Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Antara Istri Dan Pacar


__ADS_3

"Mas Tama, kenapa kau malah diem saja? dimana Laras?" tanya Tiara saat melihat kekasihnya diam saja.


"Laras, bilang tidak enak badan mungkin dia masih di kamar nya, untuk apa kau menanyakan nya?" jawab Tama berusaha untuk biasa saja.


"Bagaimana aku tidak menanyakan nya? setelah semalam kau membawa nya pulang tanpa memperdulikan ku, bahkan mencampakkan ku bak sampah yang tidak penting, di telpon juga tidak di angkat." jawab Tiara mengeluarkan unek-unek nya.


"Maaf semalam Mama tiba-tiba Mengirim pesan kalau dia sedang berada di depan rumah, tentu aku menjadi panik takut semuanya akan berakhir dan tahu semuanya, kau tahu sendiri seperti apa Mama ku." jelas Tama berusaha untuk meyakinkan sambil menggenggam tangan wanita itu.


"Mama mu kesini?" tanya Tiara mencoba untuk memastikan.


"Iya hanya mengantarkan makanan sebentar." jawab Tama sambil mengganguk.


Pria itu melirik ke kanan dan kiri memastikan jika kedua pelayan yang bekerja di rumah nya tidak melihat nya karena pria itu takut jika keduanya mengadukan pada kedua orang tua nya meskipun mereka bekerja hanya dari pagi sampai sore tapi bagi Tama mereka adalah mata-mata.


"Lantas kau kenapa? tidak mengangkat panggilan dan tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Tiara sambil cemberut.


"Aku mengantuk semalam lelah sekali." jawab Tama sambil membelai rambut kekasih nya itu.


Pria itu menarik Tiara agar mau bersandar di pundak nya. Sejenak wanita itu menurut dan menerima perlakuan lembut kekasih nya itu, meskipun terdiam karena merasa belum sepenuhnya percaya dengan jawab kekasih nya itu.


"Jika suatu hubungan tidak di landasi saling percaya, untuk apa hubungan itu terjalin." ucap Tama yang menyadari kalau kekasihnya hanya diam saja.


"Kau masih tidak percaya dengan perkataan ku?" lanjut nya lagi sambil mengangkat dagu Tiara agar menghadap wajahnya.


"Aku percaya tapi aku hanya takut, akan semua hal yang aku pikirkan." Jawab Tiara langsung saja memeluk Tama dengan begitu erat, Isak tangis nya tidak bisa di bendung lagi.


"Aku takut kau akan memilih untuk memperjuangkan cinta Laras dan kau akan membuang ku, mencampakan ku begitu saja." lanjut nya lagi sambil masih sesenggukan.


Tama hanya diam saja sambil menepuk-nepuk pundak kekasihnya itu tanpa sedikitpun berbicara karena jujur dia jadi merasa bersalah dengan apa yang terjadi.


"Sudah jangan menangis lagi, kau tunggu saja di sini, biar aku ambilkan minuman." ucap Tama setelah melihat Tiara terlihat lebih tenang.


Pria itu segera berjalan menuju ke arah dapur saat melihat kedua pelayan yang sedang mengintip karena merasa keduanya itu sedang memata-matai.


"Apa yang kalian lakukan!" bentak nya pada keduanya saat sudah berada di dapur.

__ADS_1


"Anda berselingkuh di belakang nyonya Laras, bahkan anda membawa kekasih anda ke rumah di saat nyonya Laras sedang di kamar." ucap salah satu pelayan yang sudah paruh baya tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Tama.


"Tutup mulut mu, ingat jika kalian berdua sampai membocorkan tentang hal ini pada kedua orang tua ku, rasakan saja akibatnya!" bentak Tama sambil menunjuk kedua nya dengan sangat begitu marah dan kesal.


Keduanya hanya diam saja tanpa sedikitpun berbicara karena merasa sangat begitu ketakutan. Sementara Tama langsung saja berjalan menuju ke arah kulkas untuk mengambil jus yang sudah tersedia di kulkas, pria mengambil nya dua gelas.


Sementara Tiara lebih memilih untuk menunggu kekasihnya itu, sambil menatap seluruh ruangan dengan sangat begitu iri, tentu dia merasa iri dengan sahabatnya itu yang memiliki keluarga kaya hidup mewah, memiliki keluarga yang begitu menyayangi nya, berbeda dengan dirinya yang hanyalah anak yatim piatu dan yang lebih menyedihkan almarhum ibu nya adalah seorang PSK.


Wanita itu kini terduduk sendiri meratapi nasibnya sendiri yang merasa sekarang juga adalah simpanan.


"Masa sih aku simpanan? Tidak aku bukan simpanan, bukan kah apa yang aku lakukan sekarang adalah mempertahankan hak ku." gumam nya sambil menenangkan dirinya yang terus menerus kepikiran hal-hal yang selalu menghantuinya.


"Tiara!" Suara seseorang yang tidak asing kini membuyarkan lamunannya.


Wanita itu menoleh ke arah sumber suara, melihat siapa yang memanggil nya, betapa terkejutnya wanita itu saat melihat Frans, Sarah dan Adi sudah berdiri di ambang pintu.


"Ka Frans, kau ada di sini?" tanya Tiara langsung saja berdiri.


"Harusnya aku yang nanya ngapain kau ada di sini?" tanya Sarah sambil menatap Tiara dengan sinis entah mengapa wanita itu tiba-tiba berubah tidak seperti biasanya yang ramah.


"Mama, kau ini tidak boleh ngomong begitu. Mana Mama ku yang selalu lembut ini? sekarang jadi berburuk sangka sih." Frans berusaha untuk menggoda Mama nya itu .


Seketika Sarah hanya menanggapi nya dengan tatapan tajam dan cemberut.


Sementara Tama yang hendak membawa minuman kini di urungkan pria itu menjadi panik dan gusar, takut jika ketahuan oleh mertua dan Ipar nya itu.


"Tante Maaf, jika kedatangan ku kemari membuat Tante takut, tapi aku ke sini hanya ingin mengunjungi Laras saja, katanya dia sedang tidak enak badan, lagian semua kan sudah berlalu mana ada begitu." jelas Tiara mencoba untuk meyakinkan sambil tersenyum getir.


"Putri ku sedang tidak enak badan? Yang benar dimana dia?" tanya Sarah terlihat sangat begitu khawatir.


"Laras ada di kamar nya, dia cuma butuh istirahat saja, mungkin karena dari kemarin kecapean." sahut Tama membuat semuanya menoleh.


"Adik ipar, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Frans dengan menyelidik.


"Tidak mana mungkin begitu, biar aku panggilkan dia sebentar." jawab Tama sambil melangkah menuju ke arah tangga untuk memanggil istrinya itu.

__ADS_1


Semuanya kini menghela nafas panjang setelah melihat Laras sudah berdiri di hadapannya dengan baik-baik saja.


"Ka Frans, sejak kapan kakak ada di Indonesia?" Tanya Laras setelah duduk.


"Aku akan menetap tinggal di Indonesia, kau tahu kan seperti apa, si tua Adi ini suka memaksa dan memerintah!" jawab Frans sambil menatap ke arah Adi dengan kesal.


"Frans aku ini Papa mu, beraninya kau berkata tidak sopan begitu." Adi kini menatap putranya itu dengan kesal dan merasa tidak terima.


"Memang kenyataan nya kan? Papa sudah tua dan pemaksa, mengurus perusahaan saja kewalahan." jawab Frans dengan santai.


Adi yang mendengar itu hanya mendengus kesal.Kni obrolan nya masih berlanjut mereka duduk sambil menikmati cemilan dan minuman yang pelayan hidangkan bahkan Tiara juga ikut serta dalam obrolan nya meskipun tadi Sarah sempat kesal tapi wanita itu melupakan pikiran buruk nya.


"Dasar anak pemalas, masa ada tamu malah lebih memilih untuk tidur di kamar sih ngga sopan tahu, kau itu jadi istri harus rajin jam segini malah tidur." kini Sarah yang sedari tadi diam mulai mengomeli putri nya itu.


"Mama, putri Mama ini sedang kecapean, malah di omelin, lagian kan ada pelayan." jawab Laras sambil cemberut.


"Kecapean apa sih? Sampai-sampai pake jaket dan sel segala? Kaya musim dingin aja?" tanya Frans mulai usil menggoda adiknya itu. Karena Frans merasa heran cuaca panas tapi mengapa adiknya menggunakan jaket tebal dan menutup lehernya menggunakan sel.


"Kurang Tidur saja kok, mungkin karena Akhir-akhir ini sering begadang jadi masuk angin deh." jawab Laras sambil tersenyum tipis.


Frans yang mengerti adiknya kini memikirkan sifat usil nya pria itu segera berjalan mendekat ke arah adik nya, dan langsung menarik sel yang di kenakan adiknya itu.


"Ka Frans, kau itu membuat ku kesal saja!" pekik Laras sambil menatap kakaknya dengan kesal, seketika raut wajah menjadi malu langsung saja menutup bagian leher nya yang kebetulan wanita itu sudah mengikat rambut nya jadi sangat begitu tampak terlihat banyak nya bekas merah.


"Ya ampun, benarkah itu Kiss mark? Banyak sekali!" Frans mendekat ke arah adiknya sambil tersenyum menggoda.


"Sialan, kenapa aku tadi harus mengikat rambut ku sih." batin Laras merutuki dirinya sendiri.


"Ka Frans, kau itu sok tahu deh, kembalikan sel ku." ketus Laras langsung saja hendak mengambil sel yang di pegang kakak nya itu sambil tersenyum malu-malu namun justru kakak nya itu malah mengeratkan tangan nya.


"Lihat Ti, kemari, mana mungkin aku sok tahu." Frans tidak sedikitpun ingin memberikan sel yang di pegang nya, pria itu justru malah manggil Tiara, membuat wanita itu mendekat dan merasa syok dengan apa yang di lihat nya.


"Benarkan Ti? ini Kiss Mark?" tanya Frans kepada Tiara tiba-tiba diam saja.


Seketika Tama dan Laras menjadi tegang dan saling pandang satu sama lain menunggu jawaban dan respon Tiara.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2