
Hari Berjalan dengan cepat, tak terasa dua Minggu sudah berlalu, setelah pembicaraannya dua Minggu yang lalu ke-tiga nya tidak pernah bertutur sapa, terlebih Tiara yang lebih memilih untuk menghindar dan Laras lebih memilih cuek dan acuh pada suaminya itu dan masih menjalin hubungan dengan Eros.
Sementara Tama selalu berusaha untuk membujuk Tiara dan melakukan segala cara agar kekasih nya tidak menghindari nya namun hasil nya nihil membuat pria itu selalu saja bersikap dingin dan marah-marah terus menerus menyalahkan karyawan yang menjadi sasaran nya.
Kini ketiga nya sedang berada di ruang Meeting, yaitu membahas tentang pekerjaan, meskipun ke-tiga nya tidak pernah bertutur sapa, tapi dalam masalah pekerjaan mereka akan bersikap profesional.
"Baiklah, Kalau sudah tidak ada yang di pertanyakan, semuanya bisa kembali ke ruangan masing-masing." ucap Tama setelah merasa sudah selesai dengan penjelasan nya.
Semua karyawan pun satu persatu keluar dari ruangan itu kini tinggal menyisakan ke empat orang, yaitu Aldi Laras Tama dan Tiara.
"Ti, kau jangan menghindari Aku terus menerus, Aku tidak sanggup jika kau terus mendiamkan ku, Please jangan seperti itu, lagian Aku tidak pernah sedikit pun peduli pada nya, kau lihat sendiri kan seperti apa hubungan ku dengan Eros." Laras mencoba untuk menjelaskan bahwa apa yang di pikirkan sahabatnya itu salah.
"Sayang, Aku hanya mencintai mu, sungguh aku benar-benar tersiksa karena harus diam-diaman seperti ini." ucap Tama ikut menimpali.
"Kalian ini, apa tidak cukup menyakiti ku? membuat ku tambah semakin merasa sakit hati." jawab Tiara berusaha untuk biasa saja meski sebenarnya sudah sangat begitu merindukan kedua nya.
"Ti, Aku sangat begitu bersalah, aku tidak sanggup lagi menahan nya, bila kau ingin hukum aku dengan cara lain jangan hukum aku dengan cara diem saja.":Tama memeluk kekasihnya dari belakang menghentikan langkah Tiara yang hendak berjalan begitu saja.
Aldi yang melihat itu tentu merasa sangat begitu kasihan dengan Laras, pria itu tidak menyangka kalau Bos nya bakal Setega itu menyia-nyiakan istri secantik Laras, hanya karena masih mencintai mantan nya bahkan tidak memperdulikan perasaan nya sama sekali.
"Nona !" pekik Aldi langsung berlari menangkap tubuh Laras yang hendak terjatuh.
"Laras!" pekik Tiara dan Tama langsung menoleh ke arah belakang.
"Tuan, Nona Laras pingsan." ucap Aldi terlihat khawatir.
"Bawa saja dia ke rumah sakit, merepotkan." jawab Tama dengan acuh meskipun dalam hati sebenarnya merasa ikut khawatir tapi dia tidak akan menunjukkan bahwa dirinya khawatir di depan Tiara.
"Mas Tama, kau kan suaminya, apa kata karyawan kalau Aldi yang membawa nya." Tiara berusaha untuk membujuk.
Akhirnya dengan bujukan Tiara Tama pun menggendong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit.
Kini ketiga nya sudah berada di dalam mobil, Tama menyuruh Aldi untuk menghandle semua pekerjaan.
Tiara tampak khawatir dengan sahabatnya itu wanita itu terus saja memeluk sahabatnya karena merasa sangat begitu bersalah sudah mendiamkannya.
"Mas Tama, kira-kira Laras kenapa yah?" Tiara bertanya kepada Tama dengan air mata yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja, mungkin wanita itu hanya kelelahan saja, mengingat betapa gila nya dia saat bekerja." Tama menjawab dengan santai karena merasa sangat begitu kesal dengan sikap dan perlakuan Laras yang menurut nya sangat buruk, karena wanita itu selalu saja pulang malam setelah bekerja dan pagi hari sudah tidak ada di rumah terlebih kedekatan nya dengan Adik nya semakin menjadi.
Kini setelah beberapa saat kemudian keduanya hening tenggelam dalam pikiran nya masing-masing.Hingga tak terasa mobil sudah berada di depan rumah sakit.
Para petugas rumah sakit segera sigap membawa ranjang dorong saat Tama berteriak minta tolong.
"Kalian tunggu di luar yah, biar kami periksa kondisi nya." ucap dokter saat melihat keduanya hendak masuk.
"Mas Tama, apa Laras akan baik-baik saja?" Tiara bertanya sambil menangis meskipun merasa marah dengan sahabatnya tapi dia juga merasa sedih jika sahabatnya sampai terjadi sesuatu.
Tama memeluk Tiara mendekap tubuh mungil gadis itu dengan sangat begitu erat.
"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh seperti itu lagi aku benar-benar tidak sanggup lagi jika kau menjauhi ku." ucap Tama tanpa sedikitpun memperdulikan Laras, pria itu entahlah lebih memilih untuk memeluk dan melepas kerinduan pada kekasihnya itu.
Keduanya kini Akhirnya duduk menunggu dengan posisi Tiara yang menyender di bahu Tama.
Beberapa saat kemudian
Dokter sudah keluar membuat Tiara segera menghapus air mata nya dan menjauh dari pelukan Tama.
"Suaminya apakah ada?" Tanya dokter dengan tatapan ragu.
"Dia suaminya, kenapa memangnya? apa ada yang serius?" ucap Tiara sambil menunjuk ke arah Tama.
Seketika Tama langsung saja menatap dokter itu dengan sangat begitu penasaran.
"Saya sarankan, Istri anda untuk periksa di bagian Obgyn deh, soalnya biar lebih akurat, karena yang saya periksa mungkin ada benarnya."terang Dokter panjang lebar.
"Bukan nya itu, Dokter kandungan?" tanya Tama dengan heran.
"Iya begitu lah, kalau begitu saya permisi." jawab dokter mengagguk mengiyakan langsung saja pamit meninggalkan kedua nya yang masih mematung.
****
Kini Tama dan Tiara sudah berada di ruangan rawat Laras, Keduanya terdiam merasa syok dengan apa yang di katakan dokter, setelah mengikuti saran Dokter tadi kedua nya akhirnya menurut untuk memeriksa Laras ke bagian Obgyn yaitu dokter kandungan.
"Mas, aku tidak menyangka kalau hubungan kita harus menjadi seperti ini." Tiara mencoba untuk biasa saja meskipun hati nya terasa sesak, entah lah dia senang dengan kehamilan sahabatnya atau justru malah merasa sedih yang jelas perasaan nya campur aduk tidak karuan.
__ADS_1
"Kita tunggu Laras sadar, semuanya akan baik-baik saja." Tama mencoba untuk meyakinkan sambil menggenggam tangan Tiara meskipun ada ketakutan pada diri nya.
"Baik-baik saja menurut mu, tapi tidak dengan ku." jawab Tiara sambil memalingkan wajahnya dan menepis tangan Tama yang memegang nya.
Setelah Cukup lama mereka terdiam tenggelam dalam pikiran nya masing-masing, kini Tiara segera mendekat ke arah Laras saat sudah ada pergerakan dari wanita itu.
Laras membuka matanya perlahan menoleh ke sekeliling sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Anak siapa yang kau kandung? Apakah anak itu anak ku?" tama langsung saja menyodorkan hasil pemeriksaan tadi, karena pria itu sudah tidak sabaran untuk bertanya.
"Anak apa yang kau maksud?" tanya Laras berusaha untuk duduk dan merasa bingung dengan apa yang di tanyakan pria di hadapannya itu.
"Baca lah itu, kau tidak boleh menutupi semua nya dari ku, jikalau memang itu anak Mas Tama aku akan menjauh." ucap Tiara berusaha untuk menahan sesak di dada nya.
Laras langsung mengambil hasil pemeriksaan nya wanita itu merasa syok dengan apa yang di lihat nya.
"Secepat itu kah dia hadir? Bagaimana bisa usia kandungan ku sudah 4 Minggu padahal kan baru dua Minggu yang lalu." Laras bergumam di dalam hati nya wanita itu mencoba untuk mencerna apa yang di baca nya.
"Oh iya, Aku ingat, bukan kah perhitungan nya dari hari pertama haid terakhir? ya ampun Aku lupa tidak memakai pengaman, bodoh kau Laras." Lanjut nya lagi sambil memegang kepalanya karena merasa bodoh dengan dirinya sendiri.
"Laras, katakan pada kami, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?" Tama bertanya untuk kedua kalinya membuat Laras membuyarkan lamunannya.
Wanita itu terdiam mencoba untuk berpikir keras alasan apa yang harus di katakan nya.
"Laras, kau kenapa diam saja? Ayo jawab." ucap Tiara yang mulai penasaran karena Laras hanya diam saja.
"Tentu saja anak ini anak Eros, mungkin karena aku lupa pake pengaman jadi kebobolan." jawab Laras dengan santai.
"Tidak mungkin, kau pasti becanda kan?" tanya Tiara merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.
"Aku tidak becanda, kau lihat sendiri dari hasil pemeriksaan kalau aku sudah hamil 4 Minggu jadi bukan anak nya." jawab Laras mencoba untuk biasa saja.
Plaaaak
Satu tamparan mendarat di pipi Laras membuat Laras terkejut karena mendapat tamparan keras
BERSAMBUNG
__ADS_1