
Kedua pria itu saling berhadapan dan secepat kilat si pria yang sama sekali tidak Sam ketahui namanya itu menyerang, ia meninju wajah Sam dan Sam menghindari pukulan itu. Secepatnya, Sam membalasnya dengan menendang lutut si pria membuat pria itu terjatuh di depannya.
"Dengar, gue enggak suka bikin orang babak belur! Lupain masalah itu dan kita sudahi ini! Jangan lupa ganti rugi mobil gue yang lo tabrak!" kata Sam
"Emangnya waktu lalu lo ganti rugi, ha?" tanya si pria asing itu seraya mengulurkan tangan, ia ingin menarik kaki Sam supaya Sam terjatuh.
Tetapi, bukannya Sam yang terjatuh, justru tangannya lah yang harus merasakan sakit ketika Sam menginjaknya.
"Ok, lo enggak bisa gue kasih tau!" kata Sam seraya semakin menekan kakinya.
Si pria itu meringis kesakitan dan dia yang tak ingin dipermalukan oleh Sam itu mencoba melawan dengan tangan tangan satunya itu mengambil pistol di balik badannya.
Sam yang melihat itu pun tak membiarkan. Ia melepaskan injakkan itu untuk menendang tangan yang hampir mengarahkan pistol ke arahnya.
Sekarang pistol itu sudah terlempar jauh dari si pemilik. Keduanya melihat ke arah pistol tersebut.
Si pria itu segera berdiri lalu mendorong dada Sam dan Sam menahan tangannya lalu meninju dadanya juga rahang lawannya.
Si pria itu hampir terjatuh, beruntung kakinya masih kuat untuk memijak di tanah. Pria itu pun menyemburkan darah dan mengusap dadanya yang terasa sakit.
"Sial, gue kira dia itu cemen, malam itu kaya orang bego enggak taunya suhu!" ucapnya dalam hati.
Sam maju satu langkah dan pria itu melangkah mundur.
"Ganti rugi atau lo mati malam ini juga!" gertak Sam.
"Gue lepasin lo malam ini, anggap aja biaya ganti rugi itu buat bayar mantan bini lo malam itu!" ucapnya masih dengan menahan dadanya.
Sam menertawakannya.
"Enggak kebalik? Ada juga gue yang lepasin lo, bukan gue yang lo lepasin!" Sam berkacak pinggang, meremehkan pria itu yang sama sekali tak dapat melukainya.
"Ganti rugi mobil gue enggak ada hubungannya sama dia! Ganti rugi atau mampus lo malam ini?" Sam kembali menggertak dengan hampir meninju wajah lawannya, Sam mencengkeram kerah baju lawannya dan tinju itu berhenti tepat di depan hidungnya.
"Ok, gue ganti rugi!" kata si pria itu yang tak ingin hidungnya patah karena tinju dari Sam.
Sam menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh si pria asing itu. Dan si pria itu pun menuliskan cek untuk Sam.
Dan sebelum pergi, Sam menyempatkan diri untuk menendang plat mobil musuhnya.
__ADS_1
"Sial, niat mau kasih pelajaran kok gue yang bonyok, keluar banyak duit lagi!" gerutunya dalam hati, pria itu memperhatikan Sam yang sedang memungut jasnya dan Sam meliriknya.
Saat itu juga ponselnya bergetar, si pria itu merogoh sakunya, terlihat Lea yang menghubungi.
Ya, Lea menawarkan barang baru untuk ganti ruginya. Dan Lea yang sudah berulang kali mengirim pesan itu diabaikan, lalu Lea pun menghubunginya, namun, Lea masih diabaikan.
Si pria yang tak ingin berurusan lagi dengan Lea pun menggeser tombol merah pada layar ponselnya.
"Gara-gara lo, untung gue enggak mati!" katanya seraya menatap layar ponsel, setelah itu, si pria yang ingin kembali ke rumahnya itu tidak melupakan pistolnya yang tergeletak.
****
Sesampainya di rumah, Sam memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Besok pagi panggil orang bengkel!" titah Sam pada satpam yang membukakan pintu pagar.
"Baik, Tuan." Satpam menjawab dengan menganggukkan kepala.
Sam mengambil tas kerjanya, membawanya masuk dan karena sangat berkeringat Sam pun segera mandi air hangat. Sam yang sedang berada di bawah shower itu tiba-tiba saja teringat dengan Vio.
"Ya, gara-gara dia, seandainya malam itu gue enggak nolongin dia, gue enggak akan merasa bersalah seperti ini!" Sam meninju dinding dengan pelan. Matanya terpejam dan kembali lagi bayangan wajah Vio yang ada di bawahnya itu melintas.
Sam yang bergulung handuk itu meraih ponselnya, ia melihat jam dan ternyata sudah larut malam yaitu jam dua belas malam.
Sam yang berulang kali melihat nomor ponsel Vio itu akhirnya mencoba menghubunginya, tetapi, nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Dan itu membuat Sam merasa takut, takut kalau Vio sudah mengakhiri hidupnya sendiri.
Untuk memastikan, Sam mencoba menghubungi Adiba.
Adiba yang sedang terlelap itu menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Halo." jawab Adiba dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Ini gue Om Sam, lo tau kabar Vio?" tanya Sam yang tak lagi basa-basi.
"Enggak, hampir seminggu ini Diba enggak kontekan sama dia, kenapa Om?"
"Oh, ya sudah. Enggak papa. Maaf mengganggu," jawab Sam yang tak mau berterus terang. Setelah itu, Sam memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Setelah itu, Sam segera berpakaian lalu menjatuhkan dirinya ke ranjang, menatap langit-langit kamarnya.
Tak terasa, Sam yang sangat kelelahan itu segera tertidur.
Lalu, Sam membuka mata saat jendela kamarnya itu terbuka dan betapa terkejutnya Sam yang melihat Vio sudah ada di balik jendela dengan pakaian serba putih, rambut yang terurai dan wajahnya sangat pucat.
Terlihat Vio mengulurkan tangannya ingin mencekik Sam, Sam menjerit melihat itu, baginya, Vio terlihat seperti hantu.
Dan saat tangan Vio berada di lehernya, Sam pun membuka mata.
"Astaga, ternyata mimpi!" ucap Sam yang segera merubah posisinya menjadi duduk.
Nyatanya, jendela kamar Sam sudah dalam. keadaan tertutup rapi.
"Ini pasti karena gue merasa bersalah!" ucap Sam dalam hati. Dan mimpi itu membuat Sam merasa haus. Sam mengambil air minum yang ada di sampingnya.
Setelah itu, Sam melanjutkan tidurnya dan kali Husna lah yang datang menemuinya melalui mimpi indahnya.
Sam melihat Husna sedang duduk di bangku taman bunga, Sam menghampirinya dan Husna memberikan senyum.
"Mas, kasihan dia, dia anak kecil, enggak seharusnya kamu perlakukan dia seperti itu, kamu harus bertanggung jawab!" kata Husna dan lama kelamaan Husna pun hilang, taman bunga itu berubah menjadi lahan luas yang kosong dan gelap.
Sam membuka mata dan kali ini ia tak memejamkan matanya lagi, ia berpikir setelah Vio dan Husna datang dalam mimpinya, bisa saja Sarifah juga ikut datang.
Benar saja, Sam terjaga sampai pagi.
Dan Darren yang ia minta datang ke rumah itu melihat papinya dengan mata pandanya.
"Papi kenapa? Sakit?" tanya Darren dan Sam menggelengkan kepala.
Sam meletakkan uang 50 juta di meja dan Darren yang duduk di sofa itu bertanya.
"Apa ini?"
"Hutang Vio lunas!" jawab Sam seraya bangun dari duduk.
"Maksud papi?" tanya Darren.
Dengan melunasi hutang Vio, apakah Darren akan menyangkut pautkannya dengan hilangnya Vio.
__ADS_1
Bersambung.