
"Sudahlah kau tidak boleh seperti itu, memang nya apa yang aku rasakan selain perasaan ku pada mu!" jawab Tama sambil tersenyum tipis dan segera menyalahkan mobil nya.
"Mas kalau mama kamu ingin keturunan dari Laras bagaimana?" Tanya Tiara sambil menyenderkan kepalanya di bahu Tama yang masih fokus mengemudi.
Seketika raut wajah Tama berubah menjadi masam pria itu terdiam sejenak kemudian menarik nafas panjang.
"Kalau Laras punya keturunan dari ku bukan kah itu suatu hal yang mustahil terjadi? jadi kau jangan berpikir aneh-aneh deh!" jelas Tama sambil masih fokus mengemudi.
"Aku sudah berjanji tidak akan pernah menyentuh nya sedikit pun, karena hanya kau lah wanita ku satu-satunya, dan aku hanya ingin punya anak dari mu bukan dari siapapun meskipun dia itu istri ku, karena bagi ku dia hanya pajangan yang tidak layak untuk di pakai!" sambung nya lagi dengan penuh keyakinan.
"Tapi bagaimana? dengan aturan keluarga mu yang menentang berpoligami atau bercerai selain kematian yang memisahkan? apa aku Akan menjadi simpanan mu selamanya?" Tiara bertanya lagi sambil masih menyenderkan kepalanya di bahu Tama, matanya menatap nanar ke depan.
Seketika Tama yang kesal dan tidak fokus kini tiba-tiba hampir menabrak mobil yang lainnya untungnya berhasil menghindar sehingga membuat Tiara kejedot kedepan.
Bruuuuuughh
"Aaaaaaaw! mas Tama kau hampir saja menabrak orang!" pekik Tiara sambil memegang kepalanya, menatap ke arah depan.
"Mas kalau kita kecelakaan bagaimana? kau hampir saja membuat nyawa ku melayang dan kau juga hampir membuat orang lain juga ketabrak!" sambung nya lagi sambil menatap ke arah Tama yang terlihat masih syok.
"Kau sedari tadi banyak bicara, membuat ku tidak fokus menyetir!" Tama berkata dengan sambil menghela nafas panjang berusaha untuk tenang.
"Aku hanya ingin bersamamu tidak ada apa-apa, tapi kau sedari tadi membahas hal-hal yang tidak penting kau cukup menjalani saja, dan percayalah semua nya akan baik-baik saja!" sambung nya lagi menjelaskan panjang lebar sambil menatap Tiara untuk meyakinkan.
"Tapi aku cuma ingin kau menjadi milik ku seutuhnya!" jawab Tiara sambil memanyunkan bibirnya.
Seketika Tama yang melihat itu langsung saja menyambar bibir Tiara karena merasa sangat begitu menggoda menurut nya.
Tiara yang mendapat serangan mendadak membulat kan matanya sempurna langsung saja membuka mulutnya membiarkan apa yang di lakukan kekasihnya itu, keduanya terhanyut dalam ciuman panas di dalam mobil sehingga tidak menyadari di mana mereka berada.
Tit..Tit ....Tit...Tit...
Suara klakson mobil dari belakang sudah terdengar menyadarkan keduanya dari apa yang di lakukan nya.
"Mas Tama, kita ini di dalam mobil, kau malah mencium ku tampa tahu tempat!" pekik Tiara sambil menatap ke arah belakang saat melihat mobil di belakang sudah mengantri.
"Siapa sih yang tidak tergoda melihat bibir mu, apa lagi kau sengaja manyun begitu!" jawab Tama dengan enteng nya setelah itu segera menjalankan mobilnya.
"Ih Mas Tama nyebelin banget sih!" sungut Tiara sambil masih memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan memancing kemarahan ku dan jangan pernah sedikitpun memikirkan tentang hal itu lagi, mengerti!" Tama berkata dengan penuh peringatan membuat Tiara mengagguk mengerti.
"Iya aku tidak akan membahas tentang hal itu lagi" Tiara berkata sambil tersenyum tipis berusaha untuk menenangkan kekasih nya itu dengan menyenderkan kepada nya di bahu Tama membuat Tama merasa sangat begitu senang.
"Oya, nanti sore aku mungkin pulang cepat ada pertemuan dengan teman lama jadi, aku tidak ikut serta dalam pertemuan mu dengan klien yang itu!" sambung nya lagi menjelaskan panjang lebar sambil mengingat klien yang selalu bertingkah laku senonoh itu.
"Kau itu sengaja ingin membuat ku menghadapi nya sendirian yah, kau tahu kan seperti apa dia!" Tama berkata sambil memanyunkan bibirnya membuat Tiara terkekeh.
"Kan Ada Aldi kau tidak sendirian!" jawab Tiara sambil masih menahan tawanya mereka berdua asyik bercanda di dalam mobil sambil saling bermesraan seperti biasanya.
Lain halnya di tempat lain Laras baru saja menuruni anak tangga sambil menengok ke kanan dan kiri mencari sosok pria yang membuat nya selalu marah-marah.
"Tumben sekali sepi apa dia sudah berangkat? untuk apa kau memikirkan nya, tidak penting juga!" Laras bermonolog sendiri sambil mengambil sepotong roti yang sudah diolesi selai setelah itu segera berjalan keluar karena karena merasa sudah telat.
Sore Telah Tiba
Sepanjang hari Laras habiskan dengan bekerja seperti biasa nya, tapi wanita itu menjadi pendiam dan jarang banyak bicara seperti biasanya, membuat Adi heran dengan putrinya itu tapi tidak sempat bertanya karena Laras seperti menghindari papa nya itu.
"Laras mau ke mana? cepet-cepet banget ngerapihin berkas?" tanya Adi dengan heran. pasalnya masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
"Itu pah Laras ada pertemuan dengan Eros dia ngajakin Laras makan bersama!" jelas Laras berusaha tersenyum.
"Eros teman lama kamu? dia sudah pulang dari luar negeri?" tanya Adi sambil mengingat sosok pemuda yang dulu sering berkunjung ke rumah nya tanpa tahu siapa keluarga nya.
"Ini anak aneh banget seharian ini, baru saja ingin bertanya tentang keadaan nya eh malah pergi begitu saja!" gerutu Adi sambil menatap punggung putrinya yang semakin menjauh.
Tak beberapa lama kemudian kini Laras sudah berada di tempat janjian, sebuah Warung Bakso yang tertulis nama Mang Parjo yaitu warung bakso yang dulu sering sekali mereka bertiga menghabiskan waktu bersama di tempat tersebut, Warung itu terletak di pinggir jalan, Warung yang dulu sangat kecil dan terbuka kini sudah berubah menjadi lebih besar seperti Restoran karena terkenal dengan rasanya yang enak.
Laras tersenyum sambil mengamati Warung tersebut yang sudah lama tidak pernah di kunjungi nya, mungkin hanya beberapa bulan sekali, jika ada waktu longgar akan berkunjung bersama Tiara sahabatnya itu, wanita itu turun dari mobil nya dengan tersenyum senang dan segera berjalan masuk ke dalam Warung Bakso yang terlihat sangat begitu ramai pengunjung di sore hari itu.
"Assalamualaikum Mang Parjo!" sapa nya dengan ramah membuat Mang Parjo yang sedang meracik bakso tertegun.
"Walaikum salam, Eh neng Laras yang geulis, apa kabar? sudah lama tidak pernah kelihatan, hari yang ini baru kelihatan, kangen mamang yah?" Ucap Mang Parjo sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda seperti biasanya.
"Ish mamang bisa aja, tentu saja bukan kangen sama mamang tapi kangen sama bakso nya!" jawab Laras sambil mengedipkan sebelah matanya tak kalah menggoda nya membuat Mang Parjo salah tingkah.
"Neng bisa aja bikin mamang merinding, ya sudah sana duduk neng Tiara sudah nunggu di sana sedari tadi!" ujar Mang Parjo sambil menunjuk ke arah di mana Tiara duduk.
"Oh iya, tiga jus jeruk yah Mang, sama tiga porsi bakso, baksonya yang kecil-kecil semuanya ya mang, seperti biasanya!" ucap Laras panjang lebar sambil melirik ke arah di mana Tiara berada.
__ADS_1
"Asiap !" ucap Mang Parjo sambil menunjukkan dua jarinya setuju,
"Oh iya neng satu nya buat...!" belum sempat menyelesaikannya ucapnya Laras sudah terlebih dahulu berjalan meninggalkan nya, membuat Mang Parjo mengurungkan niatnya untuk bertanya karena tidak ingin membuat para pengunjung lain menunggu terlalu lama.
"Ti kau sudah sampai duluan?" tanya nya hendak memeluk sahabatnya itu namun Tiara segera menepis nya.
"Tidak usah sok baik deh biasa saja!" jawab Tiara tanpa sedikitpun menatap ke arah Laras.
"Ti ko ngomong nya gitu sih? kau masih marah dengan ku? aku minta maaf sudah membuat mu merasa sangat begitu sedih!" Laras berkata sambil menatap Tiara dengan penuh harap.
"Bagaimana rasanya harus berbagi Ras itu tidak mengenakan, ini baru awal, belum kedepannya aku masih tidak bisa menerima semua ini Ras!" ucap Tiara sambil tersenyum getir membayangkan kedepannya.
"Memang nya apa yang membuat mu keberatan? kau masih menjalankan hubungan Kalian kan meskipun aku sudah menikah dengan nya!" Laras berkata sambil menatap Tiara dengan tatapan menyelidik karena merasa heran dengan perubahan sahabatnya itu.
"Kau masih bertanya kenapa Ras? di mana hati mu itu, di sini bukan hanya aku saja yang terluka Ras, tapi mas Tama juga, kau mungkin masih menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja tapi kedepannya akan jauh lebih buruk dari apa yang di bayangkan!" Jelas Tiara panjang lebar mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati nya sambil geleng-geleng kepala dengan sahabatnya itu.
"Hai gaes sudah datang duluan, ku pikir aku yang Paling utama datang!" Suara seorang pria membuat mereka berdua menghentikan obrolan nya.
"Siapa kau? kenapa sok akrab dengan kami?" tanya Tiara sambil menatap pria yang tiba-tiba duduk di samping nya.
"Yaelah Tiara kau sudah melupakan ku yah, ini loh si Eros yang ganteng nya nggak ketulungan itu loh masa lupa!" Eros berkata sambil melepaskan kaca mata hitam nya.
Seketika Tiara menatap Eros dengan terkejut karena melihat perubahan sahabatnya itu yang terlihat sangat begitu berbeda.
"How are you doing?" Eros berkata menggunakan bahasa Inggris sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda ke arah Tiara membuat Tiara yang sedang memperhatikan penampilan nya mendengus kesal karena ternyata sifat narsis sahabatnya itu sudah mulai keluar.
"Ck.. sok bahasa Inggris segala, mentang-mentang baru pulang dari luar negeri, banci ya tetep banci mau berubah kaya apapun Laras ngga akan tertarik dengan mu!" Tiara berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Eros yang selalu membuat nya geli sendiri.
"Ish sembarang gini-gini kan calon dokter handal masa di bilang banci sih ngga ada rasa kemanusiaan sekali!" ucap Eros sambil merapikan rambut nya sok keren.
"Alah dokter handal apanya yang ada pasien nya kabur duluan karena melihat tampang dokter nya seperti ini hehehe!" ucap Tiara sambil terkekeh sendiri sisi usil nya sudah mulai keluar.
"Iya yang ada bukan nya di tangani justru pasiennya malah di goda duluan, alhasil bukan dokter handal lagi tapi dokter plus-plus hehehe!" ucap Laras ikut menimpali membuat Eros menatap wanita yang sedang duduk tersebut.
"Kakak ipar kau malah ikut-ikutan saja sih bukan nya malah membela adik ipar mu ini!" Eros berkata sambil menatap Laras dengan wajah sedih Seolah sedang teraniaya.
"Kakak ipar apa maksudnya?" tanya Tiara sambil menatap ke arah Laras dengan mengerutkan keningnya heran berharap ada jawaban dari sahabatnya itu.
Seketika Laras dan Eros saling pandang satu sama lain merasa bingung harus menjelaskan nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa like komen vote hadiah nya yah agar author semangat ngelanjutin nya 🙏