ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Saling Menyayangi


__ADS_3

Sarifah tersenyum melihat ekspresi anak dan cucunya, itu juga membuat Sam mau untuk bangun, memakan makanan yang ibunya bawakan.


"Lain kali enggak usah repot-repot, bu. Ibu jalan aja udah dibantu pakai tongkat, ini harus repot antar makanan," kata Sam seraya terus menyantap makan siangnya.


"Ibu khawatir, udah dari kemarin kamu enggak mau makan, Ibu takut kamu pergi lebih dulu, Sam," ucap Sarifah, wanita itu sangat takut kehilangan anak dan cucunya, bahkan dalam doanya, Sarifah meminta dipanggil lebih dulu dan berdoa supaya anak dan cucunya itu panjang umur.


Sarifah tidak mau kembali merasakan rasanya ditinggal pergi seperti saat suaminya pergi lebih dulu, baginya, lebih baik pergi meninggalkan dari pada ditinggalkan.


Darren segera memeluk Sarifah, pria muda itu meminta pada Sarifah untuk tidak berpikir yang tidak-tidak.


"Umur itu pasti, Nak!" jawab Sarifah seraya mengusap punggung tangan Darren yang ada di lehernya.


"Kita enggak pernah tau, Nek. Tua atau muda bahkan anak kecil sekalipun kalau Tuhan sudah berkehendak kita bisa apa dan setiap takdir Darren rasa itu adalah yang terbaik."


"Kamu sangat bijak, Nak. Berbeda sekali dengan bapakmu yang selengean itu!" kata Sarifah dan Sam yang sedang menikmati makanan itu pun akhirnya tersedak karena ucapan Sarifah.


Darren melepaskan pelukannya lalu mengambilkan minum yang sudah tersedia di atas nakas, Sam menerimanya lalu Sam yang akan memprotes Sarifah itu harus kembali menutup mulut saat Sarifah memotongnya.


"Sudah, jangan banyak bicara! Habiskan makananmu lalu pergi ke kantor! Urus perusahaan dengan baik, ingat, umurmu bukan muda lagi, Sam! Jangan sampai usaha yang ayahmu bangun dengan susah payah itu hancur karena kamu tidak kompeten."


Setelah mengatakan itu, Sarifah bangun dari duduk. Ia keluar dari kamar dan Darren mengikuti Sarifah.


"Bu, lebih baik ibu pulang, Sam takut Ibu akan stres kalau lama-lama tinggal di sini," kata Sam dan Sarifah yang memang akan pulang itu tidak menjawab.


Sarifah meminta diantarkan oleh Darren dan Darren dengan senang hati mengantarkan Sarifah.


Darren memperhatikan Sarifah yang tidur pulas di sampingnya.


"Nek, Darren selalu berdoa untuk kita semua pajang umur dalam kesehatan, supaya kita bisa lebih lama lagi bersama di dunia ini," ucap Darren dalam hati.


Setelah hampir satu jam, sekarang, Darren sudah sampai di depan rumah Sarifah.


Darren memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Sekarang, Darren membangunkan wanita tua itu.


"Nek, kita udah sampai," kata Darren seraya melepaskan sabuk pengamannya.


Tak ada jawaban membuat Darren kembali membangunkan Sarifah, "Nek, kita udah sampai."


Darren membuka pintu, pria itu ingin membantu neneknya untuk turun dari mobil.


Tetapi, Darren yang masih belum mendapatkan jawaban itu kembali duduk dengan benar, ia melihat ke arah Sarifah yang tidak bergerak.


Melihat itu, Darren sangat takut, jantungnya seolah berhenti berdetak.


Dengan nada yang sedikit tinggi, Darren memanggil neneknya. "Nek!" Dan masih tidak ada jawaban.


Darren pun meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Sarifah.


Dan saat itu juga Sarifah membuka mata. "Nenek masih hidup!" ucapnya seraya menurunkan tangan Darren.

__ADS_1


Darren menarik nafas lega, ia sungguh takut dan tidak akan pernah siap untuk kehilangan Sarifah yang sudah merawatnya dari kecil.


Darren pun memeluk Sarifah dan Sarifah merasakan tulus kasih sayang dari cucunya itu.


"Sudah, Nenek baik-baik saja!" kata Sarifah seraya mengusap lengan Darren yang ada di lehernya.


Darren melepaskan pelukannya lalu menganggukkan kepala, setelah itu, Darren membuka pintu mobil, Darren turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil Sarifah, ia membantu Sarifah untuk turun dari mobil.


"Terimakasih," ucap Sarifah dan Darren membalas dengan senyum.


Darren mengantarkan Sarifah sampai ke dalam dan setelah itu, Darren mencari bibi ke dapur, Darren berpesan padanya untuk menjaga Nenek dan segera menghubunginya jika ada atau terjadi sesuatu pada neneknya.


"Baik, Den," jawab bibi seraya mengangguk mengerti.


Setelah itu, Darren pamit pada Sarifah.


"Jaga ayah kamu baik-baik, nenek takut ayah kamu akan seperti dulu, patah hati lalu menyendiri dalam waktu yang lama."


"Baik, Nek." Darren pamit lalu mencium punggung tangan Sarifah.


Dengan santai, Darren mengemudikan mobilnya, ia menyetel radio dan terdengar kalau penyiar radio itu mengatakan ada seorang gadis yang request lagu cinta untuk seseorang yang dicintainya dalam diam.


Tidak lama kemudian lagu yang direquestnya itu diputarkan.


Cinta Dalam Diam...


Waktu terus berlalu seiring langkahku


Tak bisa ku hindari rasa cinta ini


Terbelenggu dalam merindumu


Bukanku tak bersyukur atas kasihMu


Dengan berjuta cinta yang datang kepadaku


Tlah tersimpan rasa di dalam lubuk hatiku


Dalam diam ku mengagumi mu


Walau berjuta cinta Yang datang kepadaku


Tak bisa menggantikan rasa cinta ku padamu


Walau beribu bintang menyinari hatiku


Kau tetap pilihanku di dalam diamku


Mendengar lagu itu, Darren teringat dengan Rosi yang sangat menyukai lagu tersebut.


Dan Darren yang sedang menikmati lagu itu, matanya melihat ke kanan dan kirinya, tak sengaja melihat Vio yang sedang berdiri di tepi jalan.

__ADS_1


"Itu kaya Vio?" tanya Darren pada dirinya sendiri.


Darren pun menepikan mobilnya. Ia menghampiri Vio, Darren yang menurunkan kaca mobil itu menyapanya.


"Vio, lagi ngapain?"


"Nunggu taksi," jawab Vio singkat dan Vio yang melihat ada taksi itu melambaikan tangan dan rupanya taksi itu sudah memiliki penumpang.


"Gue anter, yuk! Naik," kata Darren seraya membuka pintu mobilnya dari dalam untuk Vio.


"Enggak usah lah, nanti aku ngerepotin," jawab Vio seraya tangan yang berada di atas kepala, menutupinya dari terik matahari.


"Enggak, santai aja. Dari pada lama lo bisa kepanasan!"


Terlihat, Vio sedang berpikir.


"Udah, ayo. Jangan lama-lama mikirnya, gue antar sampai tujuan!" kata Darren seraya tersenyum manis pada Vio.


Dan Vio pun akhirnya mengiyakan tawarannya, Vio membuka pintu belakang dan Darren yang masih duduk di bangku kemudi itu memprotesnya.


"Loh, kok di belakang."


"Naruh koper," kata Vio seraya memasukkan koper dan tasnya.


Setelah itu, Vio duduk di bangku depan, di samping Darren dan itu membuat Darren menjadi sedikit grogi.


"Astaga, kenapa gue grogi, ya?" tanya Darren dalam hati.


Dan Darren yang belum mengetahui tujuan Vio itu bertanya, "Mau kemana?"


Vio pun menjawab dengan mengatakan alamat tokonya.


Ya, Vio ingin menghemat sebisa mungkin, kalau dirinya bisa tinggal di toko, untuk apa ia harus menyewa kamar.


Setelah sampai, Darren segera turun dari mobil, ia membantu menurunkan barang bawaan vio.


"Enggak usah, aku bisa sendiri, kok!" kata Vio seraya meminta tas dan kopernya.


"Enggak papa, biar gue bantu! Kasian berat," jawab Darren dengan tersenyum.


Vio pun menganggukkan kepala.


"Beda banget anak sama bapaknya," batin Vio.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen ya, all.


Difavoritkan juga ☺.


Suka dengan cerita ini? Jangan lupa untuk vote gratisnya, ya. Terimakasih yang sudah tampol Antara Sam dan Dia 😇

__ADS_1


Maafkeun typonya, ya 🙏✌


__ADS_2