
Assalamu'alaikum, terimakasih yang sudah menunggu karya ku, terimakasih yang sudah mendoakan, terimakasih yang selalu mendukung, lope-lope sekebon jengkol buat kalian semua 🥰🥰 dan selamat tahun baru, semoga di tahun baru ini semua akan lebih baik, Aamiin YRA.
****
Vio yang masih terdiam itu memikirkan ucapan pria yang masih berjongkok di depannya, menatapnya. Dalam hati, Vio berpikir untuk menerima pernikahan ini, tetapi, ada keraguan juga dalam hatinya, ia takut akan kembali mengalami kegagalan dalam rumah tangganya.
"Astaga, apa yang aku pikirkan, saat ini enggak penting apa itu kegagalan, yang penting ada status buat anak ini, aku enggak mau dia tumbuh tanpa seorang ayah," batin Vio, tanpa terasa air matanya menetes, Vio segera menyeka air mata itu.
"Lagi pula, pernikahan ini tanpa cinta, lalu, apa yang aku takuti untuk kegagalan itu?" tanya Vio dalam hati, sekarang, Vio menatap Sam. Wanita bermata sembab itu mengangguk tanda setuju.
****
Di rumah Sam, Darren yang ingin melampiaskan amarahnya itu benar-benar membuat rumah itu sangat berantakan. Pemuda tampan itu terus berteriak memanggil papinya.
"Papi!"
Sementara itu, pekerja Sam hanya bisa melihat tanpa mampu menghentikan apa yang sedang terjadi di rumah majikannya.
Bahkan meja ruang tengah kini telah terbalik, TV yang tak bersalah pun ikut menjadi sasaran Darren, TV itu kini sudah pecah dan tergeletak di lantai.
Darren yang merasa dikhianati dan ditikung oleh ayahnya sendiri itu memijit kepalanya.
"Mereka melakukan ini tanpa sengaja, jadi enggak mungkin papi bertanggung jawab, gue harus temui Vio dan menikahinya!" pikir Darren, setelah itu, Darren segera bergegas keluar dari rumah dan belum sampai ke pintu utama Darren sudah menghentikan langkah kakinya.
Matanya menyipit, entah apa yang Darren lihat.
Ternyata, Darren melihat kedatangan Sam dan Vio. Darren tidak mengerti mengapa mereka berdua datang bersamaan.
"Vi. Apa lo udah maafin dia?" tanya Darren seraya menatap Viona yang juga menatapnya.
Darren berharap kalau Viona akan mengerti perasaannya, hatinya dan cintanya yang begitu tulus.
Vio menggelengkan kepala sedangkan Sam memijit pangkal hidungnya.
Sam mencoba ingin membuat anaknya itu mengerti, memahami kalau ini semua bukanlah kesengajaan. Sam yang ingin menjelaskan kalau mereka akan menikah itu melangkahkan kakinya mendekati Darren yang memundurkan langkah kakinya di setiap Sam mendekat.
"Apa lagi ini, pi?" tanya Darren dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Darren, dengarkan papi, papi enggak sengaja melakukan ini semua, ini terjadi karena perempuan itu mabuk!"
Mendengar apa yang Sam katakan, Vio sudah mengerti kalau Sam mencoba menyalahkan dirinya.
Vio menitikkan air matanya. Nampak wajah yang gelisah dan tidak nyaman atas situasi ini.
"Kalau papi memegang teguh janji papi, enggak mungkin kejadian kaya gini!"
"Ok, kalau gitu, papi hanya akan memberikan status untuk perempuan itu dan anaknya! Setelahnya papi akan menyerah atas pernikahan ini! Puas kamu!" bentak Sam pada Darren dan baru pertama kali ini Sam berbicara dengan nada yang tinggi, Darren yang mendengar itu sangat kecewa, apalagi Vio yang merasa hanya di permainkan.
Darren mengambil tongkat golf dan mengacungkannya pada Sam.
"Aaaaa!" teriak Darren, ia tidak menyangka kalau papinya adalah seorang pria yang menganggap remeh pernikahan.
Sam melihat benda itu melayang ke arahnya pun menahan dengan sekuat tenaga, tidak menyangka kalau Darren sampai tega akan melukai dirinya.
Sementara Vio, ia merasa kalau kekacauan ini terjadi karenanya, wanita yang menenteng paper bag itu menjatuhkan apa yang sedari ia pegang, Vio memilih keluar dari rumah Sam.
Dan Darren juga Sam tidak menyadari itu, keduanya masih bersitegang, Sam ingin menyerahkan Vio untuk Darren tetapi Darren sudah terlanjur kecewa pada Sam yang seperti tidak memiliki hati.
Sam yang berhasil menyingkirkan tongkat golf itu pun menjawab, "Bukan seperti itu maksud papi! Papi ingin tau apa maumu! Katakan!" bentak Sam seraya menatap Darren, walaupun Sam adalah seorang pria yang selalu slengean, tetapi, Sam adalah orang tua, tetap orang tua yang ingin dihormati oleh anaknya sendiri.
Mendengar pertanyaan itu, Darren merasa kalau itu adalah kesempatan bagus, Darren yang akan bertanggung jawab dan menjadi ayah anak itu, tetapi, Darren kembali berpikir kalau itu tidaklah mungkin.
Apa yang terjadi, apa yang akan Darren katakan pada anaknya yang ternyata adalah adiknya.
Tersadar dengan kebutaan yang sedang melanda hatinya, Darren memutuskan untuk keluar dari rumah Sam.
Darren melewati Vio begitu saja yang terlihat sedang mengobrol dengan Dandi, entah apa yang sedang mereka bicarakan, Darren sudah tidak ingin tau lagi.
Vio dan Dandi hanya menatap pada Darren yang mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan.
Dandi mengerti apa yang sedang terjadi, cinta segitiga antara ayah dan anak ini cukup menarik, begitulah pikir Dandi, Dandi pun menarik nafas dalam, berpikir kalau dirinya tidak seharusnya ikut merasakan sakit kepala.
Setelah itu, Dandi mengajak Vio beserta penghulu yang sudah datang itu untuk segera masuk.
Vio masih belum yakin dengan apa yang diucapkan oleh Dandi. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh asisten Sam?
__ADS_1
"Kenapa? Coba pikirkan, buatlah perjanjian yang menguntungkan dirimu sendiri, Nyonya." Setelah kembali meyakinkan Vio, Dandi pun kembali melanjutkan langkah kakinya.
Dan Vio masih berdiri di tempatnya, ia memperhatikan Dandi dan orang-orang yang lain masuk ke rumah Sam.
"Benar juga apa yang dikatakan anak itu, seenggaknya setelah aku dibuang nanti, aku enggak pusing dengan keuangan untuk membesarkan anak ini!" Vio merogoh saku celana jeansnya, mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Adiba.
Vio segera mengatakan keperluannya dan beberapa isi dari perjanjian yang akan dibuat olehnya.
"Buat apa ini semua, Vi?" tanya Adiba dari sambungan teleponnya.
"Udah, buat aja, nanti juga kamu tau!" kata Vio, setelah itu, Vio segera memutuskan sambungan teleponnya.
****
Sarah yang diminta datang dengan membawa perlengkapan make-up itu sudah sampai di rumah Sam.
Ia bertanya-tanya, siapa yang akan ia rias. Sarah terus berjalan dan melewati Viona.
Sesampainya di dalam, Sarah bertanya pada Sam, "Siapa yang mau aku rias, Sam?"
Sam yang melihat kearahnya itu menunjuk menggunakan dagunya, "Itu, dibelakang lo!"
Sarah pun melihat ke belakang.
"Jadi acara apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Sarah yang kembali menatap Sam.
"Enggak usah banyak tanya, gue pakai jasa rias lo karena lo tetangga gue! Cepat rias tu perempuan!" perintah Sam dan Sarah pun segera menarik lengan Viona, Sarah membawa Vio masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Masuk ke kamar itu membuat Vio teringat di mana dirinya bangun dari tidur tanpa busananya. "Sungguh memalukan!" ucap Vio dalam hati.
"Kenapa bengong, cepetan duduk!" kata Sarah yang sedang menyiapkan peralatan make-upnya di meja rias.
"Sebentar, aku ganti baju dulu!" kata Vio.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, All.
__ADS_1