
Selesai dengan bekerja, sekarang, Sam sudah dalam perjalanan pulang. Tanpa sadar, Sam mengendarai mobilnya itu ke arah toko Vio.
"Astaga, ngapain gue jemput dia, biarlah dia pulang sendiri, biasanya juga mandiri, kan!" kata Sam seraya memutar balik mobilnya dan Sam kembali mengusap dadanya yang ternyata baik-baik saja.
"Tapi kenapa suka deg-degan, apa gue jatuh cinta sama tuh anak?" gumam Sam seraya membayangkan Vio.
Tak terasa, sekarang, Sam sudah berada di rumah. Ia segera membersihkan tubuhnya.
Sementara itu, dari kejauhan, Darren masih memperhatikan Vio, dari kaca tokonya terlihat kalau Vio yang duduk di kursi kasir itu masih sibuk.
"Udah jam segini, kok papi biarin istrinya masih kerja aja!" gerutu Darren yang kemudian melanjutkan perjalanannya.
Baginya, sudah ada tidak alasan untuk menemui Vio lagi.
****
Di rumah Papa Rosi.
Keluarga kecil itu sedang berkumpul di meja makan.
"Ros. Kapan kamu pulang?" tanya Papa Rosi seraya menatap anak gadisnya.
"Kenapa? Papa enggak suka liat Rossi ada di sini?" tanya Rossi seraya menatap Papanya. Rossi meletakkan sendok dan garpu yang tadi pegangnya.
Sedikit sakit saat mendengar pertanyaan itu.
"Atau Mama yang enggak suka ada Ros di sini?" tanya Rossi seraya beralih menatap istri baru Papahnya.
Karena pertanyaan itu tidak benar, Papa Rossi pun menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
"Bukan itu maksud Papa. Papa enggak mau Mamah kamu sedih karena kamu terlalu lama di sini, semoga kamu ngerti maksud Papa!"
Rossi hanya mendengarkan dan dia menatap ke ponselnya berada di samping piring.
Ponsel itu bergetar, ada pesan maksud dari Sarah. Rossi segera membuka pesan itu.
"Mamah kangen, kapan kamu pulang?"
Membaca itu, Rossi menarik nafas dalam.
"Rossi ingin tinggal di sini," ucap Rossi dan tentu saja, Papahnya itu sangat tidak setuju, baginya cukup telah melukai hati istrinya dulu dengan membagi cintanya.
"Ros, cukup Papa saja yang melukai hati mama kamu," ucap Papa Rossi seraya menggenggam tangan putrinya.
Percakapan mereka, seolah menyudutkan mama baru Rossi. Wanita yang sedari tadi diam itu pun bangun dari duduknya.
__ADS_1
Rossi dan Papanya itu hanya memperhatikan. Dalam hati, Rossi membenarkan ucapan Papanya.
"Baiklah, Rossi akan pulang!" kata Rossi yang kemudian bangun juga dari duduk. Sekarang, tertinggal Papa Rossi sendiri di kursi meja makan, ia pun menarik nafas dalam.
****
Sam melihat jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 20.00 wib dan Viona juga belum kembali pulang.
"Apa kurang duit yang gue kasih? Kerja kok sampai malam gini!" gerutu Sam seraya mondar mandir di depan televisi kamarnya.
Sam memutuskan untuk menjemput, ia merasa khawatir dengan kehamilan Viona. Baru saja Sam keluar dari kamar, ia sudah mendengar suara Viona yang sedang berbicara dengan bibi.
Sam pun menunggu di lantai atas dan begitu Vio sudah ada di depannya, Sam bertanya, "Kenapa sampai malam?"
"Toko lagi ramai," jawab Viona singkat, ia menatap Sam yang juga menatapnya.
"Jangan liatin aku kaya gitu!" protes Viona, setelah itu, Vio meminta jalan pada Sam.
"Kenapa?" jawab Sam yang semakin tak mau memberikan jalan.
"Nanti Bapak naksir sama aku!" kata Viona dengan pedenya.
Vio pun menerobos begitu saja dan Sam mengikutinya.
"Kenapa Bapak ngikutin aku?" tanya Vio yang menghentikan langkah kakinya, ia berbalik badan dan Sam menjawab dengan senyum.
"Perjanjian yang mana? Bukannya cuma aku doang yang bikin?" tanya Vio seraya membuka pintu kamar.
"Aku udah nurutin semua mau kamu termasuk hak kamu sebagai istri!" kata Sam dan Viona mengerti kemana arah pembicaraan itu akan menjurus.
"Terus?" tanya Vio yang sudah masuk ke kamar dan Sam masih berdiri di tengah pintu.
"Kamu enggak boleh nolak apapun yang aku minta!" kata Sam dengan senyum, senyum merekah karena dia akan meminta haknya malam ini juga pada Vio.
Setelah berpikir, untuk apa Sam menafkahi Vio sekian banyaknya, bahkan Sam yakin kalau Vio sendiri tidak pernah dinafkahi sebanyak itu oleh mantan suaminya itu.
"Apa, ya. Aku enggak ngerti maksud Bapak," kata Vio yang berpura-pura polos, wanita itu menggaruk tengkuknya dengan sedikit tersenyum malu seraya menatap Sam.
Melihat itu, bagi Sam adalah lampu hijau dan sekarang, Sam menutup pintu kamar Vio dan tidak lupa menguncinya.
"Aku meminta hak ku!" kata Sam seraya berjalan mendekat dan Vio masih malu-malu kucing itu mencari alasan.
"Ta-tapi, aku belum mandi, aku masih asem!" kata Vio seraya mengambil handuknya di lemari.
Secepatnya, Vio masuk ke kamar mandi dan Vio berdiri di balik pintu, ia merasa gugup setelah dengan terang-terangan Sama meminta haknya.
__ADS_1
"Ini kan bukan yang pertama, kok aku gerogi gini, lagian kan aku udah mandi di toko, ngapain aku mandi lagi! Astaga!" kata Vio seraya menepuk dahinya sendiri.
"Aku yakin, aki-aki itu nunggu di sana, lagian, dia udah menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik, aku enggak boleh egois!" kata Vio yang kemudian kembali membuka pintu dan benar saja, Sam sedang duduk dengan kaki yang disilangkan. Tangannya memainkan ponsel dan saat mendengar suara pintu terbuka, Sam pun melihat ke arah Vio berdiri.
"Loh, enggak jadi mandi?" tanya Sam seraya meletakkan ponselnya di meja.
"Sebenernya aku udah mandi," jawab Vio seraya duduk di bibir ranjang.
"Aku... sebenernya agak gugup aja," kata Vio melipat handuk yang dipegangnya.
Dan Vio semakin gugup saat mengetahui kalau Sam sudah duduk di sampingnya.
"Sama, aku juga merasa gugup, apa perasaan kita sama?" tanya Sam seraya menatap Vio.
"Perasaan apa? Kita baru kenal dan menikah pun karena kecelakaan, bagaimana ada perasaan," tanya Vio seraya menatap Sam.
"Entah, apapun itu aku tetap pria normal, dan lihat!" kata Sam seraya menunjuk pangkalnya yang sudah berdiri tegak.
Dengan reflek, Vio menutupi pangkal itu menggunakan handuk yang dipegangnya.
"Astaga, buat apa ditutup, harusnya di buka, biar dia lepas!" kata Sam seraya menyingkirkan handuknya. Secepatnya, Sam membuat Vio berada di bawahnya.
Kedua mata itu saling menatap, melihat Vio yang tak memberontak, Sam pun memulai dengan aksinya.
****
Di puncak, Rossi yang mengatakan kalau dirinya akan pulang itu ternyata tidak.
Gadis itu berhenti di tempat wisata dan di sana Rossi seperti orang hilang, bingung sendiri melihat semua orang pergi berpasangan.
Di tengah kebingungannya, Rossi masih tetap memikirkan Darren.
"Coba lo di sini, Ren!" kata Rossi seraya menatap langit yang terhiasi bintang.
Di tempat lain, Darren sendiri merasa rindu pada Rossi. Pria itu pergi ke rumah sahabatnya. Di sana, Sarah mengatakan kalau Rossi sedang dalam perjalanan pulang.
"Memangnya, dia di mana, Tan?" tanya Darren dan Sarah menjawab kalau Rossi sedang bersama papanya di bogor.
"Iya sudah, kalau begitu... Darren pamit dulu, maaf sudah mengganggu," kata Darren seraya bangun dari duduknya.
"Enggak apa," jawab Sarah yang juga bangun dari duduk.
Darren yang sekarang sudah di luar rumah itu menatap rumah Sam, ia yang masih kesal dengan Sam itu pergi begitu saja.
Bersambung.
__ADS_1
Like dan komen, ya.