Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)

Antara Aku Kamu Dan Dia (Perjodohan Membawa Luka)
Debaran Jantung


__ADS_3

Kini Laras dan Tama Akhirnya memutuskan untuk pulang setelah bercengkrama dan bercerita banyak hal Keduanya Kini sudah berada di dalam mobil.


"Ekheem-ekhem" Tama berdehem untuk mencairkan suasana sambil masih fokus mengemudi.


"Apa kau sedang mencari perhatin ku? Akting mu tadi bagus sekali sampai aku sempet terhanyut dalam permainan mu?" Laras berkata sambil bertepuk tangan riya seperti anak kecil yang mendapatkan main nya.


"Wah, Larasati Nugroho kau hebat sekali memutar balikkan fakta, CK... bukan kah kau yang sedang memerankan Akting?" Tama berdecak kesal sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Kau adalah wanita yang tidak tahu malu, kau adalah wanita yang membuat hidup ku menjadi kacau balau, baru dua hari kita menikah tapi kau sudah membuat semua nya lebih kacau!" Tama berkata lagi dengan suara meninggi menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Laras kejedot kedepan.


"Aaaaaw! kau sengaja ingin membuat ku terluka yah!" bentak Laras sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Ha-ha-ha bahkan aku bisa saja membunuh dan mencekik leher mu itu!" Tama tiba-tiba saja sudah ada di samping Laras membuat Laras terkejut memegang dadanya.


"Ha-ha-ha kau ingin membunuh dan mencekik ku? jangan harap, mungkin sebelum kau membunuh dan mencekik ku kau duluan yang aku bunuh!" Laras berkata sambil tertawa terbahak-bahak dan segera keluar dari mobil, wanita itu duduk di depan kemudi.


"Laras kau mau apa?" tanya Tama saat melihat Laras duduk di kemudi.


"Ya pulang lah, emang nya ka Tama ngga nyadar apa sudah tengah malam begini, kaya orang kesetanan!" ketus nya sambil menyalahkan mesin mobil.


Akhir mereka berdua hening tidak ada yang berbicara satupun, Laras yang fokus mengemudi sementara Tama tenggelam dalam pikiran nya sendiri.


Tak beberapa lama kemudian mereka berdua sudah sampai di depan rumah wanita itu turun dari mobil nya.


Laras yang hendak melangkahkan kakinya masuk kini terhenti saat melihat Tama masih di dalam mobil.


"Ini orang setelah tadi ingin membunuh ku sekarang lambat juga ngga keluar-keluar dari mobil?" Laras bergumam sambil berjalan menuju ke arah mobil dengan bersungut-sungut.


"Ka Tama, kau tidak ingin masuk rumah?" Laras menggedor-gedor kaca mobil namun tidak ada sahutan sedikit pun dari dalam.


Dengan bersungut-sungut karena merasa kesal akhirnya Laras membuka mobil, alangkah terkejutnya saat melihat Tama sedang tertidur pulas.


"Ya ampun, kenapa dia bisa tidur nyenyak begini sih? pantesan di panggil ngga nyahut-nyahut, ternyata dia tidur nya ngebo juga!" Laras berkata sambil tersenyum tipis merasa tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.


"Bangunin ngga yah? kalau aku bangunin nanti dia marah, ngga di bangunin kasihan juga" Laras bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil menatap ke arah Tama.


Wanita itu justru malah duduk di samping Tama memandangi wajah pria yang terlelap tersebut.


"Ganteng, damai dan hangat saat melihat wajah lelap mu, tapi sayang, kau di takdir bukan untuk ku, Kita di takdir kan hanya untuk saling membenci itu lebih baik" gumam Laras sambil menatap wajah Tama dengan penuh intens.


"Jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu Tiara, kita akan saling berjuang bersama, sampai kapan pun kau tidak akan pernah tergantikan!" Tama mengigau sambil memeluk Laras membuat Laras berada di pelukan pria tersebut.


"Cinta mu hanya untuk Tiara sampai kapan pun, aku yang datang sebagai pengganggu, bahkan dalam keadaan tidur saja kau masih menyebut nama nya" ucap Laras sambil tersenyum getir, berusaha untuk menatap wajah Tama yang memeluknya erat.


"Apa yang terjadi dengan ku? kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, wangi parfum nya menusuk ke hidung ku sampai membuat ku terperdaya begini, ini tidak bisa di biarkan?" sambung nya lagi sambil berusaha untuk melepaskan tangan Tama.


"Dasar pria brengsek!" Laras akhirnya menampar pipi Tama dengan kerasnya agar pria itu bangun karena merasa sangat begitu kesal.


"Apa yang kau lakukan? haaaah!" hardik Tama menatap Laras dengan tatapan tajam.


"Ka Tama, kau tertidur pulas di dalam mobil, dengan seenak nya kau memeluk ku, ya jelas aku membangunkan mu!" Laras berkata dengan ketus lalu keluar dari mobil karena tidak ingin terjadi sesuatu.

__ADS_1


Sementara Tama dia masih bingung dengan keterkejutan nya memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Laras.


"Ya ampun kenapa? bisa aku tertidur di dalam mobil, dasar wanita tidak punya perasaan bisa-bisa menampar pipi ku!" umpatnya sambil turun dari mobil nya.


Pria itu berjalan masuk ke dalam rumah nya, berniat ingin mencari Laras karena merasa masih kesal dan butuh penjelasan.


Tanpa berniat mengetuk pintu, Tama yang sudah ada di depan kamar Laras langsung saja menerobos masuk.


"Aaaaaaaaaakhh! ka Tama keluar kau bisa-bisanya masuk kamar orang sembarangan!" Laras berteriak karena wanita itu sedang berganti pakaian.


Tama langsung berbalik badan tanpa berniat untuk keluar dari kamar Laras.


"Bisa-bisanya kau tidak mengunci pintu dasar ceroboh!" ucap Tama sambil masih membelakangi Laras.


"Bisa-bisanya kau masuk ke kamar orang seenaknya tanpa mengetuk pintu, keluar dari kamar ku sekarang juga!" ketus Laras saat sudah memakai pakaian nya.


"Aku perlu membalas apa yang kau lakukan!" jawab Tama sambil memegang pipinya.


"Oh jadi kau ingin balas dendam karena aku menampar mu, Ck dasar pria lemah di tampar sedikit saja sudah ingin balas dendam!" Laras berdecak kesal menatap Tama sambil geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba terdengar dering telepon milik Laras membuat wanita itu berjalan menuju ke arah tas nya, tanpa memperdulikan keberadaan Tama.


"Ras kau sudah pulang?" tanya suara dari seberapa telepon.


"Siapa yah nomor baru?" tanya Laras sambil mengerutkan keningnya heran.


"Kau tidak mengenali suara ku!" jawab suara dari seberang telepon membuat Laras mengerti.


"Ada apa?" tanya Laras saat mengingat pemuda itu menelpon.


"Hanya tanya kamu sudah pulang belum, aku baru ingat sesuatu bahwa aku membawakan oleh-oleh untuk mu!" ucap Suara dari seberang telepon.


"Ya iyalah aku pulang, kamu nya sok sibuk, padahal kan aku kangen pengin banyak ngobrol!" jawab Laras dengan mencebikan bibirnya.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau menikah dengan kakak ku? kau bahagia menikah dengan nya?" Tanya suara dari seberang telepon.


"Loh ko ngomong nya di telepon? kenapa nggak langsung saja tadi?" Tanya Laras dengan heran.


Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan dari seberang telepon membuat Laras heran.


"Ros kamu nggak papa kan?" tanya Laras dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja, apa ada ka Tama di situ, ku harap kau tidak memberitahu nya kalau aku menelpon!" jawab suara dari seberapa telepon.


"Dia tidak ada, kau kenapa Ros tidak memberitahu ku Kalau kau memilih seorang Kakak dan kau terlahir dari keluarga yang berada?"


Laras bertanya karena merasa heran dengan kejadian tadi yang melihat Eros seperti tidak di anggap oleh papa nya, dan pemuda itu dulu memang selalu tampil sederhana seperti orang biasa dan tidak pernah mengenalkan keluarganya kepada Laras makanya Laras merasa sangat begitu terkejut,dan heran ada apa dengan keluarga tersebut, padahal dari yang Laras tahu Keluarga Eros sangat begitu kaya.


"Sudah lah tidak usah di bahas sekarang sudah malam, kau tidur saja maaf mengganggu momen romantis kalian, aku cuma ingin mendengar suara mu sebelum aku tidur!" jawab suara dari seberang telepon sambil berusaha untuk menenangkan diri nya.


"Ros aku kangen mendengar puisi-puisi yang dulu kau katakan, boleh tidak sebelum kau menutup telepon kau bacakan puisi untuk ku?" ucap Laras entah mengapa tiba-tiba saja merindukan malam-malam seperti dulu saat pemuda itu sering membacakan puisi untuk nya meskipun dulu tidak pernah di respon oleh nya, tapi entah rasa rindu itu tiba-tiba hadir dalam hati kecil Laras.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu dengarkan baik-baik!" jawab Eros sambil menghapus air mata nya rasa sedih tiba-tiba hilang begitu saja, pria itu memejamkan mata nya.


"Malamku dan malammu sama cuma rinduku dan rindumu tak lagi seindah janji yang dulu kau katakan.


"Dimanakah janji indahmu dulu yang tak akan pernah terbagi buat yang lain meskipun aku hanya sahabat untuk mu?


Kalo udah sakit hati, air mata yang berbicara. Bukan apa-apa, mau ngomong aja susah. Mau dengerin penjelasan juga males.


Kalau kau pilih selain aku dan itu bahagia kau pergi, aku rela kau bahagia dari derita bersama si aku yang tak punya apa.


Cinta datang dari mata kehati . Dan cinta yang salah datang dari hati ke air mata .


Pernah pura-pura ketawa padahal nggak denger apa yang barusan diomongin.


Senyummu malam ini indah tapi sayang bukan aku pemiliknya.


Ketika ditiap doaku ada namamu, itu berarti kamu sudah menjadi tanggung jawabku dan biarkan orang lain menyelesaikan janji ku kepada Tuhan… …untuk mendampingimu berjalan bersama di depan altar dan mengucap janji suci sehidup semati sampai maut memisahkan meskipun itu tidak bersama ku.


Demi mengajarimu arti sebuah kehilangan, Tuhan mengorbankan hatiku .


Mungkin bahagiamu bukan takdirku, tetapi setidaknya masa-masa kita indah bukan?


Senyummu padang ilalang ,tangismu matiku .


Hey, aku memendam rasa kepadamu yang memendam rasa kepadanya .


Aku tahu hati kita sama-sama kuat, mari berhenti menyakiti diri masing-masing.


Saat semua harus dihadapkan dengan pilihan aku cuma berharap semoga bukan kamu lagi bahagiaku.


Tolong bilang pada rindu malam ini tidak usah menemaniku, aku sudah bosan menunggu dan cuma ingin tidur tenang .


Aku menunggu hari dimana saat bertemu denganmu aku sudah tidak merasakan sakit yang kau buat ini, semoga kau bahagia bersama kakak ku"


Eros membacakan puisi dengan air mata yang jatuh begitu saja, rasa sesak nya tidak bisa di tahan lagi seakan puisi itu mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hati nya.


"Ros maaf aku tidak bermaksud untuk seperti itu!" ucap Laras sambil sesenggukan karena mendengar puisi yang di bacakan Eros menyentuh ke dalam hati nya.


"Tidur lah lupakan apa yang terjadi, Semoga kau bahagia bersama kakak ku, kakak ku orang yang baik ko dia penyayang jadi kau pasti akan mudah jatuh cinta pada nya!" jawab Eros berusaha untuk tenang.


"Tapi kita masih bisa bertemu kan, dan Kita masih bisa berteman?" tanya Laras dengan masih menangis.


"Ya sekarang kau kan kakak ipar ku, jadi tentu sekarang kita adalah keluarga!" jawab Eros berusaha untuk biasa saja meski sebenarnya hatinya tidak baik-baik saja.


Keduanya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri panggilan setelah saling berkeluh kesah.


"Wah kisah percintaan yang menyedihkan membuat ku sedikit terharu!" Suara Tama menggelegar sambil bertepuk tangan riya membuat Laras terkejut.


BERSAMBUNG


Mohon dukungan nya yah dengan cara like komen vote hadiah nya yah agar author semangat ngelanjutin nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2