ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Darren Berbohong?


__ADS_3

"Mau itu hari libur atau hari kerja, enggak ada kata libur buat dia!" kata Sam seraya menatap Vio.


"Udah tau!" jawab Vio yang kemudian melanjutkan mencuci mobilnya.


Setelah itu, Sam pergi meninggalkan Darren dan Vio yang masih ada garasi.


Darren yang penasaran itu pun bertanya, "Vio... sebenernya ada apa sih lo sama papi?"


"Ada apa? Enggak ada apa-apa, kok," jawab Vio dengan terus mencuci.


"Iya, maksudnya, kenapa lo jadi tukang cuci mobil papi?" tanya Darren seraya merebut spon yang ada di tangan Vio.


Darren memberikan senyum, pria yang menggunakan celana jeans pendek itu membantu Vio untuk mencuci mobil papinya.


"Sebenernya ada perjanjian diantara kami, aku harus mencuci mobil Pak Sam selama empat tahun lebih dan akan semakin lama kalau aku sering bolos."


"Apa?" tanya Darren seraya menghentikan aktivitasnya.


Darren terkejut, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar.


"Iya, aku punya utang sama papi kamu sebanyak 50 juta dan aku janji bakal bayar nyicil," lirih Vio, ia menjawab seraya menatap Darren.


"Tapi... sebenernya itu bukan kemauan aku, karena papi kamu nolongin aku ya aku harus terima, udah sih gitu aja," lanjut Vio. Vio yang tak ingin Darren penasaran pun mulai bercerita supaya Darren berhenti bertanya.


Setelah mendengar cerita Vio, Darren tak menyangka kalau papinya bisa berbuat baik dengan menyelamatkan gadis itu.


Sam yang menerima tamu itu harus kembali ke depan dan melewati ruang tengah yang terhubung langsung ke garasi, membuat pria itu melihat kalau Darren sedang mencuci mobil bersama Vio.


Sam pun menghampiri.


"Ngapain kamu? Kamu mau jadi tukang cuci juga?" tanya Sam dan Darren pun hanya menatap. Mencuci mobil telah selesai Darren dan Vio mengabaikan Sam yang berdiri di pintu dengan berkacak pinggang.


"Besok enggak usah bantu aku lagi, takut enggak dihitung kerja aku tuh!" kata Vio dan Sam mendengarnya.


Karena sedang ditunggu, Sam pun pergi dari tempatnya berdiri.


"Aku balik dulu, ya. Mau lanjut ke toko dan enggak usah anter aku!" kata Vio seraya mengambil tas selempangnya.


Vio tak ingin merepotkan Darren, ia tak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan pria itu.


"Ok, karena lo yang minta, pagi ini gue enggak antar. Gue juga ada perlu," jawab Darren seraya mengelap tangannya yang basah menggunakan lap kering.

__ADS_1


****


Darren yang sedang menonton televisi itu melihat Sam masuk ke dalam.


Darren pun memanggilnya.


"Pi. Darren mau ngomong penting."


Sam pun menghentikan langkah, ia ikut duduk di sofa depan televisi.


"Penting apa? Uang jajan kamu habis? Jangan boros-boros! Atau... jangan-jangan kerjaan kamu itu mentraktir cewek-cewek?" tanya Sam menyelidik.


"Ingat, kita itu baik boleh! Tapi jangan sampai kebaikan kita dimanfaatkan oleh orang lain!" Setelah mengatakan itu, Sam bangun dari duduk tanpa mendengar jawaban Darren.


"Bukan itu, Pi. Darren mau ikut acara amal yang nenek buat untuk panti asuhan, Darren butuh uang sebanyak 50 juta," kata Darren seraya bangun dari duduk, menatap Sam dan berharap kalau Sam akan mempercayainya.


"Yakin 50 juta?" tanya Sam seraya berbalik badan, menatap Darren dan Darren menganggukkan kepala.


"Tumben ibu buat acara amal cuma 50 juta, biasanya lebih," kata Sam dalam hati, pria itu pun mengiyakan dan segera menghubungi Dandi, menyuruhnya untuk mentransfer uang tersebut ke rekening Darren.


Darren tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Tidak lama kemudian, Darren menerima notif kalau uang itu sudah berada di rekeningnya.


Darren yang baru duduk di bangku kemudinya itu melihat Rosi yang baru saja membuka gerbang rumahnya.


Darren pun melongokkan kepala, bertanya keperluan Rosi, "Ros, ngapain? Gue mau pergi dulu bentar!"


"Kemana, gue ikut!" kata Rosi seraya berjalan cepat ke mobil Darren.


"Enggak usah, ini penting, bukan mau main!" kata Darren seraya menyalakan mobilnya lalu meninggalkan garasi dan Rosi.


"Jangan-jangan... Darren udah kencan sama tuh cewe?" tanya Rosi pada diri sendiri.


Rosi yang sedang gundah gulana itu memilih untuk pulang, ia masuk ke kamar lalu menjatuhkan dirinya di ranjang, ia berpikir kalau dirinya tidak kalah cantik dari Vio, lalu apa yang membuat Darren menyukainya.


Rosi bangun lalu berdiri di depan cermin lemarinya, menatap dirinya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, ia cantik dengan baju tengtop dan celana pendek selututnya.


"Apa gue harus berpakaian ala-ala Vio?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia pun membuka lemari, baju yang dimilikinya itu, isi lemari tersebut hampir keseluruhannya adalah dress dan rok mini, celana hanya ada beberapa saja.

__ADS_1


Rosi pun menghubungi Sarah yang sedang bekerja, ia meminta pakaian baru padanya dan Sarah hanya menjawab 'ya'.


****


Di toko.


Baru saja Darren membuka pintu, pemuda itu sudah disambut oleh karyawan Vio.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya Lena, salah satu karyawan Vio.


"Saya cari Vio," jawab Darren seraya tersenyum.


Bukannya memanggilnya Vio yang sedang berada di lantai atas, menghitung gaji karyawan bulan ini.


"Oh, Bu Vio. Ada... tunggu sebentar," kata Nafisa yang menghampiri Lena dan Darren seraya menepuk bahu Lena.


"Maaf, Vio yang saya cari masih muda, bukan ibu-ibu!" kata Darren dan itu menghentikan langkah Nafisa.


"Di sini hanya ada satu yang bernama Vio dan itu Ibu Vio, kalau begitu, mungkin masnya salah alamat," kata Nafisa.


"Dia karyawan juga di sini, saya sering mengantarkannya," jawab Darren, pria tinggi nan tampan itu yakin kalau dirinya tidak salah alamat.


Darren pun membuka ponsel, ia menunjukkan foto Vio yang ia potret diam-diam saat di Bali.


"Oh, iya bener. Itu mah Bu Vio, pemilik toko ini," kata Nafisa dan tidak lama kemudian, Vio pun turun, ia membawa amplop untuk karyawannya.


"Oh, jadi bos yang baik hati, cantik dan ramah itu diri sendiri!" Darren bicara dalam hati. Ia sempat terkekeh karena vio memuji dirinya sendiri.


"Darren, ngapain?" tanya Vio seraya berjalan mendekat ke arah Darren berdiri, Darren berdiri di depan kasir, di dekat pintu masuk.


"Cari pemilik toko ini," jawab Darren.


Vio menutup mulutnya, menutupi senyumnya.


"Toko ini bukan punya aku, aku cuma nyewa aja," jawab Vio, setelah itu Vio membagikan amplop tersebut pada karyawannya.


"Ada perlu apa?" tanya Vio sekali lagi.


Tidak menjawab, tetapi Darren menarik tangan Vio, ia membawanya keluar dari toko, ingin bicara empat mata.


"Setelah mendengar cerita tadi, gue merasa kalau harus membantu, jangan menolak karena gue enggak suka penolakan!" kata Darren seraya memberikan amplop coklat pada Vio.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2