ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Protes!


__ADS_3

Darren melemparkan hoodienya itu ke sofa dan Darren kembali duduk di karpet untuk mengerjakan tugasnya.


Dan Darren harus melihat ke kanannya saat Dandi ikut duduk di karpet dan Rossi melarangnya.


"Mas, kenapa kamu duduk di bawah? Sini dong!" kata Rossi seraya menepuk sofa samping dirinya.


Dandi tersenyum dan kemudian menuruti Rossi. Dandi sendiri terpesona dengan kecantikan Rossi si gadis yang ceria, tetapi, Dandi tau kalau gadis itu adalah milik Darren.


"Cokelatnya aku buka, ya!" kata Rossi seraya mulai membuka pita, lalu, membuka kemasannya.


"Bukan cuma dibuka dong, tapi kamu juga harus memakannya!" kata Dandi seraya mengambil cokelat itu dari tangan Rossi. Dandi mulai menyuapi Rossi cokelat tersebut.


Dan Darren yang melihat itu merasa tak tahan, pria yang sebenarnya sedang cemburu itu menutup laptopnya lalu bangun dari duduknya, ia pergi meninggalkan Rossi dan Dandi yang sedang bermesraan.


"Gila lo, Ros! Tega mesra-mesraan di depan gue!" kata Darren yang sekarang sudah berada di depan rumah Rossi.


Darren pun masuk ke mobil, ia pergi dengan melirik rumah Sam. "Papih lagi, ada-ada aja!" gerutu Darren seraya memarkirkan mobilnya.


"Kaya enggak ada perempuan lain, enggak liat usia Dandi berapa dan Rossi berapa!" Darren masih menggerutu.


Sementara itu, setelah kepergian Darren, Dandi pun permisi pada Rossi.


"Terimakasih, Kak! Maaf, ya, kalau aku merepotkan," kata Rossi seraya menatap Dandi yang juga sedang menatapnya.


"Enggak papa, santai aja!" kata Dandi dan kemudian Dandi pun benar-benar pergi.


Setelah itu, Rossi mendapatkan pesan dari Vio. "Gimana?"


"Lancar, baru babak pertama udah kepanasan!" jawab Rossi.


"Ok, next kita bikin yang lebih panas lagi? Kalian harus jalan berdua atau diantar jemput kuliah!" saran Vio dan Rossi pun sangat setuju.


Sementara itu, di seberang, Sam sedang memperhatikan Vio yang terlihat sedang senyum-senyum dengan ponselnya.


"Kenapa kamu? Chating sama siapa?" tanya Sam yang sedang mengganti kaosnya.


Setelah itu, Sam pun mendekat pada Vio yang sedang duduk meluruskan kakinya di sofa. Sam menyentuh kaki itu, memijitnya.


"Ya ampun, enak banget!" kata Vio yang menikmati sentuhan itu.


"Kamu tau, ini namanya pijitan cinta!" kata Sam dan Vio pun tersenyum.

__ADS_1


"Aku senang, lihat kamu bahagia, biar anak kita juga ikut bahagia!" kata Sam yang kemudian mengusap perut gendut Vio.


"Makasih, udah bikin aku bahagia!" kata Vio seraya menatap Sam, lalu, Sam pun membelai pipi Vio yang mulai mengembang karena hormon.


"Sayang," panggil Sam dan Vio menjawab, "Iya."


"Ini pipi apa bakpao?" ledek Sam dan Vio pun mencubit pinggang suaminya.


"Ini semua karena kamu! Ini semua salah kamu!" kata Vio dan Sam pun meminta ampun dan meminta pada Vio untuk melepaskan cubitannya.


"Ampun, Yank!" kata Sam dan Vio pun melepaskan cubitan itu.


"Awas aja ngelirik yang lain!" kata Vio seraya bangun dari duduk dan Sam pun menyusul Vio, ia segera memeluk istrinya dari belakang.


"Enggak akan, kan aku cintanya sama kamu!" lirih Sam di telinga Vio.


Dan 'cup' Vio mengecup pipi Sam.


"Hari ini, kamu belum nyapa utun!" kata Vio yang mengingatkan Sam.


Sam pun segera berpindah, ia berada di depan Vio, berjongkok seraya mengecup perut Vio.


"Hai, baby girl, sehat-sehat dan cepat keluar, ya! Papi enggak sabar pengen gendong kamu!" kata Sam yang kemudian mengecup perut gendut istrinya dan Vio menjawab, "Masa cepet keluar, nanti keluar sebelum waktunya gimana?" rengek Vio.


"Maksudku, proses lahiran nanti, sayang. Biar cepat keluar, gitu!" kata Sam yang mencoba menjelaskan.


"Makanya, kalau ngomong itu yang jelas, dong!" timpal Vio.


"Astaga, Bumil, sensitif banget!" kata Sam dalam hati.


****


Malam ini, Darren tidak dapat tidur dengan nyenyak, ia memikirkan Rossi yang sekarang sudah tidak lagi menjomblo.


"Aargghh!" geram Darren, karena tak dapat memejamkan mata, Darren memilih untuk memainkan gamenya.


Dan Darren yang sudah merasa lelah itu pun meletakkan ponselnya, ia melihat jam di dinding dan waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.


Darren pun tertidur dan bangun saat hari sudah siang.


Darren yang baru bangun itu segera mandi dan bersiap untuk kuliah.

__ADS_1


Selesai dengan itu semua, Darren berniat untuk menjemput Rossi dan sesampainya di rumah Rossi, Darren melihat Dandi yang sedang membukakan pintu mobil untuk Rossi.


Melihat itu, Darren pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri sahabatnya dan bukannya pergi ke kampus, tetapi, Darren pergi ke kantor Sam.


Di sana, Darren memprotesnya.


"Pih!" panggil Darren yang baru saja masuk ke ruangan Sam.


Sam yang sedang mempelajari berkasnya itu pun melihat ke arah pintu, di mana anaknya masih berdiri menatapnya sebal.


"Ada apa?" tanya Sam seraya bangun dari duduk.


Sam mempersilahkan Darren untuk duduk di sofa panjang yang tersedia.


"Pih, maksud Papih apa?" tanya Darren seraya berjalan ke arah Sam, Darren meletakkan tas punggungnya itu di sofa panjang.


"Kenapa? Papih enggak ngerti maksud kamu! Dateng-dateng kok nanyain maksud Papih!" protes Sam.


Padahal, dalam hatinya, Sam mengerti maksud dari putranya.


"Kenapa Papih jodohin Rossi sama Dandi?" tanya Darren seraya menatap Sam yang sekarang sudah duduk bersamanya.


"Kenapa? Mereka sama-sama jomblo! Dandi pria yang baik, Rossi gadis yang cantik, pasangan sempurna!" kata Sam.


"Papih! Memangnya, enggak ada perempuan lain? Papih harus lihat, perbedaan usia keduanya!" Darren memprotesnya dan Sam melihat jawab dengan tersenyum.


"Kenapa? Apa kamu enggak lihat Papih sama Vio? Walau perbedaan usia kami jauh, tapi kami bahagia!" jawab Sam dan Darren semakin merasa panas mendengarnya.


"Lagi pula, Dandi itu bukan tua, dia hanya terlalu matang, di usianya yang di kepala tiga, seharusnya, dia sudah memiliki bayi!" lanjut Sam dan Sam yang semula duduk itu bangun, ia membuka kulkas dan mengambilkan minuman dingin untuk putranya.


Darren menerimanya ia langsung membuka tutup botolnya, lalu, meminum minuman sejuk itu sampai habis.


"Kenapa? Apa kamu kemari cuma buat protes? Lebih baik kamu cepat cari calon istri, biar enggak jones kaya Dandi!" kata Sam.


"Benar juga, buat apa aku memprotesnya, lagi pula, hubungan aku dan Rossi adalah sahabat, tapi, kenapa aku rela liat dia bahagia sama pria lain!" kata Darren dalam hati.


Darren tak menjawab ucapan Sam, ia bangun dari duduk dan segera keluar dari ruangan Papihnya dan Darren harus bertemu dengan Dandi yang baru saja keluar dari lift.


Dandi menganggukkan kepala dan Darren yang sebenarnya sedang terbakar api cemburu itu mengabaikannya.


Darren berlalu dan segera meninggalkan kantor Sam.

__ADS_1


Dan Dandi menyadari itu, ia tau kalau Darren sedang sebal dengannya, Dandi pun berdoa supaya Darren cepat menyadari perasaannya, supaya dirinya tak perlu berlama-lama menjadi kekasih pura-pura Rossi.


Bersambung.


__ADS_2