
"Itu tidak akan pernah terjadi Pah, Laras kan wanita kuat, lagian Tiara mana mungkin menyakiti Laras, dia kan selalu saja mengalah untuk ku!" Laras berkata dengan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ya semoga saja putri papa ini tidak mengalami hal yang menyedihkan, karena papa merasa ada yang kau sembunyikan!" jawab Adi sambil menatap Laras dengan penuh selidik.
"Laras juga baru tahu pas hari itu, kalau Tiara dan ka Tama adalah mantan pacar jadi, kan Laras bukan perebut karena Tiara memang sudah putus sebelum Laras menikah dengan Ka tama, iya kan sayang!" jelas Laras sambil menyiku lengan Tama.
"Iya Pah, aku mana mungkin menyia-nyiakan istri secantik anak Papa ini!" jawab Tama sambil mengangguk mengiyakan.
Dokter keluar dari ruangan tersebut membuat mereka menghentikan obrolan nya.
"Bagaimana dengan keadaan Mama saya dok?" tanya Eros yang sedari tadi diam.
"Ya seperti biasa jantung nya kambuh lagi, hal ini karena marah-marah membuat jantung nya tidak terkontrol dengan baik, sebaiknya biarkan nyonya Bela istirahat dan jangan membuat hal yang menyebabkan kondisinya memburuk atau mengguncang pikiran nya jika terus seperti ini bisa berbahaya bagi kesehatan jantung nya!" terang Dokter panjang lebar.
"Iya Terima kasih saran nya!" jawab Tama dengan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu biarkan nyonya Bela saya pindahkan ke ruang rawat!" pamit dokter kembali masuk ke dalam.
"Ka Tama, sebaik nya kakak tidak usah menemui Mama dulu deh!" ucap Eros sambil memegang tangan Tama.
"Apa masalah nya? kau tidak usah sok tahu deh, yang perlu disalahkan itu Papa bukan aku!" ketus Tama menyingkirkan tangan Eros dengan kesal.
"Sudah Ros biarkan saja!" ucap Laras sambil menggeleng membuat Eros akhirnya mengikuti kakak nya menuju ke arah ruang rawat.
Tama menatap ke arah Mama nya yang sedang berbaring di ranjang dengan oksigen yang sudah terpasang lantaran kehilangan oksigen, membuat pria itu menangis sesenggukan padahal tadi Mama nya terlihat baik-baik saja.
Tama memang pria yang keras tapi, pria itu sangat begitu menyayangi Mama nya dan tidak pernah membantah apa yang di katakan Mama nya tapi, pria itu juga merasa sulit berada di antara dua pilihan lantaran cinta nya sangat begitu besar untuk Tiara.
"Mah, Maafkan Tama yang sudah membuat Mama harus kembali ke rumah sakit!" ucap nya sambil memegang tangan Bela yang masih belum sadarkan diri.
Laras yang melihat Tama menangis kini sedikit tersentuh lantaran pria itu yang selalu terlihat dingin dan kejam kini terlihat rapuh.
__ADS_1
"Apa jika aku yang berbaring di rumah sakit kau akan menangis seperti ini? atau justru kau malah cuek!" batin Laras bertanya-tanya sendiri.
"Kau yang sabar yah, Bela pasti kembali sembuh!" Adi menepuk pundak Tama berusaha untuk menenangkan menantu nya itu.
"Iya Pah, entahlah apa yang membuatnya, sampai seperti ini mungkin luka di masa lalu nya masih menyisakan teramat dalam bagi nya!" jawab Tama sambil menatap ke arah Malik dengan tatapan tajam.
Setelah itu semuanya hening tidak ada yang bersuara bahkan Malik biasanya banyak bicara kini hanya diam saja membuat kecanggungan terjadi begitu pula dengan Eros yang lebih memilih untuk diam saja.
"Ya sudah kalau begitu kami berdua pamit ya, semoga Bela cepet sadar!" Pamit Sarah dan Adi yang mengingat pesta tadi yang belum usai.
"Iya hati-hati!" jawab Tama dengan singkat sambil mengagguk.
"Laras, sering-sering main ke rumah Mama, Mama masih kangen berat sama kamu tapi, Mama juga masih banyak urusan!" Sarah memeluk Laras dengan erat karena merasa masih sangat merindukan putrinya itu.
"Iya Mah nanti Laras akan sering main ke rumah, Mama!" jawab Laras dengan suara yang di buat sedramatis mungkin.
"Kalau ada apa-apa cerita ke Mama yah, oya, soal Tiara sebaiknya kau berbicara lah dengan nya, walaupun begitu Mama tahu bagaimana perasaan nya dia sebatang kara tanpa siapa pun!" ujar Sarah dengan penuh harap.
"Iya tenang saja nanti Laras akan berbicara dengan nya!" jawab Laras dengan meyakinkan.
"Papa, pulang saja, kau juga Ros biar aku yang akan menemani Mama!" ucap Tama menyuruh kedua nya untuk pulang.
"Tidak, aku ingin menemani Mama, ka Tama saja sana yang pulang!" jawab Eros dengan penuh keyakinan.
"Ya Tama kau pulang saja biar kami yang akan menjaganya!" ucap Malik menyetujui perkataan Eros.
"Aku tidak akan pulang, sudahlah kalian saja yang pulang, lagian Mama seperti nya tidak ingin bertemu papa!" jawab Tama dengan penuh penekanan sambil menatap Malik dengan tatapan tajam.
Melihat hal itu tentu membuat Eros akhirnya mengalah lantaran tidak ingin terjadi keributan.
"Baiklah aku pulang, Laras aku pamit dulu, titip Mama yah!" Pamit Eros menatap ke arah Laras yang sedari tadi diam saja.
__ADS_1
"Iya kau tenang saja!" jawab Laras mengganguk mengiyakan.
"Papa, ayo kita pulang, jangan membuat kondisi Mama semakin parah!" Eros langsung menarik tangan Malik untuk keluar meskipun pria paruh baya itu tidak ingin mau keluar apa lagi hubungan nya dengan Eros tidak pernah baik.
Kedua pasangan manusia itu memutuskan untuk duduk dan menunggu Bela untuk sadar, Tama lebih memilih untuk tidak menghiraukan Laras sama sekali pria itu justru lebih memilih untuk duduk di samping Bela sementara Laras duduk di sofa yang aga jauh dari Tama duduk.
Satu Jam
Dua Jam
Tiga Jam
Keduanya menunggu dengan hening tidak yang bersuara sama sekali, hingga rasa kantuk kini sudah mulai terasa namun yang di tunggu belum juga membuka matanya.
"Ekheem-ekhem!" kini Laras akhirnya memutuskan untuk berdehem karena mulutnya sudah merasa gatal untuk berbicara.
Tidak ada sahutan dari Tama sedikitpun pria itu bahkan tidak menoleh sama sekali membuat Laras menghembuskan nafas kasar berjalan mendekati Tama.
"Hay kau ingin kopi tidak? kalau mau sekalian aku belikan di warung, sepertinya kau sudah mengantuk?" tanya Laras dengan suara yang di buat ketus.
"Hmmmm!" jawab Tama.
"Punya mulut kan? kenapa irit sekali, iya apa tidak?" ucap Laras mengulangi pertanyaannya.
"Iya, kau berisik sekali sih, kalau tidak Kenapa? kalau iya kenapa?" Tama yang merasa terganggu dengan ucapan Laras kini berdiri sambil menarik tangan wanita itu menyudutkan nya hingga ke hadapan nya sehingga jarak mereka sangat begitu dekat.
"Kau mau apa?" tanya Laras dengan tegang karena wajahnya sangat begitu dekat dengan wajah Tama bahkan nafasnya tidak beraturan.
"Aku ingin kopi, ingat jangan terlalu manis, kopi luwak white yah!" jawab Tama akhir nya sambil melepaskan tangan Laras karena merasa sangat begitu tegang jika harus berada di dekat Istrinya itu.
"Ya!" jawab Laras dengan singkat sambil bersungut-sungut, entahlah apa yang di rasakan wanita itu ada rasa kecewa di dalam hati nya.
__ADS_1
"Aneh tapi nyata, kenapa melihat wajahnya dari dekat membuat ku menjadi tegang!" gumam Tama sambil menghela nafas panjang berusaha untuk tenang.
"Aku jatuh cinta sejatuh jatuh nya kepadamu dan hanya bertemu sebagai cinta terlarang, sesuatu yang di awal ku anggap main-main ternyata menimbulkan sakit yang bukan main dan harus pasrah pada ketentuan, mungkin kita memang di takdir kan hanya untuk tidak saling mencintai, karena jika aku maju berarti aku juga menambah rasa sakit Tiara!" gumam Laras di dalam hati nya sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan menahan Air mata nya.