Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Sakit Tapi Tak Bisa Berkutik


__ADS_3

Kini Eros sudah di tangani oleh dokter, Laras tampak terlihat khawatir dengan sahabatnya itu yang terlihat masih memejamkan mata nya.


"Ros bangun lah, Jangan membuat ku khawatir," ucap Laras sambil mondar-mandir.


"Lantas bagaimana bisa ?Aku bangun sementara cinta ku lagi-lagi membuat ku terluka," ucap Eros yang sebenarnya sudah sadar sedari tadi.


"Ros, Aku minta maaf sudah membuat mu ikut serta dalam masalah ku, tapi Aku terpaksa," jawab Laras langsung saja duduk di bangku samping tempat tidur Eros.


"Terpaksa? Demi Tiara lagi? Kau melakukan ide gila seperti ini?" tanya Eros sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi kau malah mendukung ku, bukan kah kau juga salah, bahkan kau tidak melawan kakak mu sama sekali?" tanya Laras balik tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Eros.


"Kamu juga berhak bahagia tanpa harus berpura-pura, Bagaimana kamu membahagiakan orang lain? Jika dirimu tidak bahagia? Kamu sudah sering menghabiskan Malam yang panjang, dengan mata yang sulit terpejam. lihat lah mental mu sudah sangat berantakan, sekarang cobalah untuk membahagiakan diri mu sendiri, kasihan tubuh mu dia sudah lelah, ingat yah kamu berhak untuk bahagia tanpa harus merasa bersalah dengan siapa pun termasuk Tiara!" ucap Eros panjang lebar sambil menggenggam tangan Laras.


"Ros, kenapa kau Berkata seperti itu?" tanya Laras menatap sahabatnya itu dengan iba.


"Karena Aku tidak ingin Calon keponakan ku ini lahir tanpa seorang ayah, di dalam sini sudah ada Baby, seharusnya hubungan mu dengan Ka Tama semakin baik, tapi kau malah memperkeruh suasana," Jawab Eros dengan kesal.


"Aku hanya ingin yang terbaik bagi kami berdua agar tidak saling menyakiti," jawab Laras dengan yakin.


"Termasuk bercerai dari nya? Membiarkan dia bersama wanita lain sedangkan kau sendiri sangat begitu mencintai nya? " cecar Eros berusaha untuk tenang meskipun hati nya terasa sesak.


"Itu lebih baik, bukan kah cinta tak harus memiliki? cukup melihat nya bahagia bersama orang lain saja, Aku ikut bahagia," jawab Laras dengan yakin meskipun hatinya dan mulut selalu bertentangan.


"Benarkah? kau tidak merasakan apa-apa kalau ka Tama menyukai mu?" selidik Eros berusaha untuk menggoda sahabatnya itu.


"Sudahlah kau jangan ngawur, Aku kan hanya orang ketiga yang hadir di antara mereka, jadi mana mungkin Ka Tama menyukai ku dia saja hanya mengganggap Aku ini pajangan dan dia sangat begitu membenci ku" jelas Laras panjang lebar.


"Sebenarnya benci dan cinta itu beda tipis loh, kalau dia tidak tertarik dengan mu tidak mungkin dia sampai meniduri mu, coba deh kau pikir-pikir apa penyebab dia sampai meniduri mu tanpa mabuk?" ucap Eros panjang lebar dengan raut wajah serius.

__ADS_1


Laras terdiam sejenak memikirkan apa yang di katakan Eros, bagaimana Tama waktu itu menginginkan tubuh nya dalam keadaan marah entah apa? yang membuat pria itu marah tapi sebisa mungkin Laras berusaha untuk menepis apa yang di pikirkan nya.


"Aaaaah, sudahlah kau itu salah paham, lebih baik kau istirahat saja, agar cepat sembuh dan Aku terbebas dari rasa bersalah," jawab Laras berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, membuat Eros mengerti kalau wanitanya sedang tidak baik-baik saja.


KEESOKKAN HARINYA


Taman Anggrek


Kini Laras sudah berada di Taman Anggrek, setelah kemarin dan semalaman wanita itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah nya, dan merawat Eros di rumah sakit kini sedang menunggu kedua orang yang belum kunjung datang untuk membicarakan tentang apa yang terjadi.


"Sudah lama menunggu?" tanya Tiara yang datang bersama Tama.


"Baru saja," jawab Laras berusaha untuk tenang dan biasa saja karena melihat Tiara dan Tama seperti sudah kembali baikan karena dari cara Keduanya bergandengan tangan tanpa mau lepas sedikit pun.


"Baiklah langsung saja ke intinya," ucap Tama langsung duduk dan melepaskan genggaman tangan Tiara, entahlah setiap kali melihat Laras pria itu merasa sangat begitu kesal.


"Bagaimana? kau bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan ku?" tanya Tama merasa tidak terima.


"Karena di sini Aku adalah pihak pertama, kau lupa yah? dengan poin akhir, di situ tertulis jelas kalau pihak pertama berhak merubah keputusan tanpa di ganggu gugat," Jawab Laras sambil menyodorkan map yang pernah di tanda tangani suaminya itu.


Tama membaca semuanya dan merasa tercengang dengan apa yang di lihat nya, pria itu merasa di permainkan dan harga dirinya serasa jatuh begitu saja karena merasa dirinya sudah ceroboh tanpa membaca terlebih dahulu sebelum tanda tangan.


"Kau, beraninya memanipulasi semuanya, kau pikir pernikahan adalah mainan yang bisa kau tarik ulur sesuka hati!" geram Tama menatap tajam wanita yang terlihat Santai itu.


"Kau yang tidak teliti mungkin? Sampai kau sendiri merasa tidak sadar dengan apa yang kau lakukan, seharusnya kau bahagia dong bisa lepas dari wanita tidak tahu perasaan ini," jawab Laras dengan tersenyum tipis tanpa sedikitpun memperdulikan kekesalan Tama.


"Bagaimana dengan Mama?" tanya Tama mencoba untuk tidak terpancing karena merasa tidak ingin menyakiti wanita tersebut, mengingat wanita itu sedang hamil, meskipun bukan anak nya tapi pria itu juga tidak ingin terlihat terlalu jahat pikir nya.


"Kau tidak usah memikirkan hal itu, masalah itu biar nanti Aku yang mengurus nya, kita jalani peran kita seperti biasanya," jawab Laras langsung saja berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa melakukan hal itu," sentak Tama dengan emosi.


"Kenapa kau tidak terima?" tanya Tiara dengan heran karena merasa kekasih nya itu terlihat marah dan emosi dengan keputusan tersebut padahal seharusnya itu membuat nya senang tapi justru malah sebaliknya.


"Sudahlah, Aku masih ada urusan, Kalian berbicaralah berdua, Aku tidak akan mengganggu kebersamaan kalian," ucap Laras langsung saja berjalan begitu saja tanpa sedikitpun memperdulikan kekesalan Tama.


Tama terdiam pria itu hanya menatap punggung istrinya itu yang semakin menjauh, hatinya merasa sangat tidak terima dengan apa yang di katakan wanita tersebut, Tama ingin Marah namun ke siapa? ingin menyalahkan tapi ingin menyalahkan siapa? Karena di sini bukan hanya Laras yang salah tapi dirinya juga salah.


"Mas, kau belum menjawab pertanyaan ku?" tanya Tiara membuyarkan lamunan kekasihnya itu.


"Aku perlu waktu sendiri, jadi pergilah dari sini Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang," Jawab Tama tanpa sedikitpun menatap wajah kekasihnya itu.


"Baiklah kalau itu mau mu, tapi ku harap kalian bisa menyelesaikan semua nya dengan lapang dada," jawab Tiara sambil menepuk pundak Tama.


Gadis itu langsung saja berjalan meninggalkan Taman tersebut karena merasa tidak ingin membuat Kekasih nya merasa tertekan dengan keberadaan nya.


"Aaaaaah! Sialan kau Laras, Aku membenci mu, Aku menyesel telah menuruti kemauan mu, kau bukan hanya mengobrak-abrik hatiku? tapi juga pikiran dan mental ku!" Tama berteriak mengacak rambut merasa frustasi sendiri.


Pria itu merasa bingung dengan apa yang di rasakan nya, semenjak malam itu Tama sebenarnya sudah merasa cukup jatuh dengan istri arogan nya itu dan berharap suatu saat nanti dia bisa menebus kesalahannya dan menginginkan Istrinya itu menjadi milik nya seutuhnya, tanpa peduli kalau wanita itu Jal*ng sekalipun, karena merasa tersiksa setiap malam harus menahan hasrat sendiri karena hanya Laras lah yang membuat jiwa nya panas dingin walau hanya berhadapan muka saja, namun semua yang di pikirkan nya buyar seketika, tatkala tahu kalau adik nya adalah Ayah dari anak yang di kandung istrinya.


Terlebih perkataan tadi cukup membuat hati nya kalut dan merasa sangat begitu marah dan emosi namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena merasa cukup terpojok sendiri di antara dua pilihan.


Antara Tiara atau justru Laras istrinya yang sedang hamil anak adiknya.


"Aaaaaah! Aku benci takdir, Aku benci hidup ini!" teriak Tama untuk kedua kalinya tanpa sedikitpun memperdulikan sekitarnya yang melihat nya dengan ketakutan.


Apa Kalian lihat-lihat mau mati yah!" bentak Tama pada orang-orang yang melihat nya dengan aneh, rasanya pria itu ingin menghajar dan membunuh seseorang karena merasa sangat begitu kesal dan marah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2