
Vio menatap amplop tersebut. Dirinya tidak mungkin akan menerimanya.
"Darren, enggak usah. Serius, aku cerita itu bukan nyari belas kasihan kamu, aku enggak bisa terima ini. Ini terlalu banyak!"
Vio menatap Darren lalu meninggalkan Darren, kembali masuk ke tokonya. Dan Darren menahan tangan Vio.
"Vi, masa lo harus nyuci mobil selama empat tahun, pikirin itu, Vi!"
Mendengar itu, Vio pun berbalik badan. Dalam hatinya membenarkan ucapan Darren, tetapi, ia juga tidak bisa menerima uang itu dengan percuma.
"Aku takut enggak bisa balas kebaikan kamu, Ren! Jangan paksa aku!" kata Vio seraya melepaskan tangan Darren.
"Gini aja, anggap lo pinjam uang sama gue, lo bisa ganti kapanpun uang ini! Lo pinjem, bukan percuma, ok!" kata Darren seraya kembali menarik tangan Vio dan memberikan uang tersebut.
Vio yang memang membutuhkan uang itu menjadi dilema dan memikirkan selama empat tahun menjadi tukang cuci sangatlah lama.
"Jangan bingung, gue enggak akan nagih apapun sama lo! Lo bebas mau balikin kapanpun!" ucap Darren dengan serius, dua mata itu saling bertemu, saling menatap, dalam hati, Darren sangat mengagumi janda di depan matanya, sementara Vio, janda itu merasa heran dengan kebaikan Darren, pasalnya, keduanya baru saling mengenal.
Vio mengalihkan pandangannya, ia menatap ke bawah dan otaknya itu menyuruh untuk menerima uang tersebut dan dirinya akan mencicil dari hasil bekerjanya.
"Tapi, aku enggak rela hasil kerja ku dari toko untuk membayar hutang itu, sama aja kaya aku bayarin hutang judi Mas Surya!" Vio berbicara dalam hati.
"Udah, jangan kelamaan mikir!" kata Darren dan Darren yakin kalau Vio akan menerima uang tersebut.
Dan benar saja, Vio menerimanya, tidak ingin berurusan dengan Sam lagi dengan terus mencuci mobilnya.
"Ok, aku pinjem, nanti aku ganti, tapi... enggak bisa secepatnya, ya. Kamu tau lah, orang dagang itu kadang sepi kadang rame," kata Vio seraya tersenyum yang dipaksakan. Ia merasa malu sebenarnya untuk menerima bantuan itu.
"Gitu dong," kata Darren.
Dan tanpa Darren juga Vio ketahui, sebenarnya ada Sam yang sedang memperhatikan keduanya dari jalan. Sam yang sedang dalam perjalanan itu melihat Darren dan Vio sedang saling mendorong amplop coklat dan Sam merasa penasaran dengan isi amplop itu.
"Enggak biasanya Darren kaya gini, apa dia suka sama janda itu? Tapikan dia janda, Darren itu tampan, anak orang kaya, masa harus dapat janda!" gerutu Sam, menurutnya, Darren bisa mendapatkan gadis manapun. Sam menggelengkan kepala, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
****
Darren kembali ke rumah dengan perasaan senang karena Vio mau menerima bantuannya.
Dan di rumah itu sudah ada Rosi yang menunggu.
Di mana ada Darren, di situlah rumah ke dua bagi Rosi.
Rosi mengikuti Darren yang terus berjalan ke lantai atas, ke kamar. Dan Darren yang sudah terbiasa dengan itu tak memprotesnya.
"Ada apa?" tanya Darren dan Rosi mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Rosi ingin Darren melihat penampilan barunya, mengenakan celana jeans panjang dipadukan dengan kaos polos.
Darren membuka pintu kamarnya dan segera duduk di tepi ranjang sementara Rosi duduk di sofa.
"Nanti malam Justin adain pesta, ulang tahun Lea, lo ikut ya, kalau lo enggak ikut anterin gue ke sana, gue enggak mau datang sendiri," rengek Rosi.
Dan Darren yang sedang melepaskan sepatunya itu mengiyakan, ia berpikir kalau belakangan ini semakin sedikit memberikan waktunya untuk sahabatnya.
Rosi pun tersenyum.
"Terus?" tanya Darren dan Rosi tak mengerti maksud dari pria yang sedang menatapnya.
"Enggak ada," jawab Rosi seraya menaikan dua bahunya.
"Gue mau mandi, lo mau nunggu di sini?" tanya Darren seraya membuka kaosnya lalu melemparkannya ke Rosi, tercium aroma asam dari kaos itu.
"Darren, lo jorok banget sih. Enggak biasanya kaos lo bau gini!" protes Rosi seraya melemparkan kaos itu ke keranjang baju kotor.
"Iya udah sana, cepetan keluar!" perintah Darren seraya berjalan mendekati Rosi, ia menarik Rosi yang sedang duduk lalu mendorongnya keluar dari kamar.
Setelah mencuci mobil dan membuatnya sangat berkeringat, ia ingin segera mandi.
"Enggak kebayang, nyuci mobil selama empat tahun dan itu setiap hari," ucap Darren dalam hati, pria itu menggelengkan kepala.
****
Adiba melihat Vio lah yang menghubungi.
"Tumben tuh anak!" kata Adiba seraya menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hmm, ada apa, Vi?" tanya Adiba dengan suara khas baru bangun tidurnya.
"Kamu baru bangun, Ba?" tanya Vio.
"Iya, begadang semalam."
"Kebiasaan kamu! Kalau mau ketemu hari libur pasti begadang!"
"Hehe, Maraton! Btw ada apa? tumben kamu telepon aku."
"Kamu punya nomer teleponnya Pak Sam, enggak?"
"Ada, mau buat apa?" tanya Adiba yang kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
Ini adalah pertama kalinya Vio meminta nomor ponsel seorang pria dan itu membuat Adiba bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ada, pentinglah pokoknya!"
"Ok," jawab Adiba yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Lalu, Adiba segera mengirim nomor ponsel Sam. Setelah itu, Adiba kembali melanjutkan tidurnya.
****
Sam yang sedang bertemu dengan koleganya di sebuah kafe itu menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Sam pun segera membuka isi pesan itu. "Pak, saya mau mengembalikan uang yang Bapak pinjamkan, Vio."
"Oh, dari Vio." Setelah mengetahui pesan itu dari Vio, Sam pun membalas, ia mengirim lokasi dimana dirinya berada dan Vio segera menyusul.
Lalu, Sam kembali fokus ke koleganya yang meminta menjodohkan anak-anak, anak koleganya itu jatuh hati pada Darren saat di pemakaman Sarifah.
"Begini, sepertinya Darren sudah ada pacar. Dan saya tidak mau menjodohkan anak karena bisnis atau untuk bisnis," jawab Sam seraya menatapnya.
"Saya tidak ingin melukai perasaan anak-anak dengan keinginan kita, semoga anda mengerti," kata Sam dan Sam merasa kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Koleganya itu merasa malu karena dirinya dari pihak wanita yang meminta lebih dulu, namun penolakan yang di dapat. Setelah itu, kolega Sam pun berdiri dari duduk.
"Kalau begitu saya permisi," katanya seraya mengulurkan tangan dan Sam yang ikut berdiri itu membalasnya.
Sam kembali duduk, ia memainkan ponselnya seraya menunggu Vio. Dari grup chatnya, Sam membaca isi chat itu dan ternyata akan ada reuni dari sekolahnya dulu.
"Wah, bakalan seru nih, pasti mereka udah pada jadi kakek dan nenek, gue harus dateng!" kata Sam seraya tersenyum, ia terkekeh membayangkan teman satu gengnya itu ada membawa cucu untuk dipamerkan.
Disaat Sam sedang senyum-senyum sendiri, ada seorang yang membuyarkan bayangannya. Ia adalah Vio.
"Permisi, Pak. Boleh saya duduk?" tanya Vio.
"Eh elo, silahkan!" kata Sam seraya mempersilahkan.
"Ada apa?" tanya Sam seraya menatap Vio.
Vio tersenyum kaku, ia mendapatkan uang dari anaknya untuk membayar hutang ke bapaknya.
Sam menjentikkan jarinya di depan wajah Vio dan itu membuat Vio tersadar.
"Begini, langsung saja, saya mau mengembalikan uang yang malam itu bapak pinjamkan," kata Vio seraya mengulurkan tangannya, memberikan amplop coklat yang berisi uang.
Melihat amplop itu membuat Sam teringat dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Oh, jadi gini cara lo?" tanya Sam dan Vio merasa bingung, ia tidak mengerti apa maksud dari lelaki itu.
Bersambung.
__ADS_1