
Takahiro membawa Yuko pergi meninggalkan area perkantoran agar bisa leluasa bicara empat mata. Mereka pergi naik taksi ke sebuah taman hiburan. Takahiro sudah berpesan agar Riota dan Toru ikut menyusul ke sana.
"Kenapa harus ke taman hiburan?" Yuko pikir dia akan dibawa ke suatu tempat yang tenang dan nyaman untuk bicara serius. Taman hiburan bukan tempat yang tepat. Atau, ini bagian dari rencana Takahiro yang lain, pikir Yuko.
"Aku ingin refreshing sejenak, hari ini aku resmi dipecat"
"Kita bicara di sana sambil bersenang-senang dengan Riota dan Toru di sana" ucap Takahiro masih sempat menyeringai padahal per hari ini dia sudah sah menjadi pengangguran. Kurang dari setengah jam mereka tiba di tempat tujuan.
"Kau ingin bicara apa?"
"Ng.. bagaimana kalau kita makan siang dulu" ucap Takahiro, dengan masih menggunakan setelan kantor tanpa dasi, pandangannya berkeliling mencari spot makan siang. "Aku belum makan berat sejak tadi malam," keluhnya sesudah menemukan restoran cepat saji disudut cafetaria.
Yuko terpaksa menemani Takahiro selesai makan terlebih dahulu karena Takahiro sudah terlihat pucat sejak bertemu dengannya tadi. Yuko memperhatikan pria yang berada dihadapannya ini sangat memprihatikan walau yang bersangkutan sedang berusaha menutup nutupi nya. Yuko dengar dari Riota, bahwa ayahnya akan diusir dari rumahnya lalu hari ini diusir pula dari perusahaannya. Entah apa sebab musababnya, Riota tidak menceritakan itu secara detail.
"Kau tidak makan, Yuko?"
"Tidak, aku minum soda saja,"
Takahiro memesan makanan bukan untuk dirinya saja, dia sudah memesan makanan untuk anak anak sebelum tiba di sini. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Riota dan Toru.
"Ayah! " Panggil Riota, dan Toru menatap canggung ke arah Yuko. Toru khawatir masih akan kena omelan Yuko saat mereka bertemu. Toru pergi menghampiri ibu Riota untuk minta maaf.
"Bibi, marahnya jangan di sini ya? Nanti saja di rumah.." pinta Toru memelas.
"Baiklah! Aku sudah menabung omelan terbaik ku untuk mu!" sungut Yuko pada bocah itu. Riota dan Takahiro hanya cekikikan melihat tingkah konyol mereka.
"Riota! Kau juga tidak luput dari kemarahanku! sambar Yuko pada putranya yang cuma bisa garuk garuk kepala menerima nasib.
"Yuko..jangan salahkan mereka, salahkan aku saja ya?"
"TENTU SAJA!" Gertak Yuko kembali kesal karena merasa Riota dan Toru punya sponsor.
__ADS_1
"Kalian makan lah! Aku tunggu di luar saja!"
Tiga lelaki itu hanya menatap satu sama lain akan tabiat Yuko yang hobinya marah marah. Takahiro terus memperhatikan Yuko saat sedang menyantap makan siang bersama anak anak. Dia mempercepat kegiatannya hanya untuk menyusul Yuko yang duduk sendirian menatap bianglala tak jauh dari restoran.
"Kalian, jika ingin main, lanjut saja ya? ayah perlu bicara pada ibumu " Ucap Takahiro mengusap rambut Riota sebelum beranjak. Mereka hanya mengangguk pelan sambil menunjukan jempol sebab mulut mereka masih dipenuhi makanan. Takahiro tersenyum lebar, merasa gemas pada anak anak itu. Kini, saatnya berurusan dengan sang ibu.
"Apa kau teringat sesuatu? " Sapa Takahiro tersenyum lalu kemudian menoleh ke atas bianglala ukuran besar dengan cat warna warni.
Yuko tak menyangka, Takahiro masih ingat kenangan mereka saat masih berpacaran. Kala itu, dengan tangan masih terkilir, Takahiro membimbing Yuko menaiki arena permainan sampai puas. Sebelum pulang berkencan, mereka melepas lelah sambil melihat pemandangan kota menjelang malam hari. Takahiro menyatakan cintanya sekali lagi memohon agar Yuko bisa menjadi kekasihnya.
Jadi ini tujuanmu? Nostalgia atau Nostalgi(la)?
"Baiklah, ayo bicara! " Sebelum Takahiro mengajaknya berpindah pindah lagi, alangkah lebih baik membicarakan ini sekarang juga.
"Ibu! Ayo kita naik bianglala?! "Riota menghampiri menyelak pembicaraan yang sejatinya belum dimulai, mereka makan buru buru karena sudah tidak sabar ingin menaiki wahana permainan.
"Kita tidak bisa lama lama berada di sini! " ucap Yuko bisik bisik.
"Ayo kita naik !" tuntun Takahiro tanpa perlu menunggu konfirmasi lagi dari Yuko. Takahiro tidak tega melihat raut wajah dua bocah malang ini.
"Yes! ayo kita naik!" Kedua bocah itu melesat menuju loket yang sedang sepi antrian.
"Hei ! Kalian ini ya?! " Yuko terus mengomel meskipun omelannya itu tidak sama sekali digubris. Untuk membungkam amarahnya, Takahiro turut meraih menuntut Yuko untuk ikut bersama mereka, hingga harus rela berada satu kabin dengan Takahiro. Berdua saja.
Dari bawah, Riota dan Toru melambaikan tangan karena tidak jadi naik wahana itu, Yuko dikerjai oleh anaknya sendiri. Riota dan Toru lebih memilih main bom bom car menjauhi mereka.
"Awas ya kalian! " Yuko geram duduk berhadapan dengan Takahiro. Terkadang Takahiro merasa lucu melihat pertengkaran di antara mereka.
"Kenapa tertawa?!" sentak Yuko melipat kedua tangannya di perut. Seketika itu Takahiro bungkam mengusap mulutnya. Jari manisnya sudah tidak lagi memakai cincin kawin.
"Maaf" ucap Takahiro tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
"Lain kali aku tidak mau lagi ikut dengan mu ! "
"Yuko, aku serius. Ada yang perlu aku bicarakan padamu.." Takahiro berubah serius. Dia mulai mencondongkan tubuhnya mengarah pada Yuko.
" Ini perihal tuduhan pembunuh yang sering kalian tuduhkan padaku..."
"Bisakah kau menceritakan kepadaku sejelas jelasnya?"
"Aku akan menuntut mereka satu per satu..."
Yuko menelan ludah, saat Takahiro menyebutkan kata "mereka" buluk kuduk Yuko langsung berdiri. Peristiwa delapan tahun yang lalu masih membekas dalam ingatan.
"Apa yang membuatmu begitu yakin jika bukan kau dalangnya?!" Cecar Yuko, walau hatinya mulai gelisah ingin cepat cepat pergi dari situ tapi mana bisa.
Sungguh sial, bianglala berhenti begitu saja, menempatkan kabin mereka pada posisi paling atas. Yuko menyesal kenapa dia bisa mengikuti Takahiro sampai sini.
"Yuko...demi apapun aku tidak tahu bahwa selama ini aku tidak tahu kau telah melewati hal hal sulit karena aku, " Takahiro berlutut berusaha menenangkan Yuko. Yuko sebenarnya tidak takut ketinggian, namun deru angin yang cukup kencang membuat nya sedikit khawatir.
"Lalu siapa yang kau maksud dengan 'mereka' itu?" Tanya Yuko lagi, sedikit penasaran.
"Mereka adalah Natsuki dan Kiyoshi, " Ungkap Takahiro menahan amarah. Semuanya masih rancu, Natsuki tidak mau mengaku sedangkan Kiyoshi sudah keburu berlalu.
"Untuk itu aku ingin mendengarkan langsung darimu, agar aku bisa memutuskan siapa yang benar dan salah! Yang jelas kedua orang itu sudah keterlaluan !"
Yuko berpikir cukup lama, dia sedang menimbang nimbang siapa yang sepenuhnya bisa dipercaya antara Takeshi atau Takahiro. Kiyoshi memang berada di sana ketika orang orang suruhan itu datang menyerang Yuko. Anehnya, justru Kiyoshi lah yang membantu Yuko melindunginya dari orang orang jahat itu.
Mendengar Yuko diserang --tanpa sepengetahuannya--Takeshi mendatangi kediaman Takahiro namun dia tidak berhasil menemukan yang bersangkutan. Takeshi malah bertemu dengan Kiyoshi yang mengatakan itu memang perbuatan Takahiro.
"Yuko....?"
"Apa kau sedang mengingat sesuatu?" Takahiro menyadarkan Yuko dari lamunan.
__ADS_1
"Apakah Kiyoshi telah berkhianat padamu?" Tanya Yuko mulai bicara.