
"Iya udah, aku permisi dulu," kata Vio yang kemudian berbalik badan dan Vio mendapatkan protes dari Rosi.
"Pintunya di sebelah sana!" Kata Rosi seraya menunjuk pintu pagar yang masih terbuka.
"Sebentar, mau ngisi absen dulu," jawab Vio seraya menunjuk garasi.
Vio berjalan cepat seraya merogoh tas selempangnya, ia mengambil pulpen untuk mengisi tanda X di tanggal ia bolos mencuci mobil.
Setelah itu, Vio benar-benar pamit pada Darren dan pria itu kembali menawarkan tumpangan pada Vio.
"Tunggu, biar gue antar!" kata Darren yang kemudian berlari masuk untuk mengambil kunci mobilnya.
"Darren, enggak usah!" seru Vio dari halaman rumah.
Darren tak menjawab, baginya tidak ada penolakan dari Vio dan saat itu juga Rosi merasa sangat penasaran di mana mereka saling mengenal.
"Kenal di mana lo?" tanya Rosi yang sedang bersedekap dada. Gadis itu merasa panas hati mengetahui Darren akan mengantarkannya.
"Pertama ketemu di sini, akrab di Bali. Kami sempat liburan bersama," jawab Vio seraya tersenyum, ia yakin Rosi sedang cemburu dan semakin cemburu setelah mendengar jawabannya.
"Benar dugaan gue, dia cewek yang Darren ceritain, dih perasaan dia biasa aja, cantikan juga gue!" batin Rosi, gadis itu memperhatikan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Benar-benar gadis yang sederhana, harga outfitnya pun harga kaki lima dari sepatu, celana jeans berwarna denim yang dipadukan dengan kaos rajutan polos berwarna dusty pink.
Tidak lama kemudian, Darren pun keluar melalui pintu samping dan langsung masuk ke mobilnya, ia melajukannya perlahan lalu berhenti di depan rumahnya, membukakan pintu dari dalam untuk Vio, tetapi yang masuk dan duduk di bangku depan adalah Rosi.
Darren meliriknya dan tidak akan mungkin mempermalukan Rosi dengan menyuruhnya turun, Darren haya bertanya untuk apa Rosi duduk di mobilnya.
"Gue mau ikut, katanya mau sarapan bareng!" jawab Rosi seraya memasang sabuk pengamannya.
Dan Darren yang melihat Vio masih berdiri itu menyuruhnya untuk segera masuk ke mobil.
Darren turun dari mobilnya untuk membukakan pintu Vio dan Rosi yang melihat itu semakin tidak menyukainya.
Sekarang, Darren sudah kembali duduk di bangku kemudinya dan segera mengantarkan Vio.
"Kemana, Vi?"
"Ke toko aja, makasih ya. Kamu udah repot-repot anterin aku," jawab Vio seraya menatap Darren melalui kaca spion dalam mobil.
"Enggak repot, kok." Darren yang juga menatap Vio dari spion itu tersenyum.
Dan Rosi yang tidak ingin diabaikan itu mengeluarkan suaranya, "Ren, nanti kita sarapan apa? Di mana?" tanyanya seraya melihat Darren.
Dan Darren menjawab dengan tetap fokus mengemudi, "Di rumah, bibi udah masak."
__ADS_1
"Oh, kiran makan di luar sekalian kan kita udah di jalan," lirih Rosi, kembali menatap ke depan sesekali melihat ke kirinya.
"Kasihan bibi, sayang masakannya kalau kita makan di luar, nanti mubazir!"
"Hmmm. Iya udah, terserah kamu aja, aku ikut!" Rosi akhirnya menyerah.
Dan Darren kembali memperhatikan Vio yang sedari tadi diam memainkan ponselnya seraya memperhatikan Darren dan Rosi. Vio yang sesama perempuan itu menyadari kalau Rosi memiliki rasa untuk Darren.
Darren bertanya, "Lo udah makan, Vi?"
Vio kembali menatap Darren melalui spion, menjawab dengan menggelengkan kepala, setelah itu kembali ke ponselnya.
Mendengar itu, Darren yang melewati kedai bubur ayam menepikan mobilnya.
Darren mengajak semua untuk sarapan bubur dan itu membuat Rosi mengerucutkan bibirnya.
"Ngapain ke sini?" tanya Rosi seraya turun dari mobil dan Darren menjawab dengan tersenyum, "Sarapan bubur ayam."
"Masakan bibi siapa yang makan? Mubazir loh!" kata Rosi seraya melirik Darren.
Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tersenyum yang kemudian menjawab kalau makanan itu bisa di bawa ke kampus lalu diberikan pada temannya.
"Hhmm," jawab Rosi singkat.
Rosi masih berdiri dan Darren sama sekali tidak mengerti apa maksud darinya.
"Duduk, Ros!" perintah Darren dan Rosi masih tidak mau duduk, ia menunggu Darren yang menyiapkan kursi untuknya.
Vio sendiri menahan tawa melihat itu, ia mengerti apa yang diinginkan oleh Rosi.
"Kalian pacaran, ya?" tanya Vio pada Rosi dan Darren.
"Enggak, dia sahabat aku dari kecil!" jawab Darren seraya menatap Rosi, tersenyum padanya.
Dan karena pegal lama berdiri membuat Rosi mengambil kursinya sendiri.
Dan Darren yang duduk di samping Vio itu membuat Rosi menangis dalam hati, menjerit kesakitan, sakit tak berdarah.
****
Di rumah Sarifah, wanita tua itu merasa tidak sehat. Ia meminta pada bibi untuk dipanggilkan dokter.
Bibi pun mengiyakan, ia segera memanggil dokter.
Dan saat bibi kembali ke kamar, Sarifah sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Bibi yang panik itu segera menghubungi Sam. Sam yang sedang di ruangan meeting itu tak menyadari kalau ponselnya bergetar sehingga Sam sulit untuk dihubungi.
Tak mendapatkan jawaban, bibi segera menghubungi Darren dan Darren yang sedang menyantap bubur ayamnya itu sangat panik. Ia segera bangun dari duduk.
"Bawa ke rumah sakit, bi!" perintah Darren, "jangan lupa kirim alamat rumah sakitnya!" lanjut Darren yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Rosi yang ikut berdiri itu bertanya, "Siapa yang sakit?"
"Nenek!" jawab Darren singkat.
Vio yang sempat mengenal nenek itu meminta ijin pada Darren untuk ikut ke rumah sakit.
"Emangnya lo enggak ada kerjaan apa?" tanya Rosi dengan ketusnya, ia merasa sebal karena Vio selalu ada di dekat Darren.
"Enggak ada," jawab Vio singkat.
Dan Darren tidak memperdulikan dua gadis itu, ia segera membayar semua tagihannya, setelah itu meminta cepat pada Vio dan Rosi untuk kembali ke mobil.
Selama perjalanan, Darren memilih untuk diam, ia takut sesuatu terjadi pada neneknya. Dalam hatinya tak berhenti mendoakan Sarifah.
****
Selesai dengan meeting, Sam yang sudah kembali duduk di tempatnya itu melihat ponselnya yang bergetar, Darren yang menghubungi.
"Tumben nih anak," kata Sam yang kemudian menerima panggilan dari Darren.
"Apa?" Sam terkejut dan kembali berdiri.
Ia meninggalkan ruang meeting dan menitipkan pekerjaannya pada Dandi, asistennya.
"Baru juga masuk, Bos. Udah ijin lagi!" batin Dandi yang tak mengetahui kalau pemilik perusahaan itu sedang sekarat di rumah sakit.
Dandi sendiri merasa lelah, setelah hampir seminggu ia mengurus sendiri pekerjaannya dan pekerjaan Sam.
"Biarlah yang penting gajian dan bonus lancar, bisa buat nabung banyak-banyak buat modal kawin!" kata Dandi dalam hati, ia menyemangati diri sendiri.
Sementara Sam, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit yang Darren katakan.
Apakah Sarifah masih memiliki umur?
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, All.
Difavoritkan juga bintang lima nya 😇.
__ADS_1