ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Gerah!


__ADS_3

Vio yang menghubungi Rossi, meminta Rossi untuk datang ke rumah.


"Ok Tante, gue juga mau bilang sesuatu!" kata Rossi.


"Tolong jangan panggil gue Tante!" protes Vio yang tak mau dianggap tua olehnya.


"Iya camer gue!" jawab Rossi seraya memutuskan sambungan telepon.


"Hahaa, seru juga punya camer yang hampir seumuran!" kata Rossi seraya tertawa, Rossi pun turun dari ranjang lalu berlari keluar dari kamar.


"Ross, mau kemana?" tanya Sarah yang baru saja pulang dari bekerja.


"Ke seberang, Mah!" jawab Rossi.


Dan Sarah hanya mengedikkan bahunya, merasa heran karena belakangan ini Rossi terlihat akrab dengan Vio.


Sementara itu, Vio melihat dirinya di cermin. "Masih cantik dan imut, masa dipanggil tante!" protesnya.


Tidak lama kemudian, Vio mendengar suara Rossi yang berteriak memanggilnya.


"Tante!"


"Astaga, anak itu! Lebih baik panggil nama saja!" gerutu Vio seraya bangun dari duduk, meninggalkan meja rias dan mulai membuka pintu kamarnya.


Dari lantai atas, Vio melihat kedatangan Rossi yang terlihat sangat bahagia.


"Ada apa?" tanya Vio seraya berjalan menuruni tangga dengan perlahan.


"Sini deh, Tan. Aku mau cerita!" kata Rossi seraya menepuk sofa di ruang tengah.


"Rossi, berhenti panggil aku Tante!" protes Vio yang sekarang sudah berada di depan mata Rossi.


Rossi tak mendengarkan, justru menarik lengan Vio supaya duduk.


"Ada apa, sih? Kok semangat banget kayanya?" tanya Vio seraya duduk.


"Begini, Tan-" kata Rossi dan Vio menutup mulut Rossi yang lagi-lagi memanggilnya tante.


Rossi pun menurunkan tangan Vio dari mulutnya.


"Nanti aku dimarahin sama Om!" kata Rossi.


"Ya udah kalau begitu, panggil kakak aja kan bisa!" Vio menarik nafas dalam.


"Hehe, nanti si Om minta juga dipanggil kakak!" kata Rossi seraya tersenyum, merasa geli kalau harus memanggil Sam kakak.


"Om siapa yang kamu maksud?" tanya Sam yang baru datang, Vio dan Rossi pun melihat ke arahnya.


"Om Sam lah, siapa lagi!" jawab Rossi.


"Ada-ada saja! Kan memang Om masih muda, enggak lihat Om tampan gini!" kata Sam yang ikut duduk di sofa ruang tengah.


Mendengar itu, Vio sedikit menaikan sudut bibirnya dan Rossi sedikit tertawa.

__ADS_1


"Ya, Om memang tampan, kalau enggak tampan mana mungkin Darren akan menjadi pria tampan!" jawab Rossi.


"Darren mulu!" kata Sam pada Rossi.


"Sudah sampai mana kelanjutan hubungan kalian?" tanya Sam dan Rossi menggelengkan kepala.


"Payah!" kata Sam dan Vio meminta pada Sam untuk menjodohkan Rossi.


"Kalau begitu, jodohkan saja Rossi!"


"Tidak, aku tak mau menjodohkan, berat, harus bertanggung jawab sampai akhir! Biar mereka pilih jalannya sendiri!" jawab Sam seraya menatap Vio.


"Sayang!" Vio menjawab dengan menatap Sam tajam.


"Astaga! Serius, sayang! Aku enggak mau memaksakan kehendak!" kata Sam dan Vio pun meminta pada Sam untuk mendekat dengan menepuk sofa.


Sam pun bangun dari duduk untuk berpindah ke sisi Vio. Lalu, Vio berbisik.


"Kita jodohkan Rossi dengan orang lain, ini pura-pura aja, biar kita tau perasaan Darren yang sebenarnya!"


"Owh, kamu memang pintar!" kata Sam seraya mengusap pucuk kepala Vio.


Dan Rossi pun merasa penasaran, Vio juga Sam menjelaskan dan Rossi pun setuju.


"Baik, tapi... Rossi mau pria itu yang mampu membuat Darren cemburu! Kalau enggak, bisa percuma semua usaha!"


"Om sudah tau siapa pria itu!" timpal Sam.


"Siapa?" tanya Vio dan Rossi bersamaan.


"Bagus juga, lagian... Dandi itu enggak jelek-jelek amat!" kata Vio dan Sam yang mendengarnya merasa cemburu.


"Sayang, aku dengar!" kata Sam yang masih berada di tangga.


Setelah itu, Vio meminta pada Rossi untuk pulang karena Vio harus mengurus suaminya.


"Baiklah, Tante!" kata Rossi dan Vio akhirnya pun pasrah dengan panggilan itu.


Vio menyusul Sam yang sudah berada di kamar, Sam yang sangat merindukan istrinya itu pun segera memeluk dan menciumi leher Vio.


"Mas, mandi dulu, kamu acem, terus jangan lupa, hari ini kita jadwal kontrol kehamilan!" kata Vio seraya sedikit mendorong suaminya.


"Baiklah, ayo kita mandi!" kata Sam seraya membawa Vio ikut bersamanya.


****


Setelah melepas rindu dengan mandi bersama, sekarang, Sam dan Vio sedang bersiap.


Sam mengajak Vio untuk ke rumah sakit dan sesampainya di sana, Sam bertemu dengan teman sekelasnya dulu waktu masih di bangku SMA.


"Sam!" seru temannya itu dari belakang.


Sam pun menoleh, "Oh. Okta!" sahut Sam.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya pun bersalaman.


"Siapa dia, Sam? Apa kamu sebentar lagi punya cucu?" tanya Okta seraya memperhatikan Vio yang sudah menggendut.


"Astaga, kamu pikir dia anakku? Wanita ini istriku! Dan perutnya yang menggendut itu karena keperkasaan ku!" jawab Sam seraya menepiskan tangan Okta yang mengulurkan tangannya pada Vio.


"Haha, Sam. Jangan bercanda! Lihat dia, dia terlihat masih kecil!"


"Saya bukan anak kecil dan Mas Sam memang suami saya!" timpal Vio yang tak mau melihat suaminya itu diejek.


"Astaga, jadi benar, Sam?" tanya Okta.


Dan Sam menjawab dengan tersenyum.


"Selamat atas pernikahan kalian, kenapa tidak mengadakan pesta?" tanya Okta.


"Maaf, kami sedang buru-buru! Jam praktek dokter akan segera selesai!" kata Vio yang menengahi, Vio melihat jam ditangannya dan Sam pun permisi pada Okta.


****


Beberapa hari kemudian, Darren datang ke rumah Rossi dan Sam yang melihat itu dari balkon pun segera menghubungi Dandi.


Sam meminta pada Dandi untuk segera datang dengan membawakan bunga mawar merah dan coklat.


Dandi pun mengiyakan.


Setelah 30 menit berlalu, sekarang, Dandi sudah sampai di rumah Rossi.


Darren yang membukakan pintunya.


"Tuan Darren, ada di sini?" tanya Dandi seramah mungkin.


"Iya, lo ngapain ke sini? Rumah Papih ada di depan, sepertinya lo salah alamat!" kata Darren seraya menunjuk rumah Sam.


"Maaf, saya datang untuk kekasih saya, Rossi!" jawab Dandi.


"Apa?Saya salah dengar, kan?" tanya Darren yang sedikit terkejut, ia merasa kalau Rossi tidak adil karena tidak menceritakan apapun.


"Iya, gue sama Dandi pacaran, kenapa?" tanya Rossi yang menyusul Darren ke depan.


Rossi pun menarik lengan Dandi, lalu melingkarkan lengannya di lengan Dandi yang terlihat berbeda.


Ya, Dandi datang dengan menggunakan celana jeans dan kaos santainya.


Darren sendiri bertanya-tanya, sejak kapan mereka menjalin hubungan.


"Sejak kapan? Kenapa lo enggak cerita apa-apa sama gue, Ross?" tanya Darren yang mengikuti Rossi dan Dandi dari belakang.


"Belum lama, ini karena Om Sam, dia bilang Dandi sedang mencari calon istri dan Om Sam memperkenalkan kami!" jawab Rossi.


"Apa? Calon istri?" tanya Darren yang seolah salah mendengar.


Gak ada jawaban, justru Darren harus melihat Dandi memberikan sekuntum mawar merah sebagai tanda cinta, setelah itu, Dandi juga memberikan coklat yang terhias cantik dengan pita.

__ADS_1


Darren merasa gerah dan ia pun melepaskan hoodie yang sedang ia pakai.


Bersambung.


__ADS_2