
"Kau" Laras menatap Eros dengan terkejut berusaha untuk melebarkan matanya karena merasa tidak percaya.
"Iya ini aku Eros, sahabat baik mu yang ganteng nya selangit dan paling ngeselin sedunia" Eros berkata sambil merapikan rambutnya tersenyum menggoda.
"Eros aku kangen, kenapa kau menghilang tanpa kabar?" Laras langsung saja memeluk pemuda yang sudah lama di rindukannya itu.
"Benarkah, kau merindukanku? aku sedang tidak berhalusinasi?" Tanya Eros sambil membalas pelukan Laras.
"Ya benarlah kau pergi begitu saja, setelah itu kau tidak pernah bisa di hubung, kau tahu aku kesepian aku kangen, kenapa kau Jahat sekali?" jawab Laras berceloteh panjang lebar masih memeluk Eros, air mata nya jatuh begitu saja.
"Ha-ha-ha sejak kapan kau jadi cengeng begini, banyak bicara pula? perasaan Laras yang ku kenal tidak seperti ini?" Melihat Laras menangis Eros justru malah tergelak karena merasa lucu dan aneh menurut nya.
"Ih kau malah tertawa sih nggak lucu tau" Laras yang merasa malu langsung saja berdiri.
"Iya-iya becanda dikit ngga papa kali, kan udah lama ngga pernah becanda, katanya kangen sini peluk lagi" Ucap Eros sambil berusaha untuk berdiri.
"Oya Btw kenapa kau bisa ada di sini?" Laras yang tersadar kini akhirnya bertanya karena merasa heran mengapa pemuda di hadapannya itu berada di rumah mertuanya.
"Loh harusnya aku yang tanya ngapain kamu ada di rumah ku?apa kau sudah jatuh miskin, sampai kau bekerja sebagai pelayan?" Eros justru malah balik bertanya sambil menatap Laras dari atas sampai bawah dan mengingat apa yang tadi wanita di depan nya itu lakukan.
"Kalian seperti nya akrab sekali, dia bukan pelayan kalau ngomong jangan sembarangan orang dia kakak ipar mu" Ucap Tama yang baru saja datang sambil memeluk Laras dari belakang.
Deeeeg
Jantung Eros seketika berhenti berdetak saat mendengar apa yang dikatakan kakak nya terlebih saat kakak nya memeluk Laras dengan begitu erat.
Sementara Laras wanita itu merasa seperti sengatan listrik saat Tama memeluk nya tiba-tiba tubuh nya diam saja membeku di tempat tanpa sedikitpun bergerak.
"Ka Tama benarkah dia istri mu?" Eros bertanya karena merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Kenapa kau terkejut begitu? apa kalian sudah saling kenal?" Tama bukan nya menjawab justru malah balik bertanya.
"Tentu saja kita sudah saling kenal Eros kan teman ku, kita satu sekolah dulu ya kan Eros" jawab Laras menyela pembicaraan keduanya sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Tama.
Eros hanya mengangguk saja tanpa sedikitpun bersuara bibir nya tiba-tiba terasa kelu dan merasa tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.
__ADS_1
"Oya ada hubungan apa antara kalian berdua?" sambung nya lagi karena merasa belum paham dengan apa yang di lihat nya.
"Eros, Tama, Laras, kalian ko malah rame-rame di dapur sih? ayo makan malam bersama sudah siap sedari tadi loh mama nungguin!" Ucap Bela yang baru saja datang membuat ketiga nya akhirnya menuruti nya.
"Laras bagaimana kau sudah kenalan dengan Eros?" tanya Bela saat sudah duduk di bangku meja makan.
"Sudah bahkan kami memang sudah saling kenal, Eros ini teman baikku mah bahkan kami dulu satu kelas, ternyata dunia memang sempit yah, ngga nyangka sekarang aku malah jadi kakak iparnya" Jelas Laras panjang lebar sambil berusaha untuk tersenyum.
"Wah beneran, mama ikut seneng denger nya, jadi ngga salah mama jodohin kalian hubungan keluarga kita makin akrab!" Bela Berkata dengan antusias.
Sementara Eros sedari tadi diam saja, pria yang biasanya ceria dan banyak bicara kini menjadi pendiam.
"Sudah mah, jangan banyak bicara kita makan saja aku sudah lapar!" Tama bersuara karena merasa malas dengan obrolan kedua orang yang menurut nya lebay.
"Ras kau mau makan apa? pasti kau lelah membantu mama sedari tadi?" Tama bertanya kepada Laras sambil memegang piring seakan menjadi suami yang perhatian terhadap istrinya.
"Aku bisa mengambil sendiri" Jawab Laras dengan gugup, karena wanita merasa aneh dengan perilaku Tama yang menurutnya sangat begitu lembut.
"Kau pasti malu kan? tenang tidak usah malu, biar aku ambil kan" tanpa menjawab perkataan Laras Tama langsung saja mengambil kan makanan untuk Laras.
"Makanlah tidak usah malu ada aku disini!" ucap Tama sambil menyodorkan sepiring makanan yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.
"Terima kasih" jawab Laras dengan malu-malu dan langsung mengambil segelas air putih untuk menenangkan diri nya.
"Dia Akting nya mendalami sekali, sampai aku sempet saja baper tadi, Laras kau harus tenang, semuanya hanyalah Akting!" Laras bergumam di dalam hati nya sambil berusaha untuk menenangkan diri nya.
Mereka makan dengan hening, sesekali Eros melirik ke arah Laras, pria itu makan sambil terlihat sangat begitu kesal, menusuk makanan dengan garpu seolah sedang meluapkan apa yang ada di dalam hati nya, Laras yang menyadari nya menjadi ketakutan dan tidak konsentrasi makan.
"Uhuk-uhuk" Laras tiba-tiba kesedak membuat Tama dan Eros berdiri mengambil air dan memberikan nya kepada Laras.
"Kenapa? kau repot-repot mengurusi kakak ipar mu, duduk lah ada aku suaminya jadi kau tidak usah khawatir!" ucap Tama sambil mengusap punggung Laras dan memberikan air putih.
Laras lagi-lagi merasa terkejut dengan sikap lembut Tama .
"Terima kasih" ucap Laras saat merasa sudah mendingan.
__ADS_1
"Tidak usah berterima kasih kau akan terbiasa dengan perlakuan suami mu ini!" jawab Tama sambil tersenyum tipis.
"Lihat pah, Tama kita sekarang sudah Bener-bener berubah 100 persen, semoga ini awal yang baik ya pah?" Bela berbisik di telinga Malik.
"Ya semoga saja!" jawab Malik mengagguk setuju.
Kini makan malam sudah selesai sepanjang makan hanya ada kepanasan Eros, karena melihat perhatian kakak nya terhadap Laras yang menurutnya tidak pernah di lihatnya.
"Eros ke kamar dulu, seperti nya aku masih banyak kerjaan yang harus di urus!" pamit Eros hendak melangkah ke arah kamar nya.
"Loh ada tamu ko malah ke kamar sih, kamu ngga kangen ngobrol-ngobrol dulu sama kakak dan kakak ipar mu? mama juga sudah lama ngga ngobrol dengan mu!" ucap Bela menghentikan langkah Eros.
"Iya sok sibuk sekali, padahal nggak ada kerjaan sama sekali" Malik ikut menimpali membuat Eros berbalik badan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menonton TV di ruang tengah.
"Bagaimana? semalam kalian sudah melakukan nya kan?" tanya Bela berusaha untuk memecah keheningan.
"Mama jangan tanya hal yang aneh-aneh deh!" jawab Tama yang tidak ingin membahas tentang hal yang membuat nya merasa kesal.
"Loh kan mama juga pengin tahu kalau kalian berdua sudah sampai tahap mana? biar mama bisa dapat cucu" jawab Bela sambil tersenyum menggoda putra nya itu membuat Tama dan Laras saling pandang satu sama lain.
"Eros mau ke kamar dulu yah banyak urusan!" Eros yang merasa panas dan tidak tahan karena merasa dirinya di abaikan dan lebih membuat nya panas saat melihat kakak nya terus merangkul mesra Laras.
"Ada apa dengan Eros? aneh tidak seperti biasanya, banyak bicara, setelah pulang ke luar negeri jadi berubah begitu!" Bela bertanya-tanya saat melihat perubahan putranya itu.
"Sudah mah biarkan saja anak sok sibuk itu mengurus diri nya sendiri!" ucap Malik berusaha untuk menenangkan istrinya itu.
Eros langsung saja masuk ke dalam kamar nya hati nya terasa sesak jika harus menerima kenyataan bahwa wanita yang di cintai nya adalah kakak ipar nya.
"Bertahun-tahun Ras, aku menunggu cinta mu, berharap saat aku kembali kau sudah membuka hati mu untuk ku, tapi kenyataannya ini sungguh sangat begitu menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan lagi saat kau lebih memilih untuk menikah dengan kakak ku, padahal kau sudah berjanji akan berusaha untuk menunggu ku!" Eros menangis sambil menatap Poto Laras.
"Haaaah kau jahat Laras!" Teriak nya sambil mengacak sprei tempat tidur melempar nya ke sembarang arah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bantu support author yah dengan like komen vote hadiah agar author semangat ngelanjutin nya 🙏