Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Pagi Menyapa Matahari masih tampak malu-malu untuk memancarkan sinar nya.


Kedua pasangan suami istri itu masih berada di atas ranjangnya dengan Masih berbalut selimut dan berpelukan erat.


Laras membuka matanya perlahan saat merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya, matanya membuka lebar-lebar siapa yang sedang menindih tubuhnya dengan satu kaki nya berada di tubuh Laras dan tangan nya memeluk dengan erat.


"Ka Tama, ternyata semalam tidak mimpi." gumam Laras di dalam hati nya, mencoba untuk melepaskan pelukan suaminya itu.


Setelah Berhasil melepaskan pelukan Tama kini Laras terduduk sambil menatap wajah pria yang seperti nya enggan untuk bangun.


Di tatapan nya wajah Tama dengan sangat begitu erat, satu sudut bibirnya tersenyum tipis wanita itu tiba-tiba mengecup pipi suaminya itu dan kembali memeluk tubuh suaminya itu. Setelah merasa cukup wanita itu kembali duduk.


"Kecupan ini mungkin akan menjadi kenangan yang paling indah untuk ku, meskipun demikian malam pertama kita hanya di penuhi oleh rasa benci dan kemarahan mu, maaf jika aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu, tapi aku juga tidak ingin egois." gumam Laras saat melihat tubuh nya penuh dengan tanda kepemilikan.


Wanita itu kini mencoba untuk turun dari ranjang namun tiba-tiba saja merasa sangat begitu sakit di bagian intim nya.


"Siiiit, Bagaimana kalau aku berjalan seperti ini? bisa-bisa Tiara makin salah paham." gumam nya di dalam hati nya sambil menjerit sendiri namun hanya dalam hati karena takut jika membangunkan suaminya.


Setelah beberapa saat kemudian


Kini wanita itu sudah memakai pakaian santai nya, karena hari ini adalah hari Minggu jadi, ada alasan untuk dirinya bersantai. wanita itu kini sedang duduk di sofa ruang kamar nya sambil menunggu suaminya yang belum kunjung sadar dari tidur panjangnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Cukup lama Laras menunggu kini pria itu sudah terlihat mengerjapkan matanya perlahan. Laras yang melihat Tama sudah mengerjapkan matanya kini segera berjalan menuju ke arah dapur entah apa yang ingin wanita itu lakukan.


Setelah beberapa saat kemudian kini wanita itu sudah terlihat membawa sarapan yaitu sandwich dan susu coklat kesukaan Tama.


"Pagi!" Sapa nya dengan tersenyum tipis.


Sementara Tama yang masih berada di atas ranjang berusaha untuk duduk sambil mengerjapkan matanya, berusaha untuk menyadarkan dirinya kalau yang di lihatnya bukan lah mimpi, Karena Tama mengingat betul seperti apa istrinya itu J*Lang dan murahan.


"Aku membawakan mu makanan, ku lihat kau pasti lapar, bukan begitu?" ucap Laras dengan lembut.


Seketika hati Tama tergerak merasa tersentuh dengan perubahan istrinya itu.


"Tidak usah merasa takut, kali ini pasti enak." lanjut nya lagi saat melihat Tama hanya diam saja.


Pria itu kini hanya diam saja tanpa sedikitpun berbicara langsung memakan Sandwich itu dengan sangat begitu senang dan menikmati nya.


Kini Sandwich dan susu sudah tandas Tama habiskan dengan penuh kenikmatan.


Di tatapan nya wajah wanita yang semalam membuat nya merasa sangat begitu gila.


"Aneh sekali, kenapa aku merasa ini bukan yang pertama kali nya? Seperti pernah ada orang yang dulu selalu memberikan ku susu coklat dan sandwich? Tiara saja bahkan tidak tahu kalau aku menyukai susu coklat." Tama mencoba untuk berpikir sambil mengingat-ingat sesuatu sambil masih memegang piring dan gelas.


"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Laras dengan tatapan menyelidik.


"Mengingat apa? Mengingat kalau kau adalah J*Lang yang murahan?" jawab Tama tanpa sedikitpun mengingat apa-apa karena pria itu hanya mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


"Aku memang murahan tapi aku tidak gratisan, jadi beri aku uang." jawab Laras sambil menatap Tama dengan penuh peringatan.


"CK..." Tama hanya berdecak langsung saja turun dari ranjang nya entah mengapa tiba-tiba perasaan nya menjadi kesal dan marah.


Pria itu menggulung tubuh nya dengan selimut dan langsung keluar dari ruangan kamar Laras entah apa yang akan di lakukan pria itu.


Tak Beberapa lama kemudian


Laras sedang santai di sofa kamar nya sambil merebahkan tubuhnya, wanita itu kini baru saja membuka Hp nya terlihat banyak notifikasi panggilan dan pesan masuk yaitu dari sahabat nya Tiara dan Eros.


Tapi yang lebih utama bagi Laras yaitu membaca pesan dari Tiara 'Ras kamu baik-baik saja kan? Tidak terjadi sesuatu kan? Mas Tama tidak melukai mu kan?'


Begitulah pesanan dari Tiara dan masih banyak lagi kekhawatirannya.


Seketika hati Laras merasa sangat begitu bersalah tentang apa yang terjadi semalam, wanita itu mengingat tentang janji yang di sepakati dan perasaan nya sendiri, tapi jika dia ingin egois pasti wajah sedih sahabatnya itu akan selalu terbayang-bayang di kepala nya, tiba-tiba air mata nya menetes begitu saja.


Baru saja Laras sedang memikirkan Tiara, tiba-tiba Laras langsung di kejutkan dengan kedatangan Tama yang melempar uang di wajah nya membuat wanita itu terlonjak kaget langsung saja duduk, setelah itu menatap uang kertas berwarna merah yang jatuh berserakan.


"Kata terima kasih yang seharusnya keluar dari bibir ku, kini bahkan aku enggan, ambilah itu semua isi kepala mu hanya uang dan uang, padahal setiap hari kau juga menggunakan kartu kredit yang ku berikan, tapi tidak cukup juga!" ucap Tama dengan tersulut emosi mengingat perkataan Laras tadi.


Ya setiap hari Laras akan dengan sengaja nya mengambil uang yang ada di kartu kredit pemberian suaminya itu.


Laras kini terbengong merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan Tama, padahal wanita itu berpikir Tama akan mentransfer nya tapi dugaan nya salah.


"Ya ampun suamiku dermawan sekali, dengan begini aku bisa pesta-pesta setiap hari, bisa belanja shoping-shoping nyalon." ucap Laras berusaha terlihat seperti orang yang tidak punya perasaan.


Sementara Tama diam saja merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi, biasanya orang lain mungkin akan menangis dengan kata-kata yang di lontarkan nya dan perlakuan nya yang kasar tapi istrinya itu justru malah terlihat sangat begitu senang.


"Dasar gila, matre." umpat nya dengan kesal.


"Hidup itu perlu uang dan uang, bagi ku uang adalah segalanya, tanpa uang kita tidak pernah di anggap, tidak masalah kan menjual tubuh ku pada suami ku sendiri, karena kau sendiri juga yang telah mengkhianati kesepakatan bersama." ucap Laras dengan tersenyum tipis sambil menciumi uang yang di pegang nya.


"Biasa nya aku bahkan selalu memuaskan..." Belum sempat Laras menyelesaikan ucapan nya lagi kini Hp nya tiba-tiba berdering, membuat wanita itu berjalan menuju ke arah sofa sambil masih memegang uang.


Laras langsung saja mengangkat panggilan itu saat melihat nama Tiara tertera di sana.


"Hallo, ada apa Ti?" tanya nya dengan biasa saja.


"Ras, kau itu kemana saja sih? Aku menelpon mu berulang kali dari semalaman, dan kau bilang ada apa? Tentu saja aku menghawatirkan mu!" Ucap suara dari seberang telepon dengan beruntun terdengar sangat begitu khawatir.


"Sory, aku semalam ada urusan penting, aku lupa!" jawab Laras dengan berbohong.


"Sekarang aku ada di depan rumah mu, turun sekarang yah, soalnya aku tidak di izinkan masuk. Aku tidak akan tenang sebelum melihat kau baik-baik saja." ucap Tiara panjang lebar sambil mematikan panggilan sepihak.


Seketika Laras menjadi panik dan merasa sangat begitu tegang wanita itu melirik Tama yang masih berdiri mematung.


"Ti, ada di bawah kau temui saja kekasih mu itu." ucap Laras menyuruh Tama untuk turun.

__ADS_1


"Soal semalam.." pertanyaan Tama menggantung.


"Lupakan saja, anggap saja tidak pernah terjadi." jawab Laras dengan cepat.


"Oya, katakan pada Tiara kalau aku sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa menemui nya." lanjut nya lagi sambil mendorong tubuh Tama untuk keluar.


Setelah menutup pintu Laras terduduk di lantai wanita itu mengacak-acak rambutnya sendiri merasa sangat begitu frustasi dan bingung bagaimana jika sahabatnya tahu.


"Ti, maaf kan aku yang sudah mengkhianati perjanjian kita bahkan aku menikmati nya, mungkin jika aku menolak keras semuanya tidak akan terjadi, tapi justru aku malah menjadi berat begini." Tangis nya merasa sangat begitu bersalah.


Sementara di luar Tama mengumpati istrinya itu dengan sangat begitu kesal karena di dorong tiba-tiba.


"Dasar wanita Jal*Ng, bisa-bisanya menyuruh ku, dan kenapa? anehnya aku diam saja tanpa sedikitpun berbicara atau melawan!" umpat Tama dengan kesal merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Pria itu menghela nafas panjang berusaha untuk tenang sambil memikirkan apa yang harus di jelaskan pada kekasihnya itu.


Tama kini sudah berada di bawah menatap bayangan wanita yang di cintai nya itu yang terlihat sedang menunggu dengan mondar-mandir di balik pintu gerbang.


"Kalian ini bener-bener yah, bisa-bisanya tidak mengizinkan dia masuk, kau tahu dia itu teman Laras!" Tama memarahi kedua satpam itu sambil menatap tajam.


"Maaf tuan kami tidak tahu." jawab keduanya sambil menunduk.


Kini pintu gerbang sudah di buka pria itu segera berjalan mendekat ke arah kekasihnya itu.


"Hay, kenapa datang tidak mengabari?" panggil nya dengan suara yang sedikit berbisik.


"Mas Tama, bagaimana mau mengabari kau saja di telpon dari semalam ngga di angkat." jawab Tiara sambil mencebikan bibir nya.


Tama segera menarik tangan Tiara untuk masuk karena merasa tidak enak jika satpam penjaga itu terus memperhatikan gerak-gerik keduanya.


Kini keduanya sudah berada di dalam, Tiara memperhatikan rumah itu dengan sangat begitu intens, mata nya tertuju pada poto pernikahan Laras dan Tama yang dipajang di dinding.


"Rumah nya mewah banget bahkan, poto pernikahan kalian juga di pajang di sini." ucap Tiara sambil menatap ke seluruh ruangan sambil cemberut, bahkan wanita itu melupakan tujuan nya.


Ya ini pertama bagi Tiara berkunjung ke rumah tersebut karena wanita itu tidak berani untuk datang tapi karena terpaksa dan khawatir dengan keadaan Laras akhirnya memutuskan untuk berkunjung namun justru malah menjadi lupa.


"Itu Mama yang memasang nya, jadi kau tidak boleh cemburu." jawab Tama berusaha untuk biasa saja.


"Mau minum apa?" tawar nya sambil menatap ke sekeliling bahwa tidak ada seseorang yang melihat.


"Oh, begitu, tidak usah repot-repot nanti aku ambil sendiri." jawab Tiara berusaha untuk tenang, meskipun hati dan pikiran nya merasa sangat begitu tidak rela.


"Ya ampun, kenapa aku lupa tujuan ku datang kemari untuk menemui Laras, dimana dia?" lanjut nya lagi sambil menatap Tama dengan penuh selidik.


Seketika Tama langsung terdiam sejenak pria itu menjadi gusar, dia hanya takut jika kekasih nya tahu apa yang terjadi semalam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2