ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Selamat Datang Lovely


__ADS_3

Singkat cerita, sekarang, Darren sudah berada di kampus, ia mengabaikan Rossi yang terus memanggilnya.


Lalu, Rossi yang mengerti Darren tengah cemburu itu pun merangkul Darren dari belakang.


Dan Rossi tak berhentinya membanggakan Dandi.


"Ya ampun, lo tau, Ren, kaya mimpi apa gue gitu, bisa ketemu sama Mas Dandi."


Darren pun menurunkan tangan Vio.


Darren hanya bisa diam saat Rossi terus membanggakan calon suaminya itu.


Darren yang tak mau mendengarkan itu melangkah ke kantin, di sana Darren mencari seorang gadis yang tengah duduk sendiri.


"Hay, boleh gabung?" tanya Darren seraya duduk di bangku depannya si gadis tersebut.


Si gadis itu melihat ke arah Darren dan melihat pria tampan yang menghampiri, ia tak mau melewatkannya, gadis itu pun mempersilahkan.


Sementara itu, Rossi yang merasa terabaikan memilih pergi meninggalkan Darren.


Setelah kepergian Rossi, Darren pun bangun dari duduk, sikap Darren membuat gadis itu menjadi bingung, lalu, mengedikkan bahu.


Rossi yang merasa bete itu menghubungi Vio, ia mengatakan kalau Darren menjauh dan acuh padanya.


Tanpa Rossi tau, sebenarnya, Darren mengikutinya dan Darren menjadi curiga dengan ucapan Rossi yang membicarakannya.


Darren terus menguping dan akhirnya Darren mengetahui kalau semua itu adalah rencana.


"Astaga, gue dikerjain!"


Setelah itu, Darren pun pergi sebelum Rossi menyadari keberadaannya.


Selesai kuliah, Darren harus melihat Dandi yang menjemput Rossi dan Darren pun tersenyum melihat itu membuat Rossi dan Dandi menjadi bingung.


"Ku kira dia akan cemburu, kok dia tersenyum?" tanya Rossi pada Dandi dan Dandi pun menjawab tak tau.


Setelah kejadian itu, Darren menjadi lebih menjaga jarak dengan Rossi dan Dandi.


Darren memfokuskan dirinya dengan kuliahnya yang sebentar lagi selesai.


Setelah beberapa bulan, Vio mengeluh pada Sam, "Mas, ku kira Darren menyukai Rossi, dia akan cemburu dengan kedekatan Rossi dan Dandi, tapi kenapa justru membuat keduanya semakin menjauh?" tanya Vio pada Sam yang sedang memakai kaosnya.


Baru saja Sam selesai dengan mandi dan ingin beristirahat karena lelah baru pulang dari kantor.


Sam yang ikut duduk di tepi ranjang itu menjawab, "Mungkin memang mereka tidak berjodoh, biarlah itu menjadi urusan mereka, kita tidak usah ikut campur."

__ADS_1


Setelah itu, Sam mengusap perut Vio, menyapa bayinya dan bertanya kapan akan keluar, karena dari hitungan kalender, seharusnya bayi itu sudah lahir.


"Mungkin sebentar lagi, Mas," jawab Vio seraya menatap Sam.


Setelah itu, Vio bangun dari duduknya, ia berniat menyimpan pakaian kotor suaminya itu ke keranjang baju kotor.


Dan saat itu juga, Vio merasa kalau perutnya itu terasa mulas. Vio pun mengatakan itu pada Sam.


"Mas, perutku sakit, aduh," pekik Vio yang kemudian berniat kembali duduk ke ranjang dan belum sampai ke ranjang, Sam melihat kalau ketuban Vio sudah merembes.


"Kita harus segera ke rumah sakit," kata Sam yang kemudian membopong Vio.


Beruntung, kamar keduanya sudah berada di kamar bawah, supaya Vio tidak lelah untuk naik dan turun tangga.


Sam membopong istrinya dengan hati-hati, walau terasa berat, Sam harus kuat dan setelah sampai di mobil, Sam menguatkan istrinya.


"Sabar, sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit," kata Sam dan di perjalanan, Sam menghubungi Dandi, ia meminta padanya untuk segera menyiapkan dokter agar sampai di rumah sakit Sam tidak lagi menunggu untuk hal lain.


Sesampainya di rumah sakit, Sam dan Vio sudah ditunggu oleh dokter dan perawat yang akan membantu proses kelahiran anak kedua Sam.


Sam menunggu dengan cemas, Sam meminta yang terbaik untuk Vio.


Setelah beberapa saat menunggu, sekarang, bayi perempuan itu sudah lahir dengan persalinan normal.


Bayi itu diberi nama Lovely oleh Sam dan Vio juga menyukai nama itu.


Dan di sana, Darren bertemu dengan Rossi yang juga menjenguk Vio.


Setelah beberapa bulan tidak seperti perangko, sekarang, ada rasa aneh bagi Rossi dan Darren untuk bertatap muka.


Darren memberikan senyum tipisnya pada Rossi, lalu, melihat adiknya yang masih sangat kecil itu.


"Mau gendong?" tanya Sam yang melihat Darren tersenyum pada adik kecilnya.


Darren menggeleng.


"Tidak, mana berani Darren pegang, takut, mungkin nanti setelah beberapa bulan," jawab Darren yang sedang membelai pipi bayi mungil itu.


Setelah itu, Darren pergi dari dari kamar rawat Vio, tidak lupa untuk pamit pada semua orang termasuk Rossi.


Setelah kepergian Darren, Vio meminta pada maaf pada Rossi.


"Rossi, maafin aku, ya. Karena ide aku, kalian justru jadi saling jauh," kata Vio seraya menggenggam tangan Rossi.


"Justru aku senang, sekarang, perasaan ku tidak lagi digantung olehnya," jawab Rossi pada Vio dan keduanya saling tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu, Dandi yang masih berada di sana itu menawarkan tumpangan pada Rossi.


"Sudah malam, saya permisi, Tuan," kata Dandi.


Sam mengiyakannya.


"Rossi, mau bareng, biar sekalian aku antar," kata Dandi seraya menatap Rossi.


Dan Rossi yang tengah duduk di kursi samping brangkar itu pun mengiyakan, gadis itu mencoba membuka hati untuk pria lain.


Rossi ingin berhenti menjadi bodoh untuk terus berharap pada Darren.


Dan kebersamaan itu dilihat oleh Darren yang ternyata yang masih berada di parkiran.


Darren tak menghiraukan keduanya, ia pergi begitu saja tanpa menyapa.


Lalu, Dandi menyentuh punggung Rossi, menyadarkannya supaya cepat masuk ke mobil.


Rossi pun menatap Dandi dan tersenyum, ia segera masuk ke mobil dan keduanya terlihat sangat akrab dan jangan salah paham atas kedekatan keduanya karena Dandi hanya menganggap Rossi sebagai adik juga sebaliknya.


Sebenarnya, Dandi telah menyatakan cintanya pada Rossi. Tetapi, Rossi mengatakan kalau dirinya belum siap untuk mencintai lagi dan sekarang keduanya menjadi kakak dan adik.


Sesampainya di depan rumah Rossi, Rossi yang masih duduk di bangku mobil Dandi itu mengucapkan terima kasih.


Dandi tersenyum dan setelah itu Dandi menyuruh Rossi untuk segera masuk.


Waktu telah berlalu dan setelah beberapa bulan, akhirnya Rossi dan Darren pun wisuda.


Darren menatap foto wisudanya yang kali ini terlihat lengkap dengan kehadiran Ibu tiri dan adiknya yang semakin hari semakin menggemaskan.


Berbeda dengan foto wisuda saat masih di bangku SD sampai SMAnya yang tanpa kehadiran Ibunya.


Melihat foto lama, Darren menjadi ingat dengan neneknya dan sepulangnya, Darren pergi ke makam untuk menjenguk almarhum Sarifah.


Keesokannya, bukannya hanya Sarifah yang ia jenguk, Darren juga pergi ke Bali untuk ziarah ke makam Husna. Tidak berlama-lama, Darren hanya berziarah, lalu, pulang.


****


Darren yang membawakan oleh-oleh untuk Lovely itu pun pulang ke rumah Sam.


Sesampainya di rumah itu, Sam dan Vio menitipkan Lovely padanya.


"Darren, jaga adikmu baik-baik. Kami harus pergi ke pertemuan dan tidak mungkin mengajak adikmu karena terlalu ramai di sana," kata Sam.


Dan Vio sebenar merasa berat karena takut Darren tidak dapat menjaga putrinya dengan baik.

__ADS_1


Sam mengerti kekhawatiran itu dan Sam memberitahu kalau akan ada suster pilihan Dandi. Mendengar itu, Vio merasa sedikit lega dan Vio berpesan pada Darren untuk tidak meninggalkan Lovely walau suster itu sudah datang.


Darren mengiyakan dan mengatakan kalau tidak perlu khawatir. Seperti apa keseruan Darren dalam menjaga adik kecilnya?


__ADS_2