Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Tawaran Kerja


__ADS_3

"Jangan telat menjemputku ya?!" Riota turun dari sepeda BMX yang dikendarai oleh Toru. Sekarang, kemana mana mereka pergi berdua naik sepeda termasuk pergi ke sekolah.


Di depan gerbang sudah ada sesosok tubuh kecil menunggu Riota datang. Gadis yang lebih tua dua tahun dari Riota tersenyum menyapa Riota dari sebrang jalan. Dia adalah Sakura. Rambut panjang sepunggung tertiup angin membuat Toru terkesima melihat kecantikan teman satu sekolah Riota ini.


"Neeee... temanmu cantik sekali! " Matanya membulat, apalagi Sakura sedang melambaikan tangan pada mereka. Tanpa malu malu Toru membalas lambaian tangan itu, padahal orang yang disapa Sakura adalah Riota.


"Riota ! " panggil Sakura bersemangat. Untuk beberapa saat, Riota salah tingkah ada wanita yang selalu mengejar ngejar ingin berteman dengannya.


Selama dirawat di rumah sakit, Toru bercerita, Sakura datang melihat keadaannya walau tidak sampai masuk ke ruangan. Selain itu, Sakura masih belum berani bertemu dengan ibu Riota semenjak kejadian tidak mengenakan tempo hari.


"Riota! Apa kau tuli? Gadis itu menyebut namamu!" Toru mendorong dorong Riota agar lekas menghampiri gadis itu di tepi jalan. Saking antusias, Toru mewakilkan Riota membalas panggilannya sampai Sakura bingung sendiri jadinya.


"Hai, Sakura!" jawab Toru percaya diri melambaikan kedua tangannya. Melihat Toru yang membalas sapaannya, Sakura berhenti tersenyum.


"Yaudah aku berangkat ya? Cepatlah hampiri gadis itu ! Kasihan dia. " Toru pamit mengayuh sepeda ugal ugalan dengan sepeda motor. Kini, tersisa Riota dan Sakura saja.


Riota mau tak mau menghampiri Sakura sekedar memberi salam lalu pergi mendahului gadis malang itu.


"Ohaiyo, selamat pagi! " Ucap Riota lirih, melangkah buru buru menuju ruang kelas. Sakura lagi lagi kecewa, Riota memang masih kaku untuk berteman dengan siapapun termasuk dengannya. Sakura masih dapat memakluminya.


" Riota! Tunggu aku! " Sakura pantang mundur. Dia berlari menyusul Riota untuk bisa bicara dengannya.


"Izinkan aku menjadi temanmu! "


"Ku mohon, berteman lah denganku?!" Pinta Sakura membungkuk memohon.


"A-apa?" Riota terheran heran. Rona merah pada wajah perempuan itu tidak bisa disamarkan lagi.

__ADS_1


***


"Mohon maaf, per hari ini, kau tidak bisa bekerja lagi di sini." Seorang manager toko swalayan memberi surat pemberhentian pada pegawainya dengan tuduhan telah merebut suami orang.


Yuko tak merasa bersedih ataupun bersalah sekalipun sudah kehilangan pekerjaannya sebagai pramuniaga. Pria tua itu memang sering berkunjung ke toko saat istrinya sedang bekerja. Dia nekat datang meskipun sudah berkali-kali Yuko menolak untuk bicara apalagi berkenalan dengan laki laki tua yang sudah bercucu lima. Sampai hari ini dia tidak menduga kakek ganjen itu penyebab Yuko kehilangan mata pencaharian.


Dua hari yang lalu, laki laki tua itu datang untuk yang terakhir kalinya. Istrinya tahu bahwa selama ini sang suami sering menggoda wanita muda di luaran. Salah satu yang kena getahnya adalah Yuko.


"Adik Yuko yang cantik, maukah kamu menjadi istri ketiga ku?" rayu kakek itu, tidak sadar usianya sudah menginjak kepala enam. Dia ingin menambah istri lagi di usia senjanya, sebab istrinya yang sekarang terlalu galak dan sibuk mengelola usaha besi tua milik si kakek. Sedangkan, istri pertamanya sudah lama meninggal.


"Maaf Tuan, aku tidak mau. Aku lebih pantas jadi anakmu dibandingkan istrimu.." ucap Yuko pelan, namun ucapnya itu mampu menghujam jantung orang tak tahu diri itu.


"Aku akan memberimu pabrik gandum seluas tiga hektar sebagai hadiah pernikahan. " Yuko sampai memejamkan mata kala gigi emas itu berkilauan dari senyum keriput si tua tua keladi. Iming iming harta dan tahta adalah jurus terakhir yang dilancarkan demi mendapatkan wanita.


Namun hari itu sungguh sial, Yuko dilabrak oleh istri si kakek ketika sedang mengepel lantai dan kebetulan si kakek itu ada di sana. Yuko diserang, disiram oleh air bilasan kain pel berwarna hitam pekat berbau tidak sedap. Tak puas sampai disitu, istri si kakek sengaja memaki maki Yuko di depan khalayak ramai, menginjak injak harga dirinya. Keributan itu sontak merebut perhatian orang orang yang ada disekitar.


Yuko sudah bersikeras membela diri, namun istrinya tidak percaya malah menuduh dia sebagai wanita penggoda. Istrinya tidak terima suaminya menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan cantik seperti Yuko. Mirisnya, suaminya malah kabur karena takut menjadi bulan bulanan istrinya yang tengah berbadan dua.


"Sungguh Nyonya, aku tidak menggoda suamimu!" Sanggah Yuko menahan emosi. Kalau saja wanita itu tidak sedang hamil, Yuko akan menyerang balik wanita beringas ini habis habisan.


"Halah! paling paling kau hanya mengincar harta suamiku saja kan? Dua hari menikah, suamiku pasti mati kau racun ! " tuduhnya tidak segan segan menampar.


Beberapa orang yang menyaksikan datang untuk mengurai kerumunan. Eriko, salah satu rekan kerjanya datang memisahkan mereka yang masih bersitegang. Untuk menciptakan suasana yang kondusif, Yuko dipaksa mundur dan ikut ke ruang tenant untuk dibriefing.


Bukan cuma sakit, Yuko juga harus menahan malu menjadi tontonan orang orang yang ikut ikutan menuduhnya sebagai wanita penggoda karena statusnya sebagai janda muda. Ini bukan sekali atau dua kali dia mendengar cemoohan sebab dirinya belum ada keinginan untuk menikah lagi.


Istri dari orang itu ngotot ingin perusahaan segera memberhentikan Yuko dari pekerjaannya. Hal ini pun turut didukung oleh segelintir pegawai toko lain yang sudah lama tidak menyukai Yuko kerja di sini. Yuko di desak untuk mengundurkan diri.

__ADS_1


"Maafkan aku, sudah membuat kegaduhan."


Yuko membungkuk pamit dihadapan manager dan pegawai lainnya. " Terimakasih atas kerjasamanya selama ini"


Eriko menyaksikan raut kesedihan ibu muda itu keluar ruang pegawai, dia berniat sudah menghadang senior nya itu sebelum benar benar pergi.


"Aku tidak menyangka mereka lebih percaya wanita gila itu! " Hadang Eriko mengekor pada Yuko dengan wajah heran.


"Padahal, selama ini kau sudah bekerja dengan sangat baik! " Eriko terus mengikuti Yuko sampai ruang loker untuk mengemasi barang-barangnya.


"Ya..barangkali itu sudah takdirku " Ucap Yuko dengan senyum dipaksakan. "Terimakasih Eriko, kau sudah banyak membantuku selama ini." Yuko akui juniornya tidak pernah menolak jika Yuko terpaksa bertukar shift jika ada urusan mendadak.


"Kalau begitu, simpanlah ini! " Eriko memberikan sebuah kartu nama. " Barangkali mereka bisa memberikanmu pekerjaan. "


"Tokyo? " Tanya Yuko sambil membaca kartu nama tersebut. Eriko mengangguk.


"Sebenarnya aku juga akan mengundurkan diri dari sini dalam waktu dekat. Aku ingin mencoba peruntunganku di kota," Tatap Eriko penuh keyakinan.


"Jika kau berminat, ayo kita pergi bersama! "


Eriko masih sangat muda dan sering berpindah-pindah tempat kerja. Dibantu yayasan penyalur tenaga kerja, Eriko berencana akan kerja di Tokyo. Selain gaji yang dibayarkan cukup mahal, di kota besar dia bisa mengembangkan karir nya lebih cepat dibandingkan di desa.


"Aku mau, tapi...anakku tidak bisa aku tinggalkan," Yuko memijit mijit keningnya. Sebenarnya Tokyo adalah kota yang enggan dia kunjungi karena sudah terlalu banyak kenangan pahit tertinggal di sana. Oleh sebab itu, Riota adalah alasan yang tepat untuk menolak tawaran itu.


"Kau masih punya waktu, setidaknya sampai akhir bulan ini, "


" Pikiranlah baik baik." Pungkas Eriko kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2