ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Rossi Dalam Bahaya


__ADS_3

Setibanya di rumah Sarifah, Darren yang baru saja turun dari mobilnya itu membuka pesan dari Rossi.


Darren tersenyum saat membaca pesan itu.


"Ros, kayanya... kalau lo punya pacar, gue bakal cemburu!" kata Darren seraya berjalan masuk ke rumah dengan tangan yang kembali memasukkan ponsel itu ke saku celana jeansnya.


Sadarkah Darren, kalau ia sendiri merasa nyaman dengan sahabatnya itu?


Setelah Rossi selalu ada juga menyemangati, sekarang, hubungan Darren dengan Rossi semakin lengket, dimana ada Darren di situ ada Rossi.


Lima bulan berlalu, sekarang, Rossi yang sedang dijebak oleh Lea itu sedang terikat di dalam kamar hotel.


Lea menutup mulut Rossi menggunakan lakban.


Rossi hanya bisa mengumpat dengan tidak jelas saat mulutnya tertutup lakban.


"Percuma, percuma lo mengumpat! Gue udah nunggu lama untuk ini!" kata Lea yang berbicara tepat di depan wajah Rossi.


Rossi yang menyesal karena sempat mempercayai ucapan Lea yang ingin meminta maaf itu sudah tiada arti lagi, Rossi menangis dengan memanggil nama sahabatnya, "Darren!"


Ucapan Rossi memang tidak jelas, tetapi, Lea mengerti apa yang diucapkan oleh mantan sahabatnya itu.


"Percuma lo panggilin dia, dia enggak akan dengar!" kata Lea seraya menarik sedikit rambut Rossi.


"Kenapa? Kenapa lo lakuin ini!" teriak Rossi dengan air mata yang menetes.


Dan Lea pun membuka lakban hitam yang berada di mulut Rossi.


"Karena lo, Rossi! Lo bebasin cewek itu dan lo tau! Gue harus nanggung semua akibatnya! Gue menggantikan cewek itu dan setelah Jastin tau, dia mencampakkan gue! Ini semua gara-gara lo!" bentak Lea tepat di depan wajah Rossi.


"Perempuan ular! Itu salah lo sendiri! Seandainya lo enggak jadi mucikari, lo enggak bakal ngalamin yang kaya gitu! Gue juga tau, banyak cewek kampus yang lo jual, kan!" bentak Rossi di depan wajah Lea.


Lea bangun dari duduknya, ia tertawa terbahak, "Hahahahaaa! Gue? Jual mereka? Enggak salah? Mereka yang minta gue jual karena uang!" jawab Lea seraya kembali duduk dan Rossi yang sudah sangat jengkel itu menendang bokong Lea menggunakan dua kakinya yang terikat.


"Lo pikir tendangan lo ada rasa?" tanya Lea seraya menarik rambut Rossi dan Rossi yang menatap benci pada mantan sahabatnya itu meludahi wajah manis Lea yang berhati iblis.


Plak! Lea menampar Rossi sehingga pipi Rossi memerah.


"Tunggu! Gue pastiin lo menyesal dan merasa enggak akan pantas buat Darren! Gue akan rebut Darren dari sisi lo!" kata Rossi seraya menoyor kepala Rossi.

__ADS_1


Sesak, Rossi merasa sesak saat mendengar ancaman itu, sudah susah payah dirinya membuat Darren kembali nyaman setelah merasa sakit hati dari Vio dan sekarang, Lea akan menghancurkannya.


Rossi menggelengkan kepala.


"Jangan, Le! Lo tau kalau Darren hidup gue!" teriak Rossi pada Lea yang menertawakannya.


Lea mengambil rokok miliknya di atas nakas, rokok itu bersebelahan dengan ponsel milik Rossi yang terus berdering.


Setelah menyulut rokoknya, Lea memperlihatkan pada Rossi kalau Darren selalu menghubunginya.


"Tunggu beberapa jam lagi, para lelaki yang akan buat lo merasakan kenikmatan segera datang! Sekarang... lo siap-siap aja dulu!" kata Lea seraya mengambil jaketnya dan sekarang ,Lea keluar dari kamar tersebut.


Dan saat itu juga, ada Vio yang sedang menemani Adiba melihat Lea yang keluar sendiri.


"Loh, perasaan... tadi aku liat dia bareng Rossi," gumam Vio yang perutnya sudah membuncit.


Vio dan Adiba sedang membuat janji pernikahan di hotel yang sama. Ya, Adiba telah menemukan jodohnya yaitu manager di tempatnya bekerja.


"Kenapa, Vi?" tanya Adiba seraya ikut melihat ke arah Vio menatap.


Terlihat, gadis yang menggunakan rok mini dengan atasan jaket kulit hitam itu berjalan dengan tersenyum-senyum seraya menghisap rokoknya.


"Tadi dia sama Rossi, anak tetangga aku, Ba. Tapi kok sekarang dia sendiri, di hotel lagi!" kata Vio, entah mengapa dia merasa khawatir dengan Rossi yang sekarang juga menjadi teman baiknya.


"Udahlah, Vi. Lagian cewek nginap di hotel udah pasti bukan cewek baik-baik, pasti mereka itu yang suka nyari kesenangan!" kata Adiba.


Dan setelah mendengar itu, Vio pun semakin merasa curiga.


"Tapi, Rossi bukan cewek kaya gitu, Ba. Dia itu baik!" kata Vio yang masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Lea sampai tak terlihat lagi.


"Kamu kan tau cuma luarnya aja, kita enggak tau gimana hati orang, Vi!" kata Adiba dan Vio tetap percaya Rossi.


"Aku percaya Rossi!" kata Vio seraya menatap Adiba.


Lalu, wanita yang memakai dress hamilnya itu berjalan ke arah kamar-kamar berjejer. Ia sendiri tidak yakin apakah Rossi masih berada di hotel yang sama atau tidak. Untuk memastikan, Vio pun menghubungi Darren yang sedang berlari di treadmillnya.


"Kenapa?" tanya Darren pada Vio.


Darren sendiri sampai saat ini masih bingung harus memanggil Vio dengan sebutan apa.

__ADS_1


Memanggilnya Bunda, bagi Darren terlalu muda, memanggilnya Mama pun Darren merasa aneh. Dan sampai saat ini, akhirnya Darren menggunakan kata aku dan kamu saat berbicara dengan Vio.


"Kamu tau Rossi di mana?" tanya Vio yang sedang berdiri di lorong. Sementara Adiba, ia dibawa oleh pihak hotel untuk melihat-lihat aula.


"Enggak, dari tadi aku hubungi dia enggak ada jawaban," kata Darren dari sambungan teleponnya.


"Oh gitu," kata Vio dan Darren menanyakan apa yang membuat Vio menanyakan Rossi.


"Tadi aku sempat lihat Rossi sama teman perempuannya yang berambut pendek, pakaiannya seksi gitu, keduanya di hotel, tapi sekarang aku udah enggak lihat Rossi lagi, perempuan itu keluar sendirian." Vio menjelaskan sejelas-jelasnya.


"Di hotel, ngapain?" tanya Darren dan Darren sempat berpikiran negatif pada Rossi.


"Masa Rossi cewek kaya gitu!" kata Darren dalam hati.


"Ren, aku lagi nemenin Adiba, udah dulu, ya." Vio pun memutuskan sambungan teleponnya dan Darren yang sedang bingung dengan nama hotel tersebut pun mendapatkan pesan dari Vio yang mengirim alamat hotel tersebut.


****


Sementara itu, Rossi yang menangis sedang berpikir untuk menyelamatkan diri.


Rossi yang terikat tangan dan kakinya itu mencoba turun dari ranjang dan Rossi sempat terjatuh berguling-guling.


Rossi merasakan sakit di antara dua lengannya dan Rossi menepiskan rasa sakit itu, Rossi mencoba untuk mengambil ponselnya menggunakan kakinya yang ia angkat sampai ke atas nakas. Rossi berhasil membuat ponselnya jatuh dan Rossi membutuhkan perjuangan untuk membuka layar ponselnya dengan cara memutar balikkan badannya, tanpa melihat karena tangan Rossi terikat di balik badan.


Rossi membuka ponselnya menggunakan sidik jari dan setelah terbuka, Rossi kembali memutar tubuhnya, Rossi memainkan ponselnya menggunakan jempol kakinya.


Rossi yang berhasil menghubungi Darren itu mengatakan sesuatu yang sebenarnya meminta tolong, tetapi, karena mulutnya sudah kembali dilakban itu hanya bisa berteriak tidak jelas.


Rossi berharap kalau Darren dapat mengerti bahwa dirinya sedang dalam bahaya.


Darren yang mendengar suara Rossi tidak jelas itu pun menjadi khawatir.


Bersambung.


Dapatkah Darren menyelamatkan Rossi?


Jangan lupa like dan komen ya, all.


Terimakasih, maafkan untuk typonya, ya🙏

__ADS_1


__ADS_2