ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Hilang


__ADS_3

Sampainya di toko, Vio yang sudah berada di lantai atas itu mengirim pesan pada Nafisa, Vio mengatakan kalau toko libur dan entah sampai kapan.


Vio segera pergi mandi dan di sana bukan hanya mandi tetapi juga menangis sejadinya. Vio yang dari awal membenci Sam semakin membencinya setelah apa yang terjadi semalam dan apa yang Sam katakan.


Ucapannya selalu terngiang di telinganya, Vio tak dapat melupakan itu, melupakan kata Sam, kalau Vio sangat berlebihan.


"Bodoh! Emangnya aku cewek gampangan apa sampai dibilang berlebihan, harusnya aku bunuh dia biar mulutnya bisa diem sekalian!" kata Vio dalam hati.


Selesai dengan mandi, Vio mengurung diri di lantai atas, entah sampai kapan, Vio sendiri tidak tau.


Vio yang sedang berbaring itu melihat ponselnya terus bergetar, Darren yang menghubunginya.


Vio pun menggeser tombol hijau, menerima panggilan itu.


"Halo," jawab Vio seraya menghapus air matanya, suaranya terdengar serak dan itu membuat Darren khawatir.


"Lo kenapa, Vi?" tanya Darren.


"Aku enggak papa, tolong jangan cari atau temui aku lagi!" kata Vio dan kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya. Setelah mengatakan itu, Vio segera memutuskan sambungan teleponnya.


Darren yang sudah berada di depan toko itu terus mencoba menghubungi Vio, tetapi, sekarang Vio tidak dapat dihubungi. Vio mematikan ponselnya.


"Diba...." Vio yang berbaring tengkurap itu menangis, memanggil sahabatnya, ingin bercerita, tapi malu.


Hari-hari sudah Vio lalui, ia yang masih terluka itu masih menyendiri. Dan Darren yang berkali-kali datang ke toko, selalu mendapati toko yang tutup.


"Vio kemana, ya?" tanya Darren yang menghentikan mobilnya di depan toko.


Bahkan bukan hanya Vio yang seolah hilang ditelan bumi. Darren juga kehilangan Rosi.


"Kenapa sih sama kalian!" kata Darren seraya memukul setir kemudinya.


Darren bersiap untuk pergi tetapi ia mengurungkannya, ia melihat kurir makanan berada di depan toko.


"Apa Vio ada di dalam? Terus kenapa tokonya selalu tutup? Udah banyak duit kali tuh anak!" kata Darren yang kemudian turun dari mobil.


"Pak, emangnya di dalam ada orang?" tanya Darren yang sekarang sudah ada di samping kurir.


"Ada, sebentar lagi ada tali tambang turun buat ambil makanan." Dan benar saja, tidak lama kemudian tali itu turun dan kurir mulai mengikat kantong plastik makanan Vio ke tali tersebut.

__ADS_1


"Astaga!" ucap Darren dalam hati.


Darren menatap ke atas, bahkan Vio sama sekali tidak melongokkan kepalanya di jendela.


Darren menahan tali itu dan membuat Vio yang sedang berbaring itu merasa berat untuk menarik talinya.


Terlihat pemandangan yang sangat menjijikan di kamar Vio, sampah tisu berserakan, sampah bekas makan selama beberapa hari ini masih ada di kamar, Vio belum membuangnya.


Vio bangun dari berbaringnya hanya untuk membuang air. Ia masih kehilangan semangat hidupnya.


Vio merubah posisi tidurnya menjadi duduk saat mendengar suara Darren yang berteriak memanggil namanya.


"Vio, gue tau lo di dalam, turun cepat, gue tunggu sampai lo turun!"


"Astaga, ngapain tuh anak di sini, udah aku bilang jangan cari aku!" gerutu Vio seraya menggaruk kepalanya, rambutnya tak pernah lagi ia sisir sejak hari itu.


Tak menjawab, Vio justru memutuskan talinya, lalu menutup jendela dan hanya terlihat tangan Vio yang menarik jendela itu.


Bukan hanya hidup Vio yang berubah setelah malam panas itu, tetapi juga Sam.


Sam selalu memikirkan Vio. Bahkan Sam juga sering memperhatikan toko Vio yang tutup setiap akan atau pulang bekerja.


"Kenapa gue selalu kepikiran sama dia! Mana gue lupa pakai pengaman lagi! Kalau dia hamil gimana?" tanya Sam dalam hati. Pria itu tak fokus dalam bekerjanya.


"Benar-benar, cuma dia yang bikin gue gelisah kaya gini! Kalau dia menghilang ya udah sih Sam, ngapain juga lo pikirin dia!" kata Sam dalam hati.


"Arrrggghhh!" geram Sam seraya meremas berkas penting yang seharusnya ia tanda tangani. Sam melemparkan berkas kusut itu ke arah pintu dan bertepatan dengan Dandi yang membuka pintu, Dandi menanyakan berkas tersebut.


"Ada," jawab Sam yang menyenderkan punggungnya ke kursi. Lalu, Sam menunjukkan berkas yang ada di kaki Dandi.


"Astaga, kayanya si bos lagi galau berat!" kata Dandi dalam hati.


Dan karena kertas itu kusut, Dandi harus mengulang pekerjaannya lagi. Dandi pun menarik nafas dalam.


****


Rosi sedang berbelanja dengan ibu tirinya. Dari dulu dan sampai sekarang, Rosi masih tidak dapat menerimanya.


Lalu, apa yang membuat Rosi mau pergi bersama dengannya? Rosi ingin mengalihkan pikirannya yang selalu tertuju pada Darren.

__ADS_1


Di tengah berbelanjanya, Rosi mendapatkan telepon dari Lea.


"Lo di mana?" tanya Lea.


"Gue lagi di luar kota! Kenapa?"


"Lo sengaja menghindar dari gue? Apa lo juga yang kemarin bantu Vio? Lo khianatin gue?" pertanyaan demi pertanyaan Lea lontarkan, sebenarnya Lea ingin bertanya langsung, tetapi, Lea seperti hilang ditelan bumi.


"Lo tau gue menghindar dari siapa dan gue enggak ngerti lo ngomong apa, tolong jangan bahas soal menghindar, gue mau move on!" jawab Rosi, setelah itu, Rosi kembali mematikan ponselnya.


Rosi kembali mengaktifkan nomor itu hanya untuk memeriksanya, barangkali ada pesan dari Darren.


Awalnya Rosi merasa senang karena Darren mengirim pesan, tetapi, Rosi menjadi semakin sebal pada Darren setelah membaca isi pesan itu yang menanyakan Viona.


Dan pesan itu hanya dibacanya.


****


Hari telah berganti malam, Sam yang sedang dalam perjalanan pulangnya itu harus terkejut saat ada kendaraan yang menabraknya dari belakang.


Sam melihat ke belakang melalui spion, terlihat ada mobil berwarna hitam yang sedang membuntutinya. Sam menambah kecepatan dan mobil itu tidak mau kehilangan Sam.


"Gaje banget, siapa sih!" gerutu Sam dan akhirnya terjadilah kejar-kejaran layaknya pembalap sungguhan.


Mobil mewah yang sama warna hitam itu berhasil mensejajari mobil Sam, pengemudi itu membuka kaca mobilnya, terlihat senyum smirk dari si pengemudi yang tak lain adalah pria yang hari lalu di tendang oleh Sam di basement.


"Sial, jadi dia buntutin gue!" geram Sam yang menambah kecepatan.


Merasa tak bisa terus menghindar, Sam memilih menepikan mobilnya.


Lalu, dengan gagahnya Sam turun dari mobil.


Si pengendara itu pun melakukan hal yang sama. Pria yang menyimpan dendam itu sangat ingin membuat Sam merasakan kejantanannya terluka.


"Kita udah enggak ada urusan!" kata Sam seraya menatap si pria tersebut yang mungkin usianya tidak jauh ada dibawahnya.


"Ada, lo udah bikin gue rugi!" jawabnya seraya menggulung lengan sweaternya.


Dan Sam melepaskan jasnya, melemparkannya ke sembarang arah.

__ADS_1


Bersambung.


Kali ini, dapatkah Sam mengalahkannya.


__ADS_2