
"Ih ka Frans itu usil deh, tentu saja namanya juga kan sudah menikah apa yang perlu di pertanyakan, kecuali mereka belum menikah baru itu wajar." jawab Tiara sambil tersenyum getir mencoba untuk biasa saja.
"Iya nih Frans, lihat adik mu sudah seperti kepiting rebus, malu kan." ucap Sarah menimpali sambil mencubit pinggang putranya itu.
"Mama, aku cuma sedang menggoda adik ku yang manis ini." jawab Frans mencoba untuk menjelaskan sambil meringis kesakitan.
"Adik ipar berapa Ronde setiap malam? Apa udah ada tanda-tanda kau menghamili adik ku? Atau milik mu memang tidak berfungsi?" lanjut nya lagi menatap ke arah Tama yang langsung saja di toyor kepala nya oleh Sarah, karena Frans mengatakan hal itu secara terang-terangan tanpa embel-embel.
"Aduh, mah sakit!" pekik Frans sambil meringis kesakitan.
"Jangan samakan dia dengan dirimu yang suka main-main dengan wanita, tentu saja dia itu lebih baik dari mu, bicara mu selalu saja mesum, kapan kau berubah?" ucap Sarah menatap putranya itu dengan kesal.
Ya tentu hal itu membuat suasana menjadi hening karena Tama menjadi diam saja karena ulah Frans, begitu pula dengan Laras yang biasa nya cerewet kini menjadi pendiam mungkin karena malu atau bahkan karena merasa sangat bersalah dengan Tiara.
"Frans, hanya bertanya, Kenapa? Mama malah bawa-bawa pemain wanita sih? Kalau aku bisa setia pada satu wanita memang nya ada? wanita yang mau setia dengan kekasihnya, bagi ku tidak ada, kecuali Tiara yang mau di sakiti tapi tetap terlihat tegar." ucap Frans sambil berjalan dan duduk di samping Tiara.
Sarah yang mendengar penuturan putranya hanya bisa menghela nafas panjang, karena putranya itu memang tidak bisa berubah, entahlah sikap Frans menurun pada siapa? tapi itulah Frans pria yang selalu bermain wanita dan tidak pernah sedikit ada wanita yang benar-benar serius di dekatinya itu mengapa Frans tidak pernah mau tinggal di Indonesia yang nanti akan membuat Mama nya marah besar karena ulahnya.
"Kenapa bawa-bawa aku? Ka Frans sedang memuji atau sedang meledek?" tanya Tiara dengan jantung yang gemuruh karena posisi duduk mereka memang dekat.
"Lebih tepatnya, menggoda, jikalau kau mau aku bisa menikahi mu." jawab Frans sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak, Mama tidak akan setuju jika Tiara bersama mu, Mama tidak rela jika Tiara yang akan menjadi korban mu." Sarah yang melihat itu langsung saja berjalan menarik Tiara karena merasa sikap putranya itu sudah keterlaluan.
"Mama kejam sekali, sebenarnya Aku ini putra mu atau Tiara sih?" Kini Frans menatap Mama nya dengan heran karena wanita itu justru malah menarik Tiara untuk pindah posisi duduk.
"Ya karena Mama tahu seperti apa sikap mu." jawab Sarah sambil geleng-geleng kepala.
"Ti, jangan deket-deket sama buaya darat itu yang ada kau makan hati setiap hari." lanjut nya lagi sambil menatap Tiara dengan meyakinkan.
"Ck... Mama ini berantem terus sama Frans ngga di rumah ngga di sini ngga pernah akhur, kapan kalian ini akhur? Malu tahu di lihat menantu." Adi berdecak menatap istrinya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Ya bagaimana mau akhur? punya anak Laknat seperti Frans makan hati terus setiap hari, baru dua hari dia tinggal di Indonesia sudah bawa berapa wanita coba?" jawab Sarah sambil mengingat kelakuan putranya itu.
"Mama ini malah bongkar aib." ketus Frans dengan kesal.
Pria itu kini duduk di samping Tama, hal itu membuat Tama yang sedari tadi diam kini menjadi tegang karena merasa perasaan nya tidak enak.
__ADS_1
"Adik ipar kau belum menjawab pertanyaan ku? Berapa ronde setiap malem nya?" tanya Frans dengan tersenyum menggoda.
"Mau berapa ronde setiap malam nya itu bukan urusanmu, kau itu membuat ku kesal sedari tadi, kenapa aku bisa punya kakak laknat seperti mu? Ingin sekali aku membuang mu ke dasar lautan saja!" ucap Laras langsung memukul Frans dengan batal karena sedari tadi merasa kesal dengan sikap kakak nya itu yang selalu saja usil.
"Aduuuuuh! tolong Aku adik ipar, istri mu ini kejam sekali!" Frans berteriak mencoba untuk meminta bantuan pada Adik iparnya itu namun Tama hanya menghela nafas panjang.
"Jangan mau menolong nya dia memang pantas untuk di hukum, sekarang aku tanya pada mu? Sudah berapa banyak wanita yang tidur dengan mu?" ucap Laras masih terus memukul kakaknya menggunakan bantal.
"Berapa yah? Aku lupa." jawab Frans dengan asal.
"Sudahlah kalian ini malah membuat rusuh." kini Tama yang merasa tidak nyaman dengan keadaan segera menarik istrinya itu menjauh dari Frans.
"Sayang, kau ini sedang tidak enak badan, tapi kau malah memukuli kakak mu dengan ganas." Tama kini mengelap keringat istrinya itu menggunakan tisu membuat Laras terdiam karena perlakuan suaminya itu.
"Oya, apa tidak enak badan ini ada hubungan nya sama kehamilan Laras?" tanya Sarah mencoba memastikan.
"Tidak, Mah mungkin karena evek pertama datang bulan." jawab Laras dengan berbohong.
"Oh begitu kirain, padahal Mama sudah berharap banyak." jawab Sarah sedikit kecewa.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? sepertinya seru kalau kita masak di dapur, pung-pung hari libur." Usul Laras mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa tidak nyaman dengan situasi yang akan memojokkan dirinya.
"Aku setuju, sudah lama juga kan? tidak berkutik di dapur." jawab Tiara berusaha untuk biasa saja.
Ketiga wanita kini memasak di dapur dengan di bantu dua pelayan sementara ketiga pria lebih memilih untuk menunggu sambil sesekali membicarakan tentang bisnis.
"Andai Tante punya anak yang tidak Laknat seperti Frans, mungkin Tante sudah menjodohkan mu dengan nya, Ti kau adalah orang baik, Tante sangat begitu menyayangi mu meskipun kemarin-kemarin Tante sempet kesal dan syok dengan apa yang Tante denger, ku harap kau bisa berlapang dada menerima semua ini." ucap Sarah panjang lebar setelah selesai memasak.
"Tante, semua sudah berlalu, aku berusaha untuk merelakan semuanya ko, terima kasih sudah selalu ada untuk ku dan menganggap aku seperti anak Tante sendiri." Tiara memeluk Sarah dengan sangat begitu merasa bersalah tapi wanita itu juga tidak bisa merelakan kekasih nya begitu saja.
"Maafkan aku Tante, aku masih belum bisa sekuat itu." gumam Tiara dalam hati nya.
"Mama sudah jangan berpelukan begitu, ayo kita bawa makanan nya ke depan." Laras yang melihat situasi itu berusaha untuk menyadarkan keduanya.
"Eh iya saking terlalu terbawa suasana jadi lupa." Sarah Berkata sambil tersenyum kikuk.
Setelah makanan dihidangkan di meja makan kini mereka sudah berkumpul di meja makan.
__ADS_1
"Wah Mama baik sekali, membawakan sop buntut untuk ku." Ucap Frans dengan tersenyum senang saat Mama nya membawa semangkuk sop.
"Ini buat menantu, biar ada asupan, kau ambil saja sendiri di dapur." jawab Sarah langsung menyodorkan satu mangkuk sop di hadapan Tama.
"Terima kasih Mah." ucap Tama merasa tidak enak hati.
"Sama-sama." jawab Sarah dengan tersenyum senang.
"Ih Mama sekarang kejam sekali, padahal dulu Frans yang selalu di sayang-sayang, sekarang Frans seperti di anak tiri kan." ucap Frans menampilkan wajah sedih nya.
"Halah hanya Akting, sudah sana ambil sendiri." jawab Sarah sambil geleng-geleng kepala.
Semua orang yang ada di meja makan kini menjadi tertawa terbahak-bahak melihat kedua orang yang saling beradu mulut itu.
Kini setelah Makan siang Ketiga nya memutuskan untuk pamit pulang.
"Ti, kau yakin ingin pulang naik taxi? tidak pulang bareng kami?" tanya Frans saat sudah berada di samping mobil nya.
"Iya aku ada urusan, terima kasih tawaran nya." jawab Tiara sambil mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah kalau begitu kami pamit, ingat Laras, kau jangan lupa main ke rumah." ucap Sarah pada putrinya itu.
"Iya Mah." Laras hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah mobil kini sudah meninggalkan halaman rumah itu kini tinggal menyisakan tiga orang yang berada di sana.
"Tiara kau jangan salah paham." Laras mencoba untuk memanggil Tiara saat melihat sahabatnya itu berjalan begitu saja.
"Salah paham apa nya? aku melihat sendiri apa itu dan aku tidak bodoh, Kalian berdua sudah mengkhianati perjanjian bersama, lalu kau bilang aku jangan salah paham? dan kau Mas kau Jahat mulut mu terlalu manis saking manis nya membuat aku hanyut dalam permainan mu." ucap Tiara panjang lebar air mata nya jatuh begitu saja.
"Ti, maaf, Aku tidak sengaja melakukan itu." Tama memeluk Tiara dari belakang, mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu, dalam hati pria itu memakai Frans dengan sangat begitu kesal.
"Lepaskan aku, ketidak sengajaan mu itu menyakiti semua nya, aku perlu waktu biarkan aku tenang." Tiara berusaha untuk melepaskan pelukan Tama.
Wanita itu berjalan meninggalkan Tama dan Laras dengan hati yang tidak bisa di artikan entah sedih atau senang tapi yang jelas wanita itu hanya ingin menangis dan perlu waktu sendiri.
Laras hanya menatap punggung sahabatnya itu yang semakin menjauh dari rumah nya wanita itu juga merasa sangat begitu bersalah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.