
"Apa, jauhi? Bagaimana caranya? Mendekatinya saja tidak!" jawab Vio seraya menatap Sam. Keduanya saling menatap, tetapi bukan karena cinta, melainkan saling membenci.
Mendengar jawaban itu, Sam merasa harus memberikannya pelajaran yang tidak akan pernah dapat ia lupakan. Sam langsung mengangkat dua tangannya, bukan untuk memukul, melainkan untuk merangkum wajah Viona dan secepat kilat Sam memajukan wajahnya, ia mencium bibir Vio.
Vio yang terkejut itu langsung mendorong dada Sam kemudian menamparnya dengan sangat keras.
Plak!
Vio merasa sakit, sangat sakit hati dengan perlakuan Sam yang seperti itu. Air matanya tak dapat ia bendung, Vio berlari pergi meninggalkan Sam yang memegangi pipinya.
"Sial, baru kali ini gue ditampar sama cewek!" gerutu Sam, "sok jual mahal!" kata Sam seraya masuk ke rumah.
****
Pagi ini, Sam yang sudah berada di kursi meja makan itu tak mencari keberadaan Darren, baginya, sendiri seperti itu sudah menjadi hal biasa dan Sam tau kalau anaknya itu ada di rumah Sarifah.
Benar saja, Darren yang sedang berselisih paham dengan ayahnya itu memilih untuk tidak saling bertemu lebih dulu, Darren ingin tinggal di rumah Sarifah, seperti biasa.
Sementara itu, di lain tempat, Vio sedang duduk di tepi danau, menyendiri.
"Hiks... hiks," tangis Vio, ia bersedih, berpikir kalau semua orang itu jahat, seperti Surya.
Baru saja memikirkan Surya, pria itu duduk ada di sampingnya.
"Kenapa lo? Masih mikirin gue?" tanya Surya seraya ikut menatap danau.
Dan Vio tidak asing lagi dengan suara itu.
"Masih berani kamu tunjukkin muka di depan ku?" tanya Vio seraya menatap Surya.
Surya tersenyum tanpa melihat Vio.
"Gue habis beli sarapan, mau sarapan bareng?" tanya Surya seraya mengambil bungkusan di sampingnya, terlihat Surya membawa satu bungkus lontong sayur.
"Pergi atau aku habisin kamu!" ucap Vio dengan geramnya, ia tidak akan melupakan apa yang telah dilakukan oleh mantan suaminya itu.
"Yakin? Kenapa lo enggak minta rumah itu balik lagi?" tanya Surya, seolah tak memiliki hati, ia mengingatkan Vio pada rumahnya.
"Percuma juga kan, kamu enggak akan bisa balikin uang itu, aku yakin kamu udah jatuh miskin dan hanya tersisa motor itu aja, aku enggak akan habisin waktu buat ngejar-ngejar kamu, tinggal tunggu karma aja!" jawab Vio dengan ketusnya, ia yang tak berhasil mengusir Surya lalu memilih untuk pergi meninggalkannya.
Surya yang seolah terkena kutukan itu mengejar Vio.
__ADS_1
"Vio... Vi!"
"Apaan, sih! Bisa lepas!" kesal Vio seraya mengibaskan tangannya dari cekalan Surya.
"Maafin gue, Vi. Gue masih takut mati, gue yakin lo ngutuk gue kan biar ketabrak?"
"Hahaaha, baguslah, semoga aku bisa liat tepat di depan mataku!" Vio menertawakan dan mengucapkan harapannya yang begitu sadis atas Surya.
Setelah mengatakan itu, Vio benar-benar pergi dengan naik angkot.
"Gila, gue mending lo pukul aja Vi dari pada lo kutuk!" ucap Surya seraya menatap Vio yang sudah berada di angkot.
Ya, sudah sering kali Surya hampir mati karena tertabrak dan itu membuatnya ingat dengan semua dosa-dosanya terhadap Viona.
Setelah dari danau, Vio yang kembali ke toko itu mengurungkan niatnya turun dari angkot, ia tak ingin bertemu dengan Darren, bertemu dengannya hanya akan membuat Vio teringat dengan Sam yang sudah tidak sopannya mencium tanpa ijin.
****
Darren masih menunggu Vio di depan toko, duduk di mobilnya seraya mendengar lagu-lagu kesukaannya.
Setelah lama menunggu, Darren kembali turun dari mobil, ia kembali ke toko untuk menanyakan Vio.
"Maaf, tadi Bu Vio bilang katanya mau keluar kota, enggak tau kapan balik," jawab Nafisa.
Dan benar saja, Nafisa tidak berani memberikan nomor bosnya itu ke sembarang orang tanpa ijin lebih dulu.
"Tapi gue bukan penjahat, gue temennya!" Darren mencoba meyakinkan, tetapi, Nafisa tetap tidak memberikannya.
Darren pun pergi dari toko Vio.
****
Satu minggu telah berlalu dan selama itu juga Sam belum bisa melupakan tamparan Vio.
Sam yang sedang menyiapkan pakaian ganti itu menatap dirinya, mengusap pipinya yang masih merasakan tamparan dari Vio dan sekarang gadis itu seolah hilang di telan bumi.
Selain teringat dengan tamparan, Sam juga ingat dengan manisnya bibir Vio.
"Astaga." Sam mengusap bibirnya, tak di pungkiri, setelah hari itu Sam mulai memikirkan Vio.
"Ngapain gue ingat sama dia!" ucap Sam dalam hati. Pria itu pun melanjutkan aktivitasnya, ia merasa harus tampil keren saat reuni nanti.
__ADS_1
****
Di kafe, Vio sedang bersantai dengan Adiba, ya hanya Adiba temannya yang selalu ada dan mengerti dirinya.
"Vi, kamu tau enggak, bulan depan alumni kita dulu adain reuni," tanya Adiba seraya menatap ponselnya.
"Enggak tau," jawab Vio singkat seraya memakan camilannya.
"Itulah kamu, enggak pernah nimbrung atau baca grup chat! Jadi mana tau, mau kamu digibahin mantan juga enggak bakalan tau!"
"Biarin aja, males aku!" kata Vio seraya merogoh sakunya, ponselnya bergetar dan ternyata itu Nafisa yang menghubungi.
"Halo, ada apa?" tanya Vio, masih dengan memakan camilannya.
"Temen ibu, masih bolak balik ke sini, bu. Maksa minta nomor ibu," kata Nafisa.
Mendengar itu, Vio tak memberikan jawaban, Vio memutuskan sambungan teleponnya.
"Mau sampai kapan? Sampai kapan kamu terus menghindar?" tanya Adiba seraya menatap Vio, Vio terlihat sangat lemas, seperti tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Semua berubah, Ba. Berubah setelah aku kenal mereka! Aku males, aku kecewa, aku sedih, aku marah!" jawab Vio, ia merasa dipermainkan oleh Sam dan juga merasa direndahkan.
"Emangnya kenapa sama mereka? Anaknya ganteng, ngejar-ngejar kamu lagi, kurang apa, banyak duit juga loh, Vi. Orang kaya!"
"Aku enggak mau berurusan sama mereka lagi! Aku pengen pergi jauh, Ba!"
"Astaga, pasti ada apa-apa! Kenapa? Kamu gitu sekarang, enggak mau cerita sama aku!"
Mendengar itu, Vio terpancing untuk bercerita, tapi merasa malu.
"Iya udah, aku ngambek," kata Adiba yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Adiba bangun dari duduknya, ia seolah akan pergi dari kafe meninggalkan Vio sendiri.
Vio yang tak mau kehilangan satu-satunya teman itu pun ikut bangun dari duduk.
"Pak Sam cium aku!" kata Vio dan Adiba terkejut mendengarnya. Ia mengira kalau Sam juga mengejar sahabatnya itu.
"Serius? Jadi anak dan ayah suka sama kamu? Terus kamu pilih mana?" tanya Adiba yang kembali duduk, ia menunggu jawaban dari Vio.
"Bukan gitu ceritanya!"
"Terus?" tanya Adiba seraya menaik turunkan alisnya. Sementara itu, Vio menatap sebal pada Adiba yang menunggunya bercerita.
__ADS_1
Bersambung.