ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Mencari Jawaban


__ADS_3

Menepi, Darren menepikan mobilnya setelah mendengar apa yang Vio katakan, Darren merasa bersalah, ia yakin dapat menjaga diri dan Vio, tetapi, kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diyakini.


"Jangan bilang lo enggak tau siapa Bapak anak itu!" Darren masih menatap lurus ke depan.


"Ini juga salah kamu! Kalau kamu enggak ngajak aku, enggak akan kejadian kaya gini!" kata Vio seraya menatap Darren.


"Ok, saling menyalahkan enggak ada gunanya sekarang! Aku cuma mau tau siapa ayah anak itu!" Darren yang tersulut emosi itu berbicara dengan nada tinggi seraya menunjuk perut Vio.


Vio memalingkan wajahnya. Ia merasa malu atas kejadian itu apalagi sekarang membuahkan hasil yang tak diinginkan.


"Jawab, Vi!" kata Darren seraya menarik bahu Vio supaya wanita itu kembali menatapnya.


"Untungnya apa? Untungnya apa kalau kamu tau? Ingat Darren, kamu bukan siapa-siapa aku! Jadi... terimakasih atas perhatian kamu selama ini!" jawab Vio, gadis yang tengah depresi dengan hidupnya itu menjawab dengan sedikit berteriak.


"Karena gue suka lo, Vi! Gue jatuh cinta sama lo!" jawab Darren seraya menunjuk wajah Vio dan Vio yang semula menatap Darren itu memalingkan wajahnya.


"Aku hamil adik kamu, Ren! Dan kamu menyatakan cinta!" kata Vio dalam hati.


Tak ingin lagi membahas masalah itu, Vio pun meminta Darren untuk membuka pintu mobilnya.


"Buka, Ren! Buka... aku mau keluar!" ucap Vio seraya menangis dan Darren menyadari kalau dirinya sudah membuat Vio merasa tidak nyaman.


Darren pun menjatuhkan kepalanya di atas tangannya yang sedang berada di setir kemudi.


Sementara Vio, ia terus berusaha membuka pintu yang terkunci, walau ia tau apa yang dilakukannya itu tak akan membuat pintu itu terbuka, tetapi Vio tetap melakukannya, ia hanya mencoba meluapkan amarahnya.


Darren mengangkat kepalanya, menghapus air mata kesedihannya, lalu Darren meminta maaf pada vio.


"Mungkin gue udah bikin lo takut atau enggak nyaman, gue minta maaf!" kata Darren yang kemudian melanjutkan perjalanannya.


Dengan santai, Darren bertanya, "Mau kemana? Biar gue antar!"


"Pulang!" jawab Vio, ia masih tak mau menatap Darren.


Dan Darren pun mengantarkan Vio ke tokonya. Sesampainya di toko, Darren masih membujuk Vio untuk bercerita.


"Vi, cerita sama gue, siapa tau gue bisa bantu lo! Gue tau ini berat buat lo karena hamil tanpa suami!" Darren berbicara seraya menatap Vio.


"Enggak ada yang bisa kamu lakuin buat aku, Ren!" jawab Vio seraya menghapus air matanya.


Ya, Vio yang hamil tanpa suami itu tak berhenti menangis, ia bingung tak tau harus apa.

__ADS_1


Darren merasa sebal karena Vio sama sekali tak mau bercerita, akhirnya Darren yang tak ingin membuang waktu itu pun membukakan pintu untuk Vio.


"Terimakasih," ucap Vio seraya membuka pintu, Vio berjalan dengan lemasnya, ia pun segera membuka pintu toko, wanita yang berpenampilan sederhana dengan celana jeans panjang dipadukan dengan sweater hoodie itu masuk tanpa melihat Darren yang masih terus memperhatikannya.


Hatinya mengatakan kalau ia harus menemui Sam lalu mencari tau, Darren menganggap kalau Sam sangat mencurigakan dengan membayarkan hutang Vio.


"Apa mungkin Vio lakuin itu buat lunasin hutang?" tanya Darren dalam hati.


Darren mulai memarkirkan mobilnya lalu melajukannya dengan perlahan, ia menuju kantor Vio, Darren yang sedang mengemudi itu mengambil ponselnya di saku celana, ia menghubungi Akmal.


"Halo, gue titip absen!" kata Darren yang tak menunggu jawaban dari Akmal, setelah itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


****


Di balik pintu toko, ada Vio yang sedang berjongkok, menangis dengan menggigit lengan sweaternya. Wanita itu menangis dalam diam.


Ingin berteriak tetapi tertahan, Vio yang selama ini selalu berpikiran pendek itu kembali berpikir untuk mengakhiri hidupnya.


Dalam hati, Vio berharap kalau usahanya kali ini tidak gagal seperti yang sudah-sudah.


Vio mulai melihat pintu kamar mandi dan ia mengambil tali, hanya ada tali rafia di lantai bawah, Vio pun mengikat tali itu di pintu kamar mandi lalu mengikatkan tali tersebut ke lehernya.


Tetapi, usahanya kali ini kembali gagal karena tali itu terputus hanya membuat luka kecil di leher Vio.


Tak menyerah, Vio teringat dengan tali tambang yang ada di kamarnya. Vio pun segera mengambil tali itu, di lantai atas, Vio yang sudah menggenggam tali itu berpikir ulang, baru saja menggunakan tali rafia dan itu cukup membuatnya sakit.


Vio yang menggenggam tali itu berjongkok. Menekuk lutut, menangis dan menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya.


"Ibu...," lirih Vio dalam hati.


Sementara Vio menangis sendiri, di tempat lain ada Darren yang sedang mengamuk.


Darren ada di kantor Sam, ia menyibak semua benda yang ada di atas meja kerja Sam.


"Pi! Darren yakin kalau Papi nyembunyiin sesuatu dari Darren! Ngaku, Pi!" teriak Darren dan Sam yang berdiri di depan kursinya itu memijit kepalanya.


"Dia belum tau yang sebenarnya aja udah ngamuk gini, gimana tau kalau gue udah nidurin tuh cewek!" batin Sam yang sedang kebingungan menghadapi amarah anaknya.


Brak! Darren menggebrak meja dan itu membuat Sam sedikit terkejut.


"Iya, jawaban apa yang kamu mau?" tanya Sam seraya menatap Darren.

__ADS_1


"Papi tau kalau Vio hamil?" tanya Darren yang meletakkan dua tangannya di meja, matanya menatap tajam pada papinya yang juga menatapnya.


Mendengar itu, Sam terdiam.


"Jawab, Pi!" tanya Darren dengan nada sedikit tinggi.


Sam yang memang bersalah itu masih tidak dapat menjawab.


Darren pun menatap menyelidik.


'Kenapa? Kenapa papi enggak bisa jawab? Jangan bilang kalau anak yang Vio kandung itu adik Darren, Pi!" tanya Darren yang menatap Sam datar.


"Papi cuma sekali melakukan itu, kemungkinan papi menghamilinya itu kecil, bisa jadi dia ngelakuin sama pria lain, kan!" Sam masih berusaha mengelak.


Mendengar itu, seolah membuat jantung Darren berhenti berdetak. Darren juga semakin kecewa pada papinya yang seolah menganggap Vio adalah wanita gampangan.


Darren terpukul, merasa kalau papinya telah menusuk dari belakang.


Darren menundukkan kepalanya, perasaannya kini sudah tidak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Matanya yang memerah karena menahan tangis dan amarah itu kembali menatap Sam yang juga masih menatapnya, Darren ingin sekali mengumpat, menghajar memberinya pelajaran, tetapi, Darren tidak mungkin melakukan itu pada papinya sendiri. Darren yang putus asa itu sedikit mengungkapkan isi hatinya.


"Papi tau, kan. Betapa Darren suka sama Vio!"


"Iya, Papi tau, Papi minta maaf!" kata Sam seraya berjalan mendekati Darren.


"Berhenti di sana, Darren benci papi!" ucap Darren seraya mundur satu langkah.


"Papi harus gimana, biar kamu maafin Papi?" tanya Sam, ia berharap anaknya akan memaafkannya.


"Papi masih nanya?"


Dan saking kesalnya, Darren yang takut lepas kendali memilih untuk pergi dan Darren melampiaskannya dengan membanting pintu sangat keras.


Sam hanya bisa menutup mata saat mendengar suara keras pintu itu.


Terlihat, semua benda yang awalnya ada di atas meja sudah berpindah tempat menjadi di lantai.


Sam menghubungi Dandi. Setelah Dandi datang, Sam menyuruhnya untuk membereskan ruangan. Dan Sam keluar entah Sam akan pergi kemana.


Bersambung.

__ADS_1


Like dan komen ya, all.


Mohon maaf banyak typo 😁✌


__ADS_2