
Seperti biasa, Surya yang memiliki kebiasaan berjudi itu malam ini sedang mencoba peruntungan baru di tempat baru.
Terapi, sayangnya, Surya yang sudah habis puluhan juta itu sedang berpikir untuk menyudahi permainannya malam ini.
"Gue over!" kata Surya seraya bangun dari duduk.
"Cuma segitu doang?" tanya salah satu lawan judi Surya.
Lalu ada yang menimpalinya, "Siapa tau kalah di awal menang di akhir."
Dan ucapan-ucapan itu membuat Surya kembali duduk di kursi panasnya.
"Nah gitu dong, pantang pulang sebelum menang!" kata si pria yang bertanya pada Surya.
"Kalah nanti jangan nangis," timpal Surya.
Permainan demi permainan tetap Surya ikuti sehingga pria itu harus menghabiskan lebih banyak uangnya karena benar-benar malam ini tidak ada keberuntungan sedikitpun untuk Surya.
Surya yang tak mau menghabiskan semua uangnya itu bangun dari duduk seraya melemparkan putung rokok dengan kesalnya.
Merasa kesal, pria itu menghubungi Luky. "Halo, Ky. Dimana? Hang out, yok!" ajak Surya dari sambungan teleponnya, Surya duduk di atas motor besarnya yang berwarna putih.
"Ada, gue di rumah calon. Lagi ada acara, gue enggak bisa temenin lo dulu!" jawab Luky yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Dih, enak banget dia, main putus-putus aja!" gerutu Surya seraya kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket.
Setelah itu, Surya pun memarkirkan motornya, Surya yang sedang sebal itu keluar dari parkiran tanpa melihat kanan-kirinya dan lagi, seolah mendapatkan kutukan, Surya yang mulai melajukan perlahan motornya itu hampir tertabrak oleh seorang pemuda yang ugal-ugalan dan itu membuat Surya hilang keseimbangan, Surya pun jatuh bersama motornya.
Surya yang kesal itu meneriaki si pengendara motor dan setelah melihat apa yang dibawa olehnya, mendadak nyali Surya menjadi ciut.
Ya, pengendara yang berboncengan itu membawa parang, betapa beruntungnya Surya karena begal itu sedang bermain kejar-kejaran bersama polisi sehingga aman motor dan nyawa Surya.
Merasa hampir mati malam ini membuat Surya memilih untuk kembali ke kosnya.
****
Di toko, Vio berbaring di sofa, ia yang tidak dapat tidur itu menatap langit-langit ruangannya yang sekarang merangkap menjadi kamarnya.
__ADS_1
Vio teringat dengan kenangan indahnya di rumah ibunya.
Dan itu membuat dirinya semakin membenci Surya.
"Mau sebenci apa aku sama dia enggak akan merubah apapun, hanya akan membuat aku terus memikirkan lelaki brengsek itu! Arrgh!" Vio menggelengkan kepala, ia mencoba memejamkan mata karena besok ia harus bangun pagi untuk mencuci mobil Sam.
Sudah mencoba memejamkan mata, Vio masih juga tidak dapat tidur, Vio meraih ponselnya yang ada di meja, ia membuka play musik, menyetel sholawat yang menenangkan hati dan benar saja tidak lama kemudian Vio pun terlelap.
Vio bangun saat mendengar suara alarm dari ponselnya yang sudah lowbat.
Wanita itu merubah posisinya menjadi duduk, mencepol rambutnya, melipat selimut dan mulai merapikan ruangannya.
Setelah itu, Vio pergi mandi dan tidak berlama-lama, Vio pun bersiap, menggunakan outfit simpel, namun, Vio tetap terlihat ayu seperti biasanya.
Vio berjalan dengan ringannya, menuruni tangga dan sampainya ia di lantai bawah, Vio segera membuka pintu toko itu dan ternyata sangat keras untuk di buka dari dalam.
"Astaga, pintunya macet!" Vio mulai panik, ia takut akan terkurung di dalam sendirian.
"Minta tolong!" ucap Vio dalam hati. Vio pun segera berteriak, tetapi, siapa yang akan mendengar suaranya di pagi yang masih gelap.
Merasa frustasi, Vio berjongkok dan ingat dengan ponselnya, ia ingin mencari tau cara membuka pintu yang macet dari dalam.
"Aaaaaa!" teriak Vio. Wanita itu memijit kepalanya, berjongkok di balik pintu, harapannya adalah karyawannya yang akan membuka pintu dari luar.
"Astaga, dari kapan pintu ini macet?" gerutu Vio seraya bangun dari jongkok, ia menendang pintu itu dan akhirnya kakinya sendirilah yang merasakan sakit.
Dengan pincang, Vio kembali ke lantai atas, ia mengisi daya ponselnya, setelah itu, ia menghubungi salah satu karyawannya supaya berangkat lebih awal.
Dan Vio yang menunggu di lantai atas itu melongokkan kepala di jendela saat mendengar Nafiska (karyawannya) memanggil.
Vio pun melemparkan kunci dari jendela dan setelah itu, pintu pun terbuka.
"Makasih, ya. Saya buru-buru, saya pergi dulu!" kata Vio seraya menepuk bahu Nafiska.
"Sama-sama, Bu." Nafiska menjawab.
Vio segera naik ke ojek yang sudah ia pesan, setelah beberapa menit, sekarang, Vio sudah sampai di rumah Sam.
__ADS_1
Vio membayar ongkosnya seraya mengucapkan terimakasih lalu berlari ke rumah Sam yang pagar rumahnya sudah terbuka.
Dan rupanya, Sam sudah berada di mobil, duduk rapi dengan pakaian kerjanya. Sam menatap Vio yang berdiri di depan mobil.
Sam yang sudah menyalakan mobilnya itu melongokkan kepala. "Mau ngapain kamu? Jam segini baru datang!" gerutu Sam dengan wajah ketusnya.
"Tadi ada masalah di toko, Pak," jawab Vio seraya berjalan mendekat ke arah Sam.
"Ingat, hitung sendiri hutang hari kamu, dari kemarin bolos mulu, enggak disiplin!"
"Iya, saya pasti hitung dan enggak akan korupsi hari sama Bapak yang udah menolong saya!" jawab Vio, kalau tidak ingat dengan kebaikan Sam malam itu, rasanya, Vio tidak ingin berurusan dengan Sam lagi.
"Di rumah aja nyebelin, apalagi di kantor, pasti anak buahnya pada tertekan!" ucap Vio dalam hati, ya, Vio menduga kalau Sam adalah pimpinan di tempatnya bekerja, terlihat dari rumah dan mobil yang mewah, penampilan yang rapi dan wangi.
"Awas!" perintah Sam supaya Vio tidak menghalangi jalannya.
Vio pun menepi dan saat itu juga ada Sarah si janda yang memperhatikan dari depan rumahnya sendiri, Sarah sedang memanaskan mobilnya dan wanita itu seolah senang melihat Sam dan Vio yang sepertinya sedang bertengkar.
"Cie, ada pasangan yang lagi berantem ni ye!"
Vio dan Sam tak menghiraukan Sarah.
Vio hanya menatapnya datar dan Sarah membuang wajahnya seraya masuk ke mobil lalu mengendarainya perlahan.
"Dih, tante-tante kayanya sakit hati cintanya di tolak sama si bapak!" ucap Vio dan ucapan itu di dengar oleh Darren yang baru saja datang, Darren baru saja kembali dari lari paginya dan kali ini Darren ditemani oleh Rosi.
Rosi yang berada di belakang Darren itu bertanya, "Siapa dia, kayanya bukan anak kampus kita."
"Iya, dia Vio. Kenalin ini temen aku, Rosi!" kata Darren yang memperkenalkan Rosi.
Vio mengulurkan tangannya. "Viona,"
Rosi membalas uluran tangan itu dengan terpaksa, feelingnya mengatakan kalau Vio adalah gadis yang pernah Darren ceritakan.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
__ADS_1
Difavoritkan juga.