ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Perasaan Darren Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Darren yang melihat itu pun tak tinggal diam, ia menarik kerah kemeja dan jaket dari dua orang yang sedang mengeroyok Rossi.


Hatinya sangat sakit saat melihat sahabatnya diperlukan seperti itu, Darren pun menghajar dua pria tersebut tanpa ampun.


Hebatnya Darren bisa mengalahkan dua orang sekaligus tanpa lecet dan luka di tubuhnya. Siang ini, Darren seperti orang yang kesetanan.


Dan Rossi yang merasa kalau Darren akan membunuh mereka pun segera turun dari ranjang, Rossi berteriak meminta tolong dan sebelum orang-orang itu berdatangan, Darren pun menyudahinya, Darren tak mau banyak orang yang melihat bagian atas Rossi yang hampir polos.


Darren melepaskan hoodienya lalu memberikannya pada Rossi, Rossi yang tengah menangis itu pun segera memakainya.


Kemudian, Darren memeluk Rossi, ia menanyakan keadaannya dan Rossi menjawab kalau dirinya baik-baik saja.


"Apa benar Lea yang melakukan ini?" tanya Darren dan Rossi menganggukkan kepala.


"Lea! Awas, lo!" geram Darren seraya mengeratkan pelukannya pada Rossi tanpa Darren sadari kalau pelukannya itu membuat Rossi sesak nafas.


****


Tak menunggu lama, Lea yang sedang berpikir kalau Rossi sudah dalam kesengsaraan itu pun mendapatkan tamu, tamu tak di undang, tamu itu adalah Darren dan Rossi yang membawa polisi.


Papa Rossi menjadi saksi dan Lea pun tak dapat mengelak atau melarikan diri.


Ternyata, di hati Lea, ia juga bisa merasakan takut untuk mendekam di penjara.


Lea memohon di kaki Rossi, ia meminta pada Rossi untuk tak memperkarakannya.


Dan Darren melarang Rossi untuk memaafkannya.


Darren melepaskan Lea yang masih bersimpuh di kaki Rossi.


"Sebelum berbuat, apa lo pikir panjang dulu?" bentak Darren seraya menyingkirkan tangan Lea.


Kali ini, Lea bersimpuh di kaki Darren dan Darren meminta pada polisi untuk cepat membawanya.


Rossi yang menatap Lea dari belakang itu merasa sedikit tak tega. Lalu, Darren menepuk bahu Rossi.


"Kita enggak perlu kasihan sama dia! Ingat, dia terlalu jahat sama lo!" kata Darren dan Rossi pun menganggukkan kepala.


Lalu, Rossi pun menceritakan waktu Lea akan menjebak Vio yang sampai mabuk dan Rossi bersama Sam menyelamatkannya.


Dari situ lah, Darren berpikir kalau malam itu yang membuat dirinya sekarang akan memiliki adik.


"Hmmm," Darren menarik nafas dan sekarang, Darren mengantarkan Rossi untuk pulang.


"Om bisa pulang sendiri," kata Papa Rossi dengan wajah yang sudah babak belur, beruntung, wajah itu masih berbentuk.


"Pulang, lah! Jangan sakiti Mami!" kata Rossi dengan kesalnya.


Rossi dan Darren pun meninggalkan Papa Rossi yang masih menatapnya, Rossi teramat kecewa dengan Papanya sendiri dan sekarang, Rossi mengerti kenapa Sarah tak mampu memaafkan suaminya.

__ADS_1


Di perjalanan, Rossi melihat ke jari-jari Darren yang terluka, terluka karena meninju pria-pria hidung belang tanpa ampun.


Rossi pun memanggil Darren yang sedang fokus mengemudi. Darren menjawab, "Iya." Darren menjawab dengan tetap fokus mengemudi.


"Gue mau nanya," kata Rossi seraya menatap Darren.


"Apa?"


"Liat gue yang hampir-" tanya Rossi dan pertanyaan harus terpotong saat Darren menatap Rossi dengan tajam.


Lalu, Darren menjawab, Darren mengerti apa yang akan Rossi tanyakan itu pun mengungkapkan perasaannya yang begitu terluka.


"Gue sakit, gue enggak terima lo diperlakukan seperti itu!" kaya Darren dan Rossi pun mengembangkan senyumnya dan Darren pun membawa Rossi ke pelukannya.


Darren mengemudi dengan lengan satunya memeluk Rossi.


"Terimakasih," ucap Rossi dan Darren menjawab dengan senyum juga mengacak pucuk rambut Rossi.



Rossi.


"Ren," Rossi memanggilnya dan Darren menjawab, "Emb.... "


"Perasaan itu, tandanya apa?" tanya Rossi yang ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya perasaan Darren padanya.


Darren pun harus kembali fokus mengemudi dan melepaskan pelukannya.


"Astaga, Darren, sampai kapan gue harus nunggu lo sadar?" tanya Rossi dalam hati.


Tidak lama, sekarang, Darren sudah berada di depan rumah Rossi dan Darren turun lebih dulu untuk membukakan pintu Rossi.


Rossi pun mengucapkan terimakasih.


Rossi tidak menawarkan Darren untuk masuk, karena Darren mengatakan kalau dirinya akan pulang ke rumah Sam.


"Terimakasih!" kata Rossi seraya tersenyum dan Darren pun mengangguk.


Setelah itu, Darren menyuruh Rossi untuk segera masuk lalu beristirahat.


Darren yang akan pulang ke rumah Sam itu hanya perlu menyebrang jalan dan Darren sudah sampai.


Darren melihat Vio yang sedang memakan rujak bersama bibi.


Bibi yang melihat kedatangan Darren pun bangun dari duduk. Bibi menyambut Darren, "Selamat siang, Den!"


"Siang, Bi!" sahut Darren.


Dan Bibi yang merasa senang karena hubungan antara Sam dan anaknya itu sudah membaik pun pergi dari ruang tengah untuk membuatkan minuman segar.

__ADS_1


Sementara itu, Darren mengucapkan terimakasih pada Vio yang telah memberitahu keberadaan Rossi.


Vio yang sedang menikmati rujaknya itu tak mengerti mengapa Darren harus mengucapkan terimakasih. Lalu, Vio pun bertanya.


"Bukan apa-apa, oia, jangan lupa ajak Papi buat kontrol kehamilan!" kata Darren seraya kembali keluar dari rumah Sam.


Vio pun menganggukkan kepala dan memperhatikan anak tirinya itu sampai tak terlihat.


Setelah itu, Vio pun menerima panggilan video dari Sam.


"Sayang, bagaimana kabar kamu?" tanya Sam yang sekarang sedang berada jauh dari Vio, Sam sedang melakukan perjalanan bisnis.


Dan Sam meminta pada Darren untuk sering menjenguk Bundanya.


"Aku baik, sayang. Kamu kapan pulang? Kenapa lama sekali?" tanya Vio seraya menunjukkan apa yang sedang ia makan.


"Jangan terlalu banyak makan asam!" kata Sam dan Vio pun menganggukkan kepala.


"Sepertinya, sore ini aku akan pulang! Kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Sam seraya tersenyum dan membuat wajahnya seolah-olah sangat imut di depan istrinya.


"Astaga, jangan seperti itu, kamu bukan akan muda lagi!" kata Vio yang mengingatkan Sam.


"Biarkan, kamu harus sering-sering liat wajahku! Biar anak kita mirip aku!" kata Sam dan Vio membalas perkataan itu.


"Aku enggak mau, anakku harus mirip aku, aku yang hamil, masa mirip kamu!" protes Vio seraya mengerucutkan bibirnya.


Setelah bercerita dan sedikit melepas rindunya, sekarang, Sam pamit untuk kembali bekerja.


Vio pun menyemangati.


Sebelum panggilan itu diakhiri, Sam meminta pada istrinya untuk mengecupnya.


"Astaga, nanti aja kalau kamu udah pulang, yang!" kata Vio yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Ya ampun, enggak romantis banget nih cewek!" kata Sam yang masih memandangi layar ponselnya.


Dan Dandi harus sedikit tertawa saat melihat tingkah Tuannya yang sekarang menjadi bucin.


Sam yang duduk di bangku belakang itu melirik Dandi dari kaca spion.


"Menertawakan ku sama dengan potong gaji!"


"Tuan, anda sangat lucu, pasti rumah tangga anda sangat berwarna dan bahagia setelah kedatangan Nyonya besar," kata Dandi dan apa yang Dandi katakan itu dapat menyelamatkannya dari potong gaji.


"Karena ucapanmu adalah benar, maka tidak potong gaji!"


"Alhamdulillah," batin Dandi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2