
Darren segera mengambil hoodienya, ia bergegas keluar untuk mencari Rossi ke alamat yang Vio kirimkan.
"Vio lihat Rossi di hotel sama Lea, terus Rossi telepon gue dengan suara enggak jelas, ada apa ini?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
Darren yang sekarang sudah keluar dengan mengendarai mobilnya itu mencoba menghubungi Lea.
"Halo, lo di mana, Le?" tanya Darren yang seolah tak mencurigai Lea. Darren berpikir kalau Rossi seharusnya sedang bersama Lea.
"Gue di kos, kenapa?" tanya Lea yang sedang menghisap rokoknya.
"Ok, gue ke tempat lo!" kata Darren dan Lea mengatakan kalau dirinya akan menunggu.
Dan Darren yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi itu kembali mendapatkan panggilan dari Rossi.
"Rossi?" tanya Darren seraya menatap layar ponselnya.
Darren pun menerima panggilan tersebut. Dan Darren kembali mendengar suara tangisan Rossi yang seolah meminta tolong.
Darren pun bertanya, "Lo di mana, Ros?"
"Hotel!" jawab Rossi masih dengan suara tidak jelas, tetapi, Darren mengerti apa yang Rossi katakan.
"Berarti gue salah, gue kira Rossi sama Lea sekarang, ternyata masih di hotel!" kata Darren seraya semakin menambah kecepatan laju mobilnya.
Darren meminta pada Rossi untuk tidak memutuskan sambungan teleponnya.
Sementara itu, di kos, Lea sedang menunggu kabar, kabar dari para lelaki hidung belang yang ia suruh untuk menikmati Rossi.
Lea memberikan Rossi kepada 3 pria hidung belang.
"Enggak sabar, gue!" kata Lea seraya menekan putung rokoknya ke asbak.
Setelah itu, Lea menghubungi orang suruhannya yang sedang dalam perjalanan.
"Ok!" kata Lea setelah menghubungi orangnya dan sekarang, Lea memutuskan sambungan teleponnya.
Tanpa Lea ketahui, salah satu dari mereka adalah Papah Rossi sendiri.
Darren yang baru saja sampai di hotel itu bertemu dengan Papa Rossi.
"Om," sapa Darren padanya.
"Darren?" tanya Papa Rossi yang baru saja turun dari mobil.
"Om, anak om sedang dalam bahaya!" batin Darren, Darren tak dapat memberitahukannya karena Darren sendiri belum memastikannya.
"Om, ngapain di sini?" tanya Darren seraya menyimpan kunci mobilnya ke saku celana kolornya.
__ADS_1
Ya, Darren yang sedang berolahraga itu tak sempat untuk berganti pakaian.
"Urusan pekerjaan!" jawab Papa Rossi seraya tersenyum, setelah itu, Papa Rossi pun menepuk bahu Darren yang sekarang sudah berada di depan matanya.
"Mari, Nak Darren!" kata Papa Rossi yang kemudian berjalan mendahului Darren.
"Terserahlah sama anak itu, mana mungkin juga kan dia akan membuntuti ku!" gumam Papa Rossi seraya mengusap dagunya. Ia terus berjalan ke arah kamar yang sudah Lea siapkan.
"Gila, Lea emang gila, masa satu orang digratiskan untuk tiga pria!" kata Papa Rossi seraya berjalan cepat.
Darren yang tak mengetahui nomor kamar Rossi berada pun memilih untuk bertanya lebih dulu ke resepsionis.
Tetapi, Darren tak menemukan nama yang ia cari. Darren mencari nama Lea atau Rossi.
"Apa Vio salah lihat?" tanya Darren dalam hati, lalu, Darren yang sedang berdiri di lobby itu bertemu dengan Vio juga Adiba yang pulang.
"Vio, kamu yakin liat Rossi di sini?" tanya Darren seraya berjalan cepat ke arah Vio dan Adiba.
"Iya," jawab Vio singkat.
"Iya udah, makasih!" kata Darren yang kemudian pergi meninggalkan Vio dan Adiba.
"Kok manggilnya aku, kamu? Kenapa enggak manggil Bunda atau Mama?" ledek Adiba pada Vio dan Vio menarik nafas dalam.
"Entahlah," jawab Vio seraya berjalan dan Adiba pun menyusul Vio.
****
Kemudian Darren yang seolah memiliki dorongan untuk naik ke lantai 5 itu pun segera pergi ke sana. Darren yang baru saja keluar dari lift itu kembali melihat Papa Rossi yang sedang membuka salah satu pintu kamar hotel.
"Enggak nyangka, ternyata Papa Rossi suka jajan!" kata Darren dalam hati dan Darren pun meneruskan langkah kakinya.
****
Saat pintu kamar terbuka dari luar, Rossi pun merasa takut, ia takut orang-orang Lea tiba sebelum Darren datang, sedangkan Rossi sendiri tidak memberitahu nomor kamar tersebut.
Dan betapa terkejutnya Rossi saat melihat siapa yang masuk.
"Papa?" tanya Rossi dalam hati yang tak percaya dengan apa yang dilihat.
Terlihat, kalau Papa Rossi menyipitkan matanya, lalu mendekat seraya memanggil putrinya.
"Rossi."
Papa Rossi pun membuka ikatan tersebut tidak lupa membuka lakban yang menutupi mulut Rossi.
"Papa, ngapain di sini? Kenapa Papa punya kunci kamar ini?" tanya Rossi seraya berdiri dari duduknya, tangan kanannya mengusap lengan kirinya yang terasa sakit karena Lea mengikatnya dengan erat.
__ADS_1
Mendapatkan pertanyaan itu, Papa Rossi pun tak mampu menjawab.
Rossi yang kecewa dengan Papanya itu pun bertanya sekali lagi dengan nada sedikit tinggi.
"Untuk apa, Pa?"
"Ros, dari pada kita berdebat, lebih baik kita cepat pergi dari sini!" ajak Papa Rossi seraya menarik lengan anaknya.
"Jawab, Pa!" bentak Rossi seraya melepaskan tangan Papanya dari lengan.
"Nanti Papa jelaskan!" kata Papa Rossi yang menarik lengan anaknya.
Maksud kedatangan Papa Rossi adalah, supaya menjadi yang pertama dari dua orang lainnya dan ternyata, Papa Rossi memang ditakdirkan untuk menyelamatkan putrinya, begitulah pikir Papa Rossi yang sedang menarik lengan anaknya menuju pintu.
Dan di pintu, Papa dan Rossi berpapasan dengan dua orang lainnya yang menyusul.
"Mau dibawa kemana? Lo mau curang?" tanya salah satu dari dua orang itu.
"Gini aja, gue bayar kalian biar bisa cari cewek lain!" kata Papa Rossi seraya membuka dompetnya.
Sementara itu, dua orang yang usianya berada di bawah Papa Rossi itu menatap Rossi dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Bening, pantes aja lo mau dia sendiri!" kata salah satu dari mereka seraya mengusap lengan Rossi yang terekspos karena Rossi menggunakan T-shirt lengan pendek.
"Jangan sentuh dia!" kata Papa Rossi seraya menepiskan tangan pria itu dari lengan Rossi.
Dan karena pikiran yang sudah dikuasai oleh nafsu, itu membuat dua pria tersebut tak mau mengalah ingin ikut merasakan Rossi.
Dua pria itu pun mendorong Papa Rossi supaya kembali masuk dan Rossi yang melihat itu pun tak tinggal diam.
Rossi menarik salah satu kemeja dari dua pria itu dan pria itu pun berbalik badan menatap Rossi yang tengah ketakutan.
"Papa!" teriak Rossi pada Papanya yang sedang dipukuli, niat Rossi ingin meminta tolong, tetapi, justru Papa Rossi tak sanggup melawan.
****
Di luaran, Darren sedang mengetuk pintu demi pintu dan Darren tak menemukan Rossi, Darren pun mencoba menghubungi Rossi yang panggilannya sempat terputus karena Darren tak sengaja menggeser tombol merahnya saat turun dari mobil.
Kali ini, Rossi yang menerima panggilan itu pun memberitahu kalau Rossi ada di kamar xx.
Darren yang baru beberapa saat melewati kamar itu pun segera berbalik badan.
Darren pun membuka pintu kamar yang ternyata tak terkunci karena ada suatu benda kecil yang menghalangi pintu itu tertutup.
Benda kecil itu adalah kon*om milik salah satu dari orang Lea yang tak sengaja terjatuh dari saku celana belakangnya.
Darren membuka pintu itu dan Darren sangat terkejut saat melihat Papa Rossi yang sudah tak berdaya. Sedangkan Rossi, gadis itu sedang berjuang supaya pria-pria bringas itu tak berhasil melucuti pakaiannya.
__ADS_1
Bersambung.