ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Kecewa


__ADS_3

Benar saja, Darren menanyakan itu pada Sam.


"Di mana Vio, Pi? Apa yang udah papi lakuin sama Vio?" tanya Darren seraya bangun dari duduk.


Sam yang sudah berjalan menaiki tangga itu menghentikan langkahnya.


"Enggak ada dan mana papi tau di mana anak itu, emangnya papi bapaknya apa!" jawab Sam seraya menatap Darren.


"Terus, uang ini apa maksudnya?"


"Vio hutang ke papi terus vio pinjam ke kamu buat melunasi hutangnya dan uang ini kembali ke kamu karena papi berjanji akan melunasinya, paham?" tanya Sam dan Darren semakin tak mengerti.


"Kenapa papi janji sama Vio? Jujur sama Darren, Pi? Karena enggak mungkin papi bayarin utangnya begitu aja! Aneh gitu!" kata Darren, masih menatap Sam.


Dan Sam mana mungkin akan menceritakan yang sebenarnya pada Darren.


Sam berlalu dan Darren mengejarnya. Darren tidak ingin menyerah untuk mendapatkan jawaban apa yang membuat Vio berubah dan mengurung dirinya.


Darren menahan tangan papinya.


"Kalau enggak ada apa-apa, mana mungkin toko Vio tutup selama berhari-hari, mana mungkin Vio mengurung diri, ini pasti terjadi apa-apa, kan? Apa papi ngomong yang bikin Vio sakit hati?"


Sam melepaskan tangan Darren dan masih memilih untuk diam, Sam tidak ingin melukai anaknya yang begitu menyukai Vio.


Dan dengan diamnya Sam itu semakin membuat Darren curiga.


****


Adiba mencoba menghubungi Vio dan nomor itu tidak dapat dihubungi, Adiba yang sedang dalam perjalanan berangkat bekerja itu menghentikan motornya di depan toko Vio.


Adiba memarkirkannya tepat di depan toko.


"Vi!" teriak Adiba dan Vio yang sedang menonton televisi itu mendengar teriakan sahabatnya.


Vio mengintip dari jendela dan benar saja, Vio melihat motor Adiba.


Tetapi, Vio mengabaikannya.


Ia benar-benar ingin sendiri dan tanpa terasa, satu bulan sudah berlalu dan Vio yang mengurung diri itu merasa pusing.


"Ibu, Ayah. Maafin Vio, hidup Vio jadi berantakan kaya gini, seandainya kalian masih ada, mungkin Vio enggak dipaksakan dewasa sebelum waktunya!" Vio pun kembali menangis, ia teringat dengan kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya.


Lagi-lagi Vio merasa kalau hidup sangat tidak adil. Kehancuran selalu menghampirinya dari hancur setelah ditinggal ibu dan ayahnya dan sekarang seolah dipermainkan oleh takdir setelah bertemu dengan Sam.


Vio merubah posisi tidurnya menjadi duduk dan merasakan pusing.


"Mungkin karena aku telat makan dan susah tidur!" kata Vio seraya bangun dari duduknya.

__ADS_1


Vio ingin pergi ke kamar mandi dan ternyata Vio sangat lemas seolah tak memiliki tenaga. Bahkan Vio juga merasa mual.


"Ini pasti karena aku jarang makan, makanya jadi mual!" kata Vio dalam hati.


"Apa aku berobat aja, ya?" tanyanya pada diri sendiri dan Vio pun memutuskan untuk pergi berobat.


"Sampai kapan aku harus kaya gini, seandainya aku banyak uang, pasti aku udah kabur jauh, ngapain aku ngurung diri selama sebulan di kios!" kata Vio yang sedang berada di kamar mandi. Ia ingin buang air kecil sebelum ke klinik.


Selesai dengan itu, Vio mengambil tas kecil dan ponselnya lalu berjalan perlahan menuruni tangga.


Vio membuka pintu toko dan tidak lupa menguncinya kembali. Dan Vio sangat terkejut saat berbalik badan melihat Darren ada di depan matanya.


"Ini anak ngapain, sih? Uda selama ini aku abaikan kok masih aja dateng!" kata Vio dalam hati.


Sebenarnya, Darren sudah beberapa hari berhenti mencari Vio, pria tampan itu tak ingin memaksakan perasaannya, tetapi, soal uang itu membuatnya kembali bertanya-tanya dan ingin mendapatkan jawabannya.


Darren yang sedang melintas depan toko itu melihat Vio dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Kenapa lo terus menghindar?" tanya Darren.


"Enggak kenapa-napa!" jawab Vio dan Vio merasa tidak menyukai aroma parfum Darren, itu membuatnya semakin mual.


Vio pun menutup mulutnya.


"Lo sakit?" tanya Darren dan Vio menjawab dengan menganggukkan kepala. Vio pun berjongkok, ia merasa tak sanggup untuk berjalan.


Dokter menanyakan apa keluhan dari pasiennya itu.


Setelah tanya-jawab, dokter wanita itu bertanya lagi, bertanya kapan terakhir kali Vio datang bulan.


Mendengar pertanyaan itu, Vio teringat dengan malam panasnya bersama Sam.


Vio terdiam, ia memastikan kalau dirinya hamil.


"Saya telat selama satu bulan setengah, dok," jawab Vio.


"Maksudnya apa, ya? Kenapa sakitnya disangkut pautkan dengan datang bulan? Apa ada masalah serius, dok?" tanya Darren yang tak mengerti maksud dokter.


"Ada kemungkinan istri bapak hamil," kata dokter, dokter itu mengira kalau Vio dan Darren adalah pasangan suami dan istri.


Darren terdiam, ia menelan salivanya, pikirannya langsung tertuju pada papinya yang belakangan ini juga berubah menjadi pendiam.


Dan Darren yang membiarkan dokter mengira mereka pasangan itu memilih untuk diam, hanya memperhatikan Vio yang sekarang diminta untuk tes urin menggunakan tespek.


Hasilnya menunjukkan garis dua.


Sekarang, Vio yang juga terdiam itu tidak tau harus berbuat apa dengan kehamilannya.

__ADS_1


Air mata menetes begitu saja.


"Pasti ibu sangat bahagia dengan kehamilannya, ini yang pertama ya, Bu?" tanya dokter.


Vio membalas dengan senyum dan segera menghapus air matanya.


"Sayang, orang hamil katanya enggak boleh stress, iya kan, dok?" Darren berperan seolah menjadi suami Vio.


"Benar apa kata Bapak, Bu. Dan Bapak juga harus membantu istri menjaga kehamilan dengan menjadi suami yang siaga," kata dokter dengan tersenyum.


Selesai dengan pemeriksaan, sekarang, Darren mendorong kursi roda Vio sampai ke mobilnya, keduanya saling diam, hanyut dengan perasaan masing-masing. Dalam hati, Darren sangat marah, ia kecewa dengan Vio, tetapi, Darren ingin mendengar penjelasannya lebih dulu. Ingin menunjukkan amarahnya pun percuma, Darren tidak memiliki hubungan dengan Vio selain pertemanan.


Darren mencoba bersabar dan ia juga masih mau membantu Vio masuk ke mobil. Sekarang, Vio dan Darren sudah berada di mobil.


Vio menunggu lama untuk Darren menyalakan mesin mobilnya. Darren menatap kosong ke depan.


"Aku turun di sini, aja," kata Vio seraya membuka pintu dan Vio tidak dapat keluar karena Darren menguncinya.


"Siapa?" tanya Darren tanpa melihat Vio.


Vio yang mengerti apa maksud pertanyaan itu terdiam. Sekalinya membuka mulut, bukan untuk menjawab, tetapi, Vio meminta Darren untuk membuka pintunya.


"Buka pintunya!" pinta Vio seraya menatap lurus ke depan.


"Siapa ayah anak itu?" tanya Darren dengan nada yang sedikit tinggi dan masih tidak mendapatkan jawaban.


Darren merasa frustasi, ingin berkata kasar tapi tidak ingin melukai perasaan Vio.


"Jawab, Vi!" bentak Darren seraya melihat ke arah Vio. Dan itu membuat Vio merasa sedikit takut, Vio hanya bisa menitikkan air matanya, bibirnya sangat berat untuk menjawab siapa ayah anak dalam kandungannya.


Darren memukul setir kemudinya dengan sangat kesal. "Lo lakuin ini atas dasar suka sama suka?" tanya Darren dan ia akan meninggalkan Vio apabila benar begitu adanya.


Vio menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Kalau bukan, katakan! Siapa ayah anak itu?" tanya Darren, ia tak tega setelah melihat kesedihan di mata Vio, Darren pun berusaha untuk meredam amarahnya.


Dan Vio masih tak mau menjawab.


Merasa percuma, sekarang, Darren menstater mobilnya, mulai melajukannya perlahan, meninggalkan area parkir.


Keduanya saling diam dan Darren yang kecewa itu mukai melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Darren, aku turun di sini aja!" kata Vio, ia merasa takut dengan Darren.


Darren tak menghiraukannya.


Dan Vio pun harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Malam itu aku mabuk!" jawab Vio dengan sangat kesalnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2