Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Sindiran Pedas Bela Untuk Tiara


__ADS_3

"Mama ko ngomong nya gitu sih? Sorry Mama ku cantik, tadi sedikit macet!" Laras berkata sambil menatap Mama nya dengan penuh harap.


"Mama beneran marah? ngga kangen sama anak Mama yang cantik ini?" Lanjut nya lagi sambil menatap wajah Sarah dengan penuh harap.


"Laras, Mama kangen banget saking kangen nya Mama sampai gemas sama kamu, iiiiih selalu saja bikin orang khawatir!" Sarah langsung saja mencubit pipi Laras membuat Laras terkejut.


"Aduuuuuh! Mama ko malah mencubit pipi ku sih!" Pekik Laras sambil cemberut.


"Siapa suruh jadi anak ngga sopan sama orang tua!" jawab Sarah sambil cengengesan.


"Iya Sorry, abisnya Mama tadi ngomong nya tanpa jeda sih, kan bikin pusing pala Barbie!" jelas Laras sambil tersenyum tipis.


"Ya sudah kalau begitu acaranya sudah bisa di mulai kan?" tanya Adi sambil tersenyum tipis.


"Bentar Pah, Mama masih kangen sama si anak nakal ini!" jawab Sarah sambil memeluk Laras.


"Ck... Ya elah ini orang rempong banget sih!" decak Adi sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.


"Sama aku ngga kangen Tante?" tanya Eros membuat Sarah menoleh dan segera melepaskan pelukan nya.


"Eros si humoris itu yah? ya ampun kau makin ganteng saja!" Sarah yang melihat Eros langsung antusias berjalan mendekati pemuda tersebut.


"Apa kabar Tante?" tanya Eros sambil tersenyum tipis.


"Baik-baik saja, ya masih sama seperti dulu, kau tahu sendiri lah. kau menghilang kemana saja? putri ku ini waktu itu menangis histeris 7 hari 7 malam dia mengurung diri di kamar saat kau hilang tanpa kabar!" Sarah berceloteh panjang lebar melebih-lebihkan ucapan nya membuat Eros terkekeh.


"Yang bener Tante? berarti aku ini the best dong?" tanya Eros sambil menaik turunkan alisnya.


"Tentu saja iya tante jadi pengin ngobrol bareng deh bakar-bakaran di depan rumah lagi kaya dulu!" jawab Sarah dengan antusias.


"Ngobrol nya nanti saja yah, seperti nya tamu undangan sudah pada menunggu!" jawab Eros sambil cengengesan menatap ke arah orang-orang yang berada di tempat tersebut.


"Ih Mama ngawur deh, mana ada begitu udah gitu genit lagi!" sungut Laras menatap Mamanya dengan kesal.


"Bodo amat yang penting happy!" jawab Sarah tanpa sedikitpun memperdulikan kekesalan Laras.


"Oya,Ras berarti aku ini spesial dong?" tanya Eros sambil tersenyum menggoda.


"Ck... ngga tuh!" decak Laras sambil menggeleng cepat.


"Alah ngaku aja deh jangan mengelak!" jawab Eros dengan penuh percaya diri nya.

__ADS_1


"Mungkin kali!" jawab Laras yang tidak ingin berdebat lagi membuat Eros cekikikan.


Sementara Bela Tama Malik dan Adi hanya menyimak pembicaraan yang tidak ada Faedah itu tanpa sedikitpun ingin ikut serta.


"Oya, selamat ulang tahun Tante!" ucap Eros sambil memberikan paper bag yang di bawa nya.


"Terima kasih atas kedatangan nya dan kado nya, nanti kita ngobrol lagi deh!" ucap Sarah sambil tebar-tebar pesona dan berjalan menuju ke arah pintu untuk memotong pita peresmian butik baru nya.


"Mama genit deh sudah tua juga!" bisik Adi sambil menarik tangan Istrinya itu.


"Umur tua tapi jiwa muda, ngga papa sekali-kali genit, ini kan hari bahagia Mama jadi Mama bebas melakukan apa saja!" jawab Sarah dengan percaya diri nya.


"Iya deh kalau begitu papa pasrah!" jawab Adi sambil mengagguk pasrah.


Mereka semua berada di depan butik yang berada di samping gedung pesta ulang tahun.


"Semuanya Terima kasih sudah datang di acara bahagia saya, Malam ini di jam ini saya akan meresmikan butik saya semoga butik ini bisa menjadi tempat yang lebih nyaman untuk kalian semua!" ucap Sarah panjang lebar sambil menggunting pita peresmian.


Prok...prok


Suara tepuk tangan merah dari tamu undangan kini sudah terdengar.


Acara ulang tahun Sarah tidak melakukan potong kueh atau semacamnya melainkan acara syukuran dan pengajianan karena keluarga Laras memang selalu memegang prinsip nya sendiri dan tidak suka yang berbaur rame-rame tidak jelas.


"Ayo semuanya di nikmati!" ucap Sarah setelah acaranya selesai.


"Oya, Eros silahkan di nikmati puding coklat nya, kau kan suka sekali sama puding buatan Tante ini!" Sarah yang melihat Eros kini antusias menyodorkan puding ke hadapan Eros.


"Terima kasih tante!" jawab Eros dengan malu-malu.


"Tidak usah malu-malu, biasanya juga malu-maluin!" jawab Sarah saat melihat tingkah Eros yang malu-malu.


"Besan kau akrab sekali dengan putra ku ini? seperti anak dan ibu?" Bela bertanya sambil menatap Sarah dengan heran.


"Jadi Eros putra mu Bel? ko aku baru tahu yah, Eros ini anaknya humoris, ceria aku suka banget dengan nya, dia tidak pernah merasa malu atau pun sombong sama sekali makannya aku akrab banget sama dia!" Sarah berkata panjang lebar memuji Eros tanpa embel-embel.


"Apa yang kau suka dari nya? perasaan Eros biasa saja ngga ada yang bisa di banggakan ngga seperti Tama yang selalu membawa nama baik keluarga?" tanya Malik dengan tidak suka.


"Loh kok sama anak sendiri gitu banget? ngga baik loh ngomong gitu sama anak sendiri, ya mungkin sekarang Eros belum bisa apa-apa siapa tahu di masa depan dia bisa membawa nama baik keluarga, ku denger-denger Eros Calon dokter bukan begitu!" Sarah berkata dengan bijak menatap Malik dengan tidak habis pikir.


"Sudah-sudah, jangan di ributkan Mas Malik memang tidak pernah akur dengan Eros, lantaran dia lebih memilih kuliah kedokteran dari pada harus masuk ke dunia bisnis!" jelas Bela panjang lebar berusaha untuk melerai keduanya.

__ADS_1


Seketika semuanya hening Eros yang di bicarakan sedari tadi juga lebih memilih untuk diam dari pada terjadi kekacauan di pesta.


"Oya Sarah, kau bilang punya keponakan angkat yang kau anggap keluarga mu sendiri, kau sering memujinya, lantaran dia anak yang rajin, pintar memasak, dimana dia?" tanya Bela setelah sedari tadi hening.


"Oya, Tiara kemari na!" Sarah yang melihat Tiara langsung memanggil wanita itu yang kebetulan sedang mengintip.


Tiara yang di panggil merasa gugup dan tegang karena merasa sangat begitu takut jika terjadi sesuatu.


"Sini, kenapa kau malah diam saja di sini? ada yang ingin bertemu dengan mu, kau bilang pengin punya mertua, jadi sebelum punya mertua kenalan dulu sama mertua nya Laras!" Sarah yang melihat Tiara hanya diam saja kini langsung menggandeng tangan wanita itu menuju ke arah Bela berada.


Sementara Tama yang melihat kekasihnya kini merasa tegang dan pucat pasi mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu di mana mama nya masuk rumah sakit karena marah besar dengan hubungan mereka entah apa yang membuat itu terjadi yang Tama tahu karena mereka beda kasta.


"Bela ini Tiara, Tiara ini tante Bela mertua nya Laras!" Sarah mengenalkan keduanya sambil tersenyum tipis.


"Tiara, Tante!" ucap Tiara sambil mengulurkan tangannya.


"Oh jadi kamu, orang yang selalu Sarah puji!" Ucap Bela menatap Tiara dengan sedikit terkejut menepis tangan Tiara yang hendak menyalami nya.


"Bela kau tidak papa kan?" tanya Sarah dengan heran saat melihat raut wajah Bela berubah dan menepis tangan Tiara.


"Hanya tangan ku kotor saja, jadi tidak bisa bersalaman!" jawab Bela dengan singkat.


"Laras kau berhati-hati lah, jangan terlalu dekat dengan nya terkadang kita tidak tahu seperti apa orang yang kita anggap baik, bisa jadi di balik kepolosan wajahnya dia punya Seribu cara licik!" ucap Bela dengan penuh penekanan menatap Tiara dengan tatapan tidak suka.


"Mama ko ngomong nya gitu sih? Tiara itu Sahabat terbaik ku justru malah aku yang sering membuat hidup nya susah!" jawab Laras berusaha untuk menyembunyikan perasaan yang ada di dalam hati nya.


"Kepercayaan adalah hal yang rapuh setelah diperoleh, itu memberi kita kebebasan yang luar biasa. Tetapi, begitu kepercayaan hilang, tidak mungkin untuk pulih. Tentu saja kebenarannya adalah, kita tidak pernah tahu siapa yang bisa kita percayai. Orang yang paling dekat dengan kita bisa mengkhianati kita." ucap Bela dengan penuh penekanan.


"Jangan tertipu oleh topeng mereka. Orang palsu akhirnya menunjukkan warna aslinya. Tunggu saja sampai masker mereka perlu dibersihkan, ups maksudnya wajahnya!" lanjut nya lagi sambil menumpahkan segelas air putih ke wajah Tiara.


"Mama!" pekik Tama dengan terkejut saat melihat Bela menyiram wajah Tiara.


"Sorry aku tidak sengaja, tadi aku mencium bau pelakor di sekitar sini tapi malah menyiram wajah mu!" ucap Bela sambil menarik satu sudut bibir nya tersenyum seringai.


"Tidak, papa ko Tante, aku permisi dulu!" jawab Tiara berusaha untuk menutupi perasaannya.


Saat Tiara hendak melangkah keluar Tama memegang tangan nya tentu membuat Bela menatap putranya dengan tajam.


"Tama apa yang kau lakukan?" tanya Bela membuat Tama menoleh.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2