Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Kecemburuan Tama


__ADS_3

"Ada apa sih?" tanya Tama saat melihat kekasihnya mengomel.


"Tidak ada, oya aku ada acara Anniversary persahabatan jadi kau pulang saja." ucap Tiara sambil menatap Tama dengan tatapan memohon.


"Eros lagi? Aku harus ikut." Tama yang mengerti langsung saja menarik tangan Tiara untuk mengikuti nya.


"Kau tidak boleh ikut, nanti bertengkar lagi dengan istri mu itu." Tiara mencoba membujuk saat mengingat kejadian tadi pagi.


"CK... Istri? Hanya pajangan." Tama berdecak saat Tiara mengatakan bahwa Laras adalah istrinya.


"Pajangan di mata tapi, di dalam hati sebenarnya merasa tidak rela." jawab Tiara sambil cemberut.


"Sudahlah tidak usah di bahas lagi, intinya aku ingin ikut." Tama berusaha untuk mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuat kekasihnya bersedih.


Tiara yang mengerti situasi akhirnya memutuskan untuk diam dan membiarkan Tama ikut.


Tiara bersandar di bahu Tama saat pria itu sudah menyalahkan mesin mobil nya.


"Sayang, jika mungkin Laras tidak hadir di antara kita, apa mungkin hubungan kita tidak akan seperti ini?" tanya Tiara mencoba memecah keheningan.


"Mungkin." jawab Tama dengan singkat. pria itu memalingkan wajahnya saat Tiara hendak melakukan sesuatu.


"Kenapa kau menghindari ku? Dan hanya menjawab singkat." tanya Tiara melihat perubahan wajah kekasihnya itu.


"Aku sedang menyetir Ti, kau ini ada-ada saja." jawab Tama berusaha untuk menenangkan karena merasa kekasih nya sudah mulai merajuk.


"Kau aneh tidak seperti biasanya." Tiara akhirnya memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke arah samping karena merasa sangat begitu kesal.


"Aku tidak aneh, aku cuma sedang berpikir saja, kenapa aku harus Menikahi Laras walau pada akhirnya dia malah bersama Eros, bukankah itu hal yang tidak masuk akal?" Tama berkata panjang lebar menjelaskan apa yang sedang di pikirkan nya.


"Laras lagi, Laras lagi, seperti nya kau benar-benar sudah berbeda kau bahkan seperti menghindari ku." Tutur Tiara sambil mencebikan bibirnya merasa sangat begitu kesal.


"Apa jangan-jangan, kau memang sudah mencintai Laras? makan nya kau begitu." lanjut nya lagi dengan penuh peringatan.


"Sudahlah tidak usah di bahas lagi, kau malah menuduh ku yang tidak-tidak, mungkin kau sedang datang bulan jadi nya sensitif terus." ucap Tama yang tidak ingin terjadi sesuatu.


Tiara akhirnya memutuskan untuk diam saja karena merasa tidak ingin lama-lama berdebat lagi karena merasa apa yang di katakan kekasihnya ada benarnya juga.


Sepanjang perjalanan hening tidak ada yang berbicara sedikit pun, kini akhirnya mobil sudah sampai di tempat tujuan yaitu Restoran yang sudah di sepakati bersama.


"Kau masih marah?" Tama bertanya saat melihat Tiara terlihat diam saja di dalam mobil tidak sedikitpun ingin turun.


"Tidak hanya kesal saja." jawab Tiara dengan singkat.


"Sama saja, mau aku gendong paksa turun atau mau turun sendiri." ucap Tama hendak menggendong Tiara.


"Tidak usah aku bisa turun sendiri ko!" pekik Tiara saat Tama hendak menggendong nya.


Wanita itu yang tadinya merasa marah kini berubah menjadi salah tingkah dengan apa yang Tama lakukan begitu Tiara wanita yang mudah baper dan mudah memaafkan.


"Tidak marah lagi?" Tanya Tama sambil tersenyum menggoda.


"Tidak, asalkan kau tidak boleh seperti tadi." jawab Tiara dengan manja.


Tama hanya mengangguk saja dan langsung menggandeng tangan Tiara.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan dengan sangat begitu mesranya, senyum Tiara sedari tadi tidak sedikitpun pudar, entah lah apa yang di rasakan wanita itu yang jelas Tiara hanya ingin Tama memperdulikan nya tidak membahas tentang sahabat nya lagi.


Langkah keduanya kini terhenti saat melihat kedua orang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Jalan-jalan sampai ke Kenya, hati lelah tapi happy raga,


Aku cinta kamu selamanya, menikahlah denganku hari ini juga." suara Eros yang sedang menggoda Laras itulah yang di dengar keduanya.


"Burung elang sayapnya patah, tapi tetap terbang di udara,


Kau selalu jadi yang terindah, dalam hidupku sepanjang masa." jawab Laras sambil cengengesan.


"Ha-ha-ha kau pintar juga berpantun." Eros tertawa terbahak-bahak.


"Iya dong Larasati Nugroho di lawan." jawab Laras dengan membanggakan diri nya.


"Kenapa dia bisa tertawa lepas tanpa beban dengan adik ku? Kenapa dengan ku, seolah dia sangat begitu arogan dan ketus? Dan kenapa hati ini terasa tidak rela? Seharusnya itu hal paling baik bukan?" Tama bergumam di dalam hati nya pria itu entah mengapa tiba-tiba merasa tidak rela.


"Mas Tama, kau baik-baik saja kan?" Tiara yang sedari tadi memperhatikan kedua nya kini merasa heran dengan kekasihnya itu yang terlihat sangat begitu aneh dan bengong saja.


Tama masih bengong saja membuat Tiara menghela nafas panjang langsung menepuk pundak Tama.


"Mas Tama, kau baik-baik saja kan?" tanya Tiara untuk kedua kalinya.


Wanita itu mendekat kan wajahnya nya ke arah wajah Tama membuat Tama tersentak kaget.


"Ti, kau apaan?" bentak Tama dengan tatapan tajam.


"Kau yang apa-apaan? melamun sendiri tidak jelas, di tanya tidak menjawab, jadi jangan salahkan aku." jawab Tiara dengan kesal nya.


"Ekheem-ekhem." Tiara berdehem untuk menyadarkan keduanya.


"Ti, kau lama sekali, di tungguin sampai kerongkongan kering baru nongol, aku sudah haus sedari tadi tahu." omel Eros panjang lebar.


"Ya kan kau bisa pesen minum duluan, ngapain menahan haus." Jawab Tiara dengan santai.


"CK.. kau lupa tadi kau ngomong apa? Jangan pesen apa-apa sebelum aku datang." Eros bersuara sambil menirukan gaya bicara Tiara.


"Ya ampun kau malah menirukan suara ku." Tiara yang merasa tidak terima kini mencubit pinggang Eros dengan keras nya, seolah sedang meluapkan perasaan nya.


"Aaaaaw, sakit Ti! Kau kejam sekali aku kan cuma bercanda!" pekik Eros sambil meringis kesakitan.


"Sudah-sudah kalian ini malah bertengkar." Laras yang tahu keduanya tidak pernah akhur kini berusaha untuk melerai.


"Baiklah, mengingat ini acara kita, untuk hari ini kita akhur." jawab Tiara menghentikan kelakuan nya.


"Baru ngomong akhur setelah membuat pinggang ku sakit." gerutu Eros dengan sangat begitu kesal.


"Biarin yang penting aku happy." jawab Tiara sambil menjulurkan lidahnya meledek.


"Sore, aku ikut gabung." sapa Tama yang baru saja mendekat, membuat semuanya menoleh.


Pria itu langsung duduk di bangku samping yang ada Laras dan sampingnya Tiara karena bangku nya memang cukup untuk 4 orang.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Eros menatap kakaknya tidak suka.

__ADS_1


"Aku yang mengajak nya kemari." jawab Tiara berusaha untuk tenang.


"Oh sekarang kalian sudah terang-terangan? ngga sembunyi-sembunyi lagi kaya kucing yang mencuri." cibir Eros menatap Keduanya dengan geleng-geleng kepala.


"Oya, kalau begitu kami juga tidak akan bersembunyi lagi." lanjut nya lagi sambil menggenggam tangan Laras.


"Iya, sebenarnya jodoh kita sudah ada masing-masing, hanya karena perjodohan itu membuat kita dilema." Timpal Tiara sambil bergelayut di pundak Tama.


"Itu semua karena Mama Bela, lebih menyayangi anak sulung nya, jadi sampai melupakan anak bungsunya." jawab Eros sambil menatap Tama dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.


Jika kedua orang saling berbicara panjang lebar berbeda dengan Laras dan Tama yang terlihat diam saja biasanya Laras yang banyak bicara kini menjadi pendiam, keduanya justru malah saling pandang satu sama lain.


"Sayang kau mau pesen apa?" tanya Tiara dengan sangat begitu manja.


"Terserah." jawab Tama dengan singkat. Membuat Tiara hanya mengangguk saja sambil menghela nafas panjang.


"Laras sayang, kau juga mau pesan apa?" Eros bertanya pada Laras dengan tak kalah mesra nya.


"Aku?" tanya Laras menunjuk dirinya sendiri sambil melotot sempurna karena merasa sangat begitu terkejut dengan panggilan Eros.


"Iya kamu sayang." jawab Eros menyodorkan buku menu menatap Laras sambil tersenyum menggoda.


"A-aku pesen yang kaya kamu aja." jawab Laras dengan terbata-bata karena merasa geli sendiri mendengar panggilan yang di katakan Eros.


Beberapa saat kemudian


Kini makanan sudah di hidangkan di meja makan membuat keempat manusia bersemangat untuk makan.


Jika pasangan Eros dan Laras terlihat sangat begitu romantis berbeda dengan pasangan Tiara dan Tama yang justru malah terlihat canggung dan kaku terlebih Tama yang justru malah memperhatikan Laras tanpa memperdulikan Tiara.


"Mas, mulut ku di sini, kenapa kau malah ke hidung sih." protes Tiara saat Tama menyuapinya justru malah tangan Tama malah menuju ke arah hidung.


"Sorry aku tidak sengaja, kau tidak papa kan?" tanya Tama saat tersadar dari lamunannya.


"Kau aneh l, sedari tadi kau tidak niat menyuapi ku." jawab Tiara sambil mencebikan bibir nya.


"Seperti nya kekasih mu itu memang tidak niat menyuapi mu, makan nya tidak konsentrasi." cibir Eros menatap dengan tatapan mengejek.


Seketika ketegangan mulai terjadi Tama menatap adiknya dengan tatapan tajam karena merasa sangat begitu kesal.


"Kita pulang!" ucap Tama tiba-tiba langsung menggandeng tangan Laras tanpa sedikitpun memperdulikan kekesalan Tiara.


"Loh kenapa aku yang harus pulang, kau seharusnya membujuk Tiara ." ucap Laras berusaha untuk melepaskan tangan Tama.


Pria itu diam saja tanpa sedikitpun memperdulikan ucapan Laras,Tama langsung saja menarik tangan Laras dengan paksa.


"Ka Tama, kau tidak boleh memaksa Laras untuk ikut bersama mu." Eros berusaha untuk melepaskan tangan Tama yang menggenggam tangan Laras.


"Bukan urusan mu!" jawab Tama sambil menepis tangan Eros.


"Mas, aku pulang sama siapa?" panggil Tiara dengan perasaan tidak karuan.


"Kau pulang lah bersama Eros." jawab Tama dengan datar.


Tiara hanya menatap punggung keduanya yang semakin menjauh dari ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2