mereka meledak sampai terdengar ke telinga Yuko. Yuko curiga mereka sedang membicarakan tentang dirinya dibelakang, sebab telinga Yuko berdengung terus dari tadi.
"kalian sudah membicarakan apa?" tegur Yuko mendelik merasa terganggu. Karena merasa sedang dicurigai, Takahiro dan Toru kompak menggelengkan kepalanya.
Riota pun ikut menoleh, Takahiro melempar senyum pada putranya sambil melambaikan tangan. Tak ada lagi raut kesedihan di hari pertama Takahiro resmi menjadi pengangguran.
"Ibu, Ini pertama kalinya aku melihat ayah tertawa, " gumam pada Yuko.
"Pasti ada sesuatu yang membuatnya bahagia," Riota tahu pasti Toru sedang membicarakan sesuatu hal yang lucu pada ayahnya. Mata jahil mereka mengisyaratkan agar Riota tidak boleh ikut-ikutan tertawa demi menjaga perasaan ibunya. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka, Riota hanya bersyukur bisa tinggal lebih lama lagi bersama ayahnya.
"Ng...apa ya? Aku juga tidak tahu persisnya, tapi yang jelas aku nyaman berada di dekatnya, " lanjut Takahiro, curi curi pandang pada Yuko.
"Sederhana sih, tapi itulah kebahagiaan yang aku rasakan saat dekat dengannya.." ungkap Takahiro tanpa tersendat.
"Nyaman? bagaimana bisa? jelas jelas dia hampir menjebloskan mu ke penjara, paman! " Toru pun kesal dengan sifat kekanak-kanakan Yuko.
"Aku bingung, kenapa paman Takahiro dan paman Takeshi memperebutkan bibi Yuko?"
Mendengar nama Takeshi disebut sebut, Takahiro tidak tahu lagi bagaimana perkembangan hubungan antara Yuko dengan laki laki itu sekarang. Dia pikir, Toru bisa memberikan informasi mengenai perihal tersebut mumpung Yuko sedang fokus memperhatikan bianglala dengan Riota.
"Toru, bagaimana kabar Takeshi? " tanya Takahiro sambil tetap memperhatikan Yuko dari kejauhan.
__ADS_1
" Maksudnya, hubungan paman Takeshi dan Bibi Yuko?" Toru tahu bahwa pertanyaan Takahiro sebenarnya mengarah ke sana. Ketimbang Riota, Toru lebih mengerti peliknya kisah kasih orang orang dewasa. Takahiro mengangguk pelan pertanda Toru bisa menjabarkannya lebih lanjut.
Sebelum bicara, Toru melihat situasi lebih dulu memastikan ibu dan anak itu tidak mendengarkan dia membongkar rahasia mereka.
"Paman, Riota telah memberi lampu hijau pada paman Takeshi untuk mendekati bibi Yuko, "
"Maka dari itu, dia datang menemui mu untuk memberikan salam perpisahan, "
"Sampai akhirnya Riota mengurungkan niat itu, karena tahu kau telah dikhianati orang orang terdekat mu," Jelas Toru meluruskan semuanya. Takahiro masih diam mendengarkan sambil mengangguk pelan.
"Apa itu artinya paman dan bibi Yuko tidak bisa bersatu lagi?"
Toru bercerita bahwa Takeshi semakin dekat dengan Yuko pasca bercerai dengan Ruri. Pria yang masih memiliki ikatan saudara dengan Toru itu sering mengunjungi mereka tidak peduli jarak Tokyo dan desa lumayan jauh untuk ditempuh.
Takahiro sendiri tidak perlu heran lagi mengetahui kedekatan Takeshi dengan mantan pacarnya selama ini, sebab dari awal bertemu, Takeshi lah orang yang paling peduli dengan Yuko. Bahkan, ketika Takahiro sepenuhnya tidak menyadari bahwa Yuko sedang mengandung anaknya. Takeshi orang pertama yang ada di sini Yuko saat itu.
"Ya, aku tahu. Takeshi orang yang baik. " puji Takahiro sambil melihat ke bawah. Antara senang bercampur sedih, itulah yang sedang Takahiro rasakan.
"Maaf paman, aku hanya bisa mengatakan yang sejujurnya, Riota sangat menyayangi ibunya. Dia merelakan jika memang paman Takeshi bisa membuat ibunya bahagia..."
"Aku bangga padanya Toru, dia lebih tahu apa yang membuat ibunya bahagia, "
"Lagipula, Takeshi yang selama ini melindungi Yuko dan Riota. " Takahiro pasrah jika memang takdir tidak bisa membuat mereka berkumpul bersama dalam satu ikatan keluarga.
" Ayah! ayo kita naik berempat ! " Panggil Riota, menghentikan gurauan mereka.
Percakapan mereka terpaksa ditunda menunggu waktu yang tepat untuk mereka mengobrol lagi. Sebelum melangkah lebih lanjut, Toru memberanikan diri bertanya sesuatu yang penting pada Takahiro.
"Paman, " Toru mencegah Takahiro bergerak maju.
"Ada apa?" Tanya Takahiro heran, wajah Toru terlihat cemas.
__ADS_1
"Paman, apa kau keberatan jika paman Takeshi menikahi bibi Yuko?"