
Di perjalanan, Vio merasa canggung karena tadi sempat menggoda suaminya dan sekarang, Sam tak berhenti tersenyum.
"Vi," lirih Sam yang memanggil istrinya.
"Iya," jawab Vio seraya menatap Sam.
"Berarti kamu udah sayang dong sama aku?" tanya Sam dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Maksudnya?" Vio tak mengerti maksud dari Sam dan Sam harus menjelaskan semua dengan jelas.
"Malam itu, katanya, kalau udah sayang baru bisa manggil sayang, kan?" tanya Sam dan Sam tersenyum, sekilas ia menatap Viona yang merona.
"Kenapa diam?" tanya Sam dan tidak lama kemudian, sekarang, Sam dan Vio sudah sampai di rumah sakit tujuannya.
Sebelum turun dari mobil, Sam benar-benar ingin memastikannya lagi. Ia kembali bertanya, "Kenapa enggak jawab?"
"Vio takut kalau semua terlalu cepat, bahkan perkenalan kita pun singkat," jawab Vio seraya menatap Sam yang sedang fokus memarkirkan mobilnya.
"Tidak apa, lagi pula kita sudah sah, lalu apa lagi? Sudah seharusnya, kan. Kita menjalani rumah tangga layaknya suami dan istri sungguhan?" kata Sam dan ia pun menatap Vio.
"Bapak benar, mungkin Bapak adalah takdir ku, dari awal bertemu, Bapak selalu nyebelin dan Vio enggak nyangka kalau akan menikah sama Bapak," kata Vio dan Sam menarik nafas saat mendengar Vio yang mengatakan kalau dirinya menyebalkan.
"Jadi, apa kita akan berusaha untuk saling menyayangi?" tanya Vio pada Sam dan Sam pun menganggukkan kepala.
"Ya," jawab Sam singkat dan sebelum turun dari mobil, Sam memajukan wajahnya, ia mengecup kening Vio dan Vio yang memejamkan mata itu menemukan kedamaian dalam dekapan Sam.
"Belum pernah aku merasakan damai seperti ini," batin Vio.
Setelah itu, keduanya pun turun dari mobil, Sam menggandeng tangan istrinya dan setelah bertemu dengan Dandi Sam tetap meminta Dandi yang mengurus segala keperluannya.
"Kamu lagi hamil, enggak seharusnya kamu ikut ke pemakaman!" kata Sam dan Vio pun membenarkan ucapan suaminya.
"Aku enggak mau terjadi sesuatu dengan anakku!" kata Sam seraya mengusap perut Vio yang masih rata.
"Semoga kamu mengerti maksud aku!" kata Sam dan Vio hanya menganggukkan kepala.
"Mumpung di rumah sakit, gimana kalau kita sekalian periksa kehamilan?" tanya Sam seraya menatap Vio yang juga menatapnya.
Vio hanya bisa menganggukkan kepala, saat ini, ia merasa ingin menangis. Menangis bahagia.
Sam dan Vio pun segera pergi meninggalkan Dandi yang sedari tadi memperhatikan kebucinan Tuannya.
"Alhamdulillah, Tuan udah punya istri, jadi enggak mungkin minta carikan wanita lagi," ucap Dandi dalam hati.
****
Sam yang sedang menggandeng tangan Vio itu bertanya, "Apa ini kehamilan pertama kamu?"
__ADS_1
"Iya," jawab Vio seraya mengangguk.
"Memangnya, mantan suami kamu enggak tokcer apa?" tanya Sam yang merasa heran.
Baru sekali melakukan itu dengan Sam dan benih itu langsung jadi.
"Dia enggak mau punya anak, jadi dia kb," jawab Vio dan terjawab sudah rasa penasaran Sam.
****
Di rumah Rossi.
Darren yang sedang mengerjakan tugas itu menanyakan alasan Lea yang memarahinya.
"Bukan apa-apa, itu urusan perempuan, tapi setelah kejadian itu, gue enggak mau lagi dekat sama dia!" kata Rossi seraya tetap fokus pada laptopnya.
"Aneh, ada apa, sih. Kayanya penting banget sampai segitunya lo!" Darren semakin penasaran.
Dan Rossi yang sedang memangku laptopnya itu menatap Darren. "Dia bukan perempuan baik-baik!"
"Tau dari mana, lo? Kita semua kenal udah lama, dari sama-sama pertama masuk kuliah."
"Gue udah liat dia yang sebenarnya, jadi tolong, enggak usah nanyain tentang dia lagi!" tegas Rossi seraya menatap Darren.
"Serius banget, bahas apa?" tanya Sarah yang datang dengan membawakan minuman segar berwarna merah.
"Hmmm, segerrr!" kata Rossi seraya kembali meletakkan gelas itu ke meja.
Selagi keduanya mengerjakan tugas, Sarah hanya menonton televisi di ruang tengah.
Dan selesai dengan mengerjakan tugas, Darren pun pamit, Rossi mengantarkan Darren sampai ke depan pagar dan saat itu juga keduanya bertemu dengan Sam dan Vio yang baru saja kembali dari rumah sakit.
Sam merasa senang melihat Darren baik-baik saja. Ia pun segera turun dari mobilnya untuk menyapa anaknya.
"Darren!" Sam yang baru keluar dari mobilnya itu memanggil.
Darren hanya diam saja, justru Darren melihat ke dalam mobil Sam, menatap Vio yang juga menatapnya.
"Darren, Papi rasa kita harus berdamai, kamu masih muda, Papi yakin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik buat kamu!" kata Sam seraya memeluk Darren yang diam saja.
"Iya, doakan saja. Doakan Darren supaya bisa kembali merasakan cinta!" jawab Darren seraya melepaskan pelukan Sam.
Sam sendiri mengerti dengan maksud ucapan Darren yang sebenarnya masih merajuk.
Sam pun menepuk bahu putranya, sedangkan Sam tidak mungkin membawa Darren pulang ke rumah, Sam tak ingin semakin menambah luka hati putranya dengan menyaksikan rumah tangganya sudah berjalan dengan baik.
Darren pun menganggukkan kepala lalu pamit pada Sam, Rossi dan juga Sarah yang berdiri di pintu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Darren yang kemudian masuk ke mobilnya. Darren pergi tanpa melihat Vio sama sekali.
"Aku harus melupakan dia!" kata Darren dalam hati.
"Semangat, Ren. Ada aku di sisi kamu!" Rossi mengirim pesan pada Darren dan Darren yang sedang mengemudi itu belum sempat membuka pesan dari Rossi.
****
Di dalam rumah, Sam yang melepaskan jasnya itu menanyakan sesuatu pada Vio.
"Kamu tau kalau Darren suka kamu?" tanya Sam tanpa melihat Vio.
"Awalnya enggak, tapi... aku tau setelah dia mengantarkan aku ke rumah sakit waktu itu," jawab Vio seraya duduk di sofa ruang tengah.
Vio melepaskan jaket jeansnya dan menyisakan kaos pendek tanpa lengan.
"Kamu sengaja menggodaku?" tanya Sam seraya menatap Vio yang terlihat seksi.
"Kamunya aja gampang tergoda! Tapi awas, jangan sampai kamu tergoda Sam cewek di luar!" ancam Vio seraya menatap tajam Sam.
"Kalau kamu rajin kasih jatah, aku akan setia!" jawab Sam seraya mengerlingkan mata dan itu membuat Vio tersenyum.
"Sekarang, aku yang mau tanya," kata Vio seraya menatap Sam.
"Apa?"
"Mas tau kalau Darren suka aku?" tanya Vio dengan masih menatap Sam.
Sam menggaruk kepalanya.
"Teganya, padahal Mas tau anak sendiri suka tapi masih aja diembat juga," kata Vio dan Sam kembali menyalahkan Vio.
"Salah kamu, tapi aku tetap berterimakasih, karena itu, sekarang kamu jadi milikku!" Sam bangun dari duduk. Ia ke kamar dan Vio mengikutinya dari belakang.
Vio tidak menyangka kalau dirinya selatan diperebutkan oleh ayah dan anak.
"Jangan bilang, Mas suka aku dari lama?" tanya Vio dan Sam pun berbalik badan, menurutnya sudah tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
Dan Sam mengakui kalau dia memang menyukai Vio, tetapi, sebelumnya, ia sempat merasa kalau dirinya harus mengalah dengan putranya.
Dan perasaan Sam sudah tidak dapat ia tahan lagi saat keduanya sudah melakukan itu.
Vio terdiam mendengar pengakuan itu.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
__ADS_1