
"Lepas, Kau tidak usah memperdulikan ku!" Tiara berusaha untuk melepaskan tangan Tama yang memegang nya.
"Ada apa ini? Tama, kenapa kau malah memegang tangan, Tiara?" Sarah yang melihat hal itu kini bertanya menatap ke dua orang yang sedang saling menatap tajam.
"Aku cuma ingin meminta maaf atas apa yang mama lakukan!" Jawab Tama sambil melepaskan tangan Tiara.
"Memang apa yang Mama lakukan? sudah Mama katakan tadi kan? kalau aku tidak sengaja menyiramnya, karena ada bau pelakor di sekitar nya, kenapa kau seolah tidak terima!" ucap Bela dengan penuh penekanan.
"Mah, sudah jangan membuat malu di acara besan!" Malik berbisik karena merasa menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Diam, Tama yang mulai duluan dan setiap kali aku bertemu dengan Tiara, pasti akan mengingatkan ku pada orang tuanya dan semua itu karena kau!" bisik Bela dengan mengepalkan tangannya menatap suaminya dengan sengit dan berjalan mendekati Tama.
"Tama, jawab pertanyaan Mama? apa kau masih menjalin hubungan dengan dia?" Bela Berkata sambil menunjuk ke arah Tiara dengan sengit.
Sarah dan Adi kini terkejut mendengar apa yang di katakan Bela, berbeda dengan Laras yang justru malah merasa tegang.
Tama menghela nafas panjang berusaha untuk tenang dan mencari alasan agar tidak membuat mama nya kambuh.
"Tidak, karena aku sekarang sangat mencintai Laras, aku sadar bahwa Tiara tidak ada artinya dari pada harus kehilangan Laras, bukan kah mantan harus di buang pada tempat nya, tadi cuma merasa ingin minta maaf saja kalau mama menyiram dia, tapi sepertinya tidak perlu!" jawab Tama sambil berjalan menuju ke arah Laras dan merangkul pinggang wanita yang sedang terdiam itu.
"Oh begitu baguslah, kau denger sendiri kan apa yang di katakan putra ku? mantan seharusnya di singkirkan, aku rasa kau tidak pantas berada di sini, benalu!" Bela berkata sambil menatap Tiara dengan sengit sambil menyerampang kaki Tiara sehingga membuat Tiara terjatuh.
Tama dan Laras yang melihat itu merasa terkejut dengan apa yang di lihat nya.
Pria Itu hendak menolong namun dia tahan lantaran tidak ingin membuat semuanya curiga.
"Aaaaaaw!" pekik Tiara mengaduh kesakitan air matanya jatuh begitu saja.
__ADS_1
"Tiara kau tidak papa kan?" Sarah yang melihat itu langsung berjalan mendekati Tiara.
"Sarah untuk apa kau peduli padanya? jangan pernah sedikitpun kau terperdaya oleh air mata buayanya, dia memang terlihat sangat begitu polos dan menyedihkan tapi, jangan salah dia itu wanita bermuka dua!" Bela yang melihat Sarah hendak membantu kini melarang, membuat Tiara akhirnya berusaha untuk berdiri dan memberanikan diri untuk menatap wajah wanita yang selalu bermulut pedas pada nya.
"Tante, apa salah ku pada anda sampai anda sangat begitu membenci saya? iya saya memang wanita miskin tapi bukan berarti saya bermuka dua, saya tidak sejahat yang tante katakan, saya bekerja di Wira Group sebagai sekertaris, tidak pernah memoroti anak Tante gajih sesuai dengan kesepakatan,tanpa ada tambahan lain nya, kenapa anda sangat begitu sensitif terhadap saya? katakan pada saya apa yang membuat anda membenci saya?" Ucap Tiara panjang lebar dengan suara yang meninggi menatap ke arah Bela dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Beraninya kau berkata meninggi pada ku!" ucap Bela dengan tidak terima.
"Kau ingin tahu? apa yang membuat ku sangat begitu membenci mu? itu semua karena ibu mu, ibu mu yang membuat ku sangat begitu membenci mu, setiap kali aku melihat wajahmu kejadian itu pasti akan selalu teringat di otak ku rasa sakit hati yang teramat dalam aku rasakan selama bertahun-tahun!" ucap Bela sambil menunjuk-nunjuk Tiara dengan tatapan tajam.
"Apa salah ibu pada Tante? aku tidak mengerti?" Tiara berusaha untuk bertanya meskipun hati nya terasa sesak.
"Ibu mu adalah...!"
"Mah, papa mohon jangan merusak semua acaranya, pleees!" potong Malik dengan cepat membuat Bela menatap suaminya dengan sengit.
"Tante apa yang ibu ku lakukan, aku minta maaf!" Tiara yang melihat Bela keluar kini ikut mengejar wanita paruh baya itu.
"Singkirkan tangan kotorku itu dari tangan ku! kau tidak pernah tahu seberapa sakit nya aku menahan semuanya, aku mati rasa bertahun-tahun menahan semuanya, saat kau muncul di hadapan ku kenangan itu lagi-lagi kembali mengisi otak ku, kau mengerti, tidak!" Bela berkata dengan suara yang cukup meninggi sambil menepis tangan Tiara yang memegang tangan nya sehingga membuat Tiara tersungkur karena kehilangan keseimbangan.
"Mama!" pekik Tama yang baru keluar saat melihat Bela terduduk sambil memegang dadanya.
Semua orang yang melihat itu menjadi panik dan tegang lantaran Bela terduduk, begitu juga dengan Tiara yang tersungkur menjadi merasa bersalah.
"Tante, tidak papa kan?" Tanya Tiara mendekati Bela.
"Jangan sentuh aku, aku tidak sudi kau menolong ku!" Bela berkata sambil memegang dadanya karena wanita itu memiliki riwayat sakit jantung jika marah-marah pasti jantungnya akan kambuh.
__ADS_1
"Tiara menjauhlah dari sini!" ucap Malik agar wanita itu mau mengerti.
"Baiklah aku menjauh!" jawab Tiara sambil berdiri dan berjalan mendekati Tama.
"Mas Tama, aku tidak bermaksud untuk membuat Mama kamu seperti ini!" jelas Tiara sambil memegang tangan Tama.
"Seharusnya kau tidak membuat masalah dan tidak berbicara dengan Mama, aku tidak tahu harus berkata apa? jika sudah begini!" jawab Tama sambil menyingkirkan tangan Tiara dari tangan nya dan menggandeng tangan Laras.
"Sabar Ti kau tidak papa kan?" tanya Sarah sambil menepuk pundak Tiara namun wanita itu langsung saja berjalan tanpa sedikitpun memperdulikan Sarah karena sedang merasa sangat begitu tidak karuan.
"Tiara, kau tidak ingin melihat keadaan Bela!" Teriak Sarah namun tidak ada sahutan dari wanita itu membuat Sarah segera berjalan menuju ke arah mobil untuk menyusul besanya ke rumah sakit.
"Aku tidak menyangka jalan takdirku bakal seperti ini, aku juga tidak ingin di lahirkan kedunia ini dengan keadaan yang seperti ini, salahkan jika aku ingin di cinta dan mencintai di inginkan oleh semua orang? apa aku tidak pantas untuk bahagia bersama dengan cinta ku? hanya karena masa lalu orang tua ku!" Tiara berjalan dengan air mata yang membasahi wajahnya hatinya terasa sakit saat mendengar pernyataan yang ada.
"Apa salah mu bu? sampai aku yang menanggung dosa dari perbuatan mu!" gumam nya lagi sambil terduduk di tepi jalan.
Guyuran hujan tiba-tiba membasahi dirinya seolah semesta sedang berpihak pada nya.
Sementara di rumah sakit kini Bela sudah berada di ruang UGD semua nya menunggu dengan harap-harap cemas.
"Kalau sampai Mama kenapa-napa aku tidak akan memaafkan papa!" ucap Tama sambil menatap ke arah Malik.
"Kenapa papa yang di salahkan? itu kesalahan mu yang menjalin hubungan dengan Tiara!" jawab Malik dengan tidak terima.
"Tapi semuanya berawal dari masa lalu Papa!" jawab Tama dengan sengit.
"Tama, ku harap kau tidak beneran menjalin hubungan dengan Tiara lagi, kalian beneran sudah berakhir, aku tidak rela jika putri ku mengalami hal yang sama seperti yang Bela rasakan!" kini Adi bersuara nada bicara nya seperti sebuah ancaman bagi Tama membuat pria itu saling pandang ke arah Laras
__ADS_1
BERSAMBUNG