
Sesampainya di rumah sakit, Sam berjalan cepat menuju ke ruang tindakan yang Darren infokan.
Sam yang sudah melihat Darren sedang berdiri itu memanggilnya, "Darren!" Dan yang dipanggil pun menoleh.
"Papi," jawab Darren.
Terlihat matanya memerah, air mata sudah membasahi pipinya.
"Gimana keadaan nenek kamu?" tanya Sam yang sekarang sudah berada di depan Darren.
"Dokter belum keluar, Darren takut, Pi!"
"Kita doakan, semoga nenek kamu baik-baik saja!" kata Sam seraya memeluk Darren.
Sam sangat mengerti perasaan Darren yang begitu menyayangi neneknya, nenek yang sudah merawat dari Darren bayi.
Tidak lama kemudian, dokter pun keluar. "Maaf, beliau tidak dapat kami selamatkan, kami turut berbelasungkawa," ucap Pak Dokter yang kemudian pergi meninggalkan keluarga Sarifah.
Mendengar itu, Darren langsung berjongkok, ia tidak menyangka akan secepat ini neneknya harus menghadap yang maha kuasa, pasalnya, baru kemarin mereka membahas umur dan hari ini Sarifah sudah tiada. Seolah hari kemarin adalah pertanda.
Sam yang masuk ke ruangan itu menggenggam tangan Sarifah.
"Bu, maafin Sam. Sam selalu bikin ibu pusing," ucapnya seraya mencium punggung tangan itu.
Vio dan Rosi pun ikut bersedih.
Vio yang masuk ke ruang tersebut mengucapkan belasungkawanya.
"Turut berduka, Pak. Bapak yang sabar."
Dan Sam yang masih menangisi ibunya itu hanya diam saja. Vio dan Rosi menemani Darren sampai ke pemakaman.
"Nek. Darren sayang sama nenek! Darren akan jadi anak baik yang berbakti, seperti apa yang nenek mau!" batin Darren, pria itu kembali tak kuasa menahan air matanya setelah melihat neneknya yang masuk ke liang lahat.
Darren pun segera menghapusnya, ia dan Sam mencoba untuk kuat, tegar dan ikhlas, umur itu pasti hanya saja waktu yang tidak kita ketahui kapan datangnya.
****
Satu persatu, para pelayat pun mulai meninggalkan pemakaman dan tersisa keluarga almarhumah juga Vio, Sarah dan Rosi.
Vio pun pamit pada Darren, "Ren, aku pulang dulu. Kamu yang sabar, ya. Kita doakan semoga nenek dapat tempat yang luas di sana, di tempatkan di surga," kata Vio seraya menatap Darren yang masih bersedih, matanya masih memerah menahan tangis.
"Iya, terimakasih banyak. Maaf... gue enggak bisa antar lo dulu."
__ADS_1
"Iya, enggak papa, kok." Vio menjawab dengan sedikit senyum.
"Sejak kapan mereka jadi akrab?" tanya Sam dalam hati. Pria itu berjongkok di samping batu nisan Sarifah, tak sengaja mendengar percakapan antara keduanya.
"Ada yang patah hati donk!" lanjut Sam dan masih berbicara dalam hati, Sam yang sangat mengetahui bagaimana perasaan Rosi itu melirik padanya yang ada di depannya. Rosi juga berjongkok di samping batu nisan Sarifah di temani oleh Sarah yang segera pulang dari bekerjanya setelah mendengar kabar duka tersebut.
Setelah kepergian Vio, tidak lama kemudian Sam dan yang masih tersisa itu pun pamit pada sarifah.
"Nek. Darren pamit dulu. Darren akan sesering mungkin datang untuk menjenguk."
****
Kepergian Sarifah membuat Vio ingat dengan orang tuanya dan sebelum ke toko, Vio pergi ke makam untuk menjenguk ibu dan ayahnya, tidak lupa Vio membawakan bunga lalu menaburkan di atas makam ibunya lebih dulu.
"Ibu, Ayah. kalian meninggalkan Vio sendiri di sini," ucap Vio, ia sangat merindukan keduanya. Ia merasa sendiri... hanya seorang diri setelah suami pilihannya itu membuat hidupnya berantakan.
Vio juga merasa bersalah karena tidak dapat menjaga peninggalan orang tuanya.
Vio meminta maaf untuk itu.
"Bu, Ayah. Vio minta maaf, seandainya ada uang jatuh dari langit, Vio akan menggunakan uang itu untuk menebus rumah kita," kata Vio.
"Tapi kan itu enggak mungkin, Vio mulai ngelantur!" lanjutnya, ia terlihat sangat sedih.
Sedikit lama Vio duduk di tepi makam orang tuanya, setelah hari hampir gelap, Vio baru bangun dari duduknya.
Singkat cerita.
Sekarang, Vio sudah keluar dari pemakaman, ia berdiri di tepi jalan, memainkan ponselnya, membuka aplikasi hijau lalu memesan ojek.
Setelah menunggu beberapa menit, sekarang, Vio sudah di jemput dan selama perjalanan, wanita yang rambutnya dicepol itu masih memikirkan mereka yang sudah tiada.
"Nenek, baru kemarin kita kenal, terimakasih Nenek udah semangatin aku!" kata Vio dalam hati.
****
Vio yang baru saja turun dari ojek itu melepaskan helm lalu membayar sesuai tarif, hari ini tidak ada tips karena Vio harus mengeluarkan uang untuk membetulkan pintu yang macet.
Lumayan, pikir Vio, bisa untuk tambahan.
Vio yang baru masuk ke toko itu memanggil Kamil, karyawannya yang biasa bertugas untuk mengirim paket.
"Pintu ini macet, tolong carikan tukang pintu," perintah Vio seraya menunjuk pintu geser yang berwarna silver.
__ADS_1
"Macet gimana, Bu?" tanya Kamil seraya mendekati pintu.
"Enggak bisa dibuka dari dalam," jawab Vio, masih dengan memperhatikan pintu.
"Oh. Kalau ini saya bisa betulkan, boleh saya coba, Bu?" tanya Kamil seraya menatap Vio.
Vio pun menganggukkan kepala.
"Silahkan."
Kamil pun menuju ke motornya parkir, ia mengambil perkakas di jok motornya.
Setelah itu mulai mengerjakannya.
Dan Vio yang duduk di meja kasir itu menghitung pemasukan hari ini sesekali memperhatikan Kamil.
Setelah beberapa menit, Kamil sudah berhasil memperbaiki pintu yang rusak itu. Kamil pun memberitahu Vio.
"Sudah beres, Bu."
"Pintar juga kamu," puji Vio. "Belajar dari mana?" Vio yang menyangga dagunya itu bertanya.
"Bapak saya tukang bengkel las," jawab Kamil seraya tersenyum, setelah itu membereskan perkakasnya.
Vio menganggukkan kepala, lalu matanya melirik pada karung yang penuh dengan dus.
"Itu yang mau di kirim hari ini?" tanya Vio seraya menunjuk karang tersebut.
"Iya, Bu," jawab Nafisa yang sedang merapikan barang dagangan di rak supaya kembali terlihat rapi.
"Alhamdulillah," ucap Vio.
****
Sam dan Darren pulang ke rumah Sarifah lebih dulu, di sana masih banyak tamu yang datang untuk mengucapkan belasungkawanya.
Sam yang kemarin sempat mengusir Sarifah itu terdiam, memikirkan ucapannya kemarin yang menyuruh Sarifah untuk pulang.
"Selama ini gue enggak becus jadi anak, selalu bikin ibu pusing, bahkan setelah Husna pergi dari hidup gue, bukannya gue yang merawat dan membesarkan Darren, tapi, gue malah ngerepotin ibu! Anak macam apa gue ini!" gerutu Sam dalam hati, Sam dan Darren sedang duduk di sofa ruang tamu, Sam yang sedang bersama koleganya itu terlihat terdiam.
Apakah Sam akan berubah menjadi lebih baik, lebih dewasa setelah ini?
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya.
Dukung karya ini juga dengan vote/giftnya. Terimakasih atas dukungannya.