
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka Emilia. Sehingga Ridho terluka parah." Bertanya Lindu.
"Mungkin karena musuh yang mereka hadapi terlalu kuat." Jawab Emilia.
"Seharusnya Ridho dan Tasya di pisahin saja. Kan jadi seperti ini." Berpikir Emilia.
"Emilia apakah Ridho akan baik-baik saja?" Bertanya Lindu.
"Sepertinya dia akan baik-baik saja. Karena peralatan medis di markas utama kita sangat lah bagus dan canggih." Jawab Emilia.
"Begitu ya." Ucap Lindu.
"Du tenang saja. Ridho tidak semudah itu untuk mati." Ucap Rehan.
"Dulu dia kan pernah seperti sekarang ini. Buktikan dia bisa bertahan. Jadi percaya saja dengan nya." Ucap Rehan.
"Aku tau. Tetapi sebagai sahabatnya aku khawatir." Ucap Lindu.
"Dia juga sahabat ku. Aku pun khawatir juga tetapi kita tidak bisa berbuat banyak. Kita doa saja supaya dia baik-baik saja." Ucap Rehan.
"Baiklah." Jawab Lindu.
"Mereka berempat adalah sahabat ya. pantesan saja mereka sangat akrab." Berpikir Emilia.
"Bentar-bentar apa bedanya sahabat dengan teman?" Berpikir Emilia.
"Coba tanyakan saja dengan mereka. Ku yakin mereka pasti tau perbedaannya." Berpikir Emilia.
"Rehan. Ada yang ingin aku tanyakan kepada mu." Ucap Emilia.
"Silakan." Jawab Rehan.
"Apa bedanya teman dengan sahabat?" Bertanya Emilia.
"Teman adalah orang-orang yang ada di sekeliling mu dan bisa ngobrol biasa dengan mu. Tetapi kalau sahabat adalah seseorang yang akan selalu ada saat kita susah maupun senang. Dan sebuah hubungan pertemanan yang dekat dan menjadi sangat akrab Dan hampir seperti saudara sendiri." Jawab Rehan menjelaskan kepada Emilia Dan yang lainnya.
"Oh. Seperti itu, aku baru tahu." Ucap Emilia.
"Aku juga." Ucap cicilia.
"Jadi kamu lebih milih mana teman atau sahabat?" Bertanya Emilia.
"Sudah jelas aku milih sahabat. Karena kami berempat mempunyai ikatan yang kuat melebihi Pertemanan." Jawab Rehan.
"Begitu ya." Ucap Emilia.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" Bertanya Rehan.
"Tidak. Tidak." Ucap Emilia.
𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘭𝘢𝘯𝘦𝘵 𝘉𝘰𝘶𝘭𝘥𝘦𝘳. 𝘌𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢.
...𝙎𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙨𝙖𝙬𝙖𝙩...
"Semuanya bersiap kita sudah sampai. Dan kita akan segera mendarat." Ucap Emilia.
"Baiklah." Jawab mereka.
"𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘔𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘍𝘰𝘶𝘳-𝘢𝘳𝘮𝘦𝘥 𝘴𝘬𝘶𝘭𝘭 𝘪𝘵𝘶.
...𝘿𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙥𝙚𝙨𝙖𝙬𝙖𝙩...
"Kalian sudah siap." Ucap Emilia.
"Sudah." Jawab mereka.
"Kalau begitu ayo kita cari monster itu." Ucap Emilia.
"Oke." Jawab mereka.
"Tetapi dimana kita bisa menemukan nya?" bertanya Lindu.
__ADS_1
"Ada yang punya ide bagaimana kita bisa menemukan mereka?" Bertanya Emilia.
"Emm. Karena mereka tengok Dan mereka sejenis undead jadi mereka akan bisa ditemukan di tempat yang tidak terkena matahari." Ucap Cicilia.
"Pemikiran yang bagus. Jadi kurang lebih kita bisa menemukan nya di tempat yang tidak bisa terkena matahari. Contohnya di sebuah gua." Ucap Emilia.
"Kalau begitu ayo kita cari beberapa gua." Ucap Lindu.
"Ayo." Jawab mereka.
𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘶𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘍𝘰𝘶𝘳-𝘢𝘳𝘮𝘦𝘥 𝘴𝘬𝘶𝘭𝘭 𝘪𝘵𝘶. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 Four-armed 𝘴𝘬𝘶𝘭𝘭 𝘪𝘵𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘯 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘦𝘨𝘪.
...𝘿𝙞 𝙇𝙪𝙖𝙧 𝙜𝙪𝙖...
"Kita sudah menemukan persembunyian nya jadi kita memerlukan strategi untuk mengalahkan nya." Ucap Emilia.
"Monster kelemahannya adalah cahaya. Jadi mereka akan mudah untuk kita kalahkan." Ucap Cicilia.
"Kalian ada bom cahaya kan?" Bertanya Emilia.
"Ada." Jawab Mereka.
"Nah strategi nya begini. Pertama kita lempar bersamaan bom cahaya nya Dan setelah itu kita langsung tembak dengan senjata kita masing-masing." Ucap Emilia.
"Baiklah." Jawab Mereka.
"Semuanya ambil posisi." Ucap Emilia.
"Satu." Ucap Emilia.
"Dua." Ucap Emilia.
"Tiga." Ucap Emilia.
"Lempar bom nya." Ucap Emilia.
𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳 𝘣𝘰𝘮 𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘰𝘮 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘰𝘴𝘯𝘺𝘢.
"Tinggal lempar granat saja." Ucap Emilia.
"Sekarang lempar." Ucap Emilia.
𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳 𝘨𝘳𝘢𝘯𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘺𝘢𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘌𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘨𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.
...𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙨𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙨𝙖...
"Musuhnya sangat gampang. Bahkan kita membutuhkan waktu lima menit saja untuk membunuh mereka semua." Ucap Lindu.
"Mau bagaimana lagi." Ucap Emilia.
"Yang penting misi sudah siap dan kita sudah mendapatkan pedang bosnya." Ucap Emilia.
"Sebenarnya kalau kita menyerangnya malam hari maka kita akan sangat kesusahan karena bosnya memiliki kecepatan yang luar biasa. Tetapi cuma cepat saja. Bosnya tidak terlalu kuat." Ucap Cicilia.
"Bener juga. Kalau kita menyerangnya malam hari kita sangat kerepotan sekali karena jarak pandang kita terbatas saat di kegelapan." Ucap Rehan.
𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳 𝘬𝘦 𝘬𝘰𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘺𝘭𝘦𝘳. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯.
...𝘿𝙞 𝙍𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙤𝙢𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙮𝙡𝙚𝙧...
"Laporan komandan. Misi telah berhasil kami jalankan. Ini kami membawakan senjata bosnya." Ucap Emilia.
"Kerja bagus. Sekarang kalian bisa istirahat." Ucap Komandan kyler.
"Dimengerti." Jawab mereka.
...𝘿𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙤𝙢𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙮𝙡𝙚𝙧...
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" Bertanya Emilia.
"Aku mau mandi terlebih dahulu setelah itu aku mau melihat keadaan Ridho." Ucap Lindu.
"Aku juga." Ucap Rehan.
"Oh begitu ya." Jawab Emilia.
"Kalau kamu Cicilia?" Bertanya Emilia.
"Aku mau ke perpustakaan mau mengambil beberapa buku untuk kubaca sebelum tidur." Ucap Cicilia.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Emilia.
"Kami pergi dulu ya" Ucap Mereka.
"Baiklah." Jawab Emilia.
"Aku melihat keadaan Ridho dulu lah." Berpikir Emilia.
"𝘌𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰.
...𝙎𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙖𝙬𝙖𝙩...
"Aku dimana ini?" Ucap Ridho.
"Apa aku di rumah sakit." Ucap Ridho.
"Oh iya tanduk ku." Ucap Ridho.
𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘣𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘶𝘬 𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬.
"Syukur lah tanduknya sudah hilang." Ucap Ridho.
"Apa-apaan ini kenapa aku di perban. Macam mumi pula aku." Ucap Ridho.
𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬.
"Nah gini kan enak." Ucap Ridho.
𝘎𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘌𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰.
"Aku masuk." Ucap Emilia.
"Ya masuk aja." Jawab Ridho.
"Kenapa kamu buka perbannya?" Bertanya Emilia.
"Aku tidak suka di perban gitu. lagi pula aku baik-baik saja kok." Jawab Ridho.
"Ini dimana?" Bertanya Ridho.
"Ini adalah ruangan rawat yang berada di markas utama kita." Jawab Emilia.
"Sepertinya kamu sudah lumayan baikan." Ucap Emilia.
"Begitu lah." Jawab Ridho.
"Siapa yang membawa aku ke sini?" Bertanya Ridho.
𝘌𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘪𝘥𝘩𝘰 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵.
"Oh begitu ya ceritanya. Terimakasih banyak ya Emilia." Ucap Ridho.
"Maaf aku merepotkan mu." Ucap Ridho.
"Tidak apa-apa." Jawab Emilia.
"Aku pergi dulu ya." Ucap Emilia.
"Baiklah." Terimakasih sudah melihat ku." Ucap Ridho.
__ADS_1
"Sama-sama." Jawab Emilia.
...BERSAMBUNG...