
Eps 25
tapi sebelum aku menceritakan nya maukah kamu berjanji padaku, kata Amel dengan pandangan kosong.
memangnya aku harus berjanji apa....????? tanya finka bingung, Amel hanya bisa diam sambil menangis lagi.
ini Amel ngapain sih....., nangis mulu kerja nya batin finka kesal. memangnya kesalahan apa yang telah ia perbuat, hingga tak bisa berhenti menangis.
berjanji lah padaku, bahwa kamu' tidak akan meninggalkan aku ketika sudah mendengarnya. karena aku tidak ingin semua orang meninggal kan ku, kata Amel
terbata-bata.
baik aku berjanji, aku tidak akan ninggalin kak Amel kata finka sambil tersenyum.
Amel pun mulai menceritakan cerita masa lalunya.
.....................
waktu itu saat usiaku masih 7 tahun, aku tinggal bersama dengan adik dan ibuku. kami hidup dengan bahagia, meskipun hidup miskin kata Amel sambil mengenang kejadian masa lalunya.
finka hanya mendengarkan Amel tanpa berkomentar sedikitpun, ia sebenarnya agak kaget' saat Amel bilang ia punya keluarga. tapi Finka tidak mau mengganggu, Amel yang sedang bercerita.
tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, kata Amel. kami harus berpindah-pindah, karena kami tidak memiliki tempat tinggal untuk menetap.
dan saat kami sudah menemukan rumah untuk di sewa, meskipun rumah itu sebenarnya tak layak huni.
ibuku mulai sakit-sakitan, kata Amel sambil menahan air matanya yang sudah terbendung.
aku tidak punya uang, untuk beli obat buat ibuku. jangan kan beli obat kata Amel sambil menangis layaknya anak kecil, untuk makan saja kami susah.
Finka hanya bisa diam mendengar kan cerita Amel, ia tidak tahu harus menanggapi apa..??
sakit ibuku makin parah, kata Amel melanjutkan ceritanya. di tambah lagi kami tinggal di daerah yang sangat kumuh, kotor dan juga bau. sehingga mudah untuk terjangkit penyakit.
aku dan adikku yang masih berusia 6 tahun berusaha untuk meminjam uang, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau meminjamkan uang kepada kami. karena mereka juga mengalami, kehidupan yang sama sulitnya dengan kami.
aku dan adikku akhirnya memutuskan untuk mengamen, agar bisa membelikan obat dan juga makanan untuk ibu.
karena sudah sangat banyak orang yang mengamen, sulit untuk kami mendapatkan uang. meskipun kami sudah bernyanyi, dan sudah meminta belas kasihan tapi mereka juga tidak mau memberi kami uang. ditambah lagi kami masih baru, jadi kami masih tidak mengerti bagaimana cara mengamen.
tapi kami sangat bersyukur saat kami ingin pulang, ada orang baik yang memberi kami uang 100.000 ribu. aku dan adikku Sangat senang, karena ada juga yang mau memberi kami uang. kami sangat berterima kasih kepada ibu yang memberi uang itu, kata Amel sambil tersenyum. mengingat kembali kenangan bersama adiknya. finka hanya bisa meneteskan air mata, ia ikut bersedih mendengar cerita amel.
tapi sesampainya di rumah, ibu penagih rumah sewa datang. dan marah-marah terhadap ibuku yang sedang sakit. kami tidak tega melihat ibuku di marahi, akhirnya aku memberikan uang 100.000 yang kami dapat dari ngamen tadi.
aku dan adikku hanya bisa menangis, karena uang jerih payah kami selama satu hari hilang dalam sekejap mata kata Amel sambil menangis. Finka juga ikut menangis merasakan kesedihan, di kehidupan Amel.
kemudian Amel melanjutkan ceritanya lagi.
setelah itu kami akhirnya tidak bisa membelikan ibuku obat, dan juga makanan. adikku juga sudah sangat kelaparan, karena memang sudah hampir dua hari kami tidak makan. ditambah lagi, ia panas-panasan saat mengamen.
kata Amel sambil menahan tangisannya, hingga membuat Amel berbicara sampai tak jelas lagi.
"menangis lah jangan di tahan, aku disini kata Finka menghibur, Amel hanya tersenyum mendapat semangat dari Finka.
setelah itu adikku juga jatuh sakit, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. rasanya aku marah sama tuhan, karena ia tidak sayang padaku dia pilih kasih padaku.
kata Amel entah berapa kali Amel harus meneteskan air mata, begitu juga Finka ia juga ikut menangis. meskipun tubuhnya sudah mulai lemah, tapi ia masih tetap memaksakan diri untuk mendengar cerita Amel.
aku berusaha untuk mencari uang ke sana kemari, tapi tetap juga tidak ada yang berbelas kasih kepada kami.
kemudian aku membongkar lemari, tanpa tutup milik ibuku. aku terpaksa menjual baju ibuku, yang entah dari mana baju itu masih cantik.
pernah suatu ketika aku menanyakan dari mana baju itu....???? ibuku hanya berkata bahwa baju itu adalah baju kenangan dari papa kami.
saat aku bertanya lagi dimana papa ......??? ibuku hanya menangis. ia hanya berpesan jika saat kami bertemu, janganlah membencinya begitulah kata ibuku.
__ADS_1
kemudian aku melihat ibu dan adikku yang masih berbaring, aku meminta maaf di dalam hati kepada ibuku karena ingin menjual baju kenang-kenangan itu.
aku lalu mengambil baju itu, dan menemukan sebuah foto keluarga sambil menggendong anak balita.
dan kau tahu siapa dia.....????? kata Amel, sambil melihat mata Finka.
Finka terkejut dengan tatapan tajam Amel, dia adalah papa kamu kata Amel dengan muka memanas.
Finka seketika itu langsung gemetar, ia tak bisa lagi berbicara apapun. dan kata amel melanjutkan ceritanya, setelah aku membalikkan foto itu. aku melihat tulisan dibelakang nya Anesta dan Williams.
Finka bahkan lebih terkejut mendengarnya, seperti ada badai yang menghantam dirinya. ya.....,. nama ibuku adalah Anesta kata Amel sambil tersenyum miris. aku seperti pernah dengar nama itu batin finka tapi dimana katanya sambil berfikir.
aku lalu menjual baju itu di pasar yang menerima jual baju bekas, mereka membeli gaun itu dengan harga 80.000. padahal aku sudah meminta untuk menaikkan harga nya, tapi mereka tak mau menambah sedikitpun.
setelah itu aku lalu membeli obat, serta makanan untuk adik dan ibuku.
sesampainya di rumah, aku langsung menyuruh mereka untuk makan.
saat ibuku bertanya, dari mana aku mendapat kan semua ini...????.
aku hanya bisa berbohong, mengatakan bahwa aku dapat ini semua dari hasil mengamen.
setelah mereka makan adikku kembali bertenaga, aku sangat senang melihat adikku bisa tertawa lagi.
tetapi tidak untuk ibuku, meskipun beliau sudah makan dan minum obat. ibuku tetap saja tidak memiliki tenaga, karena dia mungkin memang membutuhkan pengobatan secara serius.
melihat kondisi itu, aku berusaha untuk mencari pekerjaan agar ibuku bisa berobat ke dokter. aku berpesan kepada adikku agar iya menjaga ibu selama aku mencari pekerjaan, adikku sebenarnya tidak mengijinkan aku pergi tapi aku tidak punya pilihan lain.
kata Amel sambil sambil menangis tersedu-sedu, Finka sangat terkejut saat melihat Amel menangis tersedu-sedu. karena sedari tadi, ia hanya menangis tapi tidak bersuara.
dan kau tahu apa yang telah terjadi setelah itu, kata Amel. aku anak yang baru berusia 7 tahun, harus bekerja siapa yang mau menerima aku....???? kata Amel sambil menangis lagi.
ia lalu melanjutkan ceritanya lagi,, karena tidak menemukan pekerjaan aku akhirnya pulang. tapi pas aku pulang sungguh sial nasibku, kata Amel tak henti- hentinya menangis ..
aku menemukan rumah sewa kami sudah di hancurkan, oleh papamu kata Amel sambil marah. katanya mereka ingin membangun perusahaan, aku tidak mementingkan tentang urusan kalian saat itu, yang aku pertanyakan dimana adik dan ibuku.
bahwa ibuku sudah tiada, saat di bawa ke rumah sakit.
aku tidak tahu harus menanggapi apa lagi saat itu, pikiran ku sangat kacau dan rasanya ingin menjerit.
lalu aku bertanya kepada mereka, bagaimana dengan adikku.
tapi mereka tidak tahu dimana adikku kata Amel sambil menjerit di depan Finka.ia marah, frustasi, dan juga kesal mengingat cerita nya karena telah meninggal kan adiknya sendiri.
Finka sebenarnya sangat terkejut dengan jeritan Amel, jantung nya serasa sakit dan pedih mendengar semua ini.
Amel lalu bercerita lagi. aku lalu masuk ke rumah yang sudah di gusur itu tapi dilarang oleh mereka, kau tahu siapa mereka itu, kata Amel sambil melihat Finka dia adalah papa kamu'.
aku lalu bersujud memohon, agar ia memperbolehkan aku masuk. akhirnya mungkin karena dia kasihan, dia mengijinkan aku masuk.
aku lalu menemukan foto dan juga tiga buah batu, yang sudah di taruh di dalam kotak oleh ibuku. mungkin dia sudah merasa, bahwa ia akan pergi hari ini.
aku lalu berlari keluar ingin menemui pria yang mengijinkan aku masuk tadi, tapi .....kalian menghadang aku kata Amel.
apakah kau masih ingat kata Amel, sambil melihat finka. Finka hanya bisa menangis mengingat kejadian itu.
kau tahu aku padahal ingin menunjukkan foto itu, tapi kalian mendorong aku mengatakan bahwa orang miskin' jorok jangan dekati papa aku, kata Amel mengingat kenangan pahit nya.
kemudian pas papa kamu' datang, kau kata Amel sambil menunjuk Finka dengan tatapan tajam. Finka hanya bisa diam sambil menangis, ia sangat mengingat kejadian itu. dia dan are lah yang mendorong wanita itu.
setelah papa kamu bertanya apa yang terjadi...??? kau Mala pura-pura pingsan. aku berusaha untuk berbicara dengan papa mu, yang sedang menggendong kamu. tapi dia malah mengusirku, kata Amel mengakhiri ceritanya.
Finka hanya bisa menangis hu...hu...hu..., m...aa...f... kata Finka terbata-bata, aku tidak tahu kata finka sedih. aku benar-benar minta maaf kata Finka tak henti hentinya meminta maaf.
jangan menangis kata Amel mengelus rambut Finka, itu bukan salah kamu kata Amel menenangkan.
__ADS_1
apakah kau masih mau mendengarkan nya...??? kata Amel. karena ia tidak tega, melihat Finka yang sudah gemetar tubuhnya. Finka hanya bisa mengangguk pasti. kau yakin....????, kata Amel. Finka kembali mengangguk, baiklah kata Amel pasrah.
setelah kejadian itu, aku hanya hidup sendiri. tak ada tempat tinggal untuk di tiduri, tak ada teman untuk bercerita dan tak uang untuk makan.
hari-hariku hanya di penuhi dengan kesedihan, dan kesengsaraan.
aku harus melewati kesedihan dan kesulitan itu, dalam kurun waktu satu setengah tahun.
dan ketika umurku 9 tahun, aku di tolong oleh pangeran kecil kata Amel sambil tersenyum.
kau tahu siapa dia....??? kata Amel. Finka hanya bisa menggeleng, karena ia memang tidak tahu siapa yang menolong Amel.
dia adalah Rama Wijaya kata Amel, tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
karena lagi-lagi aku bertemu dengan kalian, yang tidak suka dengan kehadiran ku.
setelah itu aku pun pergi dari rumah itu, dengan membawa penyesalan karena telah melukai Rama. setelah beberapa tahun berikutnya aku mulai tumbuh besar, dan sudah mengerti cara bertahan hidup.
aku mulai berusaha untuk masuk ke keluarga kalian, dan ternyata kalian menerima kehadiranku. dari situ timbullah rasa balas dendam kepada keluarga Williams, karena sudah menghancurkan keluarga kecilku kata Amel sambil menjerit.
aku mulai menargetkan diri mu dulu, aku lalu memberi obat pelemahan jantung untuk kamu saat kamu SMA kelas 3.
Finka tegang mendengar pernyataan Amel, ia tidak tahu apakah harus marah atau bersyukur dengan cerita Amel. ia akhirnya hanya bisa merosot kan dirinya karena ia sudah sangat lemah mengetahui semua kenyataan pahit ini.
Amel sangat terkejut, saat melihat Finka dengan keringat dingin dan air mata yang bercucuran. Finka kamu enggak papa kan....??? kata Amel khawatir.
aku enggak papa, kata Finka dengan suara yang mulai memudar.
kak Amel...... kata Finka, katakan padaku apakah sampai sekarang kamu masih meracuniku kata Finka sedih'.
tidak ........ aku sudah berhenti meracuni mu, saat Arel sudah datang dari London.
Finka hanya bisa tersenyum miris, ternyata aku sudah menjadi target sejak lama kata Finka sedih.
maafkan aku Finka.......aku benar-benar minta maaf ........,
sudahlah.....,. kata Finka dengan tenaga yang sudah sangat lemah. ini bukan salah kamu. katanya sambil menghapus air mata Amel, lalu Amel siapa nama kamu' sebenarnya kata Finka.
Amel hanya diam, lalu menatap manik mata di depannya. namaku kata Amel terbata-bata
namaku adalah Amelia Anesta Williamis.
Finka sebenarnya sudah tidak sanggup lagi untuk bicara, karena mendengar kenyataan yang sebenarnya. tapi ia berharap sebelum kematiannya, ia mau mengetahui semua kebenaran nya.
lalu siapa nama adikmu.......???, kata Finka. apakah nama adikmu ""Angela Anesta..... tanya Finka. Amel seketika itu langsung melongo mendengar nya, darimana kau tahu tanya Amel bingung.
Finka hanya bisa tertawa di sisa tenaganya.....ha....ha....ha...ha...ha..., kata Finka sambil menangis, ia sangat frustasi.
aku tidak menyangka ternyata dunia ini begitu sempit, kau tinggal di keluarga kami. dan adikmu tinggal di tempat Rama, aku benar-benar tidak menyangka akhir hidup ku mendapat kenyataan pahit.
Amel agak sedikit bingung dengan perkataan Finka, tapi ia tetap meminta maaf.
kak Amel Finka lalu memegang tangan Amel, berjanjilah ketika aku mati nanti kau harus menikah dengan kak Arel. dan jaga lah dia, begitu juga dengan mamaku kata Finka sambil menangis.
sayangilah mamaku, seperti kamu menyayangi Tante kata nya menangis tersedu-sedu. berjanjilah kak Amel kata Finka dengan suara yang tak bisa di dengar oleh amel, Amel akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
dan saat itu juga Finka tak sadarkan diri, Finka....Finka...Finka...bangun kata Amel sambil menggoyang-goyangkan tangan Finka.
kemudian ia memanggil dokter dengan alarm darurat, tak lama kemudian datanglah dokter bersama dengan seorang suster.
dok...dok... tolong adik saya kata Amel sambil terbata-bata, ia sangat semrawut dan kalang kabut hari ini. air matanya tak henti hentinya mengalir,.....baik...baik saya akan menolongnya. tapi mohon anda tenang dulu kata dokter tersebut, Amel kemudian terdiam atas perintah dokter itu.
dok..... bagaimana keadaannya...??? tanya Amel. dokter tersebut tak memperdulikan amel, ia langsung menyuruh suster membawa pasien ke ruang UGD.
dok ....bagaimana keadaannya kata Amel khawatir, apa anda keluarganya...!?? tanya dokter itu.
__ADS_1
ya saya keluarganya kata Amel, baik silahkan tanda tangan persetujuan bahwa pasien' ini akan segera di operasi.
apa.....???? kata amel bingung, baik... jika anda bukan keluarga nya. segera hubungi keluarga nya Sekarang, karena pasien' tidak akan dapat bertahan jika menunggu terlalu lama.