Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Kembali Berakting


__ADS_3

Setelah Laras membeli kopi wanita itu kini sudah berada di depan pintu masuk berusaha untuk menenangkan diri nya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa!" gumam Laras sambil menghela nafas panjang.


Ceklek


Laras membuka pintu sambil mengintip dan merasa sangat begitu terkejut saat melihat Tama sudah tertidur dengan meringkuk di ranjang Bela sambil memegang tangan nya.


"Huuuuh, sudah capek-capek di beliin kopi malah tidur!" Laras menghela nafas panjang sambil menggerutu di dalam hati nya.


Karena merasa tidak ingin menggangu Tama yang sudah tidur wanita itu meletakkan bungkusan plastik yang di bawa nya ke atas meja dan mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Tama hanya ranjang bela yang membatasi mereka berdua.


"Sebegitu sayang nya kau pada Mama mu sampai kau terlihat sangat begitu sedih? saat tidur seperti ini aku bisa melihat wajah damai nya!" Laras bergumam di dalam hati nya sambil menatap Tama dengan begitu lekat.


Menunggu Bela yang tidak kunjung sadar membuat wanita itu merasa lelah kantuk yang sedari tadi di tahan nya tidak bisa di tahan lagi hingga akhir wanita itu tertidur dengan meringkuk di ranjang Bela berhadapan dengan Tama dengan satu tangan nya memegang tangan Tama bahkan kopi yang tadi di beli nya tidak di minum.


Pagi Menyapa Matahari masih tampak malu-malu untuk memancarkan sinar nya, kedua pasangan manusia masih tertidur pulas dengan posisi yang sama membuat Bela yang baru saja membuka matanya kini tampak terkejut.


Ceklek


Suara pintu di buka membuat Bela menoleh namun wanita itu tidak bisa bergerak karena tangan Laras dan Tama yang masih berpegang di atas tubuh Bela


"Nyonya, nyonya sudah sadar!" pekik Suster dengan antusias.


"Mama, beneran Mama sudah sadar ?" ucap Tama yang terbangun karena mendengar suara suster.


"Sus, panggil dokter kemari!" perintah nya membuat Suster tersebut menuruti nya.


Beberapa saat kemudian


"Haaaah, ada apa ini rame-rame!" Tanya Laras sambil menguap karena merasa sangat begitu terganggu dengan suara Tama.


"Nona permisi, biar saya periksa kondisi Nyonya Bela terlebih dahulu!" ucap Dokter yang sudah berada di dalam ruangan tersebut membuat Laras mengerti.


Laras akhirnya keluar dengan raut wajah bingung sambil mengingat apa yang terjadi semalam.


"Apa yang kau lakukan semalam?" Tama bertanya pada Laras saat melihat raut wajah wanita itu terlihat bingung.


"Membeli kopi, kau semalam ketiduran dan aku menunggu mu untuk bangun malah ikut tidur!" jawab Laras tanpa sedikitpun menatap wajah Tama.

__ADS_1


"Pulang lah, tidak usah menunggu Mama lagi, bukankah kau juga harus bekerja!" Perintah Tama dengan suara yang dingin.


"Tidak, aku akan menemui nya sebelum aku memastikan bahwa dia baik-baik saja!" jawab Laras sambil melenggang langsung masuk karena melihat dokter sudah keluar dari ruangan tersebut.


Laras berjalan masuk menatap sosok wanita paruh baya yang sudah tidak memakai selang oksigen lagi.


"Laras, menantu Mama, kemari na!" panggil Bela dengan suara yang lirih.


"Bagaimana, keadaan Mama?" tanya Laras sambil menarik kursi untuk duduk di kursi sebelah Ranjang Bela.


"Lebih baik, apa lagi ada menantu Mama yang udah jagain semalaman!" jawab Bela sambil tersenyum tipis.


"Mama bisa aja, oya dokter tadi membawakan makanan untuk Mama, Mama makan yah!" Laras berkata sambil menyodorkan makanan yang tadi di bawakan oleh dokter.


"Hmmmm!" jawab Bela sambil mengangguk dan membuka mulutnya.


Dengan telaten Laras menyuapi mertua nya itu membuat Bela merasa sangat begitu senang memiliki menantu seperti Laras, melihat perlakuan Laras dan kedekatan Mama nya dengan Laras, Hati Tama sedikit bergetar.


"Lagi Mah, biar Mama cepet sembuh terus nanti minum obat!" bujuk Laras saat Bela sudah tidak mau makan.


"Sudah Mama sudah kenyang!" tolak Bela sambil menggeleng.


"Tama, kemari! kenapa kau malah berdiri di situ terus? apa tidak cape terus menerus berdiri tanpa mau mendekat!" panggil Bela membuat Tama merasa sangat begitu malu karena sudah kepergok curi-curi pandang.


"Eh iya Mah, aku cuma tidak mau mengaggu kebersamaan kalian saja!" jawab Tama setelah berada di hadapan Bela.


"Sejak kapan anak Mama jadi malu-malu begini? sekarang baru sadar yah kalau Istri mu lebih cantik dan paling bisa bikin Mama seneng!" Goda Bela mulai kembali ceria.


"Hmmmm" jawab Tama sambil mengangguk tanpa sedikitpun ingin menjelaskan karena tidak ingin membuat Mama nya kenapa-napa.


"Oya Laras, apa sudah ada tanda-tanda?" tiba-tiba Bela memegang perut Laras membuat Laras terkejut seketika menatap ke arah Tama.


"Mama harap segera ada calon cucu Mama di sini!" lanjut nya lagi masih mengelus perut Laras.


"Mama ko bisa berpikir memiliki cucu secepat ini? jangan terlalu terburu-buru Mah, kami masih ingin menikmati masa berdua dulu!" jawab Tama panjang lebar agar Mama nya tidak memojokkan dirinya.


"Benarkah? lantas apakah kau sudah menyentuh istri mu itu, apa jangan-jangan ini hanya siasat kau saja!" cecar Bela dengan penuh selidik membuat Tama terdiam.


"Putra Mama normal kan sayang? dia menyentuh mu kan, apa yang Mama berikan waktu itu kau pakai kan?" lanjutnya lagi menatap ke arah Laras.

__ADS_1


Seketika rona wajah Laras menjadi merona secara langsung menahan malu dengan apa yang di katakan ibu mertuanya itu.


"Mama itu lihatlah, membuat menantu Mama ini menjadi malu kan, sudah kukatakan aku normal ko Mah, Mana mungkin aku menyia-nyiakan istri secantik ini!" Tama langsung saja mencium bibir Laras di depan Bela membuat wanita itu melotot sempurna.


"Ih ka Tama kau mencium ku!" pekik Laras sambil mendorong tubuh Tama.


"Ha-ha-ha iya Mama percaya tapi tidak harus di tunjukkan begitu kan!" Bela yang melihat itu seketika tertawa terbahak-bahak merasa sangat begitu senang berbeda dengan Laras kini merasa sangat begitu kesal dengan apa yang di lakukan Tama.


"Wah ternyata Mama sudah sadar!" Suara Malik dari ambang pintu membuat Bela menghentikan tawanya.


"Mah Eros sangat begitu menghawatirkan Mama!" ucap Eros sambil berjalan dengan begitu senang.


"Ros, kau kenapa, membawa Papa mu kesini? Mama tidak ingin bertemu dengan dia!" Ucap Bela sambil membelakangi Eros.


"Mah, ko ngomong nya gitu sih? bukan nya ka Tama yang salah lantas, kenapa? Papa yang di salah kan!" Tanya Eros dengan penasaran.


"Kesalahan terburuk yang bisa dilakukan pria adalah mengkhianati seorang wanita yang benar-benar memperjuangkan dunia untuknya, berdiri di sisinya, dan mendukungnya ketika dia sedang mengalami yang terburuk dalam hidupnya.


Mama tidak ingin menangis tapi kejadian itu terus saja terngiang-ngiang di pikiran Mama, Lagi-lagi Mama menangis karena khayalan tentang siapa Papa mu hancur oleh kebenaran tentang Masa lalu.


Mama survived with your Papa all this time just for you" ucap Bela panjang lebar sambil sesenggukan.


"Mah, Eros minta maaf karena Eros tidak tahu apa-apa!" Ucap Eros merasa sangat begitu bersalah.


"CK tuh kan, kau malah membuat Mama, sedih kembali!" decak Tama menatap Eros dengan kesal sambil menepis tangan nya yang memegang bahu Bela.


"Huuuuh, aku tidak bermaksud untuk seperti itu!" jawab Eros dengan menghela nafas panjang.


"Mah, bukan kah kita sudah berjanji tidak akan mengungkit masa lalu lagi, lagian dia sudah pergi biarkan dia tenang!" ucap Malik berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


"Oke, tapi apa kau bisa mengeluarkan wanita itu dari perusahaan?" jawab Bela menatap Malik dengan tatapan tajam.


"Tidak, karena aku merasa sangat begitu kasihan dengan nya Mah!" jawab Malik sambil menggeleng cepat.


Seketika raut wajah Bela berubah menjadi masam menatap ke arah Tama.


"Bagaimana Kalau Laras saja yang masuk ke perusahaan? aku yakin dengan begitu semua nya akan adil, lagian dia tidak salah apa-apa!" tawar Malik berusaha untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"CK kau selalu saja menutupi kesalahan mu dengan memanfaatkan yang ada!" decak Bela sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Terserah mau mu apa, kuharap Tama dan Eros tidak menurun sikap Mu!" lanjut nya lagi sambil menatap ke arah kedua putranya.


__ADS_2