
Sam berdiri dari duduknya, ia berkacak pinggang.
"Dari mana lo dapat duit ini?" tanya Sam.
Mendengar pertanyaan itu tentu saja Vio tak dapat menjawab.
"Enggak bisa jawabkan, lo!" Sam yang masih berkacak pinggang itu menggelengkan kepala, pria itu berpikir kalau Vio sama saja dengan wanita lainnya.
"Lo deketin anak gue buat ini?" tanya Sam seraya mengambil amplop itu dan menunjukkannya tepat di depan wajah Vio.
Sekarang, apa yang Vio takutkan pun terjadi, ia dituduh memanfaatkan kebaikan Darren.
Vio yang ingin membela diri itu membuka mulut, tetapi, Sam tak memberikan Vio kesempatan untuk menjelaskan.
"Sama saja!" geram Sam seraya pergi meninggalkan Vio yang kebingungan.
Vio yang menjadi pusat perhatian di kafe itu pun segera keluar, ia ingin mengejar Sam dan menjelaskan kalau dirinya meminjam bukan meminta.
Sayangnya, Sam yang sudah berada di mobil itu tak menghiraukan Vio yang terus memanggilnya.
"Pak, dengar dulu penjelasan saya!" kata Vio seraya terus mengejar Sam yang berlalu.
"Astaga, kok jadi gini sih!" Vio merasa tidak enak hati.
****
Di rumah, Sam yang baru saja sampai itu langsung mencari Darren.
"Darren!" teriak Sam dan Darren yang sedang berada di kamar itu keluar, lalu segera turun menemui Sam.
"Ada apa, Pi?" tanya Darren yang sudah berada di depan mata Sam.
Sam menatap Darren yang sudah berani membohonginya. Sam pun mengeluarkan amplop coklat yang ia simpan di saku jasnya.
Sam melemparkan amplop itu ke meja ruang tengah, dekat dengan ia berdiri
"Ini baru kenal, gimana nanti? Kamu mau di porotin?" ucap Sam dengan nada tingginya.
"Darren enggak ngerti maksud papi," jawab Darren, ia bingung melihat Sam pulang dan langsung memarahinya.
"Ada hubungan apa kamu sama Vio?" tanya Sam seraya menatap Darren.
"Kami teman, hanya teman aja," jawab Darren dengan santainya.
__ADS_1
"Ok, terus ini maksudnya apa? Sampai kamu berbohong sama papi? Papi udah cek ke yayasan dan enggak ada nama kamu atau nama ibu. Mau jadi pembohong kamu?" geram Sam. Pria itu pun meninggalkan Darren, berjalan menaiki tangga. Baginya sudah jelas semua dan Sam tidak ingin ada yang memanfaatkan kebaikan anaknya.
"Pi! Vio itu pinjam, dia juga enggak minta, tapi Darren yang kasih pinjam! Sama kaya papi waktu malam itu!" ucap Darren dan Sam yang mendengar itu menghentikan langkah kakinya.
Pria itu memasukkan tangannya ke saku celana lalu berbalik badan, menatap anaknya.
"Dengar, kita berbeda! Papi enggak sembarangan terlalu baik sama orang, apa lagi baru kenal, papi enggak akan mudah dimanfaatkan."
"Darren suka sama Vio, pi! Jadi bukan Vio yang memanfaatkan Darren!" jawab Darren dan Sam yang mendengar itu merasa sedikit terkejut dan benar saja dugaannya. Bukan hanya Sam yang terkejut, tetapi juga ada Rosi, Rosi baru saja datang membawakan puding buatannya. Rosi yang berdiri di pintu ruang tengah itu menghentikan langkahnya.
(Kembali ke Sam)
"Suka? Kamu tau kan dia, dia itu janda, Darren! Apa harus papi jodohkan kamu dengan anak kolega papi?" geram Sam. Ia ingin anaknya itu mendapatkan gadis, menurutnya, seorang janda lebih cocok berpasangan dengan duda.
"Mau dia janda kek, mau gadis kek! Darren tetap suka! Soal uang itu, ambil saja dan Darren yang akan melunasi hutang Vio!" jawab Darren, pria itu tak ingin melanjutkan perseteruannya, memilih untuk pergi mencari ketenangan.
"Astaga, belum jelas asal-usulnya, udah main suka aja!" geram Sam dengan tetap memperhatikan Darren sampai tak terlihat.
Sam pun melanjutkan langkah kakinya, ia pergi ke kamar lalu menjatuhkan dirinya di ranjang.
Baru kali ini Sam berseteru dengan anaknya dan itu membuat ia sakit kepala.
"Darren, apa karena papi enggak membesarkan kamu? Makanya kamu enggak mau dengar apa kata papi?"
****
"Darren, gue salah dengar, kan?" tanya Rosi pada foto tersebut.
Dan Rosi kembali terngiang dengan ucapan Darren.
"Darren suka sama Vio, pi!" Ucapan itu seolah menjadi pisau yang menusuk jantungnya.
Tak terasa, air mata pun jatuh, membasahi pipinya.
Rosi menghapus air mata itu.
"Gue harus apa, Ren? Perasaan ini udah dalam buat lo!" Rosi masih menatap foto Darren.
****
Semua orang sibuk dengan perasaan masing-masing, setelah malam berlalu, Vio merasa bingung, ia harus pergi mencuci mobil Sam atau tidak.
Lalu, dirinya harus membayar hutang itu pada siapa, Vio yang baru saja selesai dengan mandi itu menatap dirinya di cermin kecil berbentuk love yang ia pegang.
__ADS_1
Untuk kejelasannya, Vio pun memutuskan pergi menemui Sam.
Vio segera bergegas.
Setelah beberapa menit, sekarang, Vio sudah berada di depan pagar rumah mewah Sam.
Vio memanggil satpam seperti biasa untuk meminta pintu.
"Non, kata Tuan enggak usah datang ke sini lagi," kata satpam dari balik pagarnya.
"Kalau begitu saya mau bertemu Bapak, ada yang mau saya bicarakan."
Kemudian, Satpam membuka pintu, mempersilahkan Viona untuk menunggu di teras.
"Silahkan, duduk dulu," kata Satpam.
Setelah itu, satpam masuk dan mencari bibi, terlihat bibi sedang menyiapkan sarapan.
"Bi, ada anak itu, dia nyari Tuan."
"Anak itu siapa?" tanya bibi yang sedang mencuci sayuran.
"Yang biasa nyuci mobil," jawab satpam, setelah itu satpam kembali ke depan dan bibi pun menemui Sam.
Sam yang masih tidur pulas itu harus membuka mata saat bibi mengetuk pintu kamarnya.
Dengan malasnya, Sam yang bertelanjang dada itu membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Sam yang kemudian membuka mulutnya lebar, setelah begadang tentu saja Sam masih ingin melanjutkan tidurnya.
"Ada Non Viona, nunggu Tuan di depan," kata bibi yang menundukkan kepala.
"Kan saya udah bilang, enggak usah datang lagi, mau ngapain? Suruh pergi!" kata Sam yang kemudian menutup pintu kamarnya.
"Baik, Tuan," jawab bibi yang kemudian pergi menemui Vio.
"Maaf, Non. Tuan masih tidur. Tuan juga pesan katanya Non Vio-" Ucapan bibi terpotong karena ternyata Sam sudah ada di belakangnya.
"Ngapain kamu?" ketus Sam, bibi dan Vio pun melihat ke arahnya yang berdiri di belakang bibi.
Setelah itu, bibi yang merasa kalau itu bukanlah urusannya kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya.
Vio menatap Sam, ia berdiri dari duduknya. "Saya mau tanya sama bapak. langsung aja enggak basa-basi. Saya harus bayar hutangnya ke siapa?"
__ADS_1
"Anggap saja gue baik hati, nolongin lo malam itu dengan syarat jauhin anak gue!"
Bersambung.