
Seraya menunggu, Rossi memesan kopi susu hangat, ia tidak sabar lagi menunggu Darren menjemputnya.
"Astaga, percuma aja gue menghindar dari Darren kalau ujung-ujungnya ketemu dia juga!" desah Rossi yang kemudian menyeruput kopi hangatnya.
Setelah beberapa jam, Darren yang tidak datang sendiri itu sudah sampai di Polsek tujuan.
Di sana, Darren menertawakan Rossi sedangkan Sarah, ia mengatai anaknya itu bodoh.
"Kalian tega banget, sih," protes Rossi seraya mencubit pinggang Darren.
"Aauu, sakit tau!" kata Darren seraya melepaskan tangan Rossi.
Setelah selesai urusan, sekarang, Darren mengajak Rossi dan Sarah kembali ke Jakarta.
Dan mereka tiba di Jakarta pada dini hari.
Setelah itu, Darren segera pamit pada keluarga sahabatnya itu.
"Alah, nyebrang rumah aja pamit, lo!" kata Rossi yang kemudian pergi masuk ke rumah.
Dan Darren hanya mengedikkan bahunya.
"Darren udah lama enggak tinggal di sini," kata Sarah yang mengikuti Rossi dari belakang.
"Kenapa, musuhan lagi sama Om Sam?" tanya Rossi yang sedang berjalan menaiki tangga, gadis yang menggendong ransel itu berjalan menuju kamarnya.
"Sam udah nikah lagi, dia!" jawab Sarah yang masih berada di belakang Rossi.
"Hah, sama siapa, Mah?" tanya Rossi yang menghentikan langkahnya.
"Yang biasa suka nyuci mobil itu!"
"Mah, enggak salah?" tanya Rossi seraya berbalik badan. Rossi merasa senang mendengar kabar itu, berarti, Rossi kembali memiliki kesempatan untuk mendekati Darren.
"Enggak sia-sia gue balik!" kata Rossi seraya kembali melanjutkan langkah kakinya.
****
Keesokannya, Rossi yang sedang mencuci sepeda motornya di teras itu melihat Vio keluar dari rumah Sam.
"Vio, selamat ya. Lo enggak ngabarin! Kalau ngabarin gue pasti kondangan!" kata Rossi dengan semangatnya.
"Dih, ada apa sama anak itu? Girang amat!" batin Vio seraya menatap Rossi dari seberang jalan.
"Lah, aku lupa, dia kan suka sama Darren, pantes lah dia bahagia!" Vio masih membatin.
Lalu, Vio menjawab dengan tersenyum, setelah itu, tidak lama kemudian ada ojek online datang yang menghampiri Vio.
__ADS_1
Baru saja Vio duduk di jok motor itu, Dandi sudah datang menjemput istri Tuanya.
"Nyonya, saya diperintahkan oleh Tuan untuk menjemput anda," kata Dandi yang sudah berdiri di belakang Vio.
Mendengar itu, Vio pun turun dari motor.
"Terus saya gimana, Bu?" tanya Bapak ojek.
"Tetap saya bayar sesuai aplikasi, ya, Pak," kata Vio seraya mengeluarkan selembar uang berwarna biru.
"Kembaliannya buat Bapak," kata Vio dan Bapak ojek pun merasa senang. Pagi-pagi sudah mendapatkan rejeki.
Setelah itu, Dandi mempersilahkan Vio untuk masuk ke mobilnya.
"Kenapa bukan Bapak sendiri yang jemput?" tanya Vio yang sekarang sudah duduk di kursi belakang.
"Bapak lagi ada meeting, sama... katanya takut Nyonya menolak," jawab Dandi dengan jujur.
Dengan sengaja Dandi mengatakan itu, padahal, Sam sudah melarangnya. Dandi melakukan itu supaya ada kemajuan antara keduanya.
"Apa-apa saja," kata Vio.
Dalam hati, seandainya Sam berniat mengantarkannya, Vio juga tak akan menolak.
Dan di tengah perjalanan, Vio meminta pada Dandi untuk putar balik.
"Putar balik, Dan! Mangga aku ketinggalan!" kata Vio dan Dandi pun menurutinya.
"Istri anda melupakan mangga mudanya, Tuan, Kami harus putar balik," jawab Dandi.
"Baguslah," kata Sam, Sam merasa senang, akhirnya, mangga itu dimakan juga oleh istrinya.
Sementara Dandi, ia merasa heran dengan jawabannya itu.
Tak mau pusing, akhirnya Dandi pun kembali bekerja.
****
Di kampus, Rossi yang memarkirkan motornya itu langsung ditarik jaketnya dari belakang oleh Lea.
"Kemana aja lo?"
"Apaan, sih. Kasar banget!" kata Rossi seraya mengibaskan tangan Lea dari jaketnya.
"Lo khianatin gue, kan?" tanya Lea dengan nada sedikit tinggi.
"Enggak jelas banget, sih. Maksud lo apa?" tanya Rossi seraya turun dari motornya. Sebenarnya, Rossi sangat tau apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Tetapi, Rossi berpura-pura tak mengetahuinya.
__ADS_1
"Jangan bohong deh, lo! Lo yang bantu cewek itu lepas, kan?" tanya Lea seraya mendorong bahu kanan Rossi.
"Lo ada bukti?" tanya Rossi yang tak gentar dan dari kejauhan, Darren yang baru saja turun dari mobil itu melihatnya dan segera berlari ke arahnya.
Darren memisahkan Rossi dan Lea.
"Terus, kenapa lo minggat, lo menghindari gue, kan?" Lea melepaskan tangan Darren yang melerai keduanya.
"Lo tau gue menghindar dari siapa! Harus gue jelasin lagi kalau gue menghindari Darren, iya?" bentak Rossi dan Darren pun membatalkan melerai keduanya. Darren bertanya-tanya dengan apa yang didengarnya.
"Tunggu... tunggu, salah gue apa?" tanya Darren pada Rossi.
"Bodo amat sama kalian berdua!" jawab Rossi yang kemudian pergi meninggalkan Lea dan Darren yang menatap kepergiannya.
"Le, maksud dia apa, sih? Kok menghindari gue?" tanya Darren pada Lea dan Lea yang sedang sebal itu menjawab dengan ketusnya, "Lo itu enggak peka banget ya jadi cowok!"
"Aneh meraka itu!" kata Darren yang ditinggalkan oleh Lea dan Rossi.
Darren pun mengejar Rossi dan menanyakan apa salahnya.
"Salah lo karena enggak peka! Udah, itu aja!" jawab Rossi dan Darren masih mengikutinya.
"Udah sono, lo. Jauh-jauh dari gue!" kata Rossi seraya melepaskan tangan Darren di bahunya.
"Jangan ngambek dong, kan lama kita enggak ketemu, lo tau enggak. Ini juga hari pertama gue masuk kuliah lagi, itu karena ada lo, Ros!" kata Darren dan Rossi merasa senang mendengarnya, tetapi, Rossi ingin menjadi jual mahal supaya Darren mengejarnya.
"Gue enggak nanya!" kata Rossi dan Darren pun menarik sedikit rambut lurus Rossi.
"Sejak kapan lo jadi nyebelin!"
"Kasih tau enggak, ya!" jawab Rossi dan tanpa Darren sadari bahwa hadirnya Rossi seolah menjadi penawar patah hatinya.
Sekarang, Darren membawa Rossi ke kantin dan Darren yang mentraktirnya. Darren juga bercerita kalau dirinya sempat patah hati.
"Sekarang, lo masih patah hati?" tanya Rossi yang duduk di depan Darren.
"Entahlah, gue kaya kecewa gitu sama bokap, tapi... udah kejadian mau gimana lagi, gue mau punya adik!" kata Darren seraya menatap Rossi dan Rossi pun menertawakannya.
"Hahaha, kasian banget sih lo, bentar lagi lo punya adik dari cewek yang pernah lo taksir!" Rossi tertawa seraya menggelengkan kepala.
"Enggak sia-sia gue balik, gue ada di saat Darren membutuhkan, semoga Darren cepat sadar kalau ada gue di sisinya!" batin Rossi seraya menatap Darren.
"Udah ketawanya?" tanya Darren pada Rossi dan Rossi menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Sabar, ya. Masih ada gue yang selalu ada buat lo!" kata Rossi seraya sedikit mengangguk.
"Awas aja lo menghindar lagi!" kata Darren dan Rossi menjawab, "Tidak!"
__ADS_1
Bersambung.
Apakah cinta Rossi akan segera berkembang?