Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Kemarahan Tama


__ADS_3

"Kenapa? kau menampar ku, Ti?" Laras menatap sahabatnya sambil memegang pipinya yang terasa panas.


"Apa mau mu Ras? Kau sudah hadir di antara kami, terus dengan kejamnya kau bilang hamil anak Eros, dimana perasaan mu? Mana Laras sahabat ku yang Aku kenal dulu? Sahabat yang selalu pendiam dan tidak pernah main belakang?" Ucap Tiara panjang lebar sambil menatap sahabatnya itu dengan air mata yang jatuh begitu saja.


Laras hanya bergeming dia tidak berani menjawab atau bahkan menatap wajah sahabatnya itu, rasanya hati nya ikut merasa sesak jika melihat sahabatnya itu menangis.


"Ras, Jawab Aku? Apa mau mu? katakan pada ku, kalau anak ini, anak Mas Tama? Jika iya Kau sudah mengingkari janji dan kesepakatan bersama, tapi Aku bisa merelakan nya untuk mu." Tiara menggoyangkan tubuh sahabatnya itu berusaha untuk memastikan lagi karena wanita itu juga tidak ingin egois dengan apa yang terjadi.


"CK.. Kau bertanya suatu hal yang membuat Aku merasa bersalah? Sudah ku katakan kalau anak ini anak Eros, Aku Larasati Nugroho wanita yang memiliki pendirian kuat dan Aku tidak pernah mengingkari janji." Laras berdecak dengan menyindir, mata nya menatap ke arah Pria yang sedari tadi diam menahan amarahnya.


"Dimana Eros?" Tama bertanya karena merasa sangat begitu kesal, pria itu entah mengapa merasa marah pada adiknya itu.


"Untuk apa kau menanyakan Eros?" Laras bukan nya menjawab malah bertanya balik karena merasa dirinya tidak aman.


"Untuk memberi pelajaran pada adik sialan itu, bisa-bisanya dia membuat masalah, dan kau membuat nama baik keluarga ku buruk, bagaimana kalau berita ini beredar? apa kau ingin membunuh Mama ku secara perlahan!" jelas Tama dengan penuh emosi, mungkin jika tidak ada Tiara di depan nya pria itu sudah menampar atau bahkan menyakiti istrinya itu Karena merasa sangat begitu marah namun niatnya di urungkan saat Tiara menggenggam tangan nya dan menggeleng.


Sementara Laras yang melihat raut wajah Tama yang terlihat sangat begitu marah hanya diam saja, karena merasa di posisi serba salah, begitu pula dengan Tiara yang sedari tadi diam saja sambil masih menggenggam tangan kekasihnya itu.Tama yang merasa istrinya diam saja langsung saja mengambil Hp Laras karena pria itu memang tidak memiliki nomor telepon adiknya karena bagi Tama Adiknya tidaklah penting sama sekali.


"Untuk apa, kau mengambil Hp ku?" Laras yang melihat Hp nya di ambil begitu saja langsung saja merasa terkejut, wanita itu merasa sangat begitu panik.


Tanpa memperdulikan perkataan Laras, Tama langsung saja memencet nomor telepon adik nya, membuat Laras hanya pasrah saja tanpa sedikitpun berbicara lagi.


Sementara di sebuah ruangan tampak seorang pria sedang berkutik dengan tumpukan berkas pasien nya, pria itu tersenyum senang saat melihat siapa yang menelpon nya.


"Tumben sekali? Laras menelpon di jam kerja?" gumam nya sambil mengerutkan keningnya heran, langsung saja mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo kakak ipar sayang, ada apa menelpon? Kangen yah?" Eros berkata sambil menggoda seperti biasanya.


Tama yang mendengar suara adiknya yang terdengar menggoda hanya menghela nafas berat karena merasa sangat begitu kesal campur aduk.


"Dimana kau?" tanya Tama setelah sesat hening.


"Loh kok ada suara ka Tama? Laras, dimana?" tanya Eros balik karena merasa sangat begitu heran.


"Katakan saja kau dimana?" ketus Tama tanpa sedikitpun ingin menjelaskan karena merasa sangat begitu kesal.

__ADS_1


"Biasa di rumah sakit, kau tahukan kalau Aku kerja sampingan menjadi dokter magang," jelas Eros dengan santai.


"Memang nya kenapa? Apa Mama Bela kambuh lagi?" lanjut nya lagi sambil bertanya karena merasa sangat begitu penasaran.


"Baiklah, Aku mengerti, tetep bertahan di ruangan mu, Aku segera ke sana!" jawab Tama langsung mematikan panggilan sepihak.


"Dasar pria aneh, berbicara dengan nya benar-benar tidak nyambung." Umpat Eros dengan kesal, karena sudah di buat khawatir dengan panggilan Kakak nya secara tiba-tiba, di tambah panggilan di matikan sepihak tanpa sedikitpun ada kejelasan.


Sementara di ruangan lain Tama langsung mengembalikan Hp Laras dan segera berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Mas Tama, kau mau kemana?" tanya Tiara menghentikan langkah kekasih nya itu.


"Tetep lah di sini saja, kau jaga saja wanita itu," jawab Tama langsung saja berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa sedikitpun memperdulikan panggilan Tiara.


"Ras, bagaimana ini? Kalau sampai Mas Tama marah-marah dia bisa membuat Eros terluka," Tiara berkata dengan sangat begitu khawatir dia tahu seperti apa kekasihnya itu, jika sedang marah bisa menghabisi seseorang tanpa sedikitpun memperdulikan siapa orang tersebut.


"Ayo, kita kesana sekarang juga!" ajak Laras berusaha untuk turun dari ranjang meskipun sebenarnya badannya terasa lemah, membuat Tiara mau tak mau menuruti nya.


Tama yang sudah bertanya kepada pihak rumah sakit dimana ruangan Eros berada, kini sudah berada di depan pintu ruangan adiknya, pria itu mengetuk pintu karena pintunya di kunci dari dalam.


"Dasar pria brengsek! Bisa-bisanya, kau menghamili Kakak ipar mu!" tanpa menjawab pertanyaan Eros Tama langsung saja memukul wajah Eros dengan keras nya membuat Eros terhuyung ke belakang.


"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti?" tanya Eros berusaha untuk berdiri.


"Kau tidak usah belaga bego deh, lihat ini baik-baik!" Tama langsung memberikan hasil pemeriksaan Laras Pada Eros dengan Masih menahan amarahnya.


Eros membaca selembar kertas yang di berikan kakak nya itu pria itu tersenyum tipis setelah membaca hasil pemeriksaan tersebut.


"Hahaha... kau memukul ku hanya karena Laras hamil? Seharusnya kau itu sadar diri di mana letak kesalahannya." Eros tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk wajah kakaknya itu.


"Atau mungkin barang mu memang tidak berfungsi dengan baik? makan nya milik ku jauh lebih berfungsi, sekali pakai langsung jadi," lanjut nya lagi dengan frontal tanpa embel-embel sama sekali.


"Dasar adik laknat, Laras itu kakak ipar mu, seharusnya kau bisa menjaga tubuh mu!" bentak Tama langsung memukul Eros dengan sangat begitu marah.


"Kakak ipar? Cih untuk apa kau marah? Bukan nya kau seharusnya tidak peduli?" Eros berdecih menatap kakak nya dengan tatapan tajam pria itu tidak merasa takut sedikitpun meskipun wajahnya sudah berlumuran darah.

__ADS_1


"Iya meskipun Aku tidak pernah menganggap nya, tapi setatus kami masih sah, dimata hukum dan agama, kau tahu apa yang akan terjadi? Jika sampai kedua orang tua kita tahu, kau bisa mencoreng nama baik keluarga dan Mama Bela pasti akan syok berat," jelas Tama panjang lebar dengan menggebu-gebu terus saja memukul wajah Eros dengan kerasnya.


"Tapi Aku mencintai nya, apa itu salah? Dan kau Suami yang tidak ada akhlak sok benar sendiri, padahal kau juga masih menjalin kasih dengan Tiara!" jawab Eros panjang lebar berusaha untuk menyadarkan kakak nya itu sambil menahan rasa sakitnya.


Mendengar penuturan adiknya entah mengapa tiba-tiba hati Tama merasa sangat begitu tidak terima, pria itu memukul adiknya dengan membabi buta, membuat Eros menjerit berulang kali.


"Berhenti! Ka Tama kau gila yah!" Laras langsung saja mendorong tubuh suaminya itu yang sudah berada di atas tubuh Eros yang terlihat tidak melawan sama sekali.


"Minggir! Aku ingin menghabisi adik laknat tidak tahu diri itu!" sentak Tama menatap Laras dengan tatapan tajam.


"Jika kau ingin menyalahkan salahkan saja Aku, jangan sekali-kali kau menyalahkan nya, karena di sini Akulah yang bersalah," jawab Laras dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Kau sama-sama gilanya dengan dia, kau tahu konsekuensinya apa, haaah!" ucap Tama sambil menatap tajam istrinya itu.


"Kita bicarakan ini nanti saja, kau pergilah dari sini sebelum Aku memanggil petugas keamanan," sentak Laras sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


"Kau berani mengusir ku? Demi membela Si brengsek ini?" tanya Tama entah kenapa merasa tidak terima.


Laras tidak menggubris perkataan suaminya itu, wanita itu justru malah sibuk membangunkan Eros yang tampak terlihat lemah.


"Mas, sebaiknya kita kembali ke perusahaan, Aldi bilang ada pekerjaan penting," ucap Tiara berusaha untuk menenangkan kekasihnya itu.


"Baiklah, kalau begitu, kita selesaikan urusan ini besok, ku tunggu kau di Taman Anggrek," ucap Tama sebelum Akhirnya di tarik keluar oleh Tiara.


"Ros kau gila, bisa-bisanya kau tidak melawan sama sekali dan berkata sefrontal itu." Laras langsung saja mengomeli sahabat sekalian adik iparnya itu dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.


"Untung nya ruangan ini sedang sepi orang, kalau tidak bisa kena masalah kita," lanjut nya lagi dengan memukul dada bidang Eros yang terlihat berpura-pura memejamkan mata nya.


Ya suasana depan ruangan Eros memang sedang sepi orang, karena ini masih di jam kerja, jadi tidak heran jika tidak ada yang mendengar atau melihat kejadian tadi karena ruangan Eros yang terletak di belakang pojok lorong rumah sakit kedap suara.


"Aaaaaw, sakit! kau itu tidak ada rasa empati sedikitpun, sudah di tolong juga!" pekik Eros berpura-pura kesakitan.


"Ros sorry, Aku tidak bermaksud!" ucap Laras dengan panik karena merasa sangat begitu kasihan dengan sahabatnya itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2