
Setelah melewati hari panjang dan melelahkan, sekarang, Sam menjemput Vio ke toko.
Sam tidak mau kalau Vio sampai terlalu lelah. Sam khawatir dengan kandungan istrinya.
"Aku titip toko, ya, Fiska!" kata Vio seraya menatap Nafiska yang sedang mengemasi paket siap kirim.
"Baik, Bu," jawab Nafiska.
Setelah itu, Vio mengikuti Sam yang berjalan lebih dulu.
"Besok, kalau mau nganter mah anter aja, enggak usah takut ditolak!" kata Vio yang berada di belakang Sam.
Dan Sam yang sekarang sedang membuka pintu mobil itu menggaruk kepalanya.
"Memang, Dandi itu. Dibilang jangan malah bilang!" gumam Sam dalam hati.
Dan selama perjalanan, keduanya saling diam, Vio yang merasa sepi itu memilih untuk memejamkan mata.
Dan begitu terkejutnya Vio saat Sam harus mengerem mendadak karena Sam Sam hampir menabrak seseorang.
Orang itu adalah Surya yang sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang.
Surya sempat melihat ke arah mobil itu dan matanya saling menatap dengan Vio.
Surya yang tergesa itu mengetuk kaca mobil Sam untuk meminta bantuan pada Vio.
"Vi... tolongin gue, Vi. Gue dikejar utang!" Surya memohon pada Vio dan kali ini Vio tak menghadapi Surya sendirian, ada Sam yang membantunya.
Sam menurunkan kaca mobilnya dan menatap Surya yang sedang memohon pada Vio.
"Siapa lo minta tolong sama bini, gue?" kata Sam.
Surya pun menatap tak percaya pada Vio, Surya mengira kalau Vio tidak akan semudah itu melupakannya.
Setelah itu, Sam pun kembali menutup kaca mobilnya, lalu, pergi meninggalkan Surya yang kembali dikejar oleh dua orang pria yang berpakaian layaknya preman.
Naasnya Surya, Pria yang penampilannya acak adul itu bernasib malang, Surya yang sedang berlari tanpa melihat kenan dan kirinya itu harus tertabrak oleh mobil.
Vio dan Sam memperhatikan itu dari kaca spion.
"Mas Surya!" lirih Vio.
"Kenapa, kamu masih perduli sama dia?" tanya Sam seraya menepikan mobilnya.
"Kejar sana kalau kamu masih perduli sama dia!" kata Sam tampa melihat ke arah Vio.
Ya, Sam mengerti kalau Vio masih menyukai mantan suaminya. Terbukti saat malam kejadian itu, Vio tak sengaja memanggil nama mantan suaminya dan saat itulah Sam mengetahui kalau Vio masih memiliki perasaan pada Surya.
Tetapi, kali ini, Vio menggunakan akal sehatnya.
__ADS_1
"Bukan itu, aku cuma kasian, dia enggak punya siapa-siapa di sini, seenggaknya kita bantu dia bawa ke rumah sakit!" kata Vio seraya menatap Sam.
"Ok," jawab Sam seraya mengambil ponselnya.
Sam menghubungi Dandi dan mengatakan kalau ada yang harus di urus di jalan tersebut.
"Tenang aja, Dandi pasti bawa dia ke rumah sakit." Sam yang mulai sedikit cemburu itu tak ingin Vio kembali berurusan dengan mantan suaminya, sekarang, Sam segera melanjutkan perjalanan, membawa istrinya itu pulang ke istananya.
Sesampainya di rumah, Vio melihat kalau kamarnya sudah kosong dan Vio menanyakan semua perginya barang Vio pada Sam.
Sam yang sedang duduk santai di ruang tengah itu mendongak, ia menatap Vio yang berada di lantai atas.
"Barang kanu enggak hilang, tenang aja!" Setelah itu, Sam mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Dandi dan menanyakan kabar Surya.
"Maaf, Tuan. Dia tidak bisa diselamatkan," kata Dandi dan Sam hanya menarik nafas.
Setelah itu, Sam segera menyusul Vio.
Dan sesampainya di lantai atas, Sam melihat Vio sedang mencari sesuatu di laci lemarinya yang dipindah ke kamar Sam.
"Nyari apa?" tanya Sam yang berdiri di belakang Vio.
"Album!" jawab Vio tanpa melihat Sam.
"Album pernikahan kamu dengan dia?" tanya Sam dan entah mengapa, Sam menjadi posesif.
Vio menghentikan aktivitasnya, ia berdiri dari jongkoknya, menatap Sam yang juga sedang menatapnya.
"Bukan cemburu, tapi, kamu sudah seharusnya melupakan dia!" jawab Sam, pria itu pun segera menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.
"Untuk apa aku cemburu sama orang yang udah enggak ada! Baru saja, Dandi memberi kabar kalau dia tidak bisa diselamatkan!" kata Sam yang kemudian meninggalkan Vio sendiri di kamar.
Sam tak ingin melihat Vio menangis, menangisi mantan suaminya.
Sedangkan Vio, ia terduduk di tepi ranjang Sam. Ia teringat dengan sumpah serapahnya yang menyumpahi Surya.
"Astaga, aku enggak nyangka kalau dia akan berakhir seperti ini!" Vio bergumam.
Dan Sam yang kembali duduk di ruang tengah itu menjadi tak nyaman. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Sam mengendurkan dasinya.
"Baru pindah kamar, udah balik mikirin mantan!" gerutu Sam seraya mengambil ponselnya di saku celana.
Dan Sam terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Vio yang ada di sampingnya.
"Kenapa? Bapak cemburu?" tanya Vio seraya menatap Sam dan Sam yang terkejut dengan kehadiran Vio itu sedikit berteriak, "Aaa!" Sam menatap Vio seperti menatap pocong.
"Pak, untuk terakhir kali, kita harus mengurus jenazahnya," pinta Vio seraya menatap Sam dan Sam pun menatap Vio.
__ADS_1
"Enggak!" Sam menolak dengan tegas lalu memalingkan wajahnya.
"Pak, aku enggak pernah minta apa-apa sama Bapak dan ini permintaan pertama aku, ayolah, Pak," rengek Vio seraya menggenggam tangan Sam dan Sam melihat tangan Vio.
"Kok kaya anak yang lagi ngrengek sama Bapaknya!" batin Sam, lalu, Sam menepiskan tangan Vio dari tangannya.
Sam berdiri, lalu meninggalkan Vio tanpa sepatah kata pun.
"Mas," seru Vio, ia mencoba merayu Sam dengan sebutan Mas.
Sam menghentikan langkah kakinya dan menjawab, "Rayuan kamu enggak mempan!" kata Sam yang kemudian melanjutkan langkah kakinya, Sam berjalan menaiki tangga tanpa melihat Vio.
"Mas, kasihan dia, dia udah enggak punya siapa-siapa," lirih Vio seraya berjalan mengikuti Sam.
"Telinga ku sakit setiap kamu merengek!" jawab Sam.
Dan Sam menghentikan langkah kakinya saat Vio memanggilnya dengan sebutan yang dia inginkan.
"Sayang," lirih Vio, lalu tersenyum saat Sam berbalik badan dan menatapnya.
"Kan sudah ada Dandi yang mengurus, kenapa kamu memaksa, kalau kamu maksa gini, aku bisa apa coba?" kata Sam seraya kembali turun ke lantai bawah dan Vio merasa bingung dengan Sam yang keluar dari rumah.
Sam yang menyadari kalau Vio tak mengikuti itu menghentikan langkah kakinya. Sam pun memanggilnya.
"Vio!" seru Sam dan Vio pun segera menyusul ke depan.
"Iya, Pak," sahut Vio.
"Astaga, kalau gitu enggak jadi ngelayat!" kata Sam dengan sebalnya.
Baru saja Vio memanggilnya dengan sebutan sayang dan sekarang sudah kembali ke sebutan awal.
"Jadi, jadi, ayo, Pak, aku enggak tau kalau tadi Bapak mau," kata Vio yang menahan tangan Sam.
Dan Sam memprotesnya, "Gimana sih, tadi manggil sayang, sekarang udah Bapak lagi, emangnya aku ini Bapak mu apa!"
"Astaga," ucap Vio dan Vio yang mengerti kalau suaminya itu cemburu pun mengecup pipinya dan itu membuat Sam berbunga.
Tanpa Vio dan Sam sadari, di seberang jalan, ada Darren yang sedang bersama dengan Rossi. Darren melihat ada kebahagiaan diantara keduanya.
"Pih, mungkin... memang Vio adalah jodoh Papih!" kata Darren dan Rossi yang sedang bergandengan tangan dengan Darren itu menguatkannya.
"Sabar, ya. Pasti, nanti lo bakal dapat jodoh terbaik!" kata Rossi dan Darren pun menganggukkan kepala, tersenyum manis pada Rossi.
"Yang terbaik itu gue, Ren!" kata Rossi dalam hati.
Bersambung.
Like dan komen ya, all.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca 🙂