
Maaf selalu banyak typo, ya ✌🙏.
Malam telah datang, Sam dan Darren sedang duduk di balkon, keduanya masih di rumah Sarifah, baru saja selesai dengan tahlilan, mengirim doa untuk Sarifah.
Keduanya duduk dengan bersender ke kursi, menatap langit yang bertabur bintang.
"Pi, sekarang sisa kita berdua, Mami udah enggak ada, sekarang Nenek pun menyusul," kata Darren dengan tetap menatap langit.
"Ya, jangan nyari ribut mulu kamu sama Papi, harus dengarkan apa kata papi!"
"Kalau cocok sama Darren, kalau bertentangan dengan hati Darren ya kita jalan sendiri-sendiri aja, penting kan Darren enggak melakukan sesuatu yang merugikan atau berbuat hal bodoh," jawab Darren.
Mendengar jawaban itu, Sam memijit pelipisnya, ia merasa kalau sedang mendapatkan balasan dari anaknya sendiri. Ucapannya itu persis dengan apa yang pernah ia ucapkan dulu sebelum menikah dengan Husna.
Sam yang selalu berbuat sesuka hati itu mulai berpikir kalau besok ia akan berubah menjadi lebih Baik.
Keesokannya, Vio datang seperti biasa dan di rumah Sam terlihat masih sepi. Mobil yang akan ia cuci pun tak terlihat.
Vio melihat jam di tangannya, melihat jam kerjanya masih lama, ia ingin pergi ke rumahnya, merasa rindu dan ingin melihat. Setelah sampai di sana, Vio melihat rumah itu sedikit berbeda.
Mulai dari warna cat dan tanamannya telah banyak diganti. Melihat itu ada rasa kecewa dan rasa ingin merebut rumah itu kembali bergelora.
Sementara itu, si pemilik rumah memperhatikan Vio dari dalam.
"Kasihan dia, tapi maaf kami enggak bisa bantu banyak!" ucapnya dalam hati.
Setelah itu, si pemilik rumah kembali masuk ke dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Vio yang masih berdiri di depan rumah seolah mengalami flashback, ia melihat dirinya yang mengenakan seragam putih abu, ia menunggu ayahnya di teras, setiap pagi akan diantar oleh ayahnya yang sekaligus berangkat bekerja, ayahnya adalah buruh pabrik textile.
Dan setelah terkena PHK dan mendapatkan uang pesangon, uang itu ia berikan pada Vio, ia percaya kalau Vio dapat mengelola uang itu dengan baik dan akhirnya, Vio membuka usaha baby shop.
Bayangan itu hilang setelah Adiba menepuk bahunya, Adiba baru saja kembali dari mencari sarapan.
"Kamu pasti kangen rumah dan kenangan, ya, Vi?" tanya Adiba.
Vio menoleh ke kirinya seraya menganggukkan kepala dan air mata sudah membasahi pipi.
"Udah dong, jangan sedih terus, lihat... kamu makin kurus sekarang, pucat juga, kamu sakit?"
"Enggak, mungkin karena banyak beban dan pikiran," jawab Vio.
"Mampir, yuk. Udah tanggung di sini, kita sarapan bareng!" ajak Adiba dan Vio menganggukkan kepala.
Sesampainya di rumah, Adiba mengambil dua mangkuk, Adiba membeli lontong sayur dua porsi dan sebenarnya satu untuk ibunya itu ia berikan pada Vio.
"Maaf ya, Bu. Lontong Ibu Diba makan," kata Diba dalam hati, Diba menatap Vio lalu tersenyum.
Vio membalas senyum itu.
"Makasih, ya."
"Sama-sama," jawab Adiba.
Dan selesai dengan sarapan, Adiba mengajak Vio untuk ikut bersama, Adiba yang akan berangkat bekerja itu memberikan tumpangan untuk sahabatnya.
"Emang kamu enggak buru-buru?" tanya Vio seraya naik motor matic Adiba.
__ADS_1
"Enggak, kan satu arah."
"Ok! Kamu emang sahabat terbaik aku!" kata Vio seraya memeluk Adiba.
"Astaga, jangan peluk-peluk, aku geli tau!" protes Adiba seraya melepaskan pelukan Viona.
"Lagian, emang kamu punya berapa sahabat? Teman aja enggak ada!" sindir Adiba dan memang Vio adalah pemilih, tidak mudah bergaul.
****
Hari ini, Sam dan Darren sudah kembali ke rumahnya, di sana banyak karangan bungan yang mengucapkan belasungkawa.
Dan acara tahlilan selanjutnya akan digelar di rumah Sam.
Beberapa hari berlalu, sekarang, Sam dan Darren harus kembali beraktivitas seperti biasa.
Darren yang sudah beberapa hari tak bertemu dengan Vio itu merasa rindu, ia pun pergi ke toko Vio.
Tanpa Darren tau, di rumah ada yang sedang mencari, siapa lagi yang mencarinya kalau bukan Rosi si pengagum rahasia.
"Darren udah berangkat!" kata Sam yang sedang duduk di sofa ruang tengah, duda anak satu itu sedang membaca koran dengan ditemani secangkir kopi hitam.
"Berangkat kemana, om? Kan hari ini kelas sore,"
"Om enggak tau, dia cuma bilang mau keluar sebentar."
"Kalau gitu namanya bukan berangkat dong, om!" protes Rosi yang duduk di samping Sam.
"Terserah om, dong! Kok kamu sewot?"
Setelah itu, Rosi berdiri dari duduk dengan kesalnya. Lalu pergi meninggalkan Sam.
Sam meliriknya. "Rosi... Rosi," gumam Sam.
Selesai dengan bersantainya, Sam pun keluar melalui pintu samping, ia mengecek daftar absen yang Vio buat.
"Astaga, dalam sebulan ini cuma berapa kali doang dia mencuci!" kata Sam dalam hati.
****
Di toko. Vio yang baru saja selesai mandi itu mendengar suara Darren yang memanggilnya.
Vio pun melongokkan kepalanya di jendela. "Darren, ngapain?"
"Nyari lo!" jawab Darren yang sedang bersandar di pintu mobil seraya menatap Vio.
Dan Darren yang melihat Vio dengan rambut basahnya itu semakin terpesona.
"Oh...," jawab Vio singkat.
Setelah itu, Vio segera menyisir rambutnya lalu segera turun menemui Darren.
"Ada perlu apa?" tanya Vio seraya mendekati Darren.
"Gue bawa sarapan, lo udah sarapan?" tanya Darren seraya menunjukkan kotak nasi. Darren membawakan sarapan yang sudah dibuatkan oleh bibi.
__ADS_1
Sarapan yang Darren bawa untuk Viona.
"Ngapain kamu repot-repot? Nanti ada yang cemburu, loh!" kata Vio seraya menurunkan tangan Darren yang mengulurkan tangannya, memberikan sarapan tersebut.
"Siapa? Enggak ada, gue enggak ada pacar atau gebetan!" jawab Darren, "Kita sarapan bareng, ya!" lanjut Darren dan akhirnya, Vio yang menganggap Darren sebagai temannya itu pun tidak menolak.
Vio mengajak Darren untuk masuk. Keduanya sarapan bersama di toko, makan di meja kasir, karena hanya itulah satu-satunya meja di toko Vio.
"Lo kerja di sini?" tanya Darren seraya memperhatikan toko.
"Iya," jawab Vio singkat.
"Bosnya galak? Kalau galak lo resign aja, nanti gue bantu carikan kerjaan lain."
"Enggak kok, bosnya itu cantik, ramah, baik hati, kurang apa lagi, ya? Kayaknya enggak ada kurangnya," jawab Vio seraya menahan tawa.
"Ya, siapa lagi yang mau muji kalau bukan diri sendiri!" batin Vio.
****
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Vio meminta pintu pada satpam.
Satpam pun membukakan pintu.
"Pagi," sapa satpam yang sudah mulai akrab dengan Vio.
"Pagi, Pak," sahut Vio dengan ramah.
Setelah itu, Vio meletakkan tas kecilnya di kursi kayu, mulai menyiapkan peralatan mencuci mobil Sam yang berwarna hitam.
Vio yang sedang serius itu diam-diam di perhatikan oleh Darren yang mulai penasaran kenapa Vio harus mencuci mobil Sam setiap hari.
Darren pun mendekati Vio, ia yang tiba-tiba bertanya membuat Vio terkejut.
"Astaga, bikin kaget aja!"
"Lo yang terlalu serius, di panggil aja kaget!"
"Harus serius, biar bersih nyucinya!"
"Oh gitu, sekalian dong mobil gue!"
"Serius?" tanya Vio seraya menatap Darren.
"Enggak lah, mana tega gue nyuruh cewek secantik lo nyuci mobil! Emangnya Papi!" kata Darren.
Vio hanya membalasnya dengan senyum.
"Lagian kan ini hari sabtu, Papi enggak kerja, ngapain di cuci!" kata Darren, pria itu masih berdiri di samping Vio.
"Kenapa emangnya?" Tiba-tiba saja suara Sam terdengar dan membuat Vio juga Darren melihat ke belakang.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
__ADS_1