ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Aku Pergi, Ren!


__ADS_3

Saat sedang mengajak Lovely berbicara, Darren mencium bau tak sedap, Darren mencari bau itu yang ternyata berasa dari popok adiknya.


Darren mencoba membopong Lovely, memindahkan dari kereta bayi ke sofa.


Setelah itu, Darren memanggil Bibi untuk membantunya menggantikan popok, tetapi, Bibi mengatakan kalau tangannya baru saja bekas cabai.


Lalu, Darren yang ingin menggantikan popok itu bertanya, "Kalau begitu, bagaimana caranya mengganti popok?"


"Aden perlu tisu basah, tisu kering dan popok," jawab Bibi dan Darren pun mengangguk.


Untuk selengkapnya, Darren mencari tahu di internet cara menggantikan popok.


Walau sudah mengetahui caranya menggantikan popok, tetap saja, Darren yang tidak pernah memegang bayi itu tidak dapat menggantikan popok dan disaat Darren yang tengah bingung itu datang Rossi.


Rossi baru saja membuat cake dan ingin membaginya dengan Vio.


Darren dan Rossi pun saling melemparkan senyum.


"Tante Vio mana?" tanya Rossi seraya berjalan mendekat ke arah Darren.


"Mereka ada acara," jawab Darren seraya menggaruk tengkuknya, Darren ingin meminta bantuan Rossi untuk menggantikan popok itu, tetapi, Darren merasa sungkan.


Sementara itu, Rossi merasa kasihan pada Lovely yang sedang merengek dan Rossi pun menawarkan bantuan.


"Lo mau ganti popok?" tanya Rossi yang meletakkan piring cake di meja.


Rossi yang mendekat pada Darren itu meminta padanya untuk bangun dan Rossi pun duduk di sofa, menggantikan popok itu, sementara Darren memperhatikan dari belakang Rossi.


"Lo belajar dari mana, Ross, kok bisa gantikan popok?" tanyanya.


"Gue kan perempuan, pasti ada lah jiwa keibuan gue," jawab Rossi tanpa melihat Darren.


Darren mengangguk dan memberikan jempolnya pada Rossi.


Setelah itu, Dandi datang dengan membawa suster yang Sam inginkan.


Melihat Dandi, Darren hanya diam saja, ia tak mau terjebak lagi dalam kebodohan yang Vio dan Rossi buat.


Setelah mengantarkan suster, Dandi pun pamit pada semua orang. Begitu juga Rossi yang melihat suster sudah datang, ia pamit pada Darren.


Dan Darren menahan tangan Rossi membuat gadis itu kembali merasakan getaran dan debaran untuk Darren yang sampai saat ini tak mau pergi dari hatinya.


"Kenapa?" tanya Rossi seraya menatap tangan Darren yang tak juga ia lepaskan, tersadar dengan itu, Darren pun melepaskannya.

__ADS_1


"Temenin gue, kalau ada perlu apa-apa kayanya lo lebih ngerti dari pada gue," pinta Darren seraya menatap adiknya yang sekarang sudah tertidur.


"Baiklah," kata Rossi yang kemudian kembali duduk.


****


Sam dan Vio terjebak macet, itu membuat Vio gelisah karena berada jauh dengan anaknya. Vio pun melakukan penggilan video.


Terlihat, Lovely sedang menangis, mungkin bayi itu ikut merasakan kekhawatiran ibunya.


Rossi mengatakan pada Vio untuk tidak khawatir karena setelah ini, Rossi akan membawa adik kecil itu keluar untuk berkeliling di taman depan rumah.


Benar saja, Rossi menggendong Lovely, mengajaknya keluar dari rumah dan Darren yang mendorong kereta bayinya.


Setelah Lovely tenang, Rossi pun meletakkan bayi gembul itu di kereta, Darren mengambil foto itu dan tanpa sengaja Rossi ikut terkena kamera.


Darren memperhatikan foto Lovely dan tentunya juga memperhatikan Rossi yang ternyata semakin cantik, entah kemana Darren selama ini sehingga baru menyadari kalau Rossi itu cantik.


"Cantik," ucap Darren dan Rossi yang tak sengaja mendengar itu menimpali, "Harus cantik dong, kan Mamahnya juga cantik."


Mendengar itu, Darren mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Darren tersenyum dan Rossi memilih untuk tak menatapnya, gadis berambut panjang itu mengalihkan pandangannya kembali pada Lovely.


Setelah itu, keduanya berbincang dan menanyakan tujuannya setelah kuliah.


Rossi menjawab kalau dirinya akan pergi ke Jepang dan Darren yang mendengar itu meminta Rossi untuk mengulangi ucapannya.


"Iya, gue mau ke Jepang, gue harus melupakan semua yang ada di sini, memulai hidup baru di sana, gue udah tanda tangan kontrak, besok gue berangkat sama Mamah," kata Rossi seraya menatap Darren dan entah mengapa, ada rasa tak rela di hati Darren.


Darren tersenyum yang dipaksakan.


"Kalau lo, pasti kerja di kantor Om Sam, kan?" tanya Rossi seraya menatap Darren.


Darren menggeleng, ia menjawab, "Gue mau mandiri, gue mau mau buka usaha gue sendiri."


****


Tidak lama kemudian, Vio dan Sam sudah tiba, keduanya pergi untuk cuci tangan lebih dulu, lalu menyusul Lovely yang masih duduk di taman depan rumah.


Setelah itu, Rossi pamit pada Vio dan Darren, sementara itu, Sam yang tengah berdiri di pintu utama itu melihat kesedihan di antara Rossi dan Darren.


Sam menghampiri Darren yang berdiri dari duduk, Darren yang melihat Sam itu pun mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Pih, Darren pulang dulu," kata Darren, tentunya, Darren juga tidak lupa pamit pada Vio yang selalu terlihat cantik di matanya.


Apakah Darren ini mata keranjang? Rossi terlihat cantik, Viona juga cantik, tentunya tidak seperti itu, pandangan Darren terhadap Vio adalah kagum, sementara Rossi, ia masih mencari jawabannya dalam hati.


Darren yang sekarang sedang mengendarai mobilnya itu terus memikirkan apa baru saja Rossi katakan.


"Ros, kalau gue enggak nanya, apa lo bakal pergi diam-diam tanpa pamit sama gue?" tanyanya pada diri sendiri.


****


Di rumah Rossi, gadis itu sedang mengemasi barangnya, ia membawa yang ia butuhkan dan Sarah yang menemani Rossi di kamar itu bertanya, "Ros, benar kamu akan bekerja di sana?"


Rossi yang menunduk itu mengangguk, ia menitikkan air matanya.


"Kalau iya, kenapa nangis, sudah jangan pergi, tetap di sini sama Mamah," kata Sarah yang sebenarnya sedang kesal, ia tak mau sendiri.


"Mah, biarkan Rossi pergi, Rossi ingin bekerja, mengumpulkan uang yang banyak, lalu, membuka usaha kita di sini," kata Rossi seraya menahan tangan Sarah yang akan mengeluarkan barang Rossi dari koper.


"Benar itu alasan kamu, bukan karena pria, kan?" tanya Sarah.


"Benar, Mah. Rossi berkata jujur," kata Rossi, ia menatap Sarah yang juga menatapnya.


Rossi dan Sarah saling berpelukan.


****


Semalaman, Darren tidak dapat memejamkan mata, ia terus teringat dengan Rossi.


"Biarlah, lagi pula, dia enggak sendiri, ada Tante Sarah yang menemani," ucap Darren dan keesokannya, Darren yang sedang dalam perjalanan melihat Sarah baru saja turun dari taksi.


Darren menepikan mobilnya, pria berpakaian santai itu memanggil Sarah yang akan membuka salon.


"Tante," panggil Darren, "Bukannya Tante hari ini terbang ke Jepang?" tanya Darren.


"Kata siapa? Pasti kata Rossi, ya?" tanya Sarah seraya membuka gembok.


"Mungkin, itu supaya kamu tidak khawatir, kamu tau sendiri, gimana Rossi menyayangi mu," ujar Sarah dan Sarah yang saat ini sedang sedih itu mengungkapkan kalau Rossi pergi bukan hanya untuk bekerja, tetapi, menata hatinya yang remuk.


"Siapa pria itu, Tan. Biar Darren beri dia pelajaran karena telah membuat Rossi seperti ini," kata Darren seraya mengikuti Sarah yang masuk ke salon.


"Kamu," jawab Sarah seraya menatap Darren dan Darren yang belum menyadari apa maksud Sarah itu terdiam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2