
Hari Terus Berganti Seminggu Sudah Berlalu, kini yang terjadi hanya rasa canggung dan kaku yang selalu ada meskipun di antara Laras dan Tama di depan semua orang terlihat sangat begitu romantis, namun di belakang orang hanya rasa benci dan kesal yang di rasakan oleh Tama.
Bagaimana Tidak benci dan kesal? terlebih saat Eros adiknya selalu saja datang pagi hari dengan membawakan makanan untuk Laras, dengan alasan Laras ingin di bawakan makanan, namun yang ada bukan nya di makan, justru malah berakhir dengan pertengkaran dengan Tama, karena wanita itu terus saja mengalami mual dan muntah, hingga terjadilah perang dingin antara ketiga nya, karena Tama yang sebenarnya ingin dekat dengan wanita itu justru selalu di ganggu adiknya.
Seperti Pagi itu Tama, merasa senang karena merasa adiknya tidak datang ke rumah nya, pria itu kini mendekat ke arah Laras yang baru saja duduk di meja makan.
"Mau sarapan juga? tidak mual lagi?" tanya Tama dengan singkat namun terdengar sangat lembut tida ketus seperti biasa nya.
"Apa peduli mu? Aku makan atau tidak bukan nya kau tidak peduli?" ketus Laras tanpa sedikitpun menatap wajah suaminya itu.
"Cih, benar juga sih," Tama berdecih sambil tersenyum tipis.
"Seharusnya kau itu risen saja dari perusahaan Wira Group, karena Aku merasa kau tidak mampu untuk bekerja, jangan kan bekerja, mengurus diri sendiri saja kau tidak mampu, merepotkan!" lanjut nya lagi dengan tersenyum mengejek.
"Tidak akan, karena Perusahaan Wira Group adalah peluang utama ku," ucap Laras sambil berdiri, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing sehingga membuat wanita itu hampir limbung.
"Kau tidak papa?" tanya Tama yang langsung saja menangkap tubuh wanita tersebut, membuat Laras diam membisu tidak menyangka kalau Tama bakal menangkap tubuh nya.
Laras terdiam wanita itu menatap Tama dengan tidak berkedip hatinya terasa tentram saat berada di dekat suaminya itu.
"Jika kau tidak sanggup? dengan kehamilan mu, kenapa kau tidak menggugurkan janin haram itu?" ucap Tama tiba-tiba Karena merasa kesal dengan apa yang terjadi.
"Apa kau bilang?" tanya Laras langsung melepaskan tangan Tama yang memegang tubuh nya.
"Iya menggugurkan janin haram itu, bukan kah itu lebih baik, dari pada menjadi petaka di kemudian hari, sebelum Mama mengetahui tentang kehamilan mu itu," ucap Tama panjang lebar dengan tersenyum sinis.
Plaaaak...
Satu tamparan mendarat di pipi Tama, Laras yang mendengar penuturan suaminya itu merasa sangat begitu marah dan sedih, padahal selama ini wanita itu tidak akan pernah terpancing emosi sampai seperti itu, bahkan saat suaminya memaki nya wanita itu tidak tersinggung sama sekali, tapi menurut nya kali ini perkataan suaminya itu membuat hatinya terasa sangat begitu sakit dan sedih, sebisa mungkin wanita itu menahan air matanya yang hendak jatuh.
"Kenapa kau malah menampar ku? Bukan kah apa yang Aku katakan benar kan!" tanya Tama dengan menggebu-gebu menahan amarahnya, bukan karena tamparan yang di berikan wanita itu sakit melainkan pria itu merasa harga dirinya sudah jatuh begitu saja .
"Jawab Aku Ras, di mana letak kesalahannya? Apa kau tahu semakin kau mempertahankan anak itu semakin kau juga menyakiti perasaan semua orang," lanjut nya lagi dengan penuh peringatan, menggoyangkan tubuh Laras yang diam membisu di tempat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Bisa-bisanya kau menyakiti wanita ku!" pekik Eros yang baru saja datang langsung mendorong kakak nya itu, membuat Tama terjatuh karena kurang keseimbangan.
"Kau yang apa-apaan? Kau tidak tahu tentang masalah kami, kenapa kau harus datang di kehidupan ku, sialan!" jawab Tama merasa tidak terima dengan apa yang di lakukan adiknya.
"kau adalah pria yang serakah, kau bilang ingin memiliki Tiara dan sekarang kau juga ingin mempengaruhi Laras, untuk menggugurkan kandungan nya, pasti karena kau juga menginginkan dia kan, dasar pria munafik!" ucap Eros panjang lebar dengan sangat begitu marah memukul Tama dengan membabi buta, membuat Tama yang masih di bawah tidak sempat melawan, karena perkataan adiknya itu sangat menusuk hati.
"Hentikan Ros, kau bisa membunuh nya," ucap Laras dengan panik dan khawatir, namun pria itu tidak memperdulikan perkataan Laras, membuat wanita itu semakin merasa bingung langsung lari ke arah luar mencari pertolongan.
"Laras, kau baik-baik saja?" tanya Bela menatap menantu nya itu dengan heran, saat melihat Laras keluar dari pintu dengan terburu-buru dan panik.
"E-Eros, Mah, dia sedang marah besar dan memukuli Ka Tama," jawab Laras dengan terbata-bata.
Bela yang mendengar penuturan menantu nya langsung saja, berjalan masuk dengan cepat tanpa memperdulikan Laras yang masih terlihat gugup dan panik karena wanita itu tahu jika, kedua putranya itu jika sudah berantem maka akan terjadi masalah besar.
Sementara Malik mencoba untuk menenangkan Laras, dan bertanya penyebab bertengkar nya keduanya, meskipun wanita itu tidak sedikitpun ingin menjelaskan sama sekali.
"Eros, hentikan! Kau bisa membunuh kakak mu," dengan berderai air mata Bela langsung menarik tangan Eros menjauh dari Tama yang terlihat sudah babak belur.
"Mama tahu? apa yang membuat ku marah pada nya?" lanjut nya lagi dengan penuh emosi.
"Eros, Mama tidak pernah mengajarkan mu untuk seperti ini, Mama tahu sejak dulu kau selalu iri dengan keberhasilan Kakak mu, tapi tidak dengan cara seperti ini," tutur Bela panjang lebar sambil menatap Eros dengan tatapan sendu.
"Cih, kau membela nya? hanya dia dan dia yang selalu saja kau Bela, bahkan kau tidak pernah melihat apa kesalahan dia sekarang, hanya karena dia jauh lebih segala-galanya dari pada Aku," ucap Eros menunjuk-nunjuk wajah Tama dengan penuh amarah, ingin rasanya pria itu menceritakan semua kejadian yang di alami Laras namun wanita itu menggeleng dengan cepat, membuat pria itu hanya tersenyum getir saat melihat Laras menangis sesenggukan memeluk tubuh kakaknya itu.
Plaaaak...
Bela yang mendengar penuturan putranya itu langsung menampar pipi Eros dengan kerasnya sehingga membuat Eros hampir terhuyung karena kurang keseimbangan.
"Pergi kau dari sini, jika kau ingin membuat Kakak mu terluka lagi!" usir Bela dengan berderai air mata menatap Eros dengan tatapan penuh amarah.
"Tapi Aku belum selesai berbicara.."
"Pergi dari sini, kau jangan membuat Mama mu semakin parah," potong Malik dengan cepat saat melihat Eros hendak berbicara lagi, pria itu langsung menarik tangan Eros pergi menjauh dari tempat tersebut.
__ADS_1
Setelah melihat Eros yang sudah di bawa pergi kini Tama langsung di bawa ke kamar nya dengan di bantu pelayan dan menyuruh pelayan untuk menelpon dokter.
Beberapa saat kemudian
Kini Tama sudah di obati oleh dokter pria itu sudah terlihat mengerjapkan matanya perlahan.
"Sayang, Mama sudah tahu apa yang terjadi," ucap Bela tiba-tiba membuat Tama langsung duduk dengan tatapan terkejut.
"Mama sudah tahu tentang hal.."
"Kenapa? Kalian menyembunyikan ini semua dari kami? Terutama kau Laras?" tanya Bela memotong ucapan Tama, menatap Laras dengan tatapan menyelidik, membuat Laras melirik ke arah Tama untuk mencari bantuan dari pria tersebut, dia belum siap dan merasa takut jika mertuanya tahu dan betapa kecewanya mereka dan ketakutan yang selama ini terus menghantui pikiran nya itu, meskipun kenyataan itu sangat begitu menyakitkan.
"Mama Maaf, kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal itu, itu semua karena Aku sangat..."
"Sangat begitu ingin memberi kejutan buat Mama kan? tentang kehamilan Laras, sudah tidak usah di tutupi lagi, ini adalah suatu hal yang tidak pernah Mama sangka, akhirnya sebentar lagi Mama bakal punya cucu," potong Bela dengan cepat langsung memeluk Laras dengan tersenyum senang.
Deg
Laras tertegun mendengar penuturan mertua nya itu ada rasa lega di dalam hatinya, tapi dia tidak menyangka bahwa mertua nya itu bakal secepat itu tahu tentang kehamilan nya Padahal yang di ketahui nya suaminya sudah memperingati orang-orang kantor agar tidak menceritakan tentang kehamilan nya pada mertua nya itu, ternyata mertua nya sudah tahu entah dari mana mereka tahu.
Namun melihat ke antusias Mertua nya membuat Laras meneteskan air mata nya merasa bersalah sendiri.
"Hey, Kenapa kau malah menangis? Mama tidak akan memarahi mu," tanya Bela menatap menantu nya itu dengan bingung dan khawatir.
"Aku, cuma bahagia bisa memiliki mertua sebaik Mama Bela," jawab Laras sambil menghapus air mata nya yang lagi-lagi jatuh.
Bela yang mendengar penuturan Laras langsung kembali memeluk menantunya lagi. kebahagiaan itu kini tidak lupa di bagikan ke besan nya itu, hal itu menjadi awal paling bahagia bagi Bela dan wanita itu juga ingin mengadakan acara syukuran atas berita kebahagiaan itu, meskipun kedua pasangan itu masing-masing Saling merasa sangat begitu tidak bahagia, tapi melihat Bela yang bersemangat untuk sembuh dari penyakitnya, membuat Laras hanya bisa pasrah dan menerima takdir entah apa yang akan terjadi nantinya.
BERSAMBUNG
Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏
Setelah hiatus lama akhirnya author bisa melanjutkan cerita ini semoga bisa lancar sampai Tamat yah jangan lupa like komen vote hadiah nya yah agar author semangat ngelanjutin nya.
__ADS_1