
Setelah melewati malam yang bergairah, Sam dan Vio mulai membiasakan diri sebagai pasangan.
Dengan cepat, Sam pun meminta Vio untuk pindah ke kamarnya.
Vio yang sedang mengancing piyamanya itu diam.
"Mungkin, menikah sama aki-aki adalah takdir ku, buktinya dia baik walau nyebelin," batin Vio, wanita yang tengah hamil muda itu pun mulai merasa pusing lagi.
Vio memijit pelipisnya dan Sam yang baru saja keluar dari kamar mandi itu kembali duduk di ranjang.
"Kenapa? Kamu pusing?" tanya Sam dan Vio pun menganggukkan kepala tanpa melihat kearah Sam.
Seolah mengalami flashback, Sam pun memijit bahu Vio seperti dulu dirinya memijit bahu Husna.
Dan sempat melihat bayangan Husna di diri Vio.
"Astaga, mereka orang yang berbeda dan aku melakukan ini semata karena dia mengandung anakku!" batin Sam.
Sementara Vio, ia merasa kalau ternyata Sam adalah suami idaman dan baru kali ini Vio menyadarinya.
"Ternyata, Bapak bisa baik juga, ya," kata Vio seraya menikmati pijitan Sam.
"Aku bukan bapakmu!" jawab Sam seraya memijit bahu Vio dengan sedikit kencang sehingga membuat Vio merasakan sedikit sakit.
"Auu! Enggak bisa dipuji dikit, ya!" kata Vio seraya melepaskan tangan Sam dari bahunya. Vio pun berbalik badan dan Sam sedang menatapnya.
"Vi, aku mau tanya sesuatu," kata Sam dengan serius.
"Apa?"
"Anak yang di kandungan kamu, itu anakku?" tanya Sam dengan lirihnya. Sam merasa kalau dirinya harus bertanya demi untuk memastikan.
"Kalau Bapak ragu, kenapa menikah ku?" tanya Vio yang juga menatap Sam.
"Aku mau bilang bukan cewek gampangan tapi nyatanya aku hamil duluan, yang jelas, aku bukan cewek yang bebas melakukan itu," jawab Vio seraya bangun dari duduknya.
Vio sedikit merasa sebal karena ternyata Sam masih meragukannya. Dan entah mengapa Vio memiliki perasaan seperti itu untuk Sam, padahal, Vio ingin acuh pada pria itu.
"Kenapa aku kesel, seharusnya, biarin aja, dia mau percaya atau enggak!" gerutu Vio dalam hati. Sekarang, Vio yang sedang sebal itu membuka pintu kamarnya.
"Bapak keluar, aku enggak mau pindah kamar!" kata Vio dan Sam pun memprotesnya.
"Astaga, ini rumah siapa? Jadi yang lebih berkuasa siapa? Kenapa jadi kaya aku yang numpang segala diusir!"
Vio tak menggubris ucapan Sam, baginya cukup menyenangkan membuat pria itu jengkel.
__ADS_1
Dan Sam yang masih berdiri di pintu kamar Vio itu meminta sesuatu padanya.
"Berhenti panggil aku Bapak!"
"Mau manggil Mas tapi udah umur, gimana dong?" tanya Vio yang seolah ingin mengejek.
"Panggil Sayang!" perintah Sam seraya menatap Vio yang masih berjaga di pintu.
"Orang enggak sayang, masa disuruh manggil sayang, nanti, kalau udah sayang, ku panggil sayang!" kata Vio seraya mendorong lengan Sam, pria itu hanya memakai kolor karena belum sempat berpakaian rapih dan sudah di usir oleh istrinya.
Setelah itu, Vio menutup rapat pintu kamarnya dan Vio yang masih berdiri di balik pintu menggerutu kalau Sam adalah menyebalkan.
****
"Buset, lama jadi duda, setelah nikah kenapa jadi kaya takut istri? Segala gue diusir dari kamar cuma koloran doang kaya gini!" kesah Sam seraya masuk ke kamarnya.
Sam melihat bayangan dirinya di depan cermin besar, ia melihat banyak bekas cakaran di punggung dan dadanya, Sam juga merasa kalau kulit kepalanya itu terlalu perih.
"Kecil-kecil ganas juga dia!" kata Sam.
"Dia harus potong kuku! Harus!" kata Sam seraya mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
****
Malam ini, Viona tidak dapat tidur dengan nyenyak, entah mengapa, malam ini, Vio ingin makan makanan yang asam.
Vio pun mencoba melupakan apa yang sedang diinginkan. Tetapi, Vio yang memejamkan mata itu kembali membuka mata saat teringat kalau di samping rumah Sam memiliki pohon mangga.
Vio pun segera turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
Waktu menunjukkan pukul 22.30 wib dan Vio berniat membangunkan bibi, tetapi, Vio merasa tidak tega.
"Kasian, sedangkan yang punya anak ini kan dia, berarti dia yang harus mengambilkan mangga buatku!" kata Vio dalam hati.
Dan benar saja, Vio pun kembali ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Sam. Sam yang sedang memangku laptopnya itu membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Sam dengan ketusnya.
Sam masih merasa sebal karena Vio mengusirnya di rumahnya sendiri.
"Aku mau mangga yang di samping rumah," kata Vio seraya tersenyum menunjukkan giginya yang rapi.
Melihat senyum itu, Sam merasa tak tega menolak, tetapi, Sam yang ingin membuat Vio sebal itu dengan sengaja mengatakan kalau Vio harus memanjatnya sendiri.
"Pohonnya enggak terlalu tinggi, manjat sendiri!" kata Sam seraya menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Dan Vio pun berhasil membuat Sam kembali membuka pintu.
"Oh, jadi... Bapak maunya anak Bapak ileran, ya?" tanya Vio yang masih berdiri di depan pintu.
Sam segera membuka pintu dan melewati Vio begitu saja.
"Merepotkan!" gerutu Sam yang sebenarnya sedang sibuk dengan pekerjaan.
"Aku denger, loh. Berarti anak kamu juga denger!" kata Vio yang berjalan mengikuti Sam dari belakang.
Sekarang, Sam sedang memanjat pohon yang buahnya tidak lebat, ia mengambilkan dua buah untuk istri kecilnya.
Dan dari seberang jalan, tepatnya, di atas balkon, Sarah yang sedang duduk bersantai dengan di temani jahe susu itu melihat pasangan yang baru menikah tersebut seperti kelelawar. Sam yang hanya mengenakan kolor dan kaos dalam itu mulai turun dari pohon dengan sedikit loncat.
"Kaya kalong aja, malam-malam manjat pohon!" Setelah mengatai seperti itu, Sarah pun memilih untuk masuk.
****
Di bawah pohon, Vio yang mendapatkan mangga itu merasa senang dan segera masuk meninggalkan Sam yang masih memakai sandalnya.
Sam hanya memperhatikan Vio yang terlihat sangat bahagia.
Dan anehnya Vio, ia yang sudah mendapatkan mangga itu memilih untuk menyimpan mangga tersebut di kulkas.
"Kok disimpan, emang enggak di makan?" tanya Sam yang ternyata masih memperhatikan.
"Buat besok aja, udah enggak kepengen soalnya," jawab Vio seraya berjalan meninggalkan Sam yang masih berdiri di pintu dapur.
"Astaga," ucap Sam seraya menggelengkan kepala.
****
Rossi yang masih berada di puncak itu memilih untuk bermalam di sebuah motel dan begitu apesnya Rossi, ia justru kena gerebek pihak berwajib yang sedang berpatroli.
Rossi yang sudah digelandang ke kantor polisi itu menghubungi Papanya, tetapi, panggilan itu tak terjawab dan Rossi pun menghubungi Darren.
Darren yang sedang bermain game online itu segera menerima panggilan tersebut.
Dan Darren menertawakan Rossi.
Darren pun mengatakan kalau dirinya akan menjemput dan meminta pada Rossi untuk tidak kemana-mana.
Rossi pun menurut.
"Akhirnya, lo hubungi gue juga!" kata Darren dengan semangat.
__ADS_1
Bersambung.