ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Semakin Jauh Ku Gapai


__ADS_3

Sarah terheran saat melihat Vio keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kebaya putih.


"Loh, loh. Ada acara apa sih ini?" tanya Sarah dan Vio menjawab seadanya, "Aku mau nikah."


"Hah... sama siapa? Kamu bisa ngelawak juga, ya!" kata Sarah seraya menarik lengan Vio, membawanya duduk di bangku meja rias.


"Kalau enggak percaya, ngapain Tante nanya!"


"Iya juga, ya," batin Sarah, dalam hati, Sarah bertanya-tanya, dengan siapa Vio akan menikah.


Setelah beberapa menit, jari-jemari Sarah berhasil membuat Vio menjadi cantik dan sampai membuat Sama terpesona saat melihat Vio yang berjalan ke arahnya.


Sekarang, Sam mengajak Vio untuk duduk di depan penghulu dan terjawab sudah rasa penasaran Sarah.


Sarah mengipasi wajahnya menggunakan tangan kanannya yang memerah karena panas, panas melihat Sam telah melabuhkan hatinya pada gadis yang usianya jauh muda.


"Pantes aja aku kejar-kejar dia enggak mau, ternyata, sukanya sama anak kecil," ucap sarah dalam hati.


Dan semua saksi mengucapkan kata SAH setelah Sam mengucapkan ijab kabulnya.


Dan Dandi mengambil foto pernikahan dadakan itu.


****


Selesai bekerja, Adiba yang sedang membuatkan perjanjian itu masih bertanya-tanya.


Adiba juga membaca berulang kali isi perjanjian itu yang berbunyi sebagai berikut...



Saya tidak mau ditelantarkan.


Saya memiliki hak sebagai istri yang sesungguhnya.


Saya berhak menerima nafkah selama menjadi istri.


Saya berhak menolak keinginan pihak ke dua bila keinginan itu bertentangan dengan saya.


Pernikahan ini bukan mainan.


Saya tidak mau dilarang selama itu bukan kesalahan termasuk bekerja.



Ya, itulah yang terpikirkan oleh Vio. Ia menuruti saran Dandi untuk membuat surat perjanjian dimana itu akan menguntungkan dirinya.


Poin ke lima, Vio yang sempat mendengar Sam akan menyerah atas pernikahan itu dengan sengaja menekankan kata tersebut.


Sekarang, Adiba membawa surat perjanjian yang sudah disahkan itu ke alamat yang Vio kirimkan.


Sesampainya di alamat tersebut, Adiba bertanya-tanya, "Rumah siapa ini?"

__ADS_1


Tak mau berpikir terlalu lama, Adiba pun segera menghubungi Vio dan mengatakan kalau dirinya sudah berada di alamat rumah yang Vio kirimkan.


Vio yang sedang berada di kamar itu segera keluar dan Vio berpapasan dengan Sam yang juga baru saja keluar dari kamarnya.


"Mau kemana lo?" tanya Sam.


"Ya Tuhan, satu lagi perjanjian yang tertinggal!" jawab Vio dan tentu saja jawaban itu membuat Sam tak mengerti.


Vio berpikir, seharusnya menambahkan kalau Sam tidak boleh lagi menggunakan kata 'gue, lo' diantara keduanya, bagi Vio kata itu sama sekali tak enak didengar.


"Kenapa? Apa bapak mulai kepo sama saya?" jawab Vio kemudian berlalu.


Sam menggelengkan kepala.


"Gue cip*ok nangis, lo!" kata Sam yang memperhatikan Vio.


Sam yang merasa lapar itu melanjutkan langkah kakinya dan sampai di lantai bawah, Sam melihat orang-orang yang sedang merapikan ruang tengah. Ruang tengah yang sebelumnya seperti kapal pecah sekarang sudah hampir kembali rapi.


Teringat dengan itu, tentu saja membuat Sam teringat dengan Darren.


"Sedang apa anak itu?" tanya Sam dalam hati.


Sam yang sekarang sudah duduk di kursi meja makan itu melihat ponselnya, berulang kali ingin menghubungi anaknya tetapi tertahan.


Di ponselnya, terlihat kalau Darren sudah tidak online lebih dari 5 jam.


"Astaga, enggak ada kabar sama sekali! Ah... sudahlah, ku harap hubungan ini segera membaik!" harapan Sam, setelah itu, Sam meletakkan ponselnya di meja makan.


****


Vio mengajak Adiba duduk di teras dan mulai menjelaskan atas segala pertanyaan Adiba.


"Ini rumah suamiku, awalnya aku udah minta buat tetap tinggal di toko, tapi dia enggak setuju," kata Vio yang duduk dengan kepala menunduk.


"Pertanyaannya, suami kamu itu siapa?" tanya Adiba seraya menatap Viona.


Vio mengangkat kepalanya, menatap Adiba dan menjawabnya, "Kamu tau kok siapa lelaki itu."


"Siapa? Perasaan, kamu enggak kenal banyak cowok?"


"Aku terlalu malu buat cerita, ku rasa dengan pernikahan yang mendadak ini akan buat kamu ngerti yang sebenernya," jawab Vio, wanita yang tengah berbadan dua itu kembali menundukkan kepala.


Mendengar itu, Adiba terdiam, mencoba mengerti arti kata tersebut.


"Kamu hamil?" lirih Adiba seraya menatap Vio.


Vio yang masih menundukkan kepala itu menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan itu.


"Ya Tuhan. Aku enggak nyangka, ini bukan Vio yang aku kenal, kenapa bisa sampai kaya gini? Kamu diperkosa?" tanya Adiba seraya berdiri dari duduknya.


Ia merasa kesal karena sahabatnya itu diperlakukan sedemikian dan sekarang hamil.

__ADS_1


"Untung tanggung jawab! Kalau enggak, bakal aku jeblosin dia ke penjara!" geram Adiba. Gadis yang masih mengenakan seragam itu kembali duduk, ia menguatkan sahabatnya.


Merasa bersalah karena belakangan ini tidak ada disaat Vio kesulitan bahkan sahabatnya itu sampai menghilang dari permukaan bumi ini.


"Udah, makanya aku bikin perjanjian ini karena aku enggak mau rugi!" kata Viona seraya menatap surat tersebut.


"Kalau sebelumnya kamu cerita sama aku, Vi. Pasti aku tambahin poin-poin yang bakal nguntungin kamu, kenapa enggak kamu tulis berapa besar nafkah yang harus kamu terima?" tanya Adiba dengan kesalnya.


"Aku enggak mau memberatkan dia, selama dia baik sama aku, mungkin aku juga bisa baik sama dia," jawab Vio.


Dan percakapan itu ternyata didengar oleh Sam dari balik pintu. Sam tak menyangka kalau Vio adalah gadis yang begitu polos dan mulai berpikir kalau dirinya bisa saja jatuh cinta padanya dalam waktu singkat.


Setelah itu, Sam kembali masuk, tidak ingin mengganggu wanita yang sekarang menjadi istrinya itu berkeluh kesah pada sahabatnya.


Sekarang, Sam sudah berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya, berpikir, pantas saja Darren begitu jatuh hati pada Viona.


Teringat dengan Darren, siapa yang tau kabar pria itu sekarang? Sam menghubungi asisten rumah tangga mendiang ibunya, menanyakan keberadaan Darren.


Memang benar, Darren ada di rumah itu, tetapi, sedari pulang tadi, sama sekali tidak keluar dari kamar.


Mendengar itu, tentu saja membuat Sam khawatir.


****


Darren sedang berada di bawah selimut, ia memandangi foto Vio di ponselnya. Cintanya semakin terasa takan tergapai.


Semakin jauh, begitulah yang Darren rasakan.


Pria itu kembali menangis, mungkin, seandainya Vio menikah dengan pria lain, Darren akan merebutnya, tetapi, sekarang, cintanya itu menjadi ibunya.


"Aaaaaaa!" teriak Darren seraya meringkuk, memeluk ponselnya di bawah kegelapan.


Sementara itu, di luar kamar, bibi mengantarkan makan malam untuk Darren, bibi mengetuk pintu kamar dan tak mendapatkan jawaban, bibi pun membawa kembali makanan itu ke dapur.


****


Sam yang sedang berganti pakaian itu melihat ke arah pintu, ia bertanya siapa yang ada di sana.


"Ini saya," jawabnya dan mendengar suara itu Sam pun tau kalau itu adalah Vio.


"Masuk!" perintah Sam seraya memakai kaosnya.


Mendengar perintahnya, Vio takut kalau malam panas itu akan segera terulang. Vio masih belum terbiasa dengan Sam dan belum bisa menjadi istri sepenuhnya untuk Sam.


"Enggak, saya tunggu di sini," jawab Vio, seketika pintu kamar itu terbuka dan Vio segera mengulurkan tangan kanannya memberikan surat perjanjian.


Sam menyipitkan matanya, ia tak menyangka kalau istri kecilnya itu rupanya seperti kancil.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen, ya. Gift/Vote nya untuk dukung karya Author. Terimakasih.

__ADS_1


Maafin typonya, ya 😁


__ADS_2