ANTARA SAM DAN DIA

ANTARA SAM DAN DIA
Saling Gerogi


__ADS_3

Entah mengapa, ada rasa yang tak biasa saat Vio berada di dekat Sam. Vio yang tak tau dengan apa yang terjadi pun memilih untuk segera pergi dari hadapan Sam. Namun, Sam menahannya dengan menahan lengan Vio.


Deg!


Seketika sentuhan itu membuat Vio merasa sedikit gugup.


Vio yang sudah berbalik badan itu sekilas mengingat malam lalu, itu berhasil membuat degup jantung Vio berdetak semakin kencang.


"Ya Tuhan. Kenapa aku gugup gini?" tanya Vio dalam hati.


Lalu, Vio pun segera menurunkan tangan Sam, wanita yang sudah mengenakan piyama itu kembali berbalik badan.


Belum sempat bertanya dan terlihat kalau Sam sedang melipat surat perjanjian itu, lalu menatap Vio.


"Udah makan?" tanya Sam.


Vio menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Jangan buat anak gue kelaparan!" kata Sam dan pria yang sudah sangat mengantuk itu kembali menutup pintu kamarnya.


"Aku kira dia bakal perhatian, nyuruh aku makan atau apa dan ternyata yang diperduliin cuma anaknya aja!" gumam Vio seraya menatap pintu kamar Sam.


"Ya jelas, lah. Kalau bukan karena anak ini, mana mungkin kami menikah!" kata Vio seraya kembali ke kamarnya.


****


Di balik pintu kamar Sam, pria itu yang sedang duduk di tepi ranjang, kembali membaca isi surat perjanjian dari Vio.


"Pintar juga, dan karena surat ini, gue juga enggak mau rugi!" kata Sam.


Pria itu mengambil pulpen dan menandatangani surat tersebut.


Setelah itu, Sam mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Sam mengirim pesan pada bibi, menyuruhnya mengirim makan malam untuk Vio.


Selesai dengan itu, Sam juga mengirim pesan pada Vio. Ia mengatakan kalau dirinya juga tidak mau rugi.


"Kalau itu mau lo, gue turuti, dengan satu syarat, lo enggak boleh nolak setiap apapun permintaan gue!"


Padat, jelas dan tak berbelit isi pesan yang Sam kirimkan. Vio yang membaca pesan itu sudah tau betul maksud dari pria yang sedang mengalami puber kedua yang tidak lain adalah suaminya sendiri.


Vio memilih tak membalasnya dan tidak lama kemudian, pintu kamar Vio terketuk dan Vio pun bangun untuk membukakan pintu.


"Makan malam, Nyonya. Ini perintah dari Tuan." Bibi memberikan nampan berisi makan malam, setelah itu, bibi kembali undur diri.


"Perintah Tuan? Emangnya aku anak kecil apa! Dasar aki-aki!" gerutu Vio, tetapi, Vio merasa kalau itu sebenarnya adalah sedikit bentuk perhatian dari Sam.

__ADS_1


****


Beberapa hari berlalu, teman-teman Darren mempertanyakan apa yang terjadi pada Darren dan Rossi yang sama-sama tidak kuliah.


Pikir mereka, Rossi dan Darren sangat kompak. Sementara itu, Lea terus mempertanyakan keberadaan Rossi dan diantara semua temannya itu tidak ada yang mengetahui.


Lea merasa curiga atas lolosnya Vio malam itu dan ingin mempertanyakan kenapa Rossi mengkhianatinya dan harus menanggung rugi besar.


Lea yang sedang berjalan di koridor kampus itu melihat Akmal yang berada tidak jauh di depannya. Lea memanggilnya, "Akmal!" seru Lea.


Yang dipanggil pun menoleh.


"Eh, Elo, tumben sendiri, mana pacar lo?" tanya Akmal seraya memperhatikan Lea yang semakin dekat.


"Enggak tau, lagi sibuk mungkin," jawab Lea seraya tersenyum pada Akmal dan juga sebaliknya, Lea menanyakan keberadaan Salsa pada Akmal.


"Entah, gue hubungi enggak diangkat, susah."


Dan keduanya berjalan beriringan menuju kelas.


"Lo tau Rossi?" tanya Lea.


"Tau, teman kita, kan?" jawab Akmal dengan polosnya.


"Astaga, maksud gue di mana dia, kan dia selama ini nitip absen sama lo!"


"Entahlah, gue enggak tau," jawab Lea.


"Rossi, setelah lo khianati gue, terus lo menghilang gitu?" gerutu Lea dalam hati. Gadis itu menarik nafas dalam.


Hatinya merasa sakit karena temannya sendiri telah mengkhianatinya dan kini Lea menanggung sendiri akibatnya.


****


Di rumah Sarifah, terlihat Darren sedang berbaring di sofa ruang tengah dengan memainkan ponselnya, pria berkulit putih itu menghilangkan rasa bosannya dengan bermain game online.


Berfikir, setelah beberapa hari hanya berdiam diri di rumah, ia pun ingin mencari Rossi yang juga tidak ada kabar.


"Kemana dia? Seharusnya dia hibur gue disaat gue patah hati gini!" kata Darren seraya bangun dari berbaringnya.


Darren merapikan kaos, lalu memakai hoodie berwarna putih polos kemudian keluar dari rumah mewah peninggalan neneknya.


Darren yang sedang mengemudi di siang bolong itu merasa haus, ia pun menepikan kendaraannya ketika melihat minimarket untuk membeli minuman dingin.


Siapa sangka, ternyata Darren melihat Sam di kasir, terlihat Sam sedang membayar untuk belanjaannya yang berupa rokok dan juga susu hamil. Selesai dengan itu, Sam yang berbalik badan melihat Darren sedang menatapnya.

__ADS_1


"Darren," sapa Sam.


Tidak menjawab, Darren masih kecewa pada Sam, karena masih sedikit menghormatinya, Darren pun memilih untuk pergi, Darren tidak lagi menunjukkan rasa kecewanya dengan mengamuk.


Menghindar, itulah yang Darren bisa lakukan untuk dirinya saat ini.


Sam sendiri merasa tidak enak hati pada anaknya, terlihat kalau Darren sangat patah hati.


"Maafin papi, Ren!" gumam Sam yang sekarang sedang memperhatikan Darren memarkirkan mobilnya.


Terlihat, Darren memarkirkan mobilnya dengan kasar dan Sam menggelengkan kepalanya.


Setelah itu, Sam pun pergi menemui istrinya yang masih bekerja di toko.


Sesampainya di sana, Sam melihat kalau Vio sedang mengoles minyak angin di leher dan pelipisnya.


"Makan siang kamu, jangan lupa minum susu," atau Sam seraya meletakkan itu semua di meja kasir.


Semua karyawan Vio ikut merasa senang saat suami baru Vio terlihat jauh lebih baik dari suami sebelumnya.


Belum sempat mengucapkan terimakasih, Sam sudah berlalu, sekarang, Sam sudah kembali ke mobilnya. Di sana, Sam mengusap dadanya yang entah mengapa berdetak lebih kencang dari biasanya.


Bahkan Sam juga terheran, mengapa ia menuruti Vio untuk tidak lagi menggunakan bahasa gaulnya yaitu lo dan gue.


"Jantung, kenapa lo? Apa harus gue bawa lo periksa, iya... umur gue udah enggak muda lagi, gue harus melakukan pemeriksaan!" kata Sam, pria yang rapi dengan kemeja berwarna biru muda itu memarkirkan mobilnya.


****


"Cie... Bu, kenal di mana sama Bapak? Kami ikut senang, akhirnya Ibu dapat jodoh yang baik, ganteng, mapan lagi," kata Nafiska dan Vio hanya tersenyum.


Vio yang sudah merasa lapar itu membuka box makan siangnya dan merasa kalau Sam adalah pria yang sangat bertanggung jawab.


Belum sempat sesuap nasi itu masuk ke mulutnya, Vio sudah mendapatkan pesan masuk dari Sam. Terlihat nomor ponsel Sam belum dinamai olehnya.


"Jangan kegeeran, makan siang itu termasuk poin hak kamu sebagai istri!" isi pesan dari Sam.


"Hmmm!" jawab Vio singkat.


Dan Sam yang sekarang sudah sampai di rumah sakit itu merogoh saku celananya, ia membuka pesan dari Vio.


"Astaga, dinginnya nih cewek! Udah gue perhatiin cuma jawab hm doang!" gerutu Sam.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen setelah baca, ya. ☺

__ADS_1


Bintang limanya juga, terimakasih.


__ADS_2